
Claudia yang kesal mematikan ponselnya dan menghampiri Kinara yang sedang bersandar di sandaran tempat tidur sambil berselancar di ponselnya.
Claudia duduk di samping Kinara.
"Ada apa?" tanya Kinara mengalihkan perhatiannya pada Claudia.
"Apa kau yakin Vincent tak punya perasaan padamu?" tanya Claudia menatap intens pada Kinara yang juga masih menatapnya.
"Iya, aku yakin. Vincent tak mungkin menyukaiku, lagian dia datang menemuiku itu bukan karena sengaja. Dia hanya ingin mengembalikan topi yang tak sengaja aku lempar kepadanya dan Sepertinya dia berpikir aku menghinanya dengan melemparkan topi itu ke wajahnya," ucapnya kembali fokus pada ponselnya.
Claudia mengambil ponsel Kinara, agar Kinara tetap fokus padanya.
"Tapi dari caranya menatapmu terlihat jelas jika ia punya perasaan padamu, kau tahu Vincent itu orang penting tak mungkin dia hanya mendatangimu hanya karena topi itu." Mengambil topi yang tadi Kinara pakai dan diletakkan di atas meja yang ada di samping tempat tidur.
Kinara menatap Claudia dengan kening berkerut, "Apa yang dipikirkan Claudia itu benar? Ah tidak, pasti Vincent hanya kebetulan ada di malam gala seni itu dan kebetulan juga aku melempar topi itu padanya. Pikirannya "Tapi, mengapa ia mendatangiku waktu, aku belum pernah mengenalnya sebelumnya, dan dia tiba-tiba mendatangiku hanya untuk berkenalan. Oh iya aku ingat, apa dia merasa berhutang Budi padaku karena telah menolongnya waktu itu. Iya, pasti itu alasannya mengapa dia mendekatiku. Waktu itu aku bukan hanya menolongnya tapi menyelamatkan nyawanya, jika aku tak menolongnya mungkin saja sekarang dia sudah tewas di tangan para penjahat itu, dia pasti hanya ingin balas budi padaku," batin Kinara menatap lurus kedepan, mencoba berpikir mengapa Vincent mendatanginya sebelumnya. Vincent pasti juga terkesan padaku karena kemampuan ilmu bela diriku, waktu itu dan saat di kasino." Kinara mengangguk-angguk membenarkan pikirannya sendiri.
Claudia menatap aneh pada Kinara yang terlihat tanpa ekspresi dan terus menatap kedepan, mengangguk-angguk tak jelas, ia khawatir terjadi sesuatu pada sahabatnya itu, belakangan ini Kinara terlalu banyak menunjukkan perubahan.
"Kinara kamu tak apa-apa?" tanyanya mencoba memegang tangan Kinara menggoyang-goyangkannya agar Kinara berhenti dari lamunannya. Namun, Kinara tak menggubris dan masih terus menatap kedepan.
"Kinara kamu jangan nakut-nakutin aku," ucap Claudia yang mulai takut dengan ekspresi Kinara.
"Kinara," ucapnya sekali lagi dan semakin mengguncang tangan Kinara membuat Kinara tak tahan untuk menahan tawanya. Ia pun tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah ketakutan dari Claudia membuat Claudia mengambil bantal dan memukul Kinara dengan sangat kesal.
"Kamu itu ngeselin banget, Kamu ngerjain aku ya?" kesel Claudia terus menggebuk Kinara dengan bantal guling, adu bantal pun tak terhindarkan, mereka terus melakukannya hingga mendapat teguran dari anak asrama lainnya.
Di tempat lain Vincent juga melakukan hal yang sama, ia duduk bengong dan menatap lurus kedepan entah apa yang dipikirkannya. Tindakannya itu membuat asisten pribadinya sangat khawatir, sejak tadi ia tak mengatakan apapun dan hanya duduk terdiam.
Para pengawal yang ada di sana juga saling menatap, mencoba saling menebak apa yang terjadi pada Bosnya itu, mereka tak ada satupun yang berani untuk angkat bicara, mereka hanya berdiri dan melihat ke satu arah yaitu ke arah Vincent.
Asisten yang merasa khawatir mencoba memberanikan diri untuk menanyakan apakah dia membutuhkan sesuatu.
Vincent tak menjawab dan hanya melihat ke arahnya.
"Apa Anda baik-baik saja, sudah tadi Anda hanya terus diam. Apakah anda sedang sakit?" tanya asisten dengan penuh kekhawatiran.
"Aku baik-baik saja, bagaimana dengan penyelidikanmu tentang kejadian waktu itu?" tanya Vincent.
"Mengenai kejadian itu, Anda tak usah khawatir. Kami sudah menyelesaikan Semuanya, hanya tinggal menunggu perintah berikutnya.
Mendengar jawaban dari asistennya Vincent mengangguk puas dengan apa yang sudah dikerjakan asisten tersebut. Selama ini dia memang selalu mengerjakan pekerjaannya dengan sangat baik dan dapat dipercaya dalam segala hal.
"Minta beberapa orang kepercayaan kita untuk mengawasi Kinara, pastikan dia aman. Kecerobohanku menemuinya di malam gala seni itu bisa saja mengundang bahaya untuknya. Banyak yang melihatku menemuinya. Aku tak ingin itu menjadi masalah untuknya," ucap Vincent lagi.
"Tentu saja, akan kulakukan," jawab asisten tersebut dengan pasti.
"Semua ini Kinara yang melakukannya?" tanya Diana yang melihat pipi putrinya yang lecet.
"Iya, semua ini ada ulah Kinara. Aku gak mau tahu, ibu harus menghukumnya," rengek Tiara pada ibunya. Tiara semakin menambah Isak tangisnya saat melihat yang berjalan turun.
"Ada apa ini? Kenapa kamu pulang langsung menangi?" tanya ayah yang baru turun dan menghampiri mereka.
"Ayah lihat pipi Tiara, semua ini adalah ke lakukan Kinara. Kinara memperlakukanku dengan buruk saat di belakang panggung, ayah, Kinara menamparku berkali-kali," ucapnya memperhatikan pipinya.
Pipi Tiara memang sangat bengkak, membuat ayahnya tak terima dengan apa yang dilakukan oleh Kinara pada Tiara.
Ayah pun langsung menelpon Kinara, berniat untuk memintanya pulang. Namun, setelah beberapa kali panggilan Kinara tak menjawab teleponnya.
Ya, Kinara yang melihat itu adalah panggilan dari ayahnya sudah menebak jika Tiara pasti sudah mengadukan Apa yang terjadi. Kinara memilih untuk mengabaikannya daripada harus berdebat dengan ayahnya.
"Dasar anak itu kenapa dia berani-beraninya tak mengangkat panggilanku" kesal ayah.
Pagi hari mereka kembali ke rutinitas seperti biasa mereka bersiap-siap untuk ke sekolah.
Topik hangat di sekolah tentu saja mengenai malam gala seni malam tadi, mereka selalu membicarakan hal-hal yang menarik yang terjadi di sana.
Kinara sama sekali tak tertarik dengan pembahasan mereka, ia memilih untuk kembali ke asrama.
"Kinara tunggu," panggil Claudia Saat Kinara akan masuk ke dalam gerbang asramanya.
Kinara menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Claudia yang berlari menghampirinya.
"Ada apa? Kenapa kamu sampai berlarian seperti itu?" tanya Kinara menggeleng melihat Claudia yang terlihat ngos-ngosan begitu sampai di depannya.
"Malam nanti kita nonton pertandingan yuk," ajaknya setelah berhasil menguasai nafasnya yang ngos-ngosan.
"Pertandingan apa?" tanyanya melipat tangan dadanya dan bersandar di pintu gerbang.
"Aku yakin kamu pasti suka, ini pertandingan balap motor. Aku akan menjemputmu malam nanti, aku pergi dulu," ucap Claudia langsung berlari menuju ke arah mobilnya saat mobilnya sudah membunyikan klakson untuknya.
"Ingat ya, aku jemput jam 7 malam." Claudia kembali meneriaki Kinara saat sudah masuk ke dalam mobil, membuka kacanya.
Kinara hanya mengacungkan jempolnya, tadinya ia ingin menolak. Tapi, Claudia tak memberinya kesempatan untuk bicara.
"Tak ada salahnya aku mencari hiburan," gumamnya kemudian ia pun berjalan masuk ke dalam asramanya.
๐น๐นTerima kasih sudah membaca ๐๐น๐น