
Vincent menyisir pulau tersebut, berharap Vano masih ada di sekitaran pulau itu, ia dibantu oleh beberapa warga yang tinggal disana.
Vincent banyak mengenal orang-orang di pulau tersebut, membuat mereka ikut membantu mencari Vano. Namun, hasilnya tetap tak ada, mereka seperti sudah membawa Vano keluar dari pulau tersebut.
Tadinya para penduduk takut keluar rumah saat mendengar suara tembakan. Mereka memutuskan untuk menutup pintu rumah mereka tak ingin ikut campur dengan apa yang terjadi pada kedua orang pendatang yang menurut mereka pasti memiliki masalah dengan orang yang bersenjata yang membawa salah satu dari mereka.
"Vincent, sebenarnya siapa orang-orang tadi?Mengapa mereka membawa orang yang kau bawa ke pulau ini? Memangnya siapa mereka dan siapa kedua orang itu?" tanya salah dari penduduk yang dituakan di perkampungan itu. yang mereka tahu Vano dan koki itu adalah orang yang dititipkan Vincent pada mereka.
"Dia salah satu teman yang dalam bahaya.
Apa diantara kalian ada yang melihat orang yang membawa salah satu orang yang datang kemarin itu?" tanya Vincent.
"Kami hanya melihat mereka semua bersenjata dan menutupi wajah mereka dan pergi dengan kapal membawa salah satu pendatang itu . kami tak tau siapa dan Kemana dia akan membawanya."
"Aku pikir kau tahu Siapa yang menculik Vano?" tanya Kinara melihat pada Vincent.
"Aku hanya mencurigai saja, kita perlu sedikit bukti untuk menjadikan kecurigaan benar. Kita tak boleh sembarang menuduh siapa pelakunya, kau tahu sendiri kan jika salah, nyawa kita taruhannya,"
"Siapa orang yang kau curigai?" tanya Kinara.
"Siapa lagi kalau bukan geng Naga Hitam. Bukankah Ayah Natasha tahu jika kita membawa Vano ke sini, dia kandidat terbesar yang menyuruh orang untuk mencelakakan Vano. Membiarkan Vano hidup memang sangat berbahaya, membesarkan anak korban, tentu saja suatu saat nanti dia bisa saja akan membalas dendam atas kematian ayahnya dan sasarannya tentu saja adalah Naga Hitam," kelas Vano.
"Aku akan mencari Vano, dan menanyakannya pada ayah Natasha," ucap Kinara berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke arah Speedboat yang tadi di tumpanginya.
"Kami permisi dulu," pamitan Vincent kepada mereka semua.
Vincent kemudian menyusul Kinara yang sudah berjalan lebih dulu menuju ke arah di mana speedboat tadi di pikirannya. Kinara mengira Speedboat itu masih menunggu nya.
"Di mana speed boatnya? Apa orang itu meninggalkanku," ucap Kinara mencari keberadaan orang yang tadi di mintanya untuk menunggunya.
"Dasar orang itu, aku sudah membayarnya mahal. Namun, dia masih saja meninggalkanku," gumam Kinara merasa kesal.
"Kau mau apa? Dimana speedboat yang mengantarkan mu tadi?" tanya Vincent yang sudah berhasil menghidupkan speed boat tersebut.
"Aku tahu kau ini sedang meledekku, tapi aku tak punya pilihan lain selain ikut denganmu. Speed boat yang tadi aku sewa ternyata meninggalkanku," ucap Kinara dengan raut wajah kesalnya. "Lihat saja saat aku melihatnya akan aku beri dia pelajaran berharga karena telah meninggalkanku."
Vincent hanya tersenyum mendengar ucapan Kinara yang menggerutu tak jelas. tingkan Kinara terlihat sangat lucu saat Sadang marah seperti itu.
Sebenarnya Vincent lah meminta orang tersebut untuk meninggalkan Kinara dan mengatakan biar Kinara pulang bersamanya, Vincent bahkan menambahkan uang agar orang itu meninggalkan Kinara.
Saat mereka akan pergi seseorang menghampiri mereka dengan berlari. Vincent yang melihatnya menghentikan niatnya untuk menjalankan Speedboat nya.
"Ada apa?" tanyanya melihat orang tersebut seperti sedang ingin berbicara dengannya.
"Kami menemukan sesuatu. Apakah ini berguna dan bisa kalian jadikan petunjuk?" ucap orang tersebut memberikan sebuah lencana pada Vincent.
Vincent mengambil lencana tersebut dan melihatnya menggunakan cahaya senter diri ponselnya.
Kinara Yang juga penasaran dengan apa yang dilihat Vincent dengan begitu serius menghampirinya, ia sangat terkejut saat melihat lencana itu.
"Dari mana Anda mendapatkan lencana ini?" tanya Kinara pada orang yang baru saja menghampiri mereka itu.
"Kami menemukannya di sekitar jalan, orang bersenjata yang membawa orang yang kalian cari," jawab orang itu.
"Kinara melihat lencana itu, dia menggenggam nya dengan erat. itu adalah rencana dari kelompoknya yang dahulu sudah menjebaknya padahal selama bertahun-tahun ia sudah berkorban banyak untuk geng tersebut.
"Mawar Hitam," ucap Vincent.
Kinara hanya mengangguk, membenarkan nama geng yang di ucapkan Vincent.
Nama geng pemilik lencana tersebut.