
Malam hari semua sudah bersiap di posisi masing-masing, mereka sudah berada di luar gerbang dan mengatur siasat mereka. Misi kali ini Yoona yang di tunjuk memimpin penyerangan tersebut.
"Kinara kau masuk paling belakang! Anggap saja Kau hanya ditugaskan mengamati pekerjaan kami, amati dan pelajari." ucap tegas pada kinara.
"Terserah kau saja," ucap Kinara yang tak fokus pada misinya, yang ada dipikiran Kinara saat ini hanyalah Vano, di mana Vano. Dia harus bisa menyelamatkan Vano sebelum mereka melakukan hal yang buruk padanya.
Mereka mulai memasuki pertahanan musuh,
tak mudah lewati keamanan mereka, begitu mereka mulai masuk bunyi senjata sudah menyambut mereka, ternyata misi mereka diketahui musuh beberapa menit sebelum mereka masuk. Bunyi tembakan saling balas memekakkan telinga, mereka saling menghujani peluru.
Kinara langsung menyusup masuk, tujuannya hanya satu mencari Vano. Walau mereka bukan termasuk teman akrab. Namun, Kinara sudah merasa dekat dengannya dan menganggap Vano orang yang baik dan sudah memberi kenangan yang baik semasa di sekolah.
"Vano di mana kamu," batin Kinara terus menyelinap masuk dalam rumah tersebut. Sesekali di memuntahkan pelurunya saat ada yang menghalangi jalannya.
Kinara bisa mendengar jelas jika suara senjata sudah berada di rumah tersebut, sepertinya timnya sudah berhasil menerobos masuk.
Hanya Kinara lah yang masuk ke dalam rumah hingga ke bagian tengah. Kinara sudah menyapu beberapa bawahan ayah Vano di dalam rumah itu.
Kinara menendang pintu sebuah kamar, dan melihat Pria paru baya yang memakainya serangan koki yang menunduk dan mengangkat tangannya.
Kinara bisa melihat jika di sekitarnya tak adalah senjata yang bisa dipakai untuk melindungi dirinya. Sepertinya dia hanyalah seorang koki biasa.
"Katakan! Di mana Vano?" tanya Kinara menodongkan senjatanya kepada koki tersebut.
"Kau bisa membunuhku, tapi aku takkan mengatakan di mana tuan muda," ucapnya. koki tersebut kini menatap Kinara dan menurunkan tangannya, dia siap untuk menerima apapun yang dilakukan Kinara.
"Aku datang kesini tak bukan untuk menyakiti Vano, tapi aku ingin menyelamatkannya. Cepat katakan dimana dia!" ucapnya pada koki tersebut.
Koki itu tersenyum sinis, "Kau pikir aku akan percaya dengan apa yang kau katakan? Kau pasti bagian dari mereka yang mengincar majikanku."
"Terserah kau mau percaya atau tidak, aku akan tetap mencari dan akan menemukan Vano." Kinara kembali menutup pintu tersebut dan kembali mencari Fano di kamar lain, koki itu terus mengikuti Kemana kita pergi.
Kinara berbalik dan kembali menodongkan senjatanya dan hampir saja menarik pelatuknya. iya berfikir koki itu pengawal lainnya.
"Aku tak ingin menyakitimu, sebaiknya kau mencari tempat aman! Sebentar lagi mereka akan masuk, mungkin saja kau juga akan di habisi bersama dengan yang lainnya."
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Koki tersebut yang mulai percaya pada Kinara. Menurut nya jika Kinara orang yang jahat sedari tadi dia pasti sudah menghabisinya sama seperti beberapa bawahan ayah Vano yang sudah tergeletak tak bernyawa di sepanjang jalan yang dilalui Kinara. Koki beranggapan Kinara bukan orang yang jahat seperti orang-orang di luar sana dia pasti sudah menembaknya saat pertama kali melihatnya.
Kinara menurunkan senjatanya,
"Aku mengenal Vano, kami pernah menjadi teman sekolah. Aku memang anggota kawanan mereka. Namunz misi kami hanya menghabisi tuanmu bukan Vano putranya. Aku kesini untuk menyelamatkannya bisa saja Vano juga akan dihabisi oleh mereka," jelas Kinara.
"Ikut denganku!" ucap koki tersebut kemudian langsung membawa Kinara ke tempat persembunyian Vano. Namun setelah sampai di sana mereka tak mendapati Vano.
"Dimana Vano?_ tanya Kinara yang melihat kepanikan dari koki tersebut.
"Ini adalah ruang persembunyiannya, jika terjadi sesuatu biasanya dia akan diminta untuk ke ruangan ini, tapi sepertinya dia tidak menuruti apa yang diperintahkan ayahnya selama ini, ia tak masuk ke ruangan rahasianya.
"Ada apa? kenapa Anda terlihat panik?" tanya Kinara melihat koki tersebut sangat panik dan seperti mencari sesuatu.
"Aku menyimpan senjata di sini, tapi senjata itu juga hilang," jawabnya.
"Apa Vano yang mengambilnya?" tanya kinara.
"Mungkin saja, ia tak miliki sama sekali kemampuan menembak. Sepertinya dia nekat keluar."
"Vano seperti sedang dalam bahaya. kita harus secepatnya menemukannya."
"Kita berpencar. jika kau menemukan Vano bawa dia keluar di sisi timur, disana akan ada yang akan bawa kalian pergi ke tempat yang aman.
Mereka kemudian berpisah, agar lebih cepat menemukan Vano.
Saling tembak dan saling membunuh bukan hal baru bagi Kinara.
Suasana tiba-tiba sunyi, tak ada satupun senjata yang terdengar.
Kinara menajamkan pendengarannya. Beberapa saat kemudian Tembakan kembali terdengar, suara itu berasal dari salah satu ruangan yang tak jauh darinya.
Kinara bergegas menghampiri ruang tersebut. Begitu kinara masuk ke ruangan itu ia melihat di sana sudah ada Yoona yang memegang senjatanya dan mengarahkan pada Vano. Diruang itu juga ada seseorang yang terlihat memasang badan melindungi Vano dan terlihat orang tersebut terkena beberapa luka tembak.
ia berdiri di belakang Yoona. Yoona hanya melirik dan tersenyum melihat kinara yang baru saja masuk.
Kinara yakin orang yang sudah terkena tembak tersebut adalah Ayah Vano, orang tersebut jatuh terduduk dia lantai sementara Vano terus mencoba membantu ayahnya.
"Kau boleh membunuhku, tapi lepaskan putraku ," ucap Ayah Vano memohon pada Yoona.
"Tapi sayang, aku tak bisa melakukannya. Aku akan membantumu untuk tetap bersama dengan putramu." Yoona tertawa melihat ketakutan dan penderita musuhnya.
"Yoona, kita hanya ditugaskan untuk menghabisi ayahnya, 'kan? Aku rasa tak ada salahnya kita membebaskan putranya," ucap Kinara.
"Apa kau bodoh?' dengan membebaskan putranya itu sama saja kita membebaskan seorang musuh yang siap menerkam kita.
Putranya juga harus mati," ucapnya kembali mengarahkan senjatanya kini ke arah Vano
"Aku mohon, ia tak tahu apa-apa tentang dunia Mafia, dia tak akan menjadi ancaman buat kalian. Aku mohon bebaskan dia," ucap Ayah Vano di salah-salah menahan rasa sakitnya.
Ia benar-benar sudah di ambang batasnya.
Vano tak bisa berkata apa-apa, ia hanya terus memegang erat tubuh ayahnya yang sudah tak bertenaga.
"Tapi maaf, aku bukan orang yang sebaik itu yang bisa mengabulkan permohonanmu. Walaupun itu adalah permohonan terakhirmu." Yoona sudah mulai menarik pelatuknya dan membidik Vano yang ada di belakang Ayahnya.
Dorrrr....
Suara tembakan menggelegar di ruangan tersebut.
"Kinara, Apa yang kau lakukan," teriak Yoona saat Kinara menembak tangannya.
'
Kinara mengarahkan senjatanya kepada Yoona, "Putranya tak tahu apa-apa, bebaskan dia!" ucapnya.
"Apa? kau mau menjadi penghianat?" seru Yoona.
Yoona ingin memungut senjatanya. Namun, lagi-lagi Kinara menembak senjata tersebut membuat senjata itu terlempar menjauh dari Yona.
"Kau pikir siapa kau? Aku yang memimpin misi ini, kau sudah melanggar peraturan geng kita dan kau juga harus mati," seru Yoona mengambil senjata lain yang tidak pinggangnya dan langsung mengarahkannya pada Kinara.
Dorrrr
Tembakan kembali terdengar di ruangan tersebut, Yoona tercengang saat Kinara lebih cepat darinya, membidik area dadanya.
Yoona memegang dadanya dan melihat cairan merah di tangannya.
"Penghianat kau Kinara," ucap yoona sebelum jatuh dan tak sadarkan diri.
"Kinara, siapa kau sebenarnya?" suru Vano yang tercengang melihat apa yang baru saja terjadi. Kinara baru saja menembak Yoona dan menyelamatkan nya.
Terima kasih sudah membaca 🌹