
Kinara menerima tantangan orang yang sedari tadi terus meremehkannya. Mereka masuk kedalam ring tinju. Awalnya Ia terus tersenyum melihat gadis kecil yang menurutnya Tak memiliki kemampuan apa-apa.
Namun, Ia juga penasaran "Seperti apa kemampuan gadis kecil itu. Yoona bisa dikalahkannya, apa dia memiliki Kemampuan khusus atau memang kemampuannya jauh diatas Yoona, semua itu semakin dipikir nya semakin membuatnya penasaran dengan kemampuan Kinara.
Kinara berdiri dengan santai di hadapan orang tersebut, tak ada sama sekali ketakutan di wajahnya.
"Jangan salahkan aku jika aku mematahkan Semua tulang-tulang," ucap Kinara kemudian bersiap melakukan sedikit pemanasan pada pergelangan tangannya.
Kata-kata Kinara itu memancing emosi orang tersebut. orang itu mengepal tangannya dan langsung ingin menghajar Kinara. Namun, hanya satu pukulan tinju yang mengenai perutnya, pria tersebut langsung jatuh terkapar.
Semua mematung melihat apa yang baru saja terjadi di ring tinju. hanya dengan satu pukul Kinara memenangkan pertandingan tersebut.
"Bagaimana? Apa masih mau dilanjutkannya? tanya Kinara yang berjongkok melihat orang yang baru saja dibuatnya tumbang. Kinara meninju pas area titik matinya, membuat pria tersebut langsung tak bergerak dan merasakan sakit luar biasa di bagian perutnya.
Kinara semakin mendekat wajahnya ke telinga orang itu, "Aku masih mengampunimu, tapi tidak untuk yang berikutnya."
Kinara berdiri dan menepuk tangannya seolah membersihkan debu dari tangannya.
Iya melihat kearah Yoona
"Apa kau tak berniat memanggil ambulans untuk temanmu itu, seperti dia sangat membutuhkannya saat ini," ucapnya dengan senyuman tipisnya kemudian keluar dari ring tersebut.
Kinara benar-benar puas dengan fasilitas latihan di markas geng tersebut yang memutuskan untuk kembali melatih kemampuannya. Ia meninggalkan orang-orang yang terheran-heran melihatnya. Hanya dengan satu pukulan dia bisa melumpuhkan salah satu orang terkuat di geng mereka.
Kinara memacu motornya menuju ke apartemen dimana Vincent memberinya tumpangan. Saat masuk ternyata Vincent sudah ada di dalam apartemen itu, ia sedang sibuk di dapur memasak makan malam untuk mereka.
Kinara menghampirinya dan duduk di meja yang ada di dapur tersebut, melihat bagaimana Vincent dengan cekatan mengolah beberapa bahan makanan.
"Ternyata kau sangat lihai memasak rupanya," ucap Kinara mengagumi kemahiran Vincent.
"Jangan bilang kau tak tahu masak." Vincent balik menyindir Kinara.
"Aku akan belajar suatu saat nanti, tapi untuk saat ini aku ingin belajar menghabisi orang terlebih dahulu," ucapnya memainkan pisau di sela-sela jarinya.
"Aku dengar kau baru saja bergabung dengan geng Naga Hitam ya?" tanya Vincent sambil terus menyiapkan makan malam buat mereka.
"Sejauh mana kau mengenal geng Naga Hitam?"
"Aku salah satu bagian dari mereka, tapi aku memutuskan untuk memulai mendirikan geng baru. Ada beberapa ketentuan game Naga Hitam yang tak aku sukai."
"Maksudmu? kau sudah keluar dari game Naga Hitam?"
"Keluar dari geng berarti mati, tapi bisa dibilang aku keluar bisa dibilang tidak. Sepertinya pemimpin geng tersebut begitu menyukaiku sehingga ia membebaskanku untuk masih ikut bergabung dengan mereka Walau aku sudah membentuk tim baru, yang bisa saja balik menyerang mereka." Vincent meletakkan sepiring makanan di depan Kinara.
Kinara mencoba mencerna apa yang Vincent bicarakan.
"Ada satu lagi yang ingin aku tanyakan?" tanya Kinara mengambil Sendok dan mulai mencicipi makanan yang dihidangkan Vincent.
"Apa?" tanya Vincent mendekatkan wajahnya ke arah Kinara membuat Kinara sedikit memundurkan wajahnya.
"Bisakah kau bersikap sopan? Aku bisa saja mematahkan tulang-tulangmu jika tak mengingat beberapa kebaikan kecil yang sudah kau lakukan padaku."
Vincent hanya tertawa mendengar ucapan Kinara.
"Baiklah katakan apa yang kau ingin kau tanyakan?" ujar Vincent mengambil kursi dan duduk di depan Kinara sama.
"Mengapa kau ingin mendekatiku? Maksudku waktu itu kau tiba-tiba datang dan ingin berkenalan denganku. Apa ada alasan tertentu? Apa Kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Kinara yang belum terlalu yakin Apakah Vincent adalah orang yang diselamatkannya dulu atau bukan.
"Apa kau yakin kau tak pernah melihatku sebelumnya?" ucapnya balik bertanya .
"Apakah pria yang tak tahu berterima kasih yang langsung pergi setelah aku tolong?" tanya Kinara yang membuat Vincent terbatuk-batuk. Saat mengatakannya Vincent memasukkan makanan ke mulutnya.
Dengan santai kinara memberikan air putih kepada Vincent.
"Jadi kau benar orang itu?" Aku pikir kau itu orang yang sangat hebat. Ternyata kau bisa dikalahkan oleh mereka dan kau hampir saja tewas jika tak ada aku yang menyelamatkanmu waktu itu.
"Kau tahu, sehebat apapun orang jika kita kurang berhati-hati dan waspada mungkin saja kita akan dikalahkan oleh orang biasa," jawab Vincent begitu menguasai batuk. Itulah yang ia alami, ia yang menyepelekan seseorang dan membuatnya hampir kehilangan nyawanya...
"Kau benar, kita dapat menghadapi bahaya sebesar apapun yang ada dihadapan kita, tapi kita bisa mati konyol hanya karena kurang waspada." Kinara kembali mengingat bagaimana ia tewas hanya karena sebuah ledakan tanpa perlawanan sedikitpun.
"Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu, Sekarang giliranmu menjawab pertanyaanku, "Sebenarnya apa tujuanmu masuk ke gang mafia?" tanya Vincent yang selama ini penasaran dengan sosok Kinara.
"Aku ingin menghabisi seseorang," jawabnya singkat.
"Siapa?" tanya Vincent mengurutkan keringnya melihat pada Kinara yang kini memainkan sendoknya.
"Seorang penghianat yang pantas mati dan aku akan membuatnya tersiksa di setiap detik-detik kematiannya," ucapnya menggenggam erat sendok yang ada di tangannya hingga sendok itu membengkok, membuat Vincent bisa mengerti kemarahan dari Kinara.
"Jika kamu membutuhkan sesuatu katakan saja," ucap Vincent.
"Aku tak membutuhkan bantuan siapapun, aku bisa melakukannya sendiri," ucapnya kemudian ia beranjak dari duduknya dan menuju ke kamarnya. Vincent hanya melihatnya dan tak ada niat untuk menghentikan Kinara. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya siapa musuh Kinara dan apa penyebabnya sehingga Ia bisa semarah itu," Vincent memegang sendok garpu yang sudah dibengkokkan oleh Kinara.
Di kediaman Ayah Natasha.
Ayah Natasha mengundang beberapa orang kepercayaannya untuk datang ke rumahnya.
"Sepertinya dia sudah benar-benar keterlaluan dan mencoba menguji kesabaran kita, baiklah kalau itu yang ia inginkan berarti ya dengan sukarela menyerahkan nyawanya pada kita" ucap Ayah Natasha yang geram dengan salah satu rekan bisnisnya yang terus saja bertindak curang pada mereka.
Ya, orang itu adalah Ayah Vano salah satu mafia yang kini perlahan-lahan anggotanya mulai meninggalkannya karena tempramental nya yang buruk. Tak jarang ia membunuh anggotanya sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Atur penyerangan ke markas mereka. Aku ingin mendengar kabar kematiannya. Ayah Natasha berdiri dibalkon kamarnya memandang ke depan memberi perintah kepada mereka.
"Baik, pak. akan kami lakukan secepat mungkin. jawab orang kepercayaan Ayah Natasha tersebut.
Kinara akhirnya akan memulai aksinya, akan kembali ke dunianya yang dulu."
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹