
Sepanjang malam Kinara terus memikirkan nama Vincent, namtu benar-benar melekat di otaknya.
"Siapa dia, apa aku mengenalnya. Vincent, Vincent, Vincent aku sama sekali tak mengenal orang yang bernama Vincent, namun mengapa aku merasa pernah mendengar nama itu," gumam Kinara terus mencoba mengingat nama Vincent, ia bahkan tak bisa tidur di buatnya.
Kinara yang merasa ada sesuatu yang aneh dengan ingatannya, ia memutuskan untuk menemui Natasha di kamarnya. Kinara mengetuk pintu kamar Natasha saat Jam menunjukkan pukul satu di tengah malam.
"Kinara! Ada apa? Kau baik-baik saja kan?" tanya Natasha yang khawatir melihat Kinara mendatanginya disaat lewat tengah malam.
"Nggak, enggak apa-apa. Aku mengganggu ya?" tanya Kinara.
"Enggak, kok. Aku juga belum tidur. Ayo masuk!" ucap Natasha yang mempersilahkan Kinara untuk masuk ke kamarnya. Hubungan mereka tak terlalu dekat, tak sama seperti saat Kinara mafia masih berada di tubuh Kinara. Natasha merasa canggung saat berbicara dengan Kinara yang sekarang, Kinara yang sekarang seakan menjaga jarak diantara mereka.
"Kinara ada apa?" tanya Natasha lagi.
"Apa kau kenal seseorang yang bernama Vincent?" tanya Kinara menatap Natasha.
Mendengar kata Vincent keluar dari mulut Kinara membuat Natasha langsung tersenyum.
"Apakah kau mengingat Vincent?" tanya Natasha.
Kinara menggeleng, "Aku sama sekali tak mengingatnya, tapi aku merasa aku mengenalnya. Apa kau tahu siapa dia?"
Natasha pun mulai menceritakan siapa Vincent Bagaimana hubungan mereka dan apa yang dilaluinya selama beberapa bulan terakhir ini. Natasha banyak mengetahui tentang Vincent dari Claudia.
Tiba-tiba kepala Kinara terasa sakit setelah mendengar apa yang Natasha ceritakan, membuat Natasha panik saat melihat Kinara terus memegang kepalanya dan menjerit kesakitan.
"Ada apa Kinara? Kau kenapa?" panik Natasha kemudian mencoba menelpon ayahnya.
Ayah Natasha pun datang menemui mereka,
namun saat Ayah Natasha datang kinara sudah pingsan, mereka langsung membawanya ke rumah sakit, takut sesuatu pada Kinara.
Di alam bawah sadar Kinara dia mengingat semua kejadian selama setahun terakhir, mengingat bagaimana Kinara mafia menjalani hari-harinya. Bagaimana Kinara mafia membantai orang yang selama ini membulinya.
semua terekam jelas di otaknya.
Kinara membuka mata dan langsung terisak, air mata mengalir di sudut matanya. Natasha yang sedari tadi mendampinginya langsung menghampiri mengusap airmata Kinara.
"Kinara! Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
Kinara tak menjawab justru langsung memeluk Natasha, hatinya benar-benar merasa bersedih dan haru mengetahui bagaimana Kinara mafia mengubah segalanya, mengubah hidupnya selama setahun ini.
"Di mana dia sekarang?" tanya Kinara di sela tangisnya.
"Siapa?" tanya Natasha.
"Vincent?"
"Vincent ada di ruang ICU, ia belum sadar. Apa kau ingin bertemu dengannya?" tanya ayah Natasha membuat Kinara langsung mengganggu. Mereka pun membawa Kinara ke ruang ICU dan meninggalkannya di ruangan itu bersama Vincent.
Perlahan Kinara menghampiri Vincent dan melihat wajah pria itu, wajahnya sangat sama dengan yang ada dalam ingatannya saat ia pingsan tadi.
"Vincent apa kabar? Bagaimana keadaanmu?" tanya Kinara, namun Vincent masih tetap tak bergeming.
"Maaf karena kehadiranku kau harus kehilangannya, Aku hanya ingin mengatakan Jika dia juga memiliki perasaan padamu sama seperti perasaanmu padanya," ucap Kinara yang bisa mengerti perasaan Kinara sang mafia saat berada di tubuhnya.
Tiba-tiba mata Vincent bergerak dan perlahan membuka matanya, menatap ke arah Kinara.
Kinara yang melihat mata Vincent yang bergerak dan perlahan melihat kearahnya.
"Bangunlah! Jangan terus tidur, ia pasti merasa sedih jika kau terus berbaring di sini. Jika ia masih ada disini,nKinara pasti sangat bersedih melihatmu seperti ini," tambahnya.
"Kinara," ucap Vincent mencoba menggerakkan tangannya untuk menggapai Kinara. Dengan cepat Kinara menggenggam tangan Vincent.
Vincent menatap mata Kinara, "Syukurlah kau baik-baik saja," ucap Vincent dan senyum terbit di bibirnya.
Vincent membeku ingatannya sesaat sebelum ia kehilangan kesadarannya kembali terlintas di benaknya. Tatapan Kinara sebelum ia menutup matanya masih jelas terlihat, kata-kata Kinara juga masih terngiang jelas di telinganya, yang minta maaf karena tak bisa bersamanya, menepati taruhan mereka.
Vincent menatap mata Kinara, melihat tatapan mata yang selama ini di lihatnya tak ada di sana, tatapan itu sangat berubah dan berbeda.
"Siapa kau?" tanya Vincent.
Kinara pun mulai menceritakan apa yang terjadi selama ini, bagaimana saat ia dibully sampai tak sadarkan diri, hingga Kinara sang mafia menggantikan posisinya dalam tubuhnya. Kinara menceritakan dari awal mula Kinara hadir dalam tubuhnya hingga kinara keluar dari tubuhnya.
"Apa kau percaya dengan apa yang aku ceritakan?" tanya Kinara, jika bukan ia sendiri yang mengalaminya mungkin ia tak akan percaya apa yang baru saja di diceritakannya.
"Aku sangat percaya apa yang kau katakan." Vincent mengingat beberapa kejadian bersama Kinara. Saat bersama Kinara pernah mengatakan jika ia bukanlah orang yang bersamanya. kata-kata itu ternyata sebuah kebenaran yang dianggapnya sebagai lelucon hari itu.
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Vincent melihat langit-langit kamarnya. Bayangan Kinara yang dulu terus terbayang di ingatannya, Kinara yang begitu tangguh.
"Bangunlah! Tolong temukan dia. Aku ingin berterima kasih padanya," pinta Kinara.
"Apa dia akan kembali?" tanya Vincent melihat kearah Kinara.
"Aku sangat berharap bisa bertemu kembali dengannya dan berterima kasih atas semua yang dilakukannya untukku.
Aku yakin kita masih bisa bertemu dengannya. Dia akan menepati taruhannya denganmu. Aku akan menunggu sampai kapanpun. Aku percaya suatu hari nanti kita akan bertemu lagi dengannya."
Mendengar kata-kata Kinara, Vincent menjadi yakin jika ia dan Kinara akan kembali bertemu.
Vincent melihat sekelilingnya, "Di mana aku?" tanyanya.
"Kata Natasha sudah 5 bulan ini kamu terbaring disini."
Setelah berbicara panjang lebar akhirnya Kinara pun keluar dan mengatakan kepada ayah Natasha jika Vincent Ingin bertemu dengannya.
"Apa maksudmu? Apa Vincent sudah kembali sadar?" tanya ayah Natasha yang dijawab anggukan oleh Kinara, membuat Ayah Natasha langsung menghampiri Vincent.
Sementara itu di sebuah desa bertepatan dengan Vincent membuka matanya seorang gadis yang selama ini menutup matanya juga melakukan hal yang sama. Gadis itu membuka matanya.
"Ayah," teriak adik gadis tersebut memanggil ayahnya, memanggil seluruh keluarganya mengatakan jika kakaknya sudah terbangun, kakaknya sudah membuka matanya.
Seluruh keluarga langsung menghampiri dan melihat ternyata benar apa yang dikatakan anak bungsu mereka, jika anak gadis mereka yang selama ini tertidur kini membuka matanya.
"Di mana aku?" tanya gadis tersebut pada mereka semua.
"Kamu di rumah, Nak. kamu di rumah kita. Terima kasih kamu sudah kembali, ibu selalu menunggumu," ucap sang ibu yang sudah menangis haru memeluk putrinya.
Gadis itu langsung melihat seluruh tubuhnya melihat suasana di sekitarnya.
"Apa ini, apa aku kembali masuk ke dalam tubuh seseorang," batinnya.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu di lehernya, memegang lehernya dan melihat sebuah kalung di sana. Kalung itu tiba-tiba berwarna biru, sebuah senyum terbit di bibirnya.
"Selamat datang di kehidupan barumu, kamu akan hidup selamanya di tubuh ini, berikan kebahagia pada keluarga barumu. Selamat tinggal," ucap sistem.
"Kinara ada apa?" tanya sang ibu yang kini menangkup kedua wajah putrinya dan mengusap air matanya.
"Kinara? Apakah namaku Kinara?" tanyanya. Kinara yang sudah menyadari jika ia kembali hidup, air matanya kembali menetes melihat ke tiga orang yang juga ikut meneteskan air mata dan melihat ke arahnya.
"Iya, Nak kamu Kinara, anak kami. Anak ayah, anak ibu," ucap ayah yang bergantian memeluk putrinya.
"Iya, Kakak. Kinara nama kakak," ucap seorang lelaki berusia 10 tahun yang sejak tadi duduk di sampingnya.
Kinara memegang kalungnya dan kembali menatapnya, ia ingin bertanya, namun ternyata kalungnya sudah tak berwarna lagi sistem sudah meninggalkannya.
"Apa aku tak akan berpindah lagi, apakah aku akan tetap berada di tubuh ini. Vincent, apa kau masih mengingatku," batin Kinara kemudian melihat kearah keluarganya yang terlihat begitu bahagia menyambutnya. "Apakah kali ini aku akan memiliki keluarga yang akan menyayangiku, meresakan bagaimana kehangatan sebuah keluarga," gumamnya dalam hati. Begitu banyak pertanyaan yang ingin di tanyakannya. Ia terus mengapus air matanya yang tak berhenti membasahi pipinya, senyuman tak lepas dari bibirnya, namun air mata terus mengalir di pelupuk matanya.
🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹