
Kinara kembali memimpin misi tersebut, ia berjalan lebih dulu dan melihat semua situasi yang ada. Ia bisa melihat jika dalam markas tersebut masih sama seperti saat terakhir ia masih berada di markas tersebut, masih menjadi bagian dari mereka. Kinara bisa melihat tempat-tempat yang biasa ramai oleh para anggota, semua terlihat bersantai.
Vincent ikut melihat apa yang dilihat Kinara, Ia bisa melihat banyak anggota geng yang sedang berkumpul.
"Apa ada acara tertentu? Kenapa mereka begitu banyak? Apa mereka sedang berkumpul?" tanya Vincent yang bisa melihat begitu banyak anggota geng Mawar Hitam yang sedang berada di satu tempat dan beberapa orang tersebar di ruangan lainnya.
"Iya, kau benar. Ini adalah hari di mana mereka semua berkumpul, mungkin hampir seluruh anggota geng Mawar Hitam ada di markas sekarang," ucap Kinara santai yang membuat Vincent menelan liurnya dengan susah.
"Kau sudah gila ya!" seru Vincent. "Jika kau sudah tahu hari ini mereka semua berkumpul. Mengapa kita harus datang ke sini hari ini, kita bisa menyelamatkan Vano di hari lain. kau benar-benar ingin kita mati ya?" sahut Vincent dengan suara yang dibuat sepelan mungkin. Namun, penuh penekanan di setiap kata-katanya.
"Aku ingin menghabisi seluruh anggota geng Mawar Hitam, jika bukan hari ini kapan lagi. Ini adalah hari yang paling tepat untuk menyerang mereka, akan ku musnahkan mereka semua," ujar Kinara kesal saat melihat pemimpin dari geng tersebut orang yang selama ini dianggapnya sebagai ayahnya sendiri.
Kinara mulai menyisir tempat itu satu demi satu, mencoba mencari strategi yang aman untuk penyerang mereka dan mempelajari situasi di markas tersebut.
Saat mereka berjalan ada seseorang yang berjalan ke arah mereka, membuat mereka langsung menepi di salah satu dinding menunggu orang tersebut melewati mereka, begitu orang tersebut melawati tempat persembunyian mereka, Kinara langsung memukul tengkuk orang itu dari belakang menggunakan senjata yang dipengnya. Membuat orang itu langsung terjatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
"Bantu aku membawanya!" seru Kinara meminta Vincent membawa orang yang telah pingsan tadi menuju ke satu ruangan.
Dengan senjata yang sudah diberi peredam suara, Kinara menembak orang tersebut membuat orang tadi langsung tewas seketika.
Vincent kembali tercengang melihat apa yang dilakukan Kinara, dengan mudahnya ia menghabisi orang itu. Tadinya Vincent pikir Kinara hanya akan menguncikan orang itu atau mengikatnya. Kali ini Vincent kembali melihat sisi lain dari Kinara, sisi seorang mafia dan ia merasa kagum dengan hal itu.
[Bip skor transformasi 100 + 200 + 300]
'Sepertinya aku akan mendapat beberapa skor di pulau ini,' batin Kinara yang mendengar poin yang ia dapatkan setelah membunuh dan membuat Vincent kagum dengan dirinya.
Mereka kembali berjalan mengitari tempat tersebut, satu persatu orang yang mereka jumpai langsung mereka musnahkan, tak ada ampun untuk Kinara walaupun mereka pernah menjadi bagian dari masa lalunya. Mereka menyembunyikan tubuh orang-orang yang telah di bantainya keruangan yang jarang didatangi, mereka melakukannya dengan bersih tanpa jejak sedikitpun.
Kinara menuju ke ruang senjata markas tersebut, senjata yang mereka bawa tak memungkinkan untuk melawan mereka semua. Mereka terus menyisir tempat itu, menuju ruang senjata yang berada di tengah markas.
Vincent dengan sigap menarik Kinara saat Kinara berjalan dan hampir terlihat orang-orang yang berjalan menuju mereka.
"Walau ini pernah menjadi tempatmu, kau harus tetap berhati-hati, kita bisa saja ketahuan karena tindakan cerobohmu," ucap Vincent memperingatkan Kinara saat orang tadi sudah berjalan menjauhi mereka.
"Kau ini kenapa?" seru Kinara memukul dada Vincent. "Bukannya menghabisi mereka malah menyembunyikan ku seperti ini, sebaiknya Kita menghabisi mereka satu demi satu, itu bisa mengurangi jumlah mereka dan mempermudah kita nantinya," gerutu Kinara kembali berjalan meninggalkan Vincent yang baru berpikir jika apa yang di katakan Kinara itu benar.
Vincent menggaruk kepalanya yang tak gatal harusnya tadi mereka sudah mengurangi orang lagi, tapi malah memilih menyembunyikan diri dari orang yang seharusnya di lenyapkannya.
"Memangnya kita mau kemana? Kenapa kita tak langsung saja membasmi mereka semua?" tanya Vincent.
"Kau ikut saja, senjata kita tak cukup. Anggota Mawar Hitam yang kau lihat ini baru sebagian, masih banyak lagi yang berada di tempat lain." kata Kinara melihat Vincent yang terlihat terkejut mendengar ucapan nya.
"Kau yakin masih banyak lagi tempat lain? Aku pikir yang kita lihat tadi sudah semuanya?" tanya Vincent melongo mengikuti Kinara yang sudah meninggal kannya.
Vincent hanya mengangguk, kali ini ia benar-benar tak tau apa-apa dan hanya mengikuti arahan kinara, berbeda saat ia bergerak dengan para bawahannya, ia lah yang selalu mengatur dan mengarahkan mereka.
Kinara menghampiri sebuah ruangan, mereka sudah sampai pada sebuah ruangan. Di ruangan itulah semua senjata persediaan Geng mereka simpan, yang sejak tadi menjadi sasaran Kinara.
Kinara menyiapkan senjatanya yang sudah diberi peredam agar suara tembakan mereka nantinya tak didengar oleh para anggota Mawar Hitam lainnya di luar sana.
"Apa kau siap? Kita harus melakukan gerakan cepat! kita harus menghabisi mereka sebelum mereka membalas tembakan kita agar tak didengarkan oleh anggota yang lain," ucapnya mengganggam gagang pintu ruangan tersebut.
Vincent juga sudah siap dengan senjatanya. Mengangguk pasti sebagai Jawaban. Kinara langsung membuka pintu tersebut dan dengan kecepatan mereka berdua, mereka hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk menghabisi 10 orang yang ada di ruangan tersebut yang bertugas menjaga Ruang penyimpanan senjata itu.
Mereka tak ada kesempatan untuk mengambil senjata mereka untuk membalas tembakan Kinara dan juga Vincent.
"Apa ini ruang senjata?" tanya Vincent.
"Hmmm,,, kita membutuhkan senjata yang lebih lengkap untuk menghabisi mereka semua," kata Kinara mulai memilih-milih senjata yang akan mereka gunakan, tanpa Kinara sadari salah satu anggota geng yang telah mengarahkan senjata kepadanya.
Baru saja orang itu ingin menarik pelatuk senjatanya, Vincent yang melihatnya langsung melemparkan pisau ke arah orang itu. Namun, sayang, orang itu terlanjur menekan pelatuknya. Walau tak melukai Kinara. Namun, bunyi senjata itu dapat didengar orang-orang di sekitaran mereka.
Semua yang mendengarkannya langsung tersentak kaget dan berdiri mencari sumber suara tersebut.
"Kenapa ada suara tembakan? Apa yang terjadi?" tanya salah satu dari mereka.
"Aku akan memeriksanya," kata salah satu dari anggota geng tersebut diikuti oleh beberapa orang lainnya, mereka langsung menuju ke arah sumber suara.
Bukan hanya anggota geng Mawar Hitam yang mendengar suara tembakan itu. Namun, ayah Natasha juga mendengar suara tembakan tersebut membuat ia yakin jika Kinara dan Vincent sudah masuk ke dalam markas tersebut dan mulai beraksi, ia pun mempercepat langkahnya.
Dalam perjalanannya menuju ke suara tembakan tadi, Ayah Natasha melihat beberapa anggota geng yang sudah dilumpuhkan dan ia yakin itu semua adalah ulah Vincent dan Kinara. Ia kemudian kembali melihat beberapa orang yang sepertinya juga menuju ke sumber suara tembakan tadi, yang mengendap-endap dan mengikuti mereka.
Kinara dan Vincent saling melihat, mereka yakin suara tembakan tadi sudah terdengar oleh yang lain dan pasti ada yang akan mendatangi mereka. Dengan cepat mereka mengambil senjata yang mereka butuhkan, dan mencari posisi yang aman.
Ada sekitar 8 orang yang memeriksa sumber suara tadi dan mereka semua menuju ke arah gudang senjata dan begitu mereka masuk mereka melihat beberapa anggota yang menjaga ruangan tersebut sudah tewas tertembak. Mereka sigap langsung mengambil senjata mereka masing-masing.
"Sepertinya ada penyusup, cepat beritahu yang lain," ucap salah satu dari mereka membuat salah satunya langsung keluar berniat melaporkan kejadian tersebut.
Belum juga orang tersebut menyampaikan informasi itu kepada anggota geng lain Ayah Natasha sudah melumpuhkannya.
Ayah Natasha bergegas masuk ke ruangan dimana mereka Semua masuk, ia yakin Kinara dan Vincent ada di dalam ruangan itu.
🌹🌹 Selamat membaca 🌹🌹