
"Ayah, Tiara tidak menginvestasikan uang itu kepada keluarga Revan, tapi uang itu ada padaku, Tiara mengirimnya ke rekening ku," ucap kinara yang membuat Tiara dan Mamanya merasa terkejut.
Bagaimana mungkin Kinara mengakui semua itu pada ayahnya.
Ayah melihat pada Kinara menunggu apa yang akan Kinara katakan selanjutnya,
Sementara Tiara sudah merasa sangat ketakutan, rahasianya terbongkar begitu juga dengan Diana, ia melihat Kinara dengan tatapan tajamnya. Namun, Kinara sama sekali tak menggubris tatapan Diana, mungkin jika dulu Diana menatapnya seperti itu ia akan terdiam dan menunduk, tapi tidak untuk saat ini, bukannya takut Kinara malah menantang ibu tirinya itu, dengan balik menatapnya..
"Aku dan Tiara mengadakan sebuah taruhan, di mana yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian semester akhir ini dialah yang menjadi pemenang," jelas Kinara.
"Apa taruhan 22 miliar itu tidak berlebihan?" tanya ibu merasa tak terima dengan jumlah yang sudah dikeluarkannya untuk Kinara.
"Taruhannya sebenarnya bukan itu, taruhan kami sangat mudah dan tak berlebihan sama sekali, yang kalah hanya harus berlari keliling lapangan sebanyak 10 kali, hanya itu saja. Namun, anak kesayangan ibu lebih memilih membayar ku sebesar 22 miliar agar dia tidak malu dengan teman-teman di sekolah. Dia lebih memilih membebankan ibu dengan nominal 22 miliar daripada harus mempermalukan dirinya sendiri," ucap Kinara menatap Tiara merendahkan.
"Apa itu artinya kau berhasil mengalahkan Tiara dalam ujian akhir?" tanya ayah.
"Tidak mungkin, mana mungkin Kinara bisa melengahkan Tiara yang jelas-jelas jauh lebih pintar darinya," ucap Diana.
"Tapi, sayangnya memang seperti itu keadaannya, jika aku tak menang mana mungkin Tiara memberiku uang 22 miliar itu. Walau ibu terima atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Nilaiku jauh lebih tinggi dibanding Tiara anak kesayangan Ibu." Ucapnya.
"Kau pikir Ibu percaya, Ibu mengenalmu sejak kecil, seberapa keras pun kau belajar kau takkan bisa mengalahkan Tiara, ayah juga tau itu 'kan?" tanya ibu pada ayah yang hanya diam mendengar perdebatan mereka.
"Tapi akulah pemenangnya."
Ibu menatap pada Tiada yang sejak tadi diam. Ibu menatapnya seolah bertanya kebenaran yang diucapkan oleh Kinara.
Tiara kembali mengangguk samar.
"Walaupun Kau menang, pasti kau curang 'kan?" sahut Diana tak percaya jika Kinara yang dianggap bodoh selama ini mengalahkan Putri kebanggaannya.
"Kalau kenyataannya Kinara yang menang, berarti dia memang pintar dan pantas untuk di banggakan," ucap Ayah meresa bangga mendengar pencapaian Kinara.
"Apa! Patut untuk dibanggakan! Apa ga salah. Apa ayah percaya jika Kinara berkata jujur."
"Tentu saja, ayah percaya dengan kemampuan Kinara, bisa saja 'kan dia memang dan mengalahkan Tiara," sahut Ayah.
"Tapi, tetap saja itu tidak mungkin Ayah. Kinara terlalu bodoh untuk mengalahkan Tiara dan ayah juga tahu bagaimana prestasi Kinara selama ini 'kan, apa wajar jika dia bisa mengalahkan Tiara secepat itu."
"Aku tak hanya mengalahkan Tiara, tapi juga menglahksnahkan seluruh murid-murid di sekolah," ucap Kinara yang kembali membuat Diana tersentak dan menatap pada putrinya.
Jika Diana tak percaya jika Kinara benar-benar mengalahkan Tiara dan mendapatkan juara 1 umum berbeda dengan ayah, ia sangat percaya pada Kinara dan menganggap mungkin saja selama ini Kinara menyembunyikan kecerdasannya dia tidak mau menunjukkan kepada siapapun karena selama ini dia kurang memperhatikan putrinya itu, Ayah merasa bersalah mungkinkah itu sebabnya Kinara selama ini selalu mencari perhatian dengan cara mempermalukannya," batin ayah melihat putrinya.
Ayah yang baru menyadari jika selama ini ia terlalu sibuk dan jarang memperhatikan Kinara menarik putrinya itu ke pelukannya.
"Maafkan ayah jika selama ini ayah jarang memperhatikanmu, jarang menemanimu belajar, tapi ayah bangga padamu dan mulai saat ini jika kamu membutuhkan sesuatu kamu bisa bilang pada Ayah jangan pernah melakukan kan kesalahan yang dapat merugikan dirimu sendiri," ucap Ayah mengusap lembut rambut Kinara.
Tiara hanya melihat mereka dengan sinis, selama ini hanya dialah yang diperlakukan seperti itu dan kali ini Kinara juga mendapatkan perhatian yang sama-sama, tapi itu tidak membuatnya iri, dia yakin ayahnya jauh lebih menyayanginya daripada Kinara.
"Kinara, Tiara, ini untuk kesekian kalinya kalian melakukan taruhan, bisakah kalian mengakhiri semua ini dan mulai saling kerja sama, kalian saling membantu. kalian anak-anak yang pintar ayah sangat ingin kalian bisa membanggakan keluarga kita jadi berhenti saling menjatuhkan," ucap ayah pada mereka berdua. Namun, Tiara sama sekali tak mendengarkan apa yang ayahnya katakan, ia terlihat jelas jika ia tak menyukai perkataan ayahnya.
Selama ini ayahnya sibuk di kantor dan menyerahkan semua urusan mengasuh Kinara pada Diana, tapi ia tahu jika Kinara dan Tiara sama sekali tak pernah akur. Ayah yang ingin mereka berdua akur layaknya saudara pada umumnya.
"Jika Kinara menganggap Tiara sebagai saudara, ia tak akan membuat Tiara harus membayar sebesar 22 miliar hanya untuk taruhan sekecil itu, apakah pantas seorang kakak menyuruh adiknya membayar uang sebanyak itu. Aku merasa Kinara tak pernah menganggap kami ini keluarganya," ucap Ibu melipat tangannya didada menatap Kinara dengan tatapan tak suka. Ibu masih tak rela Kinara mendapatkan 22 Milyar.
"Bu, ini bukan masalah 22 Milyar, ini adalah masalah 10 tahun kalian memperlakukanku secara tidak adil. Ibu menganggap Kinara tak menganggap ibu dan Tiara keluarga? Ibu sendiri apa pernah Selama ini Ibu menganggap dan memperlakukanku layaknya keluarga. Kinara ingin diperlakukan sama dengan Tiara, Ibu.
Asal Ayah tahu, Selama ini Ibu menganggapku lebih rendah dari seorang pembantu, kinara sekalipun tak pernah merasakan kasih sayang dari ibu. Ibu selalu saja membeda-bedakan Antara Aku dan Tiara dan itu sangat jelas jauh sangat jauh berbeda," ucap Kinara merasakan sesak di dadanya, Ia tidak menyangka Kinara gadis remaja ini begitu sangat menderita, mengapa selama ini ia terus saja bungkam dengan perlakuan ibu tiri dan adik tirinya.
Ibu mengepal tangannya, ia tak menyangka jika Kinara akan melaporkan semuanya, apa yang ia lakukan padanya selama ini, selama ini Kinara hanya terus diam walau apapun yang mereka lakukan.
"Selama ini Kinara merasa menumpang dirumah kita ini, ayah. Jika Kinara ingin makan pun harus melakukan pekerjaan asisten rumah tangga barulah Ibu memberi Kinara makan, ibu juga Terkadang memotong uang jajan Kinara. Apa itu perlakuan seorang ibu kepada anak-anaknya.
Selama ini Kinara tak pernah menganggap ibu dan Tiara itu orang lain, mereka adalah bagian dari keluarga kita, tapi sepertinya semua itu tak berarti untuk mereka.Mereka tak pernah menganggap Kinara, Ayah.
Mereka tetap menganggap Kinara ini orang lain," ucap kinara yang sudah tersedu-sedu. Kinara sang mafia menggerutu memaki dirinya sendiri mengapa ia bisa menangis tersedu-sedu seperti itu, ini untuk pertama kalinya ia merasakan sakit yang teramat Sakit.
"Apakah ini semua perasaan Kinara gadis remaja ini, sekuat inikah ia menahan semua rasa sakitnya selama ini," batin Kinara sang mafia.
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Terima kasih sudah membaca 🙏
Jangan lupa like, vote, dan Komennya 🙏
Salam dariku Author M ANHA 🤗
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖