
Kinara dan Vincent sampai pada sebuah ruangan dimana ruangan itu tak satu orang pun orang berada didalamnya. Berbeda dari ruangan yang lainnya, saat mereka masuk mereka langsung di sambut dengan tembakan.
Kinara tahu ruangan itu adalah salah satu ruangan tempat persembunyian dari ketua geng Mawar Hitam. Namun, ia bingung mengapa tak ada satu orang pun orang yang berada di sana, mungkinkah pemimpin mereka tak ada di sana. pikir Kinara
Vincent ingin melangkah maju. Namun, ditahan oleh Kinara, mereka masih berdiri di depan pintu.
"Ada apa di sini ada siapa-siapa mungkin saja mereka tak ada di ruangan ini," ucap Vincent kembali ingin melangkah.
"Tidak, seperti ruangan ini sudah di ubah menjadi ruangan pengalihan, salah satu ruangan yang paling berbahaya bagi musuh yang menyelinap di markas ini."
"Maksudnya?" tanya Vincent.
" Memang tak ada satupun yang menjaga ruangan ini, tapi mereka semua mengawasi kita dari tempat ini sekarang ,"ucap Kinara mengambil pisau yang diselipkan di pahanya kemudian melempar ke tengah ruangan tersebut dan benar saja rentetan bunyi senjata langsung mengarah pada pisau itu. Vincent yang melihat itu semua sangat tercengang dan kagum.
"Lihatkan! Selangkah lagi kau maju kamu akan terdeteksi semua senjata itu akan mengarah padamu."
Vincent tidak berkata apa-apa. Dia menatap Kinara penuh keheranan dari mana ia tahu jika itu akan terjadi jika mungkin ia bersama dengan anggotanya yang lain mungkin mereka akan langsung masuk ke ruangan itu tanpa waspada sedikitpun.
"Aku sudah bilang, aku tau semua tempat ini jadi jangan menatapku seperti itu, jangan menatapku penuh keheranan semua seluk beluk markas ini aku tau. hanya ruang ini seperti telah di alih fungsi. pasti ada ruang lain yang menggantikan ruang ini sebagai ruang pengamanan ketua.
Vincent hanya mengangguk mendengar penjelasan kinara.
"Apa kau masih tak percaya jika aku pernah menjadi bagian dari mereka?" ucap Kinara yang membuat Vincent hanya mengangguk lagi,
"Sejak awal aku sudah percaya jika apa yang kau katakan itu benar. Jika kau merupakan salah satu mantan anggota geng Mawar Hitam. Aku hanya penasaran sejauh mana peranmu di geng ini."
"Itu tak penting."
Kinara pun menembak satu demi satu sumber peluru tersebut.
"Majulah!" Seru Kinara pada Vincent ya h berdiri di belakangnya.
"Apa kau yakin sudah tak ada lagi?" tanya Vincent yang masih ragu untuk melangkah maju.
"Kenapa kau tidak membuktikannya sendiri," ucap kinara mendorong Vincent untuk berjalan maju ke depan. Namun, dengan cepat kembali ke posisi awalnya.
"Kinara sudah gila ya! kau ingin membunuhku?" seru Vincent saat Kinara tadi mendorongnya, jika masih ada senjata yang aktif mungkin ya sudah tertembak..
"Tapi buktinya kau tidak matikan! Sudah cepat jalan. Aku sudah mengamankannya."
Vincent tak langsung jalan, ia juga mengambil pisaunya dan melempar dekat pisau Kinara yang ada di tengah ruangan tersebut menunggu beberapa detik. Namun, tak ada satupun senjata yang menembak.
"Sepertinya sudah aman," ucap Vincent kembali ingin melangkah. Namun, Kinara menariknya saat sebuah tembakan hampir saja mengenai nya.
Kinara yang melihat orang di balik pintu yang mengeluarkan tembakan tadi membalasnya. Namun dengan cepat orang itu langsung berlari.
Kinara tak tinggal diam, ia langsung mengejar orang tersebut.
Namun, saat Vincent keluar dari pintu tersebut ia sudah kehilangan Kinara, semua Ruang serba putih.
"Kinara di mana kau," panggilnya sambil terus berlari menyusuri lorong tersebut. Sudah sedari tadi ia berlari menyusuri lorong itu namun ia tak juga menemukan Kinara.
Kinara Di mana kau Kenapa kau suka sekali menghilang dariku.
Sebuah peluru mengikir lengannya, Vincent dengan cepat menghindar. Ternyata di beberapa tempat ada musuh yang melihat kedatangannya.
Setelah sekitar 30 menit saling tembak, Ayah Natasha dan Vano datang dan ikut membantu Vincent.
"Vincent di mana Kinara?" tanya ayah Natasha begitu mereka sudah berhasil melumpuhkan semua musuh dan tak ada lagi suara tembakan yang yang terdengar.
"Tadi aku bersamanya, tiba-tiba ia mengejar seseorang dan aku kehilangan jejaknya," jelas Vincent.
"Ke mana dia pergi?" tanya ayah Natasha lagi.
"Kinara mencari ketua geng ini," jawab Vincent yang membuat ayah terkejut, ia pikir misi mereka hanya Vano.
"Itu sangat berbahaya, sebaiknya kita cepat mencarinya!"
"Tadi dia mengejar seseorang yang mencoba menembak kami," ucapnya kemudian mereka bergegas menelusuri kembali lorong tersebut hingga mereka sampai di sebuah persimpangan.
"Kita ke arah mana?" tanya Vano yang sejak tadi hanya mengikuti kemana mereka pergi.
Mereka memeriksa area sekitaran lorong tersebut berharap ada petunjuk Ke mana Kinara pergi. Namun, mereka sama sekali tidak menemukan apapun kedua lorong tersebut bersih dari jejak atau petunjuk apapun.
"Kita bagi tugas, aku akan ke arah sini dan kau ke arah sana. Vano kau tetap ikut denganku," Ucap Ayah Natasha kemudian mereka pun kembali berpisah. Vincent menuju kearah lain begitu pun dengan ayah Natasha bersama dengan Vano.
Sementara itu di luar markas tersebut saling tembak masih terus terjadi walau sudah banyak yang tewas dan hanya tersisa sekali suara tembakan. Entah keduanya sama-sama sudah kekurangan anggota karena banyak yang tewas atau mereka sedang beristirahat dan menyimpan energi mereka untuk kembali memulai.
Natasha dan Claudia yang mendengar suara tembakan tersebut yang sudah sangat berjarak memilih untuk keluar dari persembunyian mereka.
"Ayo kita coba masuk mungkin saja kita bisa bertemu dengan ayahmu dan Kinara di dalam," ucap Claudia yang di angguki oleh Natasha. Mereka pun mengendap-endap masuk ke dalam markas tersebut mereka melewati ruangan demi ruangan dan terus melihat banyak yang terluka karena tembakan.
mereka terus berjalan masuk sambil memegang senjata yang mereka pegang sejak tadi bahkan ransel yang tadinya terasa berat di punggung kini terasa ringan mereka terus membawa ransel tersebut.
"Berhenti! siapa kalian?" tanya seseorang dari belakang membuat Claudia dan Natasha berhenti melangkah dan langsung angkat tangannya.
"Jatuhkan senjata kalian!"
🌹🌹 Selama membaca 🌹
🌹🌹 Terima kasih sudah mampir 🙏