Mafia In The School

Mafia In The School
Pesona Kinara



Revan juga ikut bergabung dalam pesta itu, ia memakai jas lengkap dengan dasi yang berwarna senada dengan jasnya. Membuatnya terlihat lebih dewasa dari usianya, ia melihat seorang wanita yang baru memasuki gedung, wanita itu terlihat begitu cantik.


Begitu wanita itu masuk, semua saling berbisik mengagumi kecantikannya.


Revan tersenyum mendengar mereka semua ternyata mengaguminya, ternyata bukan hanya dirinya yang terpukau, tapi hampir semua orang yang ada di ruangan itu ikut terpesona sama dengan gadis yang baru masuk itu.


"Siapa gadis itu, berani dia terlihat cantik malam ini," ucap Revan memperbaiki posisi dasinya dan berjalan menuju ke arah wanita yang membuat jiwa playboy nya meronta-ronta ingin beraksi. Revan berjalan sambil terus memandangi punggung gadis itu sambil sesekali memperbaiki tatanan rambutnya.


Ya, gadis itu adalah Kinara yang berjalan memasuki aula acara sambil menggandeng seorang Pria tampan Vincent Xander.


Kinara terus menggandeng tangan Vincent berjalan masuk tanpa menghiraukan orang-orang Yang sepertinya berisik dan berbicara tentangnya, Kinara pura-pura tak mendengar bisik-bisik mereka.


Ia tak tau mereka memuji atau menghina nya. Ia tak mau tau selama itu tak merugikannya.


Pesta manusia elit yang sangat mewah, para tamunya juga dari berbagai kalangan kelas atas.


Begitu Kinara semakin masuk dan ikut bergabung dengan mereka semua langsung melihat ke arah Kinara yang menggunakan baju dress panjang merah yang terlihat sangat cantik, sangat kontras dengan warna kulit nya yang putih bersih. Membuat ia langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam gedung tempat diadakannya acara tersebut.


Kinara bisa menyadari kekaguman mereka padanya, membuat ia semakin menebar pesonanya.


"Kau lihatkan 'kan, walaupun namamu Vincent Xander, tapi sepertinya mereka semua lebih tertarik pada Kinara. Mereka semua terlihat jelas mengagumiku, berarti namamu bukan apa-apa dibanding kecantikan ku, iya kan?" ucap Kinara merasa menang dari seorang Vincent yang ia sendiri tak tahu apa istimewanya dari nama itu sehingga pemiliknya begitu membanggakan namanya.


"Kau memang sangat cantik malam ini, bukan hanya menurut mereka, tapi menurutku juga. Kaulah bintang di pesta ini," bisik Vincent mengakui kecantikan Kinara.


Kinara semakin percaya diri berjalan saat Vincent sendiri mengakui kecantikannya.


Vincent melihat beberapa temannya sedang berkumpul, tadinya ia ingin mengajak Kinara bertemu dengan mereka. Namun, ia kembali mengurungkan niatnya.


"Kamu tunggu di sini ya! Aku ingin menyapa teman-temanku terlebih dahulu, aku tidak lama kok, jangan kemana-mana," ucapnya sebelum pergi.


"Iya pergi saja, aku tak masalah di sini. Santai saja," ucap Kinara sambil terus melihat dekorasi pesta yang begitu mengagumkan, memanjakan matanya.


Kinara melihat Vincent berjalan menjauh dan melihatnya langsung berbaur dengan teman-temannya.


"Oh itu dia teman-temannya, Kenapa ia tak mengenalkanku pada mereka," batin Kinara. Kinara mengedikkan bahunya, "Ngapain juga aku kenal dengan mereka, toh Vincent juga baru saja saling kenal, aku belum tau siapa dia sebenarnya" gumam Kinara menertawakan dirinya sendiri.


Revan yang Sejak pertama melihat Kinara masuk ke pesta sungguh sangat penasaran, Ia pun menghampiri Kinara mencoba untuk berkenalan dengan sosok wanita yang menjadi di idola di pesta itu, menurutnya.


"Permisi nona, boleh aku berkenalan denganmu," ucap Revan yang sudah berada di belakang Kinara.


Kinara yang mendengar seseorang menyapanya berbalik dan alangkah terkejutnya ia saat melihat orang yang menyapanya itu adalah Revan.


"Revan ngapain kamu kesini?" ucap Kinara dengan ekspresi terkejut nya. Kinara berpikir tak ada yang di kenalnya di Perta itu.


Bukan hanya Kinara yang terkejut Revan lebih terkejut lagi dia bahkan tanpa sadar membuka mulutnya melihat perbedaan Kinara yang jauh berbeda dari biasanya. Ia seperti melihat dua orang yang yang berbeda tetapi sama, benar-benar cantik, pikir Revan.


Revan baru menyadari jika itu adalah Kinara teman sekolahnya saat melihatnya dari dekat dan mendengar suara Kinara.


Ingatan Revan tiba-tiba berlarian mengingat disaat Kinara mempermalukannya, disaat Kinara mematahkan tangannya membuat ia merinding tersentak merasa takut jika Kinara kembali mempermalukannya dan melakukan hal yang sama.


"Hai Kinara," ucap Revan sambil mengelus tangannya yang masih terasa sakit.


"Aku tak ingin mencari masalah denganmu, Anggap saja kita tidak saling kenal pergi dari sini jangan mendekatiku," ucap Kinara yang tak ingin mencari masalah dengan Revan, ia ingin menikmati pesta malam ini, Kinara benar-benar merasa istimewa saat ini.


Kinara berbalik, Ia berpikir Revan tidak akan mengganggunya. Namun, ternyata dugaannya salah Revan bahkan berani menyentuh.


Walau ada rasa ketakutan di hati Revan mengingat apa yang selama ini telah Kinara lakukan padanya. Namun, semua itu seolah sirna saat melihat kecantikan Kinara, ia tak tahan untuk mendekati Kinara.


"Kinara, mau berdansa denganku?" ajak Revan memegang tangan Kinara. Kinara langsung menepis tangan Revan dan menatapnya tajam.


"Revan, jangan macam-macam ya, jangan berani-berani kau menyentuhku, kau ingin aku mematahkan tanganmu yang satunya lagi," ancam Kinara dengan suara sangat pelan, tapi dengan ekspresi yang bisa membuat orang-orang takut. Namun, tidak dengan Revan dia masih tetap saja mendekati Kinara dan berusaha mengajak Kinara untuk berdansa.


"Kinara ayolah, sekali saja," ucap Revan kembali menarik tangan Kinara


Semua terkejut saat tiba-tiba terdengar suara kegaduhan, puluhan gelas yang berisi minuman jatuh ke lantai.


Kinara menutup mulutnya saat melihat Revan sudah tersungkur di lantai.


Ya, Vincent yang melihat seseorang mengganggu Kinara langsung menghampirinya dan tanpa bicara menendang orang tersebut hingga jatuh tersungkur ke lantai. Orang itu adalah Revan.


"Revan," teriak Pak Handoko, Ayah Revan saat melihat anaknya itu tersungkur di lantai. Dengan cepat yang membantu Revan berdiri, beraninya kau menendang anak ku," teriak Pak Handoko menunjuk pada Vincent yang masih berdiri menatap Revan dengan tatapan membunuhnya.


Vincent tak menghiraukan ucapan pak Handoko yang terus saja berbicara padanya.


"Jangan berani-berani menyentuhnya, jika sekali lagi kau melakukannya akan kupastikan tanganmu itu akan terlepas dari tempatnya," tunjuk Vincent pada Revan yang masih meringis memegang tangannya masih sakit karena ulah Kinara, sekarang ia kembali merasakan sakit di tangannya itu saat terbentur di lantai.


Beberapa temannya membantunya berdiri tegak.


Mereka menjadi pusat perhatian semua para tamu undangan dan berbisik, Ada apa, mengapa seorang Vincent terlihat begitu sangat marah.


Kinara hanya mematung di tempatnya ia tak tahu apa yang harus dilakukannya dia sendiri terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Vincent.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan Komennya 🙏


Salam dariku Author M ANHA 🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖