
Kinara terus mendesak Pria tersebut mengatakan Siapa yang menyuruh mereka Untuk menyerangnya. Namun, pria berambut pendek itu tetap diam, walau Kinara sudah semakin menekan pistolnya, bahkan sudah menarik setengah pelatuknya.
'Percuma saja aku mendesaknya, sepertinya dia memang tidak tahu apa-apa tentang gelang ini dan hanya menjalankan perintah tanpa tau siapa yang memerintahnya,' batin Kinara yang melihat wajah ketakutan dari pria berambut pendek tersebut, tapi masih bungkam siapa yang menyuruhnya.
Vincent melihat semua apa yang Kinara lakukan dari lantai dua casino tersebut, tadinya ia sangat khawatir saat berbalik Kinara sudah tak ada di tempatnya.
Pikir jika Kinara dibawa oleh orang yang berniat jahat padanya berlarian di pikirannya membuat ia mengarahkan semua bawahannya untuk mencarinya.
Kinara langsung melepaskan pria berambut pendek tersebut saat beberapa bawahan Vincent sudah datang dan langsung menghabisi mereka semua.
Vincent semakin kagum melihat kelihaian dan keberanian Kinara menghadapi mereka semua.
"Aku akan mengantarmu pulang, mereka semua biar bawahku yang mengurusnya."
"Baiklah, aku juga sudah tak tahan dengan tempat ini," ucapnya kembali menggandeng tangan Vincent.
Mereka keluar dari ruangan itu, menyerahkan sisanya pada bawahanya.
"Maaf sudah mengajakmu ke tempat yang tak layak."
"Tidak apa, aku senang ke Kasino itu. Jika ada waktu aku akan kembali kesana lagi. Lagi pula aku mendapatkan sesuatu yang berharga," ucapnya memperlihatkan gelang onyx itu pada Vincent.
"Gelang?"
"Iya, cantik 'kan?" tanyanya memakai gelang tersebut.
"Cantik," jawabnya bukan melihat gelang tapi ia justru melihat wajah Kinara.
"Apa aku boleh mampir?" tanya Vincent saat sudah sampai di rumah Kinara.
"Kau pulanglah, Aku ingin istirahat. Aku sangat lelah, tikus-tikus tadi sungguh membuat lenganku pegal," ucap Kinara memutar-mutar lengannya merenggangkan otot bahunya.
Vincent hanya menggeleng melihatnya Kinara yang sama sekali tak menjaga image-nya sebagai wanita yang anggun di depannya, ia bertingkah apa adanya. Berbeda dari gadis pada umumnya.
"Ya sudah aku pulang dulu istirahat lah," jawab Vincent.
Kinara langsung turun dan hanya melambaikan tangannya tanpa melihat ke arah Vincent yang masih memandang dari dalam mobilnya sebagai jawaban.
"Bi, apa yang ayah sudah pulang?" tanya Kinara pada Bibi yang membukakannya pintu.
"Belum, Nona. Ibu dan Tiara juga belum pulang," jawab bibi.
"Oh ya sudah, aku ke kamar dulu ya ,Bi?" ucap Kinara berjalan menuju kamarnya di lantai dua.
"Apa Nona membutuhkan sesuatu? biar bibi buatkan," tanya bibi.
"Nggak usah Bi, aku mau istirahat, Bibi istirahat juga ini sudah malam!" seru Kinara berlalu naik ke kamarnya.
Kinara langsung mencari tau tentang gelang yang tadi menjadi bahan taruhannya, menurut mereka Galang itu sangat istimewa, pemiliknya juga sampai harus menggerakkan anak buah yang bersenjata untuk merebutnya kembali, membuat Kinara menjadi penasaran apa keistimewaan dari gelas itu.
Kinara log in website mencari tahu kemampuan tersembunyi dari gelang onyx yang ada di tangannya. Yang menjadi incaran banyak orang.
Lama ia mencari. Namun, ia tak menemukan sedikit pun informasi tentang gelang tersebut.
[Bip, Selamat Anda berhasil membuka kemampuan penyimpanan].
Tiba-tiba terdengar suara sistem yang mengagetkan Kinara.
"Apa? Sistem penyimpanan sudah terbuka? Bukannya poinnya belum mencapai 10.000? Kinara bertanya-tanya. Namun, ia menganggap itu adalah keuntungannya.
Kinara bertanya kepada sistem apa keistimewaan dari sistem penyimpanan tersebut.
Sistem menjelaskan kemampuan sistem penyimpanan ini dapat menyimpan barang apapun secara permanen.
"Jadi begitu ya? Kemampuannya lumayan juga buat menyimpan benda-benda yang berharga," ucap Kinara melihat gelang di tangannya.
"Setelah kemampuan menyimpan sistem, kemampuan apalagi yang sistem miliki setelah kemampuan penyimpanan ini?" tanya Kinara penasaran.
Kinara ingin tau kemampuan apa yang sistem miliki lanjutannya jika ia mendapat tambahan poin berikutnya.
"Ayolah, Aku hanya ingin tahu kemampuan apa yang bisa aku dapatkan selanjutnya. Dengan begitu, Aku akan lebih bersemangat lagi mengumpulkan poin untuk mendapatkannya."
"Maaf, tapi saya benar-benar tak bisa menjelaskannya sekarang sampai fungsi sistem itu aktif. Itu sudah aturannya," jelasnya lagi.
"Aturan itu dibuat untuk dilanggar, berikan aku gambaran saja fungsi apa yang selanjutnya," kekeh Kinara. Rasa penasaran membuat ia memaksa sistem untuk memberitahu.
"Aturaku tak untuk dilanggar," balasnya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menuruti aturanmu, Semoga saja fungsi sistem berikutnya lebih baik lagi.
"Tentu saja, semakin banyak poin yang kau kumpulkan maka fungsi sistem akan semakin membantumu," ujar sistem menjelaskan.
"Baiklah, mari kita kumpulkan poin bersama-sama!" seru Kinara kembali mencari informasi tentang gelang onyx tersebut.
Kinara kembali fokus pada layar laptopnya.
Suara ketukan pintu terdengar dan ayah masuk sambil membawa segelas susu.
"Apa, Ayah mengganggumu?" tanya ayah berjalan masuk dengan raut wajah gembira.
Ayah masih menggunakan pakaian yang tadi di pakaian saat ke pesta.
"Tidak ko, ayah.Apa ayah baru pulang?" tanya Kinara. Ia agak sedikit canggung, tak biasanya ayahnya menemuinya di kamar apalagi membawakannya segelas susu.
"Iya, Ayah baru saja pulang. Kamu sudah dari tadi pulangnya?" tanya ayah balik.
"Lumayan sih, sekitar satu jam yang lalu," jawabnya
Kinara meminum susunya hingga habis dan memberikan kembali gelasnya pada Ayah.
"Itu gelang apa?" tanya ayah melihat gelang yang ada di meja.
"Gelang biasa ko,Yah."Kinara menutup laptopnya dan menyimpan gelang onyx tersebut kembali ke dalam tasnya.
"Oh ya, tadi kamu pergi dengan Vincent ya? ke pesta?" tanya ayah.
"Iya, Vincent yang mengajakku, maaf aku tak izin Ayah dulu."
"Iya tak apa, Ayah yang minta maaf karena tak mengajakmu ke pesta itu, Ayah hanya mendapatkan 3 undangan dan …." Ayah tak meneruskan perkataannya.
"Nggak apa-apa kok, Yah. Kinara mengerti.
"Kamu kenal Vincent? Diri mana kamu mengenalnya?" tanya ayah yang baru mengingat tujuannya datang ke kamar putrinya itu.
Kinara hanya tersenyum menjawab pertanyaan Ayahnya.
"Sudah berapa lama kau mengenalnya?" tanya ayah lagi.
"Maaf, Ayah. Aku sedang ingin istirahat. Aku sangat lelah." Kinara meminta ayahnya untuk keluar dari kamarnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaan Ayah, Kinara," sahut ayah.
"Aku tak mengenal siapa Vincent, aku tak sengaja bertemu dengannya."
Kinara meminta ayah keluar dari kamarnya, ia berpura-pura tak mengenal siapa Vincent.
"Kalau kau tak mengenalnya bagaimana dia bisa datang bersamamu kepesta tadi?" tanya ayah lagi.
Ayah masih berusaha mencari informasi tentang Vincent. Namun, Kinara terus mendorong ayahnya keluar sambil mengatakan jika ia benar-benar tak tahu tentang Vincent.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Salam dariku Author M Anha ❤️🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖