
Geng mawar hitam adalah salah satu geng yang diperhitungkan di kancah internasional, banyak yang memakai jasanya untuk menghabisi lawan ataupun membantu memperlancar bisnis mereka.
Namun, ketenarannya semakin merosot dan semakin banyak yang meresa kecewa dengan pelayannya mereka, tak sama saat salah satu mafia terbaik mereka masih ada bersama mereka dalam memimpin misi.
Sekarang tak lagi Mafia terkuat yang selama ini berperan penting dalam menjalankan setiap misi mereka saat, banyak misi penting yang mereka kerjakan harus gagal. Sehingga membuat kepercayaan orang-orang yang selama ini memakai jasanya juga berkurang.
Walaupun namanya sudah tak setenar dulu. Namun, Mawar Hitam masih tetap disegani di kalangan mafia lainnya.
"Kinara, tunggu. Apa kamu yakin akan masuk? kita hanya berdua ini adalah geng Mawar Hitam mereka takkan membiarkan kita keluar hidup-hidup jika mereka sampai melihat kita," ucap Vincent menahan tangan Kinara saat mereka sudah akan memasuki kawasan geng tersebut.
"Aku sudah bilang padamu jika kau takut, kau tak usah ikut. Aku tak akan mengurungkan niatku. Aku sudah sampai sejauh ini dan tak akan mundur Walau selangkah pun," ucap Kinara menepis tangan Vincent dan kembali melangkah.
"Kita bisa menggabungkan dua kekuatan untuk melawan mereka, aku bisa mengarahkan anak buahku dan juga kau bisa minta bantuan kepada Naga Hitam." Vincent kembali menahan tangan Kinara.
Kinara kembali menepis tangan Vincent, "Aku juga ingin melakukan hal tersebut, meminta bantuan kepada yang Naga Hitam yang merupakan tim terkuat saat ini, itulah alasanku bergabung dengan mereka, tapi aku lupa siapa kita. kita hanya kumpulan orang-orang jahat yang tak mengenal kata kawan semua hanyalah lawan."
"Itu benar, tapi setidaknya kita punya banyak batuan untuk menghadapi mereka."
"Aku pikir aku bisa memanfaatkan mereka. Namun, sepertinya aku salah geng yang sudah lama saja masih bisa mengkhianati kita, apalagi aku masih baru dalam geng tersebut. Aku memilih untuk melangkah sendiri itu lebih baik, jika aku memang gagal setidaknya aku sudah berusaha dan mati dengan perjuangan bukan mati konyol dengan sebuah jebakan."
Vincent tak bisa berkata apa-apa lagi. Saat melihat amarah dimata Kinara.
Kinara bertolak pinggang menatap Vincent, " Jika kau ingin mundur dari semua ini silahkan, kau belum terlambat. Benar apa katamu jika kita melangkah kedalam jika bukan Kita Yang menghabisi mereka, merekalah yang akan menghabisi kita. Aku tak akan memaksamu untuk ikut denganku," seru kinara dengan cuek.
Vincent tak menjawab apa-apa, ia melangkah lebih dulu meninggalkan Kinara. Kinara yang melihat itu tersenyum dan kemudian menyusulnya.
Mereka berjalan bersama, mereka harus menempuh perjalanan 1 km Untuk menjangkau markas inti tersebut. Kinara yang sudah tahu seluk beluk markas tersebut memilih untuk tak menggunakan kendaraan dan memilih jalur yang lebih dekat dan aman yang bisa dijangkau mereka.
"Apa Vano sepenting itu hingga kau mempertaruhkan nyawamu untuk masuk ke tempat ini?" menggerutu sambil terus berjalan tanpa melihat Kinara.
"Apakah aku juga sepenting itu hingga kau juga mau menemaniku masuk ke sini?" Bukannya menjawab, Kinara balik bertanya.
Vincent menghentikan langkahnya diikuti oleh Kinara yang hampir saja menabrak Vincent yang berhenti secara tiba-tiba.
"Jadi benar kau benar-benar datang ke sini untuk Vano?" berbalik memandang tak suka pada Kinara yang santai berjalan melewatinya.
"Jika aku menjawab iya, kau akan berlari untuk pulang?"
Vincent menghela nafas dan kemudian berjalan kembali, "Sepertinya aku benar-benar sudah salah langkah dengan membawa Vano ke pulau itu, seharusnya waktu itu aku menembak nya dan menyerahkan kepalanya kepadamu untuk dijadikan pajangan di apartemen, setidaknya kita tak akan terjebak di pulau ini dan dia masih bisa menemanimu di apartemen walau hanya kepalanya saja," gerutu Vincent yang membuat Kinara tertawa dan menendang bagian belakang Vincent yang kini berjalan mendahuluinya.
Kinara menggandeng tangan Vincent sambil berjalan.
"Kau tak usah takut, aku akan melindungimu!" ucap Kinara yang membuat Vincent kembali tersenyum.
Vincent merangkul bahu Kinara, "Aku yang akan melindungimu, mari kita selesaikan misi ini dan kembali."
"Aku akan melindungimu dengan nyawaku, jadi kau tak usah takut," ucap Vincent mengacak-acak rambut Kinara. "Kau belum tahu siapa aku, aku bisa menghabisi puluhan musuhnya hanya dengan mata tertutup," ucapnya menyombongkan diri.
"Benarkah?" tanya Kinara dengan ekspresi yang meremehkan.
"Kau tak percaya denganku?" tanya balik Vincent.
"Aku percaya kalau kamu bisa menghabisi puluhan musuh, tapi aku tak percaya jika kau bisa menghabisi musuh dengan mata tertutup. Aku takut jika kau menutup matamu saat menghadapi musuh mereka yang akan menutup sungguhan matamu untuk selama-lamanya."
"Mau taruhan?"
"Taruhan apa?"
"Jika aku benar membunuhmu musuh dengan mata tertutup kau akan menjadi kekasihku untuk selama-lamanya! Bagaimana kau berani?"
"Aku suka taruhan! Tentu saja aku berani, aku akan menjadi kekasih bahkan istrimu dan melayanimu seumur hidupku," tantang Kinara.
"Baiklah, kau jangan mengingkari janjimu." Vincent memberikan jari kelingkingnya pada Kinara.
"Jika aku mengingkari janjiku kau bisa menyeretku masuk ke dalam hidupmu," ucap Kinara menyambut jari kelingking Vincent.
Mereka terus berjalan bersama, berbincang hal-hal yang tak penting. Mereka melakukannya untuk menghabiskan waktu di jalan dan menghilangkan ketegangan yang mereka rasakan. Walau mereka adalah mafia terbaik. Namun, tetap saja mendatangi markas musuh hanya berdua merupakan resiko yang sangat besar, mereka harus siap dengan segala kemungkinan.
Mereka sampai di salah satu gedung di pulau tersebut, Kinara yang tahu akses jalan yang bisa mereka lewati tanpa diketahui penghuni markas berjalan lebih dulu. Vincent terus memperhatikan Kinara, memperhatikan apa yang dilakukannya hingga mereka bisa masuk ke markas tersebut tanpa kendala sedikitpun.
'Sepertinya dia memang pernah berada di markas ini, dia tahu banyak tentang tempat ini. Apa dia benar-benar pernah berada di gang ini?lalu mengapa dia terlihat begitu marah dengan Mawar Hitam,' batin Vincent kembali mengingat ucapan Kinara yang ingin menghabisi seluruh anggota tim Mawar Hitam.
Kinara menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Vincent.
"Misi pertama kita menyelamatkan Vano, jika kita bisa mendapatkan nya dari mereka pergilah lebih dulu dari tempat ini, aku akan menyusul kalian. Jangan pikirkan aku dan cepat keluar dari pulau ini, pikirkan saja keselamatan kalian!"
"Selain menyelamatkan Vano aku akan membantumu sampai akhir, kita akan pergi dari pulau ini bersama-sama atau tewas di sini bersama, aku tak peduli dengan Vano Iya mau selamat atau tidak itu bukan urusanku."
Vincent kembali berjalan lebih dulu dari Kinara.
"Kau salah jalan, kau mengarah ke jantung musuh."
Vincent memutar langkahnya dan berjalan melewati Kinara tanpa menghiraukannya.
Kinara hanya menggeleng melihat tingkah Vincent, semakin lama ia mengenalnya semakin ia menyukai karakter Vincent, tapi ia sadar ia hanya menumpang dan entah sampai kapan ia harus mengembalikan tubuh itu ke pemilik aslinya.
🌹🌹 Selamat membaca 🌹🌹