
Pria berkepala botak yang merasa diremehkan oleh Kinara memberi kode kepada para bawahannya untuk mengelilingi Kinara.
"Ternyata nyalimu besar juga ya? Sepertinya kau belum mengenal siapa kami" ucap pria kepala botak tersebut setelah para bawahannya sudah mengelilingi Kinara, mereka semua mulai menggulung lengan bajunya hingga ke siku dan meregangkan otot-ototnya, beberapa melakukan olahraga pada tinjunya dan menakut-nakuti Kinara.
Namun, Kinara tak bergeming dan tetap dalam posisinya berdiri santai memandang pria kepala botak yang ada di depannya. Claudia dan Natasha sudah menyingkir dari mereka.
"Ayo anak-anak, kalian tak usah sungkan-sungkan. Sepertinya dia ingin menjajal kemampuan kita," ucap kepala botak tersebut membuat semua bawahannya tertawa dan mulai menggoda Kinara.
Pria berkepala botak tersebut mendekat dan mencoba menyentuh Kinara.
"Aaaaaghr," Jeritnya sambil memegang telapak tangannya, membuat semua menjadi panik dan mencoba mencari tahu apa yang terjadi dengan bos mereka.
Semuanya semakin terkejut saat ada darah yang menetes dari telapak tangan pria berkepala botak tersebut dan semakin banyak.
Ya, dengan gerakan cepat Kinara mengambil benda tajam dari ruang penyimpanan.
"Ada apa bos?" tanya salah satu bawahannya yang ikut panik.
Mereka hanya melihat, Kinara hanya menepis tangan bosnya, tak melakukan pergerakan berbahaya apapun. Tapi, Kenapa tiba-tiba ia menjerit kesakitan dan mengeluarkan banyak darah.
"Apa yang kalian lakukan, cepat ambil sesuatu untuk menghentikan darahku!" teriaknya pada bawahannya sambil terus menjerit kesakitan dan menekan lukanya, mencoba menggantikan darah.
"Cepat!' teriaknya lagi saat melihat para bawahannya hanya saling pandang dan tak ada yang bergerak cepat.
Mendengar bentakan dari bosnya baru 2 orang bawahan langsung berlari cari apa yang diminta, mencari sesuatu yang bisa mengobati telapak tangan bos mereka yang yang robek cukup dalam, sementara yang lainnya hanya saling pandang dan menatap Kinara dengan tatapan penuh tanya.
[Bip score pembersihan ruangan + 260]
Tak lama kemudian para bawahan yang tadi kembali dengan membawa kotak P3K, dan dengan cepat mencoba mengobati telapak tangan bosnya.
Pria kepala botak tersebut sangat marah menatap Kinara, "Bunuh dia!" teriaknya menunjuk ke arah Kinara dengan deru nafas yang saling berkejaran.
Detik kemudian ke-6 bawahan tersebut langsung menyerang Kinara, perkelahian pun terjadi. Orang-orang yang tadinya ingin meminta tanda tangan Kinara ikut menyingkir, menghindari perkelahian tersebut.
Tak butuh waktu lama kenam orang tersebut dengan mudah dihabisi oleh Kinara.
Melihat para bawahannya sudah tak berdaya pria kepala otak tersebut juga maju.
Namun, hasilnya tetap saja sama. Ia bernasib sama dengan para bawahannya ya juga dengan mudah dilumpuhkannya.
Orang yang berkerumun di sana semakin tak percaya melihat apa yang baru saja mereka lihat. Mereka semua terkagum-kagum melihat Kinara yang masih berdiri sedang yang lain sudah tumbang, termasuk pria berkepala botak tadi.
Claudia langsung mendekati Kinara dan membawanya pergi dari kerumunan tersebut, sementara Natasha langsung berlari masuk ke ruangan ayahnya ingin melaporkan apa yang terjadi pada Kinara.
Claudia menarik Kinara menjauh dari sana, membawanya ke tempat yang sepi. Claudia takut jika ada bantuan lain yang datang membantu mereka.
"Kenapa sih kamu harus berantem seperti itu? Mereka itu sangat berbahaya, apa kamu sengaja melakukannya agar Natasha terkesan padamu," ucapnya tanpa sadar.
"Apa maksudmu?" tanyanya mendengar apa yang baru saja Claudia katakan, mampu membuat Kinara melotot kepadanya.
Claudia yang mendapat plotatan dari Kinara terdiam dan takut. Selama ini dia sedikit cemburu melihat Kinara sudah semakin dekat dengan Natasha.
"Aku tak bermaksud apa-apa aku hanya mengkhawatirkanmu," jawabnya lirih sambil menunduk.
Kinara menghela nafas, "Apa kamu ga lihat tadi, mereka yang lebih dulu menyerang. Kau tau sendiri 'kan, jika aku paling tak suka jika ada yang menggangguku saat aku tak mengganggu mereka. Jika tak ada para menonton itu, aku tak akan menyisakan nyawa mereka semua".
"Ayah, itu orangnya. Dia yang mau menyakiti Kinara," tunjuk Natasha pada pria kepala botak yang kini sudah berlari meninggalkan tempat itu, mencoba melarikan.
Ayah Natasha melihat orang yang tadi sudah dikalahkan oleh Kinara, kini tergeletak sudah tak bernyawa.
"Sepertinya Kinara memang orang yang tepat untuk bergabung dengan Naga Hitam," batin ayah Natasha merasa puas dengan apa yang sudah Kinara lakukan.
Kinara sudah tak ingin lagi ikut campur dengan urusan yang ada di sirkuit tersebut, tujuannya sudah tercapai. Ia sudah masuk ke dalam gang Naga Hitam ia membawa Claudia pergi dari sana melewati jalan kecil. Ia tak mau lagi berurusan dengan orang-orang yang ada di sana.
Sementara itu pria kepala botak tersebut sebut terus berlari menjauh, ia yakin jika sekarang nyawanya dalam bahaya, Ia terus berlari dengan darah yang terus menetes dari tangannya.
Setelah dirasa cukup jauh barulah ia akhirnya berhenti, mencoba memeriksa lukanya.
"Sial. Apa yang dilakukan Gadis itu hingga dia bisa membuatku seperti ini, aku seperti di tusuk benda yang sangat tajam, tapi saat itu ia tak memegang apa-apa," gumamnya masih menerka-nerka apa yang digunakan Kinara untuk melukainya.
Saat sedang berjalan dan terus menggerutu, tiba-tiba seseorang menghampirinya.
"Sepertinya Anda sedang terluka, apa anda baik-baik saja?" Boleh aku menolong Anda?" tanya orang tersebut.
"Aku baik-baik saja. Apa kau punya sesuatu untuk menghentikan darahku?" tanyanya pada orang yang baru saja berdiri di dekatnya.
"Tentu saja, ikutlah denganku. Aku akan coba menyembuhkan lukamu," ucapnya membawa pria berkepala botak tersebut ke salah satu mobil yang ada di sana.
Mengambil kotak P3K yang ada di mobil tersebut dan mencoba membalut tangan pria berkepala botak tersebut dan menghentikan pendarahan.
"Darahnya sudah berhenti," ucapnya membuat pria kepala botak tersebut senang dan melihat tangannya yang memang sudah tak mengeluarkan darah lagi.
"Terima kasih atas bantuannya, aku permisi dulu," ucapnya ingin pergi dari sana.
"Apanya hanya ucapan terima kasih saja? Aku sudah menyembuhkan lukamu dan itu cukup parah. Bukankah kau harus memberikan imbalan padaku?"ucap pria tersebut.
Pria berkepala botak yang tadinya ingin melangkah menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pria yang sudah menolongnya tadi.
"Katakan berapa yang kau inginkan! Aku akan langsung memberikannya."
"Benarkah, kau akan memberikannya? Bagaimana aku meminta nyawamu?' ucapnya membuat pria kepala botak tersebut terkejut dan tiba-tiba
orang yang menolongnya tadi mengeluarkan pisau dari balik jasnya. Memainkan pisau tersebut di tangannya membuat pria berkepala botak tersebut sangat terkejut belum lagi ia melihat tatapan tajam dan seringai licik dari orang tersebut saat menatapnya.
"Si-Siapa kau?" tanyanya
terbata-bata, menata ujung mata pisau tersebut.
"Aku malaikat pencabut nyawamu," ucapnya membuat kepala botak itu semakin terkejut.
"Apa kamu teman gadis tadi?" tanyanya.
Orang itu tak menjawab, senyum tipis terbit di bibir.
Pria itu adalah asisten dari Vincent.
🌹🌹Terima kasih sudah membaca 🌹🌹