Mafia In The School

Mafia In The School
Tak Menerima Kekalahan.



Kelas semakin riuh di saat Tiara dan timnya terus saja menolak menjadikan Kinara sebagai pemenang.


Wali kelasnya berdiri di depan kelas menepuk papan tulis agar mereka semua tenang.


"Bapak harap kalian semua tenang, duduk di tempat kalian masing-masing," ucap wali kelas meninggikan suaranya.


Mereka semua pun duduk kembali ke tempat masing-masing, menunggu apa yang ingin wali kelas mereka katakan.


Disaat yang lain menunggu dengan cemas apa yang wali kelas mereka sampai, Kinara dan Claudia justru duduk santai.


Kinara memperhatikan wajah satu persatu dari orang yang selama ini menertawainya, menganggapnya tak mampu untuk menjadi juara kini terlihat sangat terkejut dengan hasil yang sebenarnya.


"Baiklah Bapak umumkan sekali lagi, jika Bayu yang selama ini mendapat juara 1 dikelas kita hanya mendapat juara 2 di tahun ini dan yang mendapat juara pertama adalah Kinara," ucap wali kelas dengan tegas. Menekankan kata jika Kinara lah sang juaranya.


Mendengar pernyataan dari wali kelas mereka, kelas kembali riuh. Semua beranggapan jika itu tak mungkin terjadi, pasti ada sesuatu yang salah disini. Pikiran semua tim yang mendukung Tiara salama ini.


[Bib, skor transportasi bertambah 10] bunyi suara sistem aktif.


Kinara tersenyum saat mendengar suara sistem.


"Apakah aku kembali mendapat nilai dan sistemnya kembali bicara," batin Kinara memegang kalung di lehernya. Sekarang ia sudah mengerti bagaimana sistem itu bekerja. Jika ia melakukan sesuatu dan membuat orang kagum pada Kinara poinnya akan bertambah 10 dan saat ia melakukan hal yang tidak baik bahkan hanya mengumpat saja poinnya akan berkurang 5. Samakin banyak poin yang di kumpulkan fungsi sistem akan Sakin banyak. Ia harus berhati-hati mulai saat ini, ia tak boleh membuat sistem kembali di bawah 15 poin lagi yang berarti sistem kembali tak diizinkan untuk berbicara.


"Aku penasaran apa saja yang bisa aku dapatkan dari sistem bicara ini," gumamnya.


"Sistem? Sistem apa?" tanya Claudia yang mendengar gumaman Kinara.


"Bukan, bukan apa-apa. Maksudku sistem pelajaran sekolah," jawab Kinara asal.


Mereka berdua kembali fokus pada teman-teman sekolah yang sedang protes dengan nilainya.


"Coba kalau lihat wajah-wajah kekalahan dari mereka, aku yakin mereka akan terus protes tak terima jika kau lah yang menjadi pemenang dalam taruhan ini," bisik Claudia.


Kinara hanya tersenyum tipis sambil terus melihat pada Tiara yang terlihat begitu tak menyukai hasil akhir ujian ini. Terlihat jelas di wajah jika ada kemarahan di sana.


"Pak, pasti ada yang salah dalam ujian. Ini tak mungkin, ini benar-benar tak mungkin, Pak! Ini sama sekali tak masuk akal," ucap Tiara berdiri protes kepada wali kelasnya yang masih berdiri di depan.


"Kinara kamu jujur saja, kamu pasti menyontek 'kan dalam ujian, kamu pasti takut 'kan kalah dengan aku jadi kau melakukan kecurangan," ucap Tiara bersikeras menunjuk pada Kinara.


Tiara tak berbicara, dan hanya mendengar ocehan Tiara. setelah Tiara berhenti berbicara, Kinara menunjuk CCTV yang ada di kelas mereka. Semua melihat ke arah yang ditunjuk Kinara.


"CCTV?" Tiara mengernyitkan keningnya manatap Kinara tak mengerti mengapa menunjuk CCTV di kelas mereka.


Tiara berpikir sejenak mengartikan apa maksud dari Kinara. Ia berbinar senang saat mengerti. Tiara yang yakin jika Kinara pasti menyontek dalam ujian pasti tertangkap kamera saat melakukan aksinya.


"Dia benar, di ruangan ujian 'kan ada CCTV, kita bisa melihat dari sana," ucap mereka Semua saling bersahut-sahutan dan mengiyakan, membenarkan apa yang dikatakan oleh Kinara.


"Aku setuju, bagaimana kalau kita periksa CCTV. Aku yakin Kinara pasti menyontek," ucap Tiara penuh keyakinan jika apa yang ada dalam pikiran itu benar.


"Bapak rasa itu tidak perlu, keputusan ini sudah mutlak. Kinara adalah pemenangnya di kelas kalian dan juga mendapat juara umum," ucap wali kelas yang tidak setuju untuk melihat kembali CCTV, karena ia dan beberapa guru yang lainnya yang tak percaya sebelumnya juga sudah memeriksanya dan hasilnya Kinara memang tak melakukan kecurangan.


"Tak apa-apa, Pak! Kalau memang mereka ingin memeriksanya, silahkan saja. Kalau itu bisa membuat mereka jadi percaya jika memang akulah pemenang dalam ujian ini," ucap Kinara.


Mereka pun akhirnya setuju untuk memeriksa hasil CCTV .


Setengah jam kemudian seluruh guru beserta beberapa pemimpin sekolah pun berkumpul untuk mengecek CCTV Pada saat ujian beberapa waktu lalu.


Kabar jika Kinara menjadi juara umum dan juara paralel membuat heboh seluruh instansi sekolah. Kabar jika Kinara memecahkan rekor nilai tertinggi menjadi topik hangat di sekolah.


Tiara tersenyum puas saat semakin banyak yang akan menyaksikan rekaman CCTV itu.


Jika yang datang menyaksikan sebanyak ini, kecurangan Kinara pasti bisa terbongkar dan ia pasti akan sangat malu. pikir Tiara.


"Tiara, Tiara. Aku tahu Kau pasti bertujuan untuk mempermalukanku 'kan, tapi sayang tujuanmu tak akan berhasil," batin Kinara melihat wajah senang dari adik tirinya itu.


Setelah semua berkumpul, rekaman CCTV pun mulai diputar. Bukan hanya sehari, tapi semua hari selama melakukan ujian. Semua diperlihatkan saat itu disaat Kinara mengerjakan ujiannya. Namun, dari semua rekaman itu Kinara terlihat serius mengerjakan soal ulangannya, bahkan ia tidak pernah mengangkat kepala dan terus menulis di lembar jawabannya dari awal mengerjakan soal hingga ia berdiri dan mengumpulkan hasil kerjanya. Memberikan kepada guru yang mengawasi jalannya ujian kemudian ia keluar. Begitu seterusnya.


Setelah semua diputar kepala sekolah bertepuk tangan,


"Wah, wah, wah. Ternyata kita memiliki murid yang sangat cerdas di sekolah kita ini. Bapak sangat bangga sama kamu, Nak. Teruslah belajar dan tingkatkan kemampuan belajarmu dan kalian semua jadikan ini sebagai contoh, jika tak ada yang tak mungkin jika kalian mau berusaha. Lihatlah Kinara, dia murid yang selama ini tak memiliki kemampuan dalam belajar bisa menjadi juara umum. Bapak yakin kalian juga akan bisa meraihnya suatu saat nanti. Jadi jangan pernah menyerah dalam belajar. Kinara kamu murid yang hebat, Bapak bangga padamu," Puji kepala sekolah kepada Kinara.


Tiara mengepalkan tangannya, mengencangkan rahangnya. Dadanya terasa sesak bergemuruh menahan emosinya yang sudah di ubun-ubun.


"Kurang ajar, bukannya menjatuhkan Kinara Kenapa dia malah dipuji seperti itu. Tiara benar-benar kesal dibuatnya.


"Aku masih tidak percaya, Pak. Pasti ada sesuatu hal yang salah," ucap Tiara yang masih tak terima.


"Hai … Tiara, kalau kamu memang tidak bisa menerima kekalahan mu tak usah mencari keributan, apalagi yang perlu dibuktikan semuanya sudah jelas jika Kinara lah yang menjadi pemenang. Kamu terima saja kekalahanmu," ujar salah satu teman yang berasal dari tim Kinara.


"Iya benar, jika selama ini Kinara tak unggul dalam belajar bukan berarti 'kan dia tak bisa dapat juara," ucap yang lainnya yang selama ini juga selevel tingkat kecerdasannya dengan Kinara.


"Tidak, semua ini pasti salah, pasti ada kesalahan disini, pasti ada kecurangan, Pak. Aku masih tak terima dengan hasil ini, bukti CCTV ini kurang kuat," ucapnya menggebu-gebu.


"Tiara berhenti mempermalukan dirimu, semakin Kau melawan Kinara semakin Kau akan mempermalukan dirimu sendiri," batin Claudia melihat Kinara yang terus tersenyum penuh arti menatap Tiara.