Mafia In The School

Mafia In The School
Rumah terasa markas Musuh.



Kinara tak terlalu memikirkan perubahan ayahnya ia terlalu sering diabaikan membuat perhatian ayahnya seolah-olah di buat-buat menurut. Rayuan dan bujukan seperti itu tak mempan untuk seorang Kinara. Kinara tahu persis ayahnya adalah orang yang selalu mengambil keuntungan untuk dirinya sendiri. Tak mungkin ia menjadi seperti itu jika tak menginginkan sesuatu darinya.


"Kita lihat saja nanti apa yang ayah inginkan dariku," gumamnya berjalan menuju kamarnya.


Saat sarapan mereka semua duduk bersama, ada ayah ibu, Tiara dan juga Kinara. Mereka makan dengan diam sesekali Ibu hanya melihat mereka semua kemudian melanjutkan makannya.


"Sangat membosankan," batin Kinara yang bisa melihat sikap ibunya.


Jika tak ada Ayah biasanya mereka melarang Kinara untuk ikut bergabung makan dengan mereka, Kinara yang malas meladeni adik dan ibu tirinya lebih suka makan di kamarnya.


"Bukannya malam nanti Kalian ada jadwal untuk belajar?" sahut Ibu mengingatkan keduanya.


"Belajar? belajar apa?" tanya ayah yang tak terlalu ikut campur dalam pendidikan anak-anaknya dan menyerahkan semua pada Istrinya.


"Ada belajar mandiri, Yah. Diadakan saat malam hari setiap malam Minggu di sekolah. Di adakannya baru-baru ini," seru Tiara menjawab pertanyaan ayahnya. Jika dalam hal mencari muka ke ayahnya Tiara Paling jago.


"Itu bagus, kalian berdua harus ikut! setidaknya itu bisa menambah ilmu dan wawasan kalian," ucap Ayah pada kedua putrinya.


"Kinara hanya mengangguk dan terus fokus pada makanannya, dia hanya mendengarkan pembicaraan mereka bertiga. Kinara merasa tak mengerti dengan apa yang mereka bahas, apalagi ocehan Tiara yang tak penting menurutnya


Saat akan keluar kinara bertemu dengan beberapa pelayan mereka semua membungkuk hormat pada Kinara dan bersikap baik.


"Sudahlah kalian jangan bersandiwara seperti itu, aku sudah tahu jika kalian semua tidak ada yang memihakku, jadi tak usah berlagak sok menghormatiku. Aku tak butuh semua itu, berikan saja pada majikanmu yang lainnya."


Para pelayan saling melihat, 'Darimana Kinara tahu kalau mereka cuman berpura-pura menghormatinya,' pikir mereka.


Mereka semuanya menghormatinya saat di depan orangnya saja. Namun, saat di belakang mereka akan terus mencibirnya.


Kinara ingin keluar, tapi sebelum saya keluar ia menunjuk satu persatu para pelayan di rumah itu. Mereka semua menelan ludahnya dengan susah payah, hanya karena dengan jari telunjuk Kinara yang mengarah kepada mereka. Nyali mereka langsung menciut.


Kejadian beberapa hari lalu saat Kinara menghancurkan semua barang-barang nyonya mereka masih membekas di ingatan mereka, apalagi saat Kinara berani menampar Nyonya beras mereka, tak ada yang berani lagi dengannya.


Jangan melakukan hal-hal yang aneh selama aku pergi, terutama jangan mendekati kamarku, jangan ada yang berani-berani masuk ke sana. Jika ada yang berani, aku akan patahkan kaki kalian semua."


"Baik Nona," ucap mereka serempak dan semakin menundukkan kepala mereka.


Kinara yang tanpa sengaja pernah mendengar para pelayan itu mencibirnya dan mengatakan banyak hal buruk mengenai dirinya. Sejak saat itu ia tak percaya pada semua pelayan di rumahnya dan melakukan pekerjaannya sendiri. Ia bahkan meminta pelayanan yang mengantarkannya makanan untuk mencicipinya terlebih dahulu.


Kinara hanya melihat miris pada para pelayannya, dan berlalu meninggalkan rumah yang bagaikan markas musuh baginya, ia tak ingin membuang energi untuk meladeni mereka semua.


" Hufff Selamat," ucap mereka semua mengelus dada setelah melihat Kinara pergi keluar gerbang.


"Kalian sejak kapan menghormati Kinara seperti itu," ucap Tiara berjalan menghampiri mereka.


Keluar dari kandang singa masuk ke kandang kucing betina.


"Eh, Nona. Kami sama sekali tidak menghormati Kinara, kami hanya takut padanya. Kami hanya patuh dan menghormati Nona dan nyonya saja," ucap Salah satu pelayan langsung menjilat Tiara.


" Iya, Non. Di rumah ini kamu hanya menghormati kalian," ucap yang lainnya.


Mereka semua menyanjungnya Tiara.


"Sudah! sudah! Aku tak mau mendengar ocehan kalian, Aku tak mau kalian menghormati atau patuh pada Kinara, di sini hanya aku dan mama yang harus kalian layani tak usah mengurus Kinara. Mama yang menggaji kalian. Jika kalian macam-macam aku akan aduin ke mama biar gaji kalian dipotong," ucap Tiara kemudian melengos kembali ke kamarnya.


"Cepat kita kerja saja." Mereka kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.


Salah satu yang membuat Kinara tak tenang tinggal di rumahnya sendiri adalah tidak adanya yang menganggapnya ada. Pelayan saja terkadang tak menggubris jika ia tak menakuti mereka.


Ia perlu mengumpulkan poin sebanyak mungkin.


Kinara memilih untuk berjalan-jalan keluar mencari udara segar dia lebih baik berjalan-jalan di luar daripada tinggal mengurung diri di rumah itu bukanlah gayanya.


*****


Malam ini adalah malam minggu Kinara dan Tiara bersiap untuk pergi ke sekolah untuk mengikuti program belajar mandiri.


Belajar mandiri ini tidak diwajibkan oleh semua murid, tak dipaksakan sehingga hanya setengahnya saja yang datang,


Orang yang datang sangat sedikit, murid yang tak datang bahkan lebih banyak.


Hanya murid-murid yang benar-benar ingin belajar atau mungkin karena terpaksa yang datang malam itu.


Kinara yang merasa bosan, setelah duduk berapa menit ia memutuskan untuk pergi ke perpustakaan, ia lebih tertarik dengan perpustakaan dan menyelidiki sesuatu lewat internet.


Iya mulai menyalakan komputer dan dengan kecepatan jari jemarinya mencoba menyelidiki sesuatu yang penting di sana.


Disaat Kinara tengah sibuk mencari informasi tiba-tiba Vano mendekat.


"Hai Kinara," sapanya secara tiba-tiba.


"kyaa," Kinara memekik karena terkejut, Perpustakaan yang tenang dan ia menganggap tak ada siapapun disana, tiba-tiba mendengar suara Vano di samping telinganya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Vano duduk di samping Kinara.


"Kamu itu datang dari mana sih? ngagetin aja?" kesalnya masih mengelus dadanya.


"Aku sudah dari tadi disini, aku sudah disini sebelum kau datang. Kau sedang apa? Apa yang kau cari? seperti kau sangat Serius?"


"Aku sedang belajar, sebaiknya kau kembali belajar, kamu jangan ribut, ini perpustakaan!" ucapnya masih kesal, padahal di perpustakaan tak ada siapapun.


Kinara memang menghadap ke layar. Namun, ia tak belajar, lebih tepatnya menyelidiki tentang sesuatu yang masih merasa janggal di pikirannya. Ia sedang menyalidi Ayah Natasha.


"Oh ya, Kinara? Bagaimana kabarmu sudah lama kita tak bertemu?" tanya Vano berbasa-basi.


"Aku baik-baik saja," jawab Kinara mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan yang menurutnya aneh.


Vano menggaruk kepalanya, ia terlalu gugup hingga ia tak tau harus berkata apa untuk memulai obrolan mereka.


"Apa aku boleh menemanimu di sini?"


"Tentu saja, ini tempat umum, kau boleh disini kapanpun kau mau."


Vano memperhatikan wajah Kinara yang begitu cantik tanpa riasan sedikitpun.


Vano yang merasa Kinara terus menghindarinya, mencoba mencari pembicaraan yang dapat menarik perhatian Kinara.


Vano mengambil buku dan penanya, Vano berpikir untuk meminta Kinara mengajarkan pelajaran matematika dia beralasan jika ia sangat lemah dalam ilmu matematika.


"Kamu jangan menipuku ya? Aku tahu soal ini pasti kau sudah tahu jawabannya. Iya kan?"


Vano benar-benar merasa bodoh di depan Kinara.