Mafia In The School

Mafia In The School
Mencari Kebenaran



Tangan Kinara bergetar Setelah sekian lama baru kali ini ia kembali melihat Lencana geng yang dulu membesarkannya, di mana dia menetap dan menjadi anggota geng tersebut sejak ia remaja hingga ia dinobatkan sebagai mafia terkuat. Hingga ia mati mengenaskan pun ia masih membawa Lencana itu di sakunya.


Kinara mempunyai banyak kenangan baik dan buruk dengan anggota geng tersebut. Banyak kenangan bersama dengan orang-orang yang entahlah mereka itu kawan atau lawannya.


Yang paling Kinara ingat dari lencana itu yaitu penghianatan pemimpin gennya, penghianatan dari orang yang telah membesarkannya dan dianggapnya seperti ayahnya sendiri. Ia ingin meminta penjelasan mengapa semua itu terjadi padanya, sikap dan kasih sayang ketua geng itu layaknya seorang ayah kepada anaknya. Namun, mengapa harus mati dengan keadaan seperti itu.


Kinara mencengkram erat lencana tersebut hingga tangannya terluka membuat Vincent langsung mengambil lencana itu dari tangan Kinara. "Apa kau sudah gila," seru Vincent. "Kau tak sekuat itu hingga bisa meremukkan lencana ini." Vincent memasukkan lencana itu ke kantornya dan kembali menarik Kinara naik ke speed boat nya.


"Terima kasih, Pak. jika ada kabar lain, Tolong hubungi saya," ucapnya yang di iyakan oleh orang tadi. Vincent melajukan speed boat nya membelah lautan, sesekali Vincent melihat Kinara yang masih memasang raut wajah kemarahannya. Tak ada pembicaraan hingga mereka sampai di dermaga. Kinara langsung pergi meninggalkan Vincent saat Vincent mengurus Speed boat tersebut. Ia mengembalikannya kepada yang punya.


"Kinara tunggu! Kau mau ke mana?" teriak Vincent saat melihat Kinara berjalan cepat menjauhinya, ia mengambil motor dan menancap gasnya meninggalkan dermaga tersebut. Vincent tak tinggal diam Ia juga mengajar Kinara dengan mobilnya. Namun, Kinara membawa motornya dengan kelajuan yang sangat kencang membuat Vincent tak bisa mengejarnya. Kinara sengaja menyalip mobil-mobil agar terhindar dari kejaran Vincent yang menggunakan mobil.


"Sial," serunya Vincent memukul setir mobilnya. "Dimana dia," ucapnya saat sudah tak melihat Kinara. ia menghentikan mobilnya di perempat jalan, Vincent bingung harus mengarahkan mobilnya ke arah mana, ia kembali melihat lencana itu, melihat darah Kinara yang ada di sana.


" Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kinara? ia terlihat sangat marah saat melihat lencana ini. Apa dia mengenal geng Mawar merah? gang itu sangat rahasia dan tak banyak orang yang mengetahuinya." gumam Vincent terus menatap lencana tersebut. "Apa Kinara tahu tentang geng itu," gumam Vincent kembali mengingat beberapa aksi Kinara yang memang sangat mencengangkan. ilmu bela diri dan kemampuan menggunakan senjata.


"Jangan bilang Kinara merupakan bagian dari geng tersebut," gumamnya mengambil ponsel dan menghubungi Kinara, ponsel Kinara tersambung dan berdering. Namun, Kinara tak mengangkatnya panggilan dari nya.


"Kinara ke mana kau? jangan bilang kau ingin melakukan sesuatu yang berbahaya demi Vano," geramnya mencengkram erat setirnya.


Vincent merasa gagal mengikuti Kinara. Jika ia mengendarai sebuah motor, mungkin ia bisa saja menyusul Kinara.


Vincent tak tahu harus kemana, kemudian ia memilih asal jalan tersebut sambil mengendarai kendaraannya secara perlahan. sesekali ia melirik ke kiri dan ke kanan berharap Kinara ada di sekitaran sana.


Vincent bahkan mengarahkan mobilnya menuju ke rumah Kinara, melihat kearah kamar Kinara dan lampunya mati, yang bisa saja menandakan jika tak ada orang di kamar itu. Vincent juga pergi ke sekolah dan asrama Kinara yang dulu. Namun, Kinara juga tak ada disana.


"Kemana Kinara Kenapa dia benar-benar menghilang," batin Vincent tak punya pilihan lain selain mendatangi markas Naga Hitam. Begitu sampai di sana ia langsung melihat beberapa anggota geng Naga Hitam sedang berlatih, Vincent berjalan santai mencari sosok Kinara. Namun, setelah mengelilingi hampir semua ruangan tersebut Kinara tak juga ditemukan. ia bertanya pada salah satu temannya yang masih ikut bergabung dengan tim Naga Hitam tersebut.


"Apa kau melihat Kinara?" tanya Vincent menghampiri salah satu temannya itu.


"Tidak, seharian ini kinara tak pernah datang ke sini. Memang ada apa dengan Kinara? bukankah dia sudah ditunjuk sebagai ketua dalam menjalankan misi berikutnya, tapi aneh seharusnya dia sering datang dan berlatih dengan anggota yang lainnya. Namun, hari ini seperti memang datang biasanya dia lah yang paling lebih dulu datang untuk berlatih


" Ya sudah terima kasih informasinya jika kau melihat Kinara tolong cepat hubungi aku," ucap Vincent sebelum pergi dari gedung tua tersebut.


dari atas gedung terdapat seseorang yang mengawasi Vincent melalui teleskop nya.


"sepertinya ada tanya seseorang yang duduk sambil menikmati secangkir kopi.


"Sepertinya Vincent mencari seseorang, Sejak pertama datang tingkahnya sangat aneh."


"Iya, pak. menurut orang yang mengawasi kinara, mereka berdua mencari anak itu. Namun anak itu menghilang bahkan yang aku dengar Kinara menembak salah satu penculiknya.


"Apa kita harus menegur Kinara dan Vincent yang bertindak tanpa persetujuan dari kita?" tanyanya.


"Tidak, biarkan mereka melakukan apa yang mereka inginkan. Terus saja awasi mereka. Aku ingin tahu apa sebenarnya tujuan mereka, aku yakin kinara bukanlah orang sembarangan pasti ada sesuatu yang disembunyikan dari kita," ucap Ayah Natasha.


Sementara itu Vincent yang tak menemukan Kinara memutuskan untuk kembali ke apartemennya setelah lewat tengah malam. Namun ia terkejut saat melihat motor Kinara sudah terparkir di parkiran apartemennya.


"Bener ini motorku," ucapnya menghampiri motor tersebut. "Apa Kinara sudah pulang ya," gumamnya kemudian bergegas kembali ke apartemennya. Dimana Kinara juga tinggal di sana untuk sementara waktu. Awalnya Vincent mengetuk pintunya. Namun, tak ada jawaban sama sekali, ia pun menggunakan kunci cadangannya untuk membuka apartemen tersebut dan saat masuk ia melihat Kinara sedang bersiap-siap. Ia memakai pakaian hitam serta beberapa senjata yang telah disiapkannya di meja di hadapannya.


Vincent berjalan mendekat menghampiri Kinara dan melihat semua itu. Pakaian siap untuk melakukan misi, bahkan ia bisa melihat juga beberapa peralatan Kinara lumayan canggih.


"Kau mau kemana?" tanya Vincent.


"Aku ingin memastikan sesuatu dan jangan pernah melarangku," ucap Kinara masih terus mempersiapkan dirinya memasang satu demi satu peluru ke dalam sejarahnya.


Vincent tak berkata apa-apa lagi, Ia pun menuju ke kamarnya.


Kinara keluar dari apartemen tersebut kemudian ia ingin kembali memakai motor Vincent. Namun sebuah mobil hitam berhenti di depannya dan membunyikan klakson.


Pintu kaca terbuka.


"Jangan bertindak bodoh dengan memakai motor itu, masuklah aku akan mengantarmu," ucap Vincent yang ternyata ada di balik mobil tersebut.


Kinara mengikuti apa yang katakan Vincent. Ia masuk, di dalam mobil tersebut dan melihat Vincent juga memakai pakaian yang sama memakai pakaian serba hitam dan beberapa senjata melekat di tubuhnya.


"Kau ingin ke mana?"


"Jalan saja, akan ditunjukkan jalannya." Kinara kemudian.


Vincent pun melajukan mobilnya mengikuti arahan Kinara.


🌹🌹 Terima kasih Sudah membaca 🌹🌹🌹


Sambil nunggu yuk mampir ke karya terbaru 🤗