Mafia In The School

Mafia In The School
Target Kinara.



Setelah pelajaran selesai, Kinara dan Claudia memilih untuk mengobrol di kelas, "Kinara, Sebenarnya apa tujuanmu mengikuti lomba ini, aku lihat kamu sama sekali tidak menghargai piala dan kemenanganmu?" tanya Claudia  melihat kembali  piala yang diberikan oleh Kinara. dia juga melihat Kinara tak ada senang-senangnya saat memenangkan lomba tersebut. Ia bersikap santai padahal ia memenangkan juara 1 dan dalam kategori penampilan terbaik yang diincar oleh semua murid.


"Aku mengikuti perlombaan itu untuk membahagiakanmu saja, aku sama sekali tak tertarik menjadi juara, apalagi piala itu, sebenarnya penampilan mu juga sangat bagus, kau juga pantas menjadi juara," ucap Kinara menggoda Claudia.


Claudia tertawa mendengar ucapan Kinara,


"Benarkah? Kau sengaja mengikuti lomba untukku? Wah jadi piala ini memang untukku ya," ucapnya memeluk piala yang diberikan Kinara.


"Iya biarlah itu untukmu, saat aku tiada nanti aku harap kau bisa mengingatku melalui piala itu, ingat kalau kita pernah berteman," ucap Kinara yang membuat Claudia mengerutkan keningnya mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Kinara.


"Tiada? Maksud kamu apa?" tanya Claudia merasa horor dengan ucapan yang baru saja kinara katakan.


"Mungkin saja kan kita akan sekolah di sekolah yang berbeda nantinya." Kinara menjawab asal pertanyaan Claudia.


"Oh, walaupun nanti kita berbeda sekolahan kamu akan menjadi teman terbaikku," ucap Claudia menepuk punggung Kinara.


Kinara hanya tersenyum dan balas menepuk pelan tangan Claudia yang masih ada di punggungnya.


Misi mengumpulkan poin sudah semakin mendekati target. Ia sangat bersyukur dalam kesempatan ini ia dipertemukan dengan sosok Claudia. Kinara sadar akan posisinya saat ini, tubuh ini bukanlah miliknya ia belum tau seperti apa takdirnya di kemudian hari. Hanya satu tujuannya saat ini mencari siapa pembunuhnya.


Saat istirahat Natasha juga menghampiri Kinara.


"Kinara Selamat ya atas kemenangan mu. kamu memang orangnya yang sangat keren, penampilan kamu malam itu sungguh memukau, aku. sudah yakin jika kamu yang akan keluar sebagai juara," ucapnya mengulurkan tangannya memberi selamat kepada Kinara.


"Iya terima kasih, pujianmu terlalu berlebihan," ucap Kinara menyambut uluran tangan Natasha.


"Sayang banget ya, Kamu hari itu nggak datang," ucap Claudia karena Natasha tak ikut bergabung dengan mereka saat malam pentas.


Natasha langsung cemberut mendengar ucapan Claudia.


"Hari itu aku sudah merayu Ayahku. Namun, tetap saja dia tak mengizinkanku katanya itu berbahaya," lirih Natasha mengingat malam itu, ia bahkan mengeluarkan air matanya, tetap saja ayahnya tak mengizinkan ia keluar.


"Berbahaya dari mana coba, itu kan acara sekolah, kamu bisa meminta para penjaga mu mengawasimu dari jauh kan," Sahud Claudia.


"Iya, aku juga sudah mengatakan itu pada ayah, tapi tetap saja tak dibolehkan," kesalnya saat kembali mengingat saat itu di mana ia hanya bisa menyaksikan teman-temannya melalui siaran langsung dari teman-temannya yang lain yang merekam dan menyiarkan secara langsung di media sosial mereka.


"Nggak apa-apa. Tapi, kamu melihat kan penampilan kami semua ucap Kinara yang dijawab aku kan antusias Natasha.


"Kamu datang dan tidak itu sama saja, Yang penting kamu memberi dukungan dan doa kepada teman-teman kita yang tampil, jika ayahmu tak mengizinkan pergi pasti ada alasannya," ucap Kinara yang sudah tahu jika ayah Natasha merupakan pemimpin geng mafia dan Kinara tahu betul resiko yang bisa didapatkan oleh Natasha jika mendatang tempat seperti itu.


Bukan hanya para murid dan guru yang memberi selamat kepada Kinara, ketua komite juga langsung mendatangi kinara dan memberikannya  Selamat atas kemenangannya.


"Selamat ya Kinara penampilan kamu memang sangat bagus Bapak senang dan bangga padamu. Begitu juga jika ada yang mau berkreasi dan mengharumkan nama sekolah," ucap ketua komite tersebut. 


"Kinara, Kenapa saat itu kamu mendaftar secara diam-diam dan tak mengatakan kepada pengurus sekolah jika kamu juga ikut dalam perlombaan tersebut?" tanya salah satu guru yang menjadi koordinat murid-murid yang ikut dalam lomba tersebut dan setahunya dalam catatannya tidak ada nama Kinara yang menjadi peserta yang mengikuti lomba seni malam itu.


"Sebenarnya malam itu aku tak mendaftarkan namaku sendiri sebagai peserta lomba, tapi aku dijebak oleh seseorang yang mendaftarkanku secara diam-diam. Aku tak punya pilihan lain selain tampil, aku tak percaya jika aku yang menjadi pemenang. Saat itu aku hanya menampilkan tarian yang aku kuasai.


Mendengar penjelasan Kinara murid-murid di kelas mulai kembali ribut dan saling berbisik Siapa kira-kira orang yang mendaftarkannya.


Claudia Langsung melihat pada Tiara yang duduk tenang di bangkunya. 


"Tapi, berkat orang itu yang mendaftarkan mu secara rahasia membuat kami tahu jika kau sangat pandai menari," ucap salah satu murid yang sangat mengagumi Kinara.


"Iya, benar. Penampilan kamu malam itu sungguh sangat memukau, kau benar-benar hebat Kinara."


"Iya, penampilanmu sangat keren walau  tanpa latihan."


"Kau tak melakukan latihan sedikitpun, tapi gerakanmu sungguh sangat indah, aku tak bisa membayangkan jika kamu benar-benar melatih gerakanmu dan tampil pasti akan lebih bagus lagi," puji murid lainnya. 


Pujian demi pujian didapatkan Kinara membuat Tiara semakin kesal, rencananya benar-benar gagal. Ia mendaftarkan Kinara secara diam-diam bertujuan agar Kinara mempermalukan dirinya sendiri. Namun, ternyata ia salah Kinara mampu membawakan tarian yang memukau dan malah semakin menyusahkannya.


Kinara bahkan menjadi pusat perhatian semua murid, guru dan bahkan komite sekolah juga datang mengucapkan selamat padanya, ini benar-benar di luar dugaannya.


Tiara memandang lekat pada Kinara yang terlihat tertawa bersama dengan Claudia dan juga Natasha dibangku mereka.


Sementara ia sendiri duduk di bangkunya yang berselang berapa meja saja.


"Dari mana Kinara menguasai tarian-tarian itu, setahuku sejak kecil ia sama sekali tak punya bakat dalam seni tari dan apa ini dari mana dia menguasai semua itu, ia bahkan menjadi menampilkan penampilan yang sangat bagus dan menjadi pemenang.


"Apa benar yang dikatakan Revan jika  Kinara yang sekarang yang bersama kami adalah Kinara yang lain dia bukan Kinara yang kami kenal dulu. Tiara mulai termakan hasutan Revan yang menyebut jika Kinara yang saat ini adalah orang lain.


Semakin di teliti dan semakin Tiara perhatian, sikap kinara sangat jauh berbeda dari yang ia kenal, mereka sudah bersama sajak kecil.


"Revan memang benar ada yang aneh dengan Kinara, aku harus mencari tahu. Semua tingkahnya semakin jauh dari sifat aslinya yang aku kenal." Tiara terus memperhatikan gerak-gerik Kinara.


🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹