
Di saat semua sedang fokus menyaksikan perkelahian mereka Yoono yang kesal langsung ingin melukai wajah Kinara.
"AAAAAGR" teriak Yoona.
Semua sangat terkejut saat melihat Yoona sudah bertekuk lutut dihadapan Kinara, Kinara menginjak lutut Yoona dan mengunci tangannya, membuat pergerakan Yoona benar-benar terkunci, tak bisa bergerak sama sekali. Semua tercengang melihatnya, Yoona orang terkuat kedua di geng dikalahkan hanya dalam beberapa menit oleh Kinara, waktu yang singkat menurut mereka.
Walau sekuat apapun ia mencoba melepaskan kunci dari Kinara, tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa semua semakin tercengang saat melihat Yoona tak bisa berbuat apa-apa.
Senyum kembali terbit di bibir Ayah Natasha, ini benar-benar di luar dugaannya dia mampu mengalahkan Yoona salah satu orang terkuatnya dan sangat dibanggakan di gengnya.
Semua yang ada di sana mulai berbisik-bisik dan kagum. Orang-orang yang tadinya meremehkan Kinara kini mulai mengagumi kekuatan Kinara.
Terlihat jelas raut kemerahan di wajah Yoona, ia benar-benar tak menyangka jika Kinara gadis kecil ini sungguh sangat kuat.
"Darimana kekuatan yang dimilikinya sampai aku tak bisa berkutik sedikitpun," batin Yoona yang terus mencoba melepaskan dirinya. Namun, sedikitpun tak ada celah baginya.
Yoona mengibaskan rambutnya, ingin menggunakan senjatanya itu untuk melumpuhkan Kinara.
Ayah Natasha merasa resa saat melihat Yoona sudah mulai menggunakan senjata rahasianya, dimana seluruh tubuh Yoona memiliki racun yang mematikan termasuk pada rambutnya.
Ia ingin memperingatkan Kinara. Namun, langkahnya terhenti saat ia menyadari jika orang yang sedang bertaruh itu adalah 2 orang terkuat yang ada di gengnya dan ia ingin memiliki kepercayaan keduanya.
Dengan gerakan rahasia Yoona mengarahkan rambutnya, ia mulai mengibaskan rambutnya itu. Namun, tiba-tiba rambut itu berjatuhan di lantai.
"Apa, rambutku," pekiknya saat melihat rambutnya sudah ada di lantai bukannya melukai Kinara. "Hey kau gadis lacknack, apa yang kau lakukan pada rambutku."
"Jangan bermimpi kau bisa mengalahkanku," bisik Kinara di telinga Yoona sambil memperlihatkan pisau yang dipegangnya, memainkannya di pipi mulus lawannya itu.
Ya, Kinara bisa membaca pergerakan Yoona dan ia tau jika rambutnya memiliki racun yang sangat mematikan.
Kinara kembali mengambil pisau di ruang penyimpan dan dengan cepat ya memotong rambut tersebut sebelum mencapai kulitnya, dia tahu seberapa berbahayanya racun yang dimiliki oleh Yoona.
[Bip nilai pemurnian ruang skor +500]
Kinara memukul tengkuk Yoona sehingga yoona tersungkur di lantai.
Yoona yang baru terlepas dari kunci Kinara masih menatapnya dengan tatapan kesalnya. Ia masih ingin mencoba untuk berdiri walau dengan luka yang didapatkannya.
Kinara memilih tak menghabisi Yoona dan membiarkannya tetap hidup. Namun, pukulan-pukulan Kinara membuatnya merasa tulang-tulangnya terasa remuk. Yoona sangat kesal saat melihat helaian rambutnya.
"Bagaimana? Apakah harus kita lanjutkan lagi?" tanya Kinara memainkan pisau yang ada di tangannya.
"Tentu saja, kau jangan besar kepala dulu dan merasa bisa mengalahkanku semudah itu. Kau bukanlah apa-apa bagiku."
Kinara tertawa mendengar ucapan Yoona "Apa kau sadar, jangankan untuk melawanku berdiri saja kau sudah tak sanggup," ucap Kinara melihat Yoona kesulitan berdiri.
Yoona juga mengambil pisau yang ada di pahanya.
Baru saja mereka akan kembali memulai pertarungan Ayah Natasha sudah menghentikan mereka berdua..
Kinara melihat lencana itu kemudian memperlihatkannya kepada Yoona.
Yoona mengetatkan giginya, ia benar-benar tak terima dengan semua ini, tak terima jika Kinara sampai masuk ke dalam gengnya dia merasa dipermalukan hari ini oleh seorang Kinara.
Ayah Natasha kembali membawa Kinara ke sisi lain tempat itu, sopir telah meminta Yoona untuk tak ikut dengan mereka dan mengobati lukanya. Namun, Ia tetap kekeh ingin mengikuti mereka.
"Tapi, bagaimana dengan lukamu, sebaiknya kau obati dulu, kau boleh menyusul kami nantinya," ucap sang sopir yang merupakan tangan kanan dari ayah Natasha.
"Tidak, luka ini tak seberapa dibanding rasa maluku karena Kinara, Aku ingin tahu seberapa kuat dia sebenarnya," ucapnya masih terus berjalan mengikuti mereka di mana Kinara dan ayah Natasha sudah berjalan lebih dulu.
Ayah Natasha membawa Kinara ke sebuah ruangan dimana di ruangan itu, juga merupakan gedung kosong dari luar tapi bak istana megah dari dalam. Semua geng sedang berkumpul.di sana, ayah Natasha tiap tahunnya sengaja mengumpulkan mereka semua di waktu yang sama dan bertepatan dengan hari ini.
Mereka masuk ke sebuah ruangan yang memiliki banyak senjata, lagi-lagi semua itu membuatnya terkejut. Namun, Ia tetap berjalan santai mengikuti langkah kaki bosnya. Berusaha terlihat keren dan baik-baik saja.
'Sekuat apa gang ini sebenarnya, aku rasa aku benar-benar masuk ke geng yang bisa aku andalkan,' batin Kinara merasa puas dengan pilihannya, pilihan untuk masuk ke geng tersebut walau nyawanya taruhannya.
Mereka sampai di sebuah senjata yang merupakan senjata mematikan, dari sekian banyak senjata yang ada di sana. Senjata itu lah yang paling mematikan. Ayah Natasha memperkenalkan senjata itu, Kinara sebenarnya sudah mengenal Semua senjata itu, tapi ia pura-pura serius mendengarkan penjelasan tentang senjata baru yang mereka miliki itu.
Yoona mengambil salah satu dan memainkannya.
"Senjata ini sangat berbahaya, aku tak yakin kau bisa menguasainya. Jika kau tak mampu, masih banyak senjata lain yang bisa kau gunakan tempat ini," ucap Yoona menyindir Kinara.
"Apa senjata ini sangat sulit untuk digunakan?Sesulit apa?" tanya Kinara.
Kinara mengambil senjata itu dan mengisinya dengan peluru, Kinara melakukannya dengan sangat lihai, kemudian mengarahkannya ke arah Yoona, "Ini sama sekali tak sulit, hanya tinggal menarik pelatuknya seperti ini,"
Yoona membelalak matanya melihat apa yang Kinara lakukan. Kinara menarik pelatuk senjata itu dan mengarahkannya padanya.
"Jangan macam-macam!" Serunya, Namun.
Dorrrrr
Senjata yang di pegang kinara memuntahkan pelurunya. Yoona menutup matanya dan ia bisa merasakan peluru itu hanya sekian senti lewat di dekatnya.
[Bip skor transformasi + 600.]
Ayah Natasha tersenyum melihat keterkejutan di wajah Yoona. Saat peluru sudah melewatinya ia masih menutup mata dengan ekspresi wajah terkejut.
"Satu lagi kejutan yang kau perlihatkan," batin ayah Natasha kemudian berjalan menuju ke senjata lainnya.
"Itu baru peringatan untukmu, aku bisa saja mengenai kepala," ucap Kinara meletakkan kembali senjata itu dan mengikuti Ayah Natasha.
Yoona masih mematung di tempatnya mengatur nafasnya yang memburu, ia benar-benar merasa kaget dengan apa yang baru saja dilakukan Kinara, kesalahan kecil saja sudah bisa membuat nyawanya melayang.
"Aku sudah memperingatkan mu, jangan macam-macam dengan Kinara! Dia bukan orang yang kau bayangkan, dia lebih dari apa yang kau bayangkan, jangan mencari masalah, Jangan mati konyol," ucap sang sopir dan ikut pada ayah Natasha dan Kinara meninggalkan Yoona yang masih menguasai keterkejutannya.
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹