Mafia In The School

Mafia In The School
Misi Pencarian informasi.



Malam Minggu kegiatan belajar mandiri kembali dilaksanakan. Seperti biasanya, hanya beberapa anak yang datang dan kali ini Natasha juga datang.


Kinara yang melihat Natasha datang langsung menghampirinya.


"Malam Natasha?" Sapa Kinara.


"Kinara? Kamu juga datang?" seru Natasha merasa senang. Tadinya ia sangat malas mengikut kegiatan belajar malam ini, tapi tidak lagi setelah melihat Kinara juga datang. Natasha diam-diam selalu memperhatikan Kinara selama ini. Ia sudah mulai mengidolakan Kinara saat mengalahkan Jenika.


"Yuk kita masuk," ajak Kinara, mereka duduk berdekatan. Kinara sengaja mendekati Natasha, ia mencoba mencari informasi sekecil apapun tentang ayahnya.


Kinara tak memperhatikan pelajarannya, ia terus menanyakan beberapa pertanyaan tentang walikota mereka kepada anaknya yakni Natasha. Namun, sepertinya Natasha tidak tahu apa-apa tentang Ayahnya di luar jabatannya sebagai walikota.


"Apa kamu yakin, ayahmu tidak memiliki jabatan lain selain walikota?" tanya Kinara yang masih penasaran dengan kecurigaannya.


Natasha menggeleng, "Memangnya ada apa dengan ayahku?" Natasha balik bertanya, ia merasa sedikit heran saat Kinara terus menanyakan tentang ayahnya.


"Tidak, aku hanya ingin tahu seberapa hebat ayahmu sehingga kau sampai dikawal seperti itu. Aku baru tahu dari Claudia kalau orang yang waktu itu mengintaimu ternyata orang suruhan ayahmu ya?" ucapnya mencari Alasan saat melihat Natasha mulai mencurigainya.


"Oh, orang yang waktu itu, saat kita jalan di mall?"


"Iya, terus mengikutimu."


"Iya, aku sudah bertanya langsung pada ayah. Ayah menjalankan jika pria itu bukan orang jahat. Dia hanya ingin melindungiku, aku juga tidak tahu mengapa Ayah menyuruh orang seperti itu, bahkan terkadang beberapa orang seperti itu datang ke rumah menemui ayah. Aku tak tahu mereka menyamar atau memang mereka seperti itu," ucap Natasha mengedikkan bahunya kemudian kembali mengikuti apa yang ditugaskan oleh guru pembimbing mereka.


Kinara terus memikirkan bagaimana cara agar dia bisa bertemu dan mencari tahu tentang ayah Natasha.


Kinara masih bergelut dengan pikirannya Sampai kelas di bubarkan dan Kinara tak mendapat sedikitpun informasi dari Natasha.


Kinara berjalan beriringan, mereka masih membahas masalah Keyla. Kinara hanya menanggapinya dengan kata 'iya,' dan 'mungkin saja.'


"Kinara, Aku pulang dulu ya? Apa kamu mau ikut? Biar aku mengantarmu sampai ke rumahmu," tawar Natasha saat Kinara mengantarnya hingga ke mobilnya.


"Tidak, terima kasih. Pulanglah lebih dulu, aku bisa pulang sendiri. Aku masih ingin disini," ucap Kinara kemudian membukakan pintu mobil untuk Natasha.


"Aku pulang dulu ya, sampai ketemu Senin nanti?" Ucap Natasha melambaikan tangannya.


"Hmmm" ucap Kinara menutup pintu mobil dan mobilpun melaju meninggalkan Kinara yang masih berdiri di tempatnya memandang mobil Natasha.


Natasha mengeluarkan kepalanya di jendela dan kembali melambaikan tangan kepada Kinara dengan senyuman manisnya.


Kinara balas melambaikan tangannya.


"Anak yang sangat polos," gumamnya membalas senyuman Natasha.


Kinara berdiri memasukkan tangannya ke saku jaketnya, melihat mobil itu hingga hilang di balik gerbang, kemudian ia menuju ke lapangan.


Seperti hari-hari sebelumnya Kinara akan melakukan lari beberapa putaran sebelum pulang.


Ia harus menyiapkan fisiknya agar lebih kuat, tujuannya sudah semakin dekat, ia tak mau jika kekuatan fisiknya menjadi Pengalangan mencapai tujuannya.


"Kenapa temannya nggak ikut sekalian? kita bisa mengantarkan nya pulang," ucap sang sopir yang melihat Natasha begitu senang setelah mengobrol dengan Kinara.


"Udah aku ajak, Pak. Tapi, dia nggak mau katanya masih mau di sekolah," ucapnya sambil memainkan ponselnya.


Baru 10 menit perjalanan tiba-tiba sopir mengerem mobilnya membuat secara tiba-tiba, ponsel Natasha sampai terjatuh dari pegangannya dan Natasha pun langsung terhuyung ke depan.


"Maaf , Non. Di depan ada yang menghalangi jalan kita," tunjuknya pada mobil Van berwarna hitam yang tiba-tiba berhenti si depannya, dan menghalangi jalan mereka.


"Kenapa mereka menghalangi jalan kita, Pak? Mereka Siapa?" tanya Natasha mulai panik saat melihat 6 orang berbadan besar dan membawa sesuatu di tangannya menghampiri mobil mereka.


"Bapak juga nggak tahu, Non. Pegangan kita sebaiknya pergi dari sini."


Walaupun sang sopir bisa sedikit ilmu bela diri, tapi menghadapi 6 orang bertubuh besar dan membawa tongkat di tangannya, ia tak bisa menjamin apakah dia akan menang melawan mereka. Jalan satu-satunya adalah terus melanjutkan perjalanan Walau harus dengan menabrakkan mobil mereka dengan mobil.


Baru saja sang sopir ingin menancap gasnya mereka langsung berlari dan mengepung mobil itu, mengantuk pintu kaca serta mengancam akan menghancurkan kaca mobil jika mereka tak keluar.


"Pak, bagaimana ini?" ucap Natasha ketakutan ia bahkan sudah mengeluarkan air matanya.


"Nona, tetap di dalam mobil," ucap sang supir kemudian mengambil pipa baja dan mencoba untuk keluar. Ia tak punya pilihan lain selain menghadapi orang-orang tersebut.


Natasha terus menjerit saat melihat perkelahian antara sopir dan 6 orang tadi.


Walaupun hanya sendiri, sang sopir melakukan perlawanan cukup sengit, ia berhasil melumpuhkan 2 dari 6 orang tersebut.


Saat sopir memegang kepalanya yang terasa sakit dan melihat telapak tangannya yang berwarna merah, pandangannya mulai kabur. Ia menggeleng agar tetap tersadar dan terus melakukan perlawanan.


Sang sopir melihat majikannya yang masih berada di dalam mobil, ingin rasanya ia berteriak menyuruhnya untuk pergi mencari pertolongan, tapi ia Sudah tak sanggup.


Satu pukulan keras membuat sang sopir tersungkur ke aspal. Sesuai dugaannya ia tak bisa melawan mereka semua.


Natasha yang melihat kondisi sopirnya semakin menangis ketakutan, mereka sudah berhasil mengalahkan sopirnya bagaimana dengan dirinya.


Natasha dengan cepat mengunci semua pintu mobil berharap ia bisa aman.


Salah satu dari keenam orang tersebut mengeluarkan pistolnya dan mengarahkannya pada Natasha yang masih ada di mobil.


Sasaran terkunci, pelatuk perlahan mulai ditarik dan bunyi suara tembakan terdengar nyaring memekakkan telinga.


Peluru meleset dari sasaran. Dengan sisa-sisa tenaganya sang sopir melemparnya pipi baja yang sejak tadi tak pernah terlepas dari tangannya tepat mengenai penembak tersebut.


Suara muntahan peluru tersebut menggema memecah keheningan malam. Natasha semakin menjerit ketakutan saat mendengar suara letupan senjata tersebut.


Sang supir bernafas lega karena berhasil menggagalkan rencana mereka. Namun, ia masih tetap gusar dengan sekuat tenaga ia kembali bangun dan mencoba melawan. Namun, usahanya tetap saja gagal, ia kembali mendapat pukulan bertubi-tubi dari mereka semua.


Kinara yang sedang berlari terkejut saat mendengar suara tembakan tersebut


"Natasha," ucapnya. Pikirnya langsung tertuju pada Natasha, ia yakin suara itu adalah suara senjata dan kemungkinan itu ada hubungannya dengan Natasha. Natasha yang baru saja pergi meninggalkan sekolah.


Kinara bisa mendengar jika sumber suara tak jauh dari tempat.


Kinara dengan cepat bergegas berlari menuju ke arah suara tembakan tersebut. Berharap ia tak terlambat dan Natasha baik-baik saja.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha 🥰


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖