Mafia In The School

Mafia In The School
Vano menghilang.



Kinara merasa gelisah, Ia terus memikirkan Vano. Ternyata tindakannya untuk menyelamatkan Vano di Ketahui ayah Natasha. Ia takut jika Ayah Natasha juga menghabisi Vano. Jika ia Kinara yang dulu pasti ia juga akan menghabisi Vano yang menjadi bukti nyata yang melihat ayahnya dihabisi di depan matanya, sudah pasti dia akan membalas dendam suatu saat nanti. Juga prinsip seorang Mafia Vano memang harus dihabisi. Namun, Kinara memilih untuk menyelamatkannya. Vano Dimata kinara merupakan anak yang polos dan tak tahu apa-apa tentang dunia Mafia.


Kinara mengambil ponselnya ingin menghubungi Vincent. Namun, di urungkannya. Vincent tak begitu akrab dengan Vano bisa saja dia malah membantu mereka untuk menyingkirkan Vano. Kinara mulai kembali meragukan Vincent. Kinara berpikir jika Vincent lah yang memberitahu Ayah Natasha mengenai rencana mereka.


Tanpa Kinara sadari, sebenarnya semenjak memasuki geng Naga Hitam ia sudah diawasi oleh ayah Natasha. Ayah Natasha berpikir Kinara pasti bukanlah orang yang sembarangan, ia mungkin saja dari kelompok mafia atau kelompok pembunuh sadis lainnya, Kinara tak akan segampang itu menghabisi nyawa orang tanpa rasa takut sedikitpun jika ia tak sering melakukannya.


Kinara tak bisa tidur , Ia pun mengambil jaket lalu membawa motor Vincent pergi dari apartemen itu, sementara Vincent sendiri meresa curiga dengan Kinara yang pergi dengan terburu-buru.


Vincent yang kebetulan baru saja memarkirkan mobilnya langsung mengikuti Kinara.


"Mau kemana dia? Apa yang dilakukan di dermaga ini," gumam Vincent yang melihat Kinara berbicara pada beberapa pemilik kapal.


Vincent menemui orang yang dulu di minta untuk menyembunyikan Vano.


"Coba kau tanya orang itu," tunjuknya pada Kinara. "Apa yang dilakukannya disini!"


"Baik, Pak," ucapnya kemudian menghampiri Kinara.


"Ada apa dek? Ada yang bisa saya bantu?" tanya orang tersebut. orang itu suruhan Vincent.


"Apakah beberapa hari lalu Bapak mengangkut 2 orang ke sebuah pulau? saya juga ingin ke sana."


"Memangnya Anda ini siapa?" tanya orang tersebut yang langsung membuat Kinara tersenyum, saat mendengar jawaban orang itu. Saat yang lain ditanya mereka akan langsung menjawab tidak menau, tapi orang itu justru bertanya balik seolah- olah ia tahu dengan Apa arti pertanyaan Kinara. orang tersebut tercengang saat Kinara langsung mengeluarkan uang sebesar 200.000.000, antar aku ke sana!" menyerahkan uang tersebut.


Tanpa berpikir panjang, orang tersebut langsung menawarkan Speedboat nya dan akan mengantar Kinara ke tempat yang dituju, dimana kemarin ia mengantarkan Vano, uang yang diberikan Kinara lebih banyak daripada uang yang diberikan Vincent sebelumnya.


'Siapa pemilik uang terbanyak itulah yang harus dituruti' prinsip orang tersebut.


"Kurang ajar, berarti Kinara meminta orang itu untuk mengantarnya kepada Vano," geram Vincent lagi-lagi Kinara melanggar perintahnya untuk menemui Vano, ternyata Kinara malah pergi diam-diam menemui pria itu.


Kinara sampai disebuah pulau, "Terima kasih ya , Pak. Tolong tunggu sebentar saya cuman sebentar saja. saya hanya ingin bertemu dengan mereka."


"Tentu saja, aku akan menunggu," ucap orang tersebut mematikan mesin kapalnya dan mengikatnya ke salah satu karang disana dan menurunkan jangkarnya.


Kinara berjalan masuk ke dalam pulau tersebut di sana terdapat beberapa rumah. Namun, terlihat kosong. apalagi di malam hari ini ada tak melihat satupun cahaya di sana hanya diterangi cahaya Bulan membuat ia bisa melihat bayang-bayang rumah yang ada di sana.


"Begitu banyak rumah di sini, di mana aku harus mencari Vano." Kinara terus berjalan masuk ke daerah pemukiman tersebut.


Suasananya sangat sunyi, tak ada satupun orang yang berjalan di sana.


"kemana para penghuni pulau ini, apa pulau ini pulau kosong," gumamnnya, tanpa sengaja Kinara mendengar benda jatuh dari salah satu rumah. Ia pun mencoba mengetuk pintu rumah tersebut.


"Permisi apakah ada orang di dalam?" tanya Kinara mengetuk pintu rumah tersebut namun tak ada jawaban.


"Aku hanya ingin bertanya, apa ada 2 orang baru yang datang kesini. Aku hanya ingin menemuinya, aku tak berniat jahat pada kalian" ucap Kinara yang mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi di desa itu mengapa semua orang mematikan lampu dan tak ada satupun yang menampakan diri bahkan terbilang menutupi diri dari dirinya. Iya sempat melihat cahaya dari rumah dari pemukiman itu sebelum mereka sampai dan semua cahaya seolah tak ada satupun.


Pintu terbuka dan cahaya lentera terlihat di dalam rumah tersebut.


"Kamu siapa, Nak?" tanya seorang ibu paruh baya, tadinya ia takut untuk membuka pintu. Namun, saat melihat di luar adalah seorang gadis dia pun memberanikan diri.


"Namaku Kinara, Nek. Aku hanya datang sebentar ke sini untuk menemui dua orang yang datang beberapa malam yang lalu ke sini. Apa Nenek tahu?" tanya Kinara.


"Pergilah ke sana?" tunjuk nenek pada rumah yang tak jauh dari rumahnya.


"Vano apa kamu di dalam?" teriak Kinara. Namun, Tak ada jawaban. Kinara melihat pintunya sedikit terbuka dan saat masuk ia melihat ruang depan begitu berantakan.


"Apa yang terjadi disini. Dimana Vano?" gumamnya terus menelusuri semakin masuk kedalam.


Kinara bergegas menghampiri koki yang tergeletak di lantai dengan beberapa luka tembak di tubuhnya.


"Dimana Vano?" tanya Kinara cepat saat melihat koki tersebut masih hidup.


"Selamatkan tuan muda, aku mohon," ucap koki dengan terbata-bata.


Saat Kinara berdiri tiba-tiba ada seseorang yang menariknya dan bunyi tembakan terdengar di sana.


"Vincent," ucap Kinara yang ternyata orang yang menyelamatkannya dari tembakan tadi adalah Vincent.


Vincent mengabaikan Kinara dan langsung mengejar orang yang baru saja mencoba menembak Kinara.


Kinara tak tinggal diam, Ia juga mengejar orang tersebut.


Kinara bisa melihat orang itu dan Vincent yang berusaha mengejarnya. Kinara memotong jalan dan naik ke salah satu atap, semua atap rumah itu terhubung satu dengan yang lain membuat Kinara berlari di atasnya dan terus membidik orang yang tadi hampir membunuhnya.


Dorrrr


Kinara menembak kaki orang tersebut membuat orang itu jatuh dan meringis kesakitan. Baru saja ia ingin mengarahkan tembaknya kearah Vincent. Namun, Vincent dengan segera menendang pergelangan tangannya.


Kinara berlari menghampiri mereka.


"Siapa dia?" tanyanya.


Begitu mereka membalikkan badan orang tua ternyata orang itu telah mati, bukan mati karena luka tembak di kakinya, tapi mati karena meminum racun.


"Dia memilih mati daripada harus memberikan informasi kepada kita."


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya kinara kepada Vincent yang semakin mencurigainya.


"Aku kemarin Karena Kamu melanggar perintah ku. Aku melarangmu untuk mendekati Vano, tapi kau malah mendatanginya," seri Vincent meresa kesal.


"Aku hanya merasa gelisah saat tahu jika ayah Natasha mengetahui lokasi Vano, kegelisahan ku terbukti kan. Ada yang menculik Vano. Menurutmu siapa yang melakukan semua ini?" tanya Kinara memandang Vincent.


"Bukannya kau suka bertindak sendiri, maka cari tau sendiri," jawab Vano berdiri meninggalkan Kinara yang masih berjongkok di samping pria tadi.


Kinara mengikuti Vincent, "Apa kau tahu siapa yang melakukan semua ini?" tanyanya lagi menghalangi jalan Vincent.


Vincent menghentikan langkahnya saat Kinara merentangkan tangannya menghalanginya jalannya. Lagi-lagi Vincent menyentil jidat Kinara, " Katakan terima kasih pada aku karena telah menolong mu," maka aku akan memberitahumu.


Kinara mengusap keningnya yang terasa sakit, kening nya memerah karena Vincent menyentil nya.


"Iya, terima kasih. Terima kasih banyak telah menyelamatkan hidupku, sekarang siapa pelakunya? Apa kau tahu?"


🌹🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹🌹