Mafia In The School

Mafia In The School
Skor Serangan Balik



Vano tak peduli jika Kinara memandangnya aneh, ia hanya ingin lebih akrab dengan Kinara. Entah mengapa ia menjadi sangat tertarik dengan sosok Kinara setelah pertemuan pertama mereka.


"Kinara soal ini sangat sulit, sudah beberapa kali aku coba untuk memecahkannya, tapi sepertinya aku masih harus belajar lagi. Apa kamu bisa membantuku?" ucapnya membuka lembaran-lembaran bukunya dan memperlihatkan 5 soal matematika yang menurutnya dianggap sulit.


Kinara mengambil buku tersebut dan melihatnya, ia ingin tahu soal apa yang sangat sulit dipecahkan oleh seorang Vano pemegang juara 1 berturut-turut selama beberapa tahun sebelum dirinya.


Kinara melihat soal tersebut dan melihat Vano dengan tatapan tak percaya.


"Kau yakin kau tak tau cara menyelesaikan soal-soal seperti ini? Kau pasti bercanda, aku tak percaya jika kau tak bisa mengerjakannya. Kau pasti tahu jawabannya, iya 'kan?" Kinara menunjuk soal tersebut di depan wajah Vano dan mengembalikan bukunya dengan meletakkan secara kasar di atas meja, Soalnya sangat mudah, berikan yang lebih masuk akal lagi agar aku percaya jika kau memang membutuhkan bantuanku."


"Apa? Kau bilang soal itu sangat mudah? Wah ...wah … kau memang hebat Kinara, aku salut padamu, kau memang pantas untuk menjadi juara umum," ucap Vano menyanjung Kinara, padahal Ia sendiri tahu apa jawaban dari soal tersebut, ia hanya ingin menghabiskan waktu dengan Kinara.


Kinara tak ingin membuang-buang waktu dengan pembicara konyolnya dengan Vano dengan cepat Kinara menulis jawaban dari soal-soal tersebut.


Kinara yakin Vano sedang mengerjainya. Namun, Ia tetap menulis jawabannya.


'Untung saja kau tampan. Kalau tidak, mungkin aku sudah menghajarmu. Aku hanya kasihan dengan wajah tampanmu jika harus babak belur karena tinjuku' batin Kinara terus menulis jawaban dari soal tersebut.


Kinara menahan tawanya saat membayangkan bagaimana wajah Vano jika ia melatih tinjunya di wajah tampan murid yang sangat ingin menjadi temannya itu.


"Ini aku sudah memberikan jawaban serta cara untuk menyelesaikannya. Jangan ganggu aku lagi, aku benar-benar tak ingin diganggu untuk saat ini. Jangan membuatku marah," ucapnya berdiri dari duduknya dan pergi dari sana.


Vano hanya melihat Kinara yang berjalan keluar, seperti ia memang tak ingin diganggu olehnya. Vano bisa merasa jika Kinara dari awal bertemu dengan dirinya memang selalu menghindarinya.


"Mengapa ia tak ingin berteman denganku," gumam Vano.


Setelah berdiam di dalam kepustakaan selama 1 jam akhirnya Kinara memutuskan untuk keluar, ia tak ingin membuang waktunya meladeni Vano. Ia tak nyaman karena ada Vano yang terus mengganggu konsentrasinya.


Kinara memutuskan untuk pergi ke lapangan sekolah, Ia berlari selama 1 jam mengelilingi lapangan tersebut. sebelum ia kembali ke kamarnya, ia terus memikirkan apa yang akan dilakukannya di masa depan, ia tak mungkin terus berlagak sebagai seorang pelajar seperti ini selamanya. "Aku harus keluar dari Semua ini, mecari jalan lain untuk mengembalikan Semua."


"Sekarang aku sudah mempunyai pegangan 22 Miliar yang aku simpan di ruang penyimpanan, aku harus menggunakan uang itu dengan sebaik mungkin."


Saat memikirkan apa yang akan dilakukannya ke depan, mencoba menyusun rencana tiba-tiba Kinara teringat bagaimana caranya dia bisa membuka skor serangan balik jika belum mencapai 1000, bukannya sistem hari itu mengatakan jika sistemnya akan terbuka jika mencapai 1000. Pikir Kinara.


"Sistem. Apa kau bisa menjelaskan semua ini?" ucap Kinara berharap sistem bisa menjawab pertanyaan itu.


"Aku juga tak tahu, secara aturan serangan balik hanya bisa dibuka seseorang setelah mencapai 1000. Namun, skor mu bisa dibuka sebelum mencapai 1000. Aku juga tak tahu apa alasan dibalik semua itu."


Kinara tertawa, "Bukankah kau pernah bilang selama itu menyangkut teknologi kamu akan tahu semua jawabannya, "Lalu apa ini, cara kerja sistem sendiri kamu tak tau jawabannya," seru Kinara menggelang meremehkan sistem, ia tak berani mengumpat lagi tak ingin jika Skor yang susah payah di kumpulkan harus dikurangi.


"Ini baru terjadi padamu, aku benar-benar tak bisa menjelaskannya," jawab sistem.


"Tak usah memikirkan itu, mungkin saja itu adalah bonus dari kebaikan hati ku dan penderitaan anak ini. Aku sudah lelah aku ingin beristirahat besok hari pertama sekolah, Sungguh sangat membosankan kenapa sih aku harus masuk di tubuh anak sekolahan, apa nggak ada tubuh yang lainnya," gerutu Kinara berlari kembali ke kamarnya.


Banyan teman-temannya dan juga bosnya telah menghianatinya kembali terbayang.


"Tunggu aku, aku akan kembali." Menyeringai licik sambil terus berlari.


"Akhirnya aku kembali ke tempat ini juga, walaupun tempat ini kecil, tapi ini sangat nyaman," ucap Kinara menjatuhkan tubuhnya di kasur yang jauh dari kata empuk jika dibandingkan kasur yang ada di kamarnya.


Baru saja ia membaringkan tubuhnya Kinara sudah tertidur pulas, entah Karena ia merasa nyaman atau Karena ia merasa kelelahan sehabis berlari.


*****


Keesokan harinya saat Kinara sedang berjalan di sekolah ia mendengar semua sedang membicarakannya.


Kinara menghentikan langkahnya, "Apa mereka membicarakanku," gumamnya melihat kekiri dan kekanannya, semua menatapnya kemudian saling berbisik.


Kinara memegang tali tasnya dan mengeratkan tinjunya, Kinara melampiaskan emosinya pada tali tasnya ia sangat tak senang saat dipandang seperti itu.


"Hufff, aku harus tenang ini hari pertama sekolah lebih baik aku tak mencari masalah," ucapnya kemudian kembali berjalan menuju ke kelasnya.


"Kinara," panggil Claudia yang berjalan ke arah Kinara dan menunjukkan layar ponselnya.


"Kamu kenapa sih?" tanya Kinara yang melihat Claudia berlari ke arahnya.


"Coba lihat ini!" Menunjukkan ponselnya di depan wajah Kinara.


"Apa kau bisa menjelaskannya?" tanya Claudia masih memperlihatkan ponselnya pada Kinara.


"Kamu ini aneh banget sih? Ini masih pagi udah bikin rusuh, mereka juga pada aneh," ucapnya menunjuk teman-temannya dengan lirikan matanya.


"Mereka tidak aneh, mereka sedang bertanya-tanya apakah ini benar atau tidak," ucapnya kembali memperlihatkan layar ponselnya yang tadi sudah diabaikan oleh Kinara.


Kinara membelalakkan matanya saat melihat apa yang ada di layar ponsel tersebut, terdapat sebuah Foto dimana Vano yang duduk di perpustakaan bersama dengan dirinya dan Orang yang mengambil foto tersebut sengaja mengambil sudut foto Vano dan Kinara terlihat seolah-olah sedang mereka sedang berciuman.


"Ini kamu dapat dari mana?" tanya Kinara, Ia sendiri tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Namun, foto itu terlihat nyata. Mereka terlihat jelas sedang berciuman.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰🥰


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖