Mafia In The School

Mafia In The School
Kekecewaan Claudia.



Claudia pulang dengan hati yang sangat kacau, ia masuk ke kamar dan membanting semua barang-barangnya.


" Kinara kamu keterlaluan, aku mengira kau sudah menganggapku sebagai sahabat seperti Aku menganggapmu sahabat ku, tapi ternyata kau sama saja dengan yang lain, Kalian hanya berteman denganku Untuk memanfaatkanku," ucap Claudia terus menghambur-hamburkan barangnya.


Bibi masuk dan mencoba menenangkannya.


Selama ini hanya Bibi yang selalu ada untuknya, di rumah besar itu hanya Bibi yang selalu menghiburnya.


"Kenapa semua sahabat-sahabatku hanya memandang ku karena harta, aku pikir Kinara berbeda dari sahabatku yang lain, tapi ternyata dia sama saja, Bi. Kenapa Bi? Kenapa kekayaan ini justru membuatku merasa kesepian," ucapnya menangis di pelukan Bibi pengasuh yang selama ini menjaganya.


Bibi tak bisa berbuat apa-apa, ia hanya bisa mengelus rambut anak majikan itu.


"Kemasi barang-barangku! aku akan keluar negeri bersama dengan ayah dan ibu, aku tak tahu apakah aku akan betah tinggal di sana," lirih Claudia mengusap air matanya. ia tahu walaupun ia pergi ke luar negeri di mana ayah dan ibunya sekarang menetap mereka belum tentu sering bersama.


Ayah dan ibunya selalu berpindah tempat dari tempat satu ketempat yang lain. Terkadang mereka hanya di rumah selama sehari kemudian kembali pergi untuk melakukan pekerjaan.


Mereka sengaja meninggalkan Claudia di rumah pertamanya Karena dia sudah memiliki banyak teman dan juga para pengasuh yang sudah sangat menyayanginya.


"Non, jangan bersedih ya, Bibi akan mengikuti Kemanapun nona pergi," ucap Bibi kembali mengusap air mata anak majikan yang sudah dianggapnya anak sendiri.


Sementara itu Vano juga merasa gelisah, Ia berdiri dibalkon kamarnya terus menghubungi seseorang. ia merasa gelisa memikirkan siapa orang yang membawa Kinara dan kemana mereka pergi.


"Tuan muda sebaiknya Anda makan dulu Sudah dari tadi Anda tidak makan apapun," ucap kepala pelayan tersebut menghampiri Vano dengan membawa nampan.


"Aku tidak lapar, keluar!" ucapnya meminta kepala pelayan tersebut.


Sebelum kepala pelayan itu keluar, ia menyimpan nampan yang di bawahnya di depan Vano.


"Makanlah, biar kau tak sakit," ucapnya kemudian menundukkan keluar dari kamar.


Melihat makanan tersebut Vano kemudian memakannya, ia tak ingin para asistennya mendapat amarah dari ayahnya Jika ia tak menyentuh makanan tersebut.


Suara ribut-ribut mengganggu pendengaran Vano, Ia pun mencoba keluar kamar dan melihat keributan di bawah. Ia melihat ayahnya sedang memukul seseorang.


"Ada apa?" tanya kepada Kepala pelayan yang selama ini setia selalu berada di sampingnya.


"Tuan muda tidak usah ikut campur, sebaiknya Anda masuk ke kamar," ucap kepada pelayan.


Selalu saja jawaban itu yang diterima, setiap dia bertanya tak ada yang mau memberinya jawaban pasti.


Vano sering melihat ayahnya memukuli orang-orang yang bekerja padanya. Tak jarang ia melihat darah berceceran di ruang tengah rumahnya. Namun, lagi-lagi asisten selalu melindunginya selalu membatasinya untuk mencari hal-hal yang mengganjal di pikiran.


Vano kembali masuk ke kamarnya meminta asisten tersebut ikut dengannya.


"Aku rasa aku sudah cukup besar untuk mengetahui semuanya, ceritakan padaku apa sebenarnya yang terjadi? Siapa sebenarnya orang-orang yang selalu dipukuli oleh Ayahku?" tanya Vano.


Asisten tersebut menuju ke pintu kemudian menguncinya. Anda benar, Anda sudah cukup besar untuk mengetahui semua yang terjadi di rumah ini. Sebenarnya ayah Anda memimpin sebuah geng Mafia," jelas asisten tersebut.


"Mafia?" ucap Vano terkejut.


" Iya, Sebaiknya saat ini Anda tak keluar dulu dari rumah ini! Terlalu berbahaya sepertinya beberapa musuh Ayah tuan muda sudah mengetahui keberadaan Anda," jelas Kepala pelayan.


Vano yang sudah, bisa membayangkan pekerjaan ayahnya. Ia terduduk di kasurnya, selama ini Vano memang tahu jika ayahnya itu bukanlah orang baik. Namun, ia tak menyangka jika ayahnya itu seorang Mafia.


Sementara itu di sebuah gedung apartemen mewah, Kinara dan Vincent berjalan masuk ke dalam salah satu apartemen.


"Ini apartemen siapa?" tanya Kinara berjalan masuk sambil memegang tasnya.


"Ini Apartemen milik ku , mulai sekarang kamu tinggal di sini aku masih punya beberapa apartemen yang bisa aku tinggali dimana saja." ucapan nyalakan semua lampu dan Kinara bisa melihat kemegahan yang ada di dalam apartemen tersebut.


"Kau pasti lelah, istirahatlah kita akan bicara besok. Jika kau membutuhkan sesuatu semua sudah tersedia, makanan dan keperluan lainnya. Aku akan mengunci pintunya, hubungi aku jika kau ingin keluar aku berada di lantai atas ucapan sebelum keluar dari apartemen itu.


Kinara mengambil ponsel yang diberikan oleh ayah Natasha. ponsel itu khusus hanya diketahui oleh para geng Naga Hitam.


"Halo ada apa?" tanya Kinara pada ayah Natasha.


"Apakah kau sudah siap ikut dalam misi pertamamu? ini sangat berbahaya?" Ayah Natasha.


"Aku siap," jawab Kinara pasti.


"Baiklah aku akan mengabarimu lagi dan akan memasukkan mu kedalam nya.


"Baiklah kita mulai dengan misi ini," gumam Kinara yang sudah tak sabar kembali pada dunianya yang sebenarnya


keesokan harinya Kinara menggunakan motor Vincent pergi ke markas mereka. Ingatan Kinara sangat kuat walau baru sekali pergi ke markas tersebut.


Kinara yang sudah diterima menjadi anggota tim Naga Hitam memiliki akses untuk keluar masuk wilayah tersebut Ia pun masuk dan melihat beberapa orang ada disana termasuk.


Yoona yang melihat Kinara datang merasa kagum, dia dalam kondisi baik-baik saja, racun nya seperti tak berfungsi pada Kinara.


"Apa anak itu yang mengalahkan mu?" Tanya pria yang bersamaan Yoona.


"kau Jangan meremehkan nya, dia tak seperti yang kau bayangkan," ucap Yoona yang masih ingat bagaimana Kinara mengalahkannya


Kinara berjalan masuk dengan santai Ia melakukan sedikit pemanasan. Ia datang ke tempat tersebut untuk melatih kekuatannya, ia juga ingin melatih cara menembakmya


Kinara mulai mengambil senjata dan mulai menembak.


Kinara terus menembak tepat sasaran. Namun, pria yang tadi bersama Yoona menghampirinya dan merendahkannya mengatakan jika skill tembaknya sangat rendah dan harus masih banyak belajar lagi.


Kinara tak mempedulikannya dan tetap melakukan latihan tembak.


Beberapa orang yang juga tak mengenal Kinara juga ikut mengejeknya. Bahkan mereka menertawakan cara menembak Kinara.


Yoona juga mengambil senjata dan menembak sasaran yang tadi di tembak oleh Kinara.


Tembakannya mengenai sasaran dan semua bertepuk tangan dan bersorak mengagumi cara menembak Yoona, padahal Kinara menembak sasaran dengan tepat.


Cara menembak mu benar-benar sangat buruk, sepertinya kamu harus mecari pelatih untuk mengajari," ucapannya.


Mereka tersebut terus meremehkan Kinara dengan beberapa kata dia lontarkan untuk nya.


Kinara yang kesal langsung mengarahkan pelurunya ke orang tersebut dan mengenai anting orang itu.


semua tersentak kaget, menghentikan tawanya.


"Jika kemampuan menembak ku sangat buruk aku pasti salah menargetkan anting mu," Kinara kembali melakukan tembakan pada sasaran tembaknya.


orang tersebut perlahan memegang telinganya, antingnya sudah tak ada dan dia tak terluka sedikitpun.


Semua yang tadi merendahkan dan mengejek cara tembaknya terdiam seketika.


Apa ada yang mau menguji kemampuan tembak Ku?" tanya Kinara melihat mereka semua yang hanya bisa terdiam.


"Aku akui tembakan mu sangat bagus, tapi bagaimana dengan menggunakan tangan kosong," ucap salah satu anggota Mafia tersebut yang waktu itu tak sempat menyaksikan pertarungan Kinara dan Yoona.


"Jangan salahkan aku jika beberapa tulang mu patah," ucap Kinara melenturkan kepalan tangannya.


Kinara menerima tantangan tersebut dan bersiap di ring tinju.


🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹