Mafia In The School

Mafia In The School
Misteri Kayla



Tak lama kemudian Kayla datang membawa dua piring makanan yang tadi dipesan oleh Claudia dan Kinara, Ia pun meletakkan atas meja dengan hati-hati dengan senyum yang terus terlihat di wajahnya.


"Aku pergi dulu ya Kinara? Selamat makan! Sekali lagi maaf jika selama ini aku sudah menyusahkanmu," ucap Kayla sebelum pergi. Namun, ia menatap dalam mata Kinara seolah ingin memberitahu sesuatu.


Kinara hanya mengangguk kemudian melihat Kayla yang terus berjalan, sesekali Kayla melihat ke arah Kinara dan seperti menatap memohon padanya, membuat Kinara menjadi bingung ada apa sebenarnya dengan Kayla.


Tak lama kemudian Vano datang dengan membawa minuman boba khusus untuk Kinara dan meletakkannya di depannya.


"Wah kau mengantri cukup lama dan hanya membeli 1, kau tidak


lihat selain Kinara ada aku disini," ucap Claudia saat melihat Vano hanya membeli satu minuman boba khusus untuk Kinara.


"Kalau kau mau pergi lah antri sendiri," ucap Vano meletakkan air mineral di depan Claudia.


Kinara tak mempedulikan Vano dan Claudia, ia menghabiskan makanannya.


Claudia terus saja makan sambil menatap dengan tatapan tajamnya, ia sangat kesal melihat Vano yang terus saja memperhatikan Kinara.


Semua orang di kantin juga ikut memperhatikan Vano. Vano merupakan idola di sekolah sungguh sangat jarang Ia melakukan hal tersebut, mengantri lama hanya untuk Kinara.


Setelah makan mereka kembali ke kelas, Vano terus mengikuti mereka.


Claudia berhenti dan menoleh ke arah Vano.


"Vano, kamu itu apa-apaan sih selalu mengikuti kami? Apa kamu nggak punya kerjaan lain?" tanya Claudia masih merasa kesal pada Vano.


"Kinara, Apa boleh kita belajar bersama? ujian masuk SMA kan tinggal 3 hari lagi, mau ya!" ajak Vano mengabaikan ucapan Claudia.


"Terserah kau saja. Aku ingin ke kelas sebentar lagi jam pelajaran dimulai," ucap Kinara kembali melanjutkan perjalanannya.


"Aku peringatkan ya sama kamu Kamu jangan coba-coba mendekati Kinara!"


"Aku tak mendekatinya, Aku hanya ingin belajar bersama jika kamu mau ikut kamu boleh belajar bersama kami, apa kamu ga dengar Kinara sudah menyetujuinya," ucap Vano ikut menyusul Kinara, Claudia yang ditinggal sendiri mempercepat langkahnya menyusul mereka.


Sesampainya di kelas, Kinara dan Claudia langsung duduk di bangkunya menunggu mata pelajaran berikutnya.


Vano mengambil kursi dan duduk di depan mereka ia mengeluarkan buku.


"Aku sudah mencari tahu tentang kisi-kisi soal matematika saat ujian nanti, kemungkinan besar soal-soal ini akan masuk,' ucapnya memperlihatkan beberapa soal yang telah ia beri tanda.


Claudia yang mendengarnya langsung menarik buku itu dan melihatnya.


"Kamu yakin ini kisi-kisi untuk soal yang akan keluar nanti?" tanya Claudia berbinar.


"80% kemungkinan besar semua itu akan keluar," jawab Vano dengan pedenya.


Kinara mengambil pulpennya dan mulai mengerjakan soal-soal tersebut, Vano dan Claudia tak berhenti melihat tinta Kinara menari-nari diatas kertas terus, menulis angka-angka dari jawaban soal tersebut.


Vano sangat terkejut saat Kinara sudah selesai mengerjakan. Vano mengerjakan soal tersebut selama 2 jam. Namun, Kinara mampu melakukannya hanya dalam 20 menit saja..


[Bip Score bertambah + 200]


Kinara baru menyadari jika ia terlalu cepat mengerjakan soal-soal tersebut membuat ia dengan cepat mencari Alasan.


"Aku baru saja mengerjakan soal-soal ini semalam, soalnya sama persis jadi aku tinggal mencatatnya kembali," ucapnya meletakkan penanya dan memberikan kertas jawabannya kepada Claudia.


"Jangan berharap jawaban pada aku pelajari sendiri," ucapnya.


Claudia dengan santai mengambil lembar jawaban tersebut dan mengangguk walau, Claudia juga menjadi salah satu murid yang cerdas. Namun, tak secerdas Kinara.


Vano yang masih sedikit tercengang hanya mengangguk mendengar alasan.


Mereka kembali mengerjakan soal lainnya, Claudia hanya melihat kedua jenius itu saling berdiskusi.


Tak lama kemudian seorang siswa datang membuat keributan.


"Di danau ada mayat, cepat kalian lihat," ucapnya membuat semua yang di kelas itu tersentak kaget.


"Kamu jangan macam-macam, mayat Siapa?" tanya Bayu selaku ketua kelas di kelas tersebut.


"Vano yang ikut mendengarnya langsung berdiri, "Di mana mayatnya?" tanya.


"Di danau buatan, aku dengar beberapa waktu yang lalu ia juga pernah terjatuh di sana, tapi sempat diselamatkan. Kali ini ia benar-benar tenggelam," ucapnya menerangkan apa yang didengarnya dari orang-orang yang berkerumun tadi.


"Kayla," ucap Claudia dan Kinara secara bersamaan.


Begitu sampai di tempat kejadian Mereka melihat dari kejauhan banyak polisi di sekitar danau tersebut, membuat garis polisi untuk pengaman, juga beberapa dokter serta kepala sekolah beberapa guru juga berkumpul di sana. Sementara ratusan orang mengelilingi danau buatan tersebut di luar garis pembatas kepolisian.


Mereka melihat ada mayat yang diangkat dan ditutupi oleh kain putih, Kinara terus melihat mayat tersebut.


Semua berbisik-bisik jika itu adalah Kayla murid dari kelas B.


Kinara memicingkan matanya saat seorang dokter membuka kain penutup wajah mayat tersebut dan dia bisa melihat jelas jika itu adalah Kayla.


Vano langsung menarik Kinara pergi dari sana, Claudia ikut berlari.


"Vano apaan sih kamu?" ucap Kinara melepaskan genggaman tangan Vano yang menariknya.


"Sebaiknya kau jangan dekati lokasi itu, kita baru saja bertemu dengannya jangan sampai mereka menuduh kita yang melakukannya," ucap Vano yang dijawab anggukan oleh Claudia.


Namun, Kinara semakin penasaran mengapa Kayla bisa seperti itu. Mengapa kejadian itu terasa sangat janggal.


Kejadian itu terjadi lagi, ia kembali mengingat tatapan Kayla saat meninggalkan kantin tadi.


Jam masuk pun berbunyi Semua guru meminta untuk masuk ke kelas begitu juga dengan Kinara dan Vano.


Sepanjang pelajaran tak ada yang konsentrasi mereka terus membahas masalah Kayla membuat guru yang mengajar mereka memarahi mereka semua dan memintanya untuk terus fokus pada pelajaran.


Saat sedang belajar, tiba-tiba wali kelas mereka masuk.


"Kinara, ikut bapak ke kantor," ucap wali kelas pada kinara.


Kinara hanya mengangguk dan ia pun mengikuti wali kelas yang sudah berjalan lebih dulu menuju ke kantor kepala sekolah.


"Ada apa, Bu? kenapa Kinara dipanggil ke kantor?" tanya Claudia pada guru yang mengajarnya.


"Ibu juga tak tau. Lanjutkan pelajaran kalian."


Saat Kinara masuk di ruang kepala Sekolah, ia bisa melihat kepala sekolah dan juga dua orang polisi.


"Kinara duduklah," ucap kepala sekolah mempersilahkan Kinara untuk duduk.


"Ada apa ya, Pak? Kenapa saya dipanggil?" tanya Kinara, sebenarnya ia mengerti pasti ini menyangkut kematian Kayla.


"Apa hari ini kau bertemu dengan Kayla?" tanya salah satu polisi yang usianya lebih muda dari polisi satunya.


"Iya, hari ini kami bertemu di kantin," jawab Kinara.


"Setelahnya? Apa kau bertemu lagi dengannya? Misalnya kalian bertemu di sekitaran danau?" tanya polisi yang usianya lebih muda.


"Tidak, aku langsung ke kelas."


"Kau yakin kau tidak bertemu dengan Kayla lagi selain di kantin?" tanya polisi tersebut terus menyudutkan Kinara.


"Sebenarnya apa yang ingin Anda katakan, Pak. Anda ingin saya mengakui apa yang tak aku lakukan? Tapi, maaf. Tuduhan Anda salah, bukan saya yang melakukannya saya bertemu dengan Kayla di kantin Setelah itu saya ke kelas. Apa itu tidak jelas jika bukan saya yang melakukannya dan saya tak sendiri," ucap Kinara memandang Santai polisi yang sedari tadi coba menekannya.


Mendapat jawaban seperti itu dari Kinara membuat polisi itu marah, ia menggebrak meja.


"Kamu jangan bohong, kamu kan yang membunuhnya. Kamu pasti sengaja mendorongnya karena dendam kan?"


"Anda ini seorang polisi, jangan menuduh tanpa bukti," tentang Kinara.


"Aku punya bukti, beberapa waktu lalu kau memaksanya untuk memakan lipan hidup hidupkan, mendorongnya ke danau yang sama," ucap polisi tersebut.


"Itu benar, tapi apa hubungannya dengan kejadian hari ini? itu sama sekali tak ada hubungannya, Pak," sahut Kinara tak mau kalah dari petugas tersebut.


Jawaban Kinara dibetulkan oleh kepala.


Mereka terus berdebat Kinara terus menjawab pertanyaan dari polisi yang terus menyudutkannya, polisi tersebut berharap Kinara takut dan berhenti menjawab.


Setelah perdebatan yang cukup panjang polisi yang lebih tua menegur polisi yang lebih muda tersebut, sadar jika dia terlalu emosi. Mendapat teguran polisi muda pun menurunkan ritme emosinya.


"Mulai saat ini kamu jangan meninggalkan area sekolah, aku akan mengumpulkan bukti lebih banyak lagi dan memastikan mu bertanggung jawab atas perbuatanmu, walau kau masih dibawah umur, tapi tetap saja tindakan kamu akan mendapatkan hukuman karena menghabisi nyawa orang lain. Mulai sekarang kamu ditetapkan menjadi salah satu tersangka pembunuhan Kayla."


"Silahkan cari bukti! Apakah benar aku yang membunuhnya atau tidak, jika Anda menemukan bukti aku dengan suka rela menyerahkan diriku." Kinara berdiri dan pamit kembali ke kelasnya.


"Siapa dalang dari kematian Kayla?" pikir Kinara sambil terus berjalan ke kelasnya.