Mafia In The School

Mafia In The School
Hanya balasan kecil.



Tiara yang sedang beristirahat di kamarnya setelah ia olahraga berlari 10 kali putaran mendengar suara berisik di lantai bawah.


"Apa sih berisik sekali," ucap Tiara beranjak dari tidurnya. Tiara ingin istirahat, tapi kegaduhan terus saja mengganggunya. Dengan rasa penasarannya Ia pun turun ke bawah,


Tiara terkejut saat melihat yang apa yang dilihatnya, ia melihat Kinara sedang menampak ibunya, Tiara benar-benar tak menyangka ibunya akan dipermalukan seperti itu.


"Kinara … berani sekali dia, sampai menampar Ibu seperti itu." Tiara terheran-heran dan semakin ketakutan dengan tempramental Kinara.


Tiara dengan cepat berlari membantu ibunya, menjauhkan ibunya itu dari Kinara. Ia tahu betul seperti apa sosok Kakak tirinya sekarang ini. Sangat jauh berbeda dari Kinara yang dulu.


"Kinara cukup, jangan berbuat berlebihan seperti itu," ucap Tiara membela ibunya. Iya mencoba untuk menghalangi Kinara Yang sepertinya masih ingin melampiaskan kemarahannya kepada ibunya.


"Tiara jangan ikut campur, ini urusanku dengan ibu," ucap Kinara yang masih berapi-api.


"Non Kinara, kamarnya Sudah Bibi bersihkan, jika ingin istirahat silahkan," ucap Bibi menghentikan Kinara yang masih ingin melangkah menuju ke Tiara dan ibunya yang semakin mundur.


Kinara melihat ke arah bibi,


"Bi, katakan Siapa yang membuat kamarku seperti itu, apa yang terjadi sehingga kamarku sangat berantakan seperti itu dan, kotoran kucing itu, siapa yang menyimpannya disana?" tanya Kinara.


Bibi menunduk ragu, ingin menjawab pertanyaan Kinara, tapi ia juga merasa takut. Bibi merasa berada di tengah-tengah jika Ia membuka mulut ia akan mendapat murka dari Tiara dan ibunya, sedangkan jika ia tetap diam Kinara mungkin saja akan berbuat sesuatu padanya.


"Ayo katakan, Siapa yang melakukan itu pada kamarku. Kenapa kalian hanya diam saja?" tanya Kinara pada tiga pelayan yang berdiri di depannya.


Ketiga pelayan tersebut hanya saling pandang dan tak satupun yang berani membuka suara.


Kinara mengambil satu vas bunga dan membantingnya lagi ke lantai membuat ketiga pelayan itu menjadi tersentak kaget dan menatap pada Kinara.


Kinara balas menatap mereka,


" Jika kalian tak berbicara dengan jujur dan terus bungkam aku akan menganggap jika kalianlah yang melakukannya, memberantakkan kamarku dan kalian tahu apa yang akan aku lakukan pada kalian karena telah mengganggu kenyamanan kamarku," ancam Kinara.


"Maaf non Kinara, kami tidak pernah berbuat seperti itu, bahkan kamar nona kami selalu membersihkan setiap hari begitu juga dengan hari ini, tapi kamar nona … hari ini…, " bibi menghentikan ucapannya saat melihat tatapan Ibu dan Tiara.


"Hari ini, apa?"


"Hari ini nona Tiara memberantakkannya," jawab pelayan yang lainnya dengan terbata-bata.


"Oh jadi kamu yang berantakan kamarku, sepertinya selama ini aku masih kurang memberimu peringatan ya, Tiara," ucap Kinara kembali menatap ada Tiara.


Tiara, Walaupun ada sedikit rasa ketakutan dalam dirinya. Namun, Ia tetap balas menatap Kinara dengan tatapan menantang, tak ingin memperlihatkan wajah ketakutannya.


"Kalian bertiga ke kamar Tiara, lakukan apa yang sudah Tiara lakukan dengan kamarku, lakukan hal yang sama jika perlu hancurkan lebih hancur lagi dari kamarku!" Perintah Kinara.


Ketiganya langsung terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Kinara, mana mungkin mereka berani memberantakkan kamar Tiara. Selama ini jangankan memberantakkan, saat membersihkan kamar, mereka harus hati-hati karena banyaknya barang-barang mahal yang ada di sana. Tiara bahkan memarahi mereka jika ada satu sampah pun yang tertinggal.


Bahkan pernah sekali Bibi yang tak sengaja melupakan sehelai rambut disisir Tiara mendapat amukan Tiara dan langsung dipecat oleh Diana karena dianggap tak becus bekerja … sehingga semua pelayan di rumah itu sangat berhati-hati dalam membersihkan khusus di bagian kamar Tiara.


Di rumah itu terdapat banyak asisten rumah tangga, tapi mereka sudah memiliki tugas masing-masing dan ada 5 orang yang ditugaskan untuk membersihkan area di kawasan rumah induk, termasuk membersihkan beberapa kamar-kamar yang ada di sana. Berbeda dengan beberapa asisten rumah tangga lain yang membersihkan di area lainnya.


"Ayo tunggu apa lagi, Cepat kalian lakukan apa yang aku minta," ucap Kinara sedikit mengeraskan suaranya membuat mereka bertiga langsung beranjak dan menuju ke kamar Tiara.


Tiara menghentikan apa yang akan mereka lakukan dengan kamarnya.


"Kinara, aku mohon jangan lakukan itu, jangan sentuh kamarku," ucap Tiara berlari mendahului bibi dan menghalanginya untuk masuk ke kamarnya.


Menghentikan langkah mereka.


"Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya membalas apa yang kau lakukan padaku," Kinara langsung menepis Tiara yang menghalanginya.


Kekuatan Tiara tak sebanding dengan kekuatan Kinara, hingga terhempas ke samping membuat Kinara masuk ke dalam kamarnya disusul oleh ketiga bibi.


Kinara melihat kamar Tiara sangat jauh berbeda dari kamarnya. Kamar Tiara bagaikan kamar seorang putri sangat luas dan terdapat banyak kemewahan di sana, bahkan koleksinya berjajar entah berapa banyak dan semuanya merupakan barang-barang limited edition yang sudah dipastikan bernilai jutaan rupiah, sedangkan di kamarnya tak satupun barang mewah yang ia miliki.


Kinara bahkan harus mengumpulkan uang jajannya untuk membeli keperluan pribadinya.


Kinara menendang satu rak kecil koleksi Tiara,


"Kinara hentikan. Apa yang kau lakukan dengan barang-barangku," pekik Tiara Hanya bisa melihat koleksinya yang berserakan di lantai.


"Aku hanya menendang barang bukan dirimu, jadi menjauh dari sana," bentak Kinara membuat Tiara memundurkan langkahnya, Ia tahu Kinara akan melakukan apa yang diucapkan.


Kinara mulai memberantakan kamar itu bersama dengan ketiga bibi. ketiga bibi yang awalnya ragu-ragu kini tak sungkan lagi melakukannya, melakukan apa yang dilakukan oleh Kinara mungkin lebih.


"Ibu barang-barangku," Tiara hanya bisa menangis melihat apa yang mereka lakukan, kini barang-barang kesayangannya sudah hancur berantakan.


Ibu ingin menegur Kinara. Namun, ibu juga merasa tak berani melakukannya. Apa yang baru saja Kinara lakukan padanya membuatnya mengurungkan niatnya, mereka hanya bisa melihat apa yang dilakukan oleh Kinara dan ketiga asisten rumah tangganya. Kamar Tiara benar-benar hancur berantakan lebih parah dari kamar Kinara.


Tiara mulai ketakutan dengan Kinara, kejadian di sekolah tadi dan sekarang serta kejadian saat Kinara begitu berani pada ibunya.


"Sudah cukup," ucap kinara menghentikan ketiga bibi itu, Ia menepuk-nepuk tangannya seolah membersihkan debu dari sana.


"Kita impas 'kan," ucapnya saat akan berlalu pergi dari kamar itu Sedangkan ketiga Bibi sudah berlari menghilang dari sana .


"Kinara lihat saja aku akan melaporkan semua ini, pada ayahmu, melaporkan semua apa l yang telah kau lakukan pada kami hari ini," ancam Diana,"


Kinara hanya tersenyum sinis menanggapi ucapan Diana dan berlalu dari sana.


'Bersiap-siaplah mendapat hukuman dari ayahmu Kinara,' batin ibu tiri yang selama ini jika ia mengadu tentang Kinara pada suaminya, Ayah Kinara langsung percaya padanya dan tak segan-segan menghukum Kinara dengan apa yang mungkin saja tak Kinara perbuat.


Ayah sangat percaya pada Diana dan Tiara.


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–


Terima kasih sudah membaca πŸ™


Jangan lupa like, vote, gift, dan Komennya πŸ™


Salam dariku Author M ANHA πŸ€—


πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–πŸ’–