Mafia In The School

Mafia In The School
Kemarahan Kinara



Kamar kinara terletak di lantai 2 paling ujung di sebelah ruangan hewan peliharaan mereka, yang ukurannya 2 kali lebih besar dari kamar kinara.


Tiara dan Diana sangat menyayangi kucing-kucingnya. Kebutuhan mereka bahkan lebih mewah dari Kinara.


Kinara melihat tumpukan kotoran kucing dan kamarnya yang sangat berantakan.


"kenapa kamarku seperti ini, dari sekian banyak ruang di rumah sebesar ini aku harus tidur disini," batin Kinara mengepal tangannya, ia terus mencoba mengatur ritme jantungnya yang sudah bergemuruh, ia sudah sangat marah. Saat di bawah, ia harus menahan amarahnya, karena ulah ibu tirinya. Ditambah lagi melihat kondisi kamarnya yang sangat berantakan. Belum lagi kotoran kucing hewan peliharaan mereka yang terlibat sengaja di letakkan di sana. Semua itu sungguh membuat Kinara ingin menghabisi mereka dengan sekali tembakan.


"Hufff," Kinara terus mencoba untuk menahan diri.


Menarik nafas dan menghembuskannya dengan sangat pelan, ia terus mengelus dadanya, kinara harus sebisa mungkin merahasiakan siapa dirinya sebenarnya dan tak boleh diketahui Siapapun.


"Aku harus bisa menahan diri, aku sudah sejauh ini masih dalam kehidupan anak ini, aku harus membantunya." Kinara membakar semangat nya untuk membantu Kinara remaja.


"Ok, aku baik-baik saja, semua ini menang harus di lalui Kinara," ucapnya sambil berjalan mencari pelayan di rumah itu.


"Bi ... Bibi, tolong bersihkan kamarku," pinta Kinara pada bibi yang sedang membersihkan ruangan lain.


"Apa bibi tak mendengarkan ku, ya!" gumam Kinara berjalan lebih dekat pada Bibi yang sedang membersihkan beberapa koleksi majikannya, ia tak menjawab dan hanya terus menunduk.


Mereka sudah di wanti-wanti untuk tak melayani Kinara selama ada di rumah ini.


"Bi, bersihkan kamar ku dulu ya, aku mau istirahat," pinta Kinara pada bibi yang sedang membersihkan koleksi kesayangan ibu tirinya.


Kinara terus meminta Bibi. Namun, setelah memintanya berkali-kali Bibi seolah tak mendengar apa yang kinara katakan. Bibi sedang fokus membersihkan debu dari pernak-pernik barang-barang kesayangan Diana.


"Ada apa dengan Bibi," batin Kinara memperhatikan bibi yang melirik ketakutan pada ibu tirinya yang ada terus mengawasi mereka dari lantai bawah.


"Hoo ... jadi kalian mau bermain-main dengan ku, baik lah akan aku ladeni."


Kinara yang mendapat perlakuan seperti itu sudah tak bisa lagi mengontrol emosinya, dia langsung berjalan mendekati guci yang paling besar dan tanpa belas kasih pada guci cantik itu, Kinara melemparkannya.


"Kinara ...." Pekik Diana melihat apa yang Kinara lakukan.


Tak kenal ampun, semua guci-guci serta pernak-pernik kesayangan ibu tirinya itu di banting nya kelantai. Bibi hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat apa yang dilakukan oleh kinara, tubuhnya bergetar ketakutan.


Semua pecah berserakan di lantai.


Kinara berjalan ke salah satu benda kesayangan ibu tirinya yang baru dibelinya dua hari yang lalu, harganya mencapai ratusan juta rupiah.


Bibi langsung berlari menghampiri Kinara dan menghalangi, bibi tau berapa harganya.


Kinara tak mendengarkan bibi


"Non, jangan pecahkan ini ya, Bibi bisa kena marah," ucap Bibi memohon. Namun, Kinara tak mengindahkannya, ia berjalan dan langsung melemparkan guci itu hingga hancur tak terselamatkan lagi.


Diana tak bisa berkata apa-apa melihat apa yang dilakukan kinara, ia hanya bisa dari lantai bawah sambil terus memekik meminta Kinara menghentikan kegilaannya,


"KI-NA-RA, apa yang kau lakukan, itu semua harganya ratusan juta, apa kau bisa menggantikannya, tidak kan? Almarhum ibu mu saja tak akan membeli semua itu.


"Hentikan Kinara," pekik Diana melihat apa yang dilakukan Kinara.


"Dasar ya kamu kelakuan kamu sama aja dengan ibu kamu, tak pernah menghargai apapun, sikap kamu itu sangat mirip dengannya, kalian berdua sangat bar-bar. bisanya hanya merayu dan menjebak laki-laki untuk mengubah garis keturunannya, tapi lihat saja kelakuan mu, tetap kampungan dan tak berpendidikan." Diana melakukan kesalahan besar, ia berteriak memfitnah dan menjelekkan ibu kandung kinara, membuat kinara menghentikan apa yang dilakukan dan menatap tak suka pada ibu tirinya yang masih berdiri di lantai bawah.


"Beraninya kamu memfitnah ibuku," geram Kinara.


"Aku tidak memfitnahnya, memang seperti itu kelakuan bar-bar ibu kamu, tak ada lainnya dengan mu saat ini," teriak Diana yang tak terima barang kesayangannya di rusak Kinara.


Semua itu didapatkannya dengan susah payah, semua berasal dari luar negeri dan limited edition.


Kinara berjalan turun menghampiri Diana yang kini terdiam melihat sosok Kinara yang terlihat sangat kuat dan menakutkan.


Diana memundurkan langkahnya saat langkah kinara semakin mendekat kepadanya. Sikap Kinara membuat Diana sedikit takut.


Kinara sejak tadi menahan emosinya, belum lagi ditambah hinaan yang didengarnya mengenai orang yang paling disayangi dan paling dirindukannya yaitu ibu kandungnya. Membuat kinara tak bisa lagi menahan emosinya berjalan mendekat pada Diana dan ….


"Plakk," satu tamparan keras mendarat di pipi Diana. Diana memegang pipi yang terasa panas, Kinara benar-benar memukul pipinya dengan sangat keras, membuat pipinya terasa berdenyut.


Diana balas menatap tajam pada Kinara,


"Beraninya kau menampakkan, dasar anak kurang ajar, anak tidak tahu berterima kasih, anak dari wanita ******," ucap Diana ingin membalas apa yang dilakukan oleh Kinara padanya, ia mengangkat tangan dan ingin menampar Kinara . Namun, ia kalah cepat, tamparan kedua Kinara kembali mendarat di wajahnya.


[Skor adu tampar ini jadi skor serangan balik + 5]


[Skor serangan balik Kinara + 15]


Bibi yang melihat adegan saling tampar merasa sangat takut, bibi tetap diam di tempatnya, takut jika kemarahan Kinara juga berimbas padanya. Bibi tadi juga tak menuruti apa yang dikata oleh kinara, walau itu perintah Majikannya.


Bibi terlihat sangat takut saat kinara menatap padanya.


Kinara menarik tangan Bibi yang masih terduduk lemas karena menyaksikan apa yang dilakukan Kinara,


"Bibi bersihkan kamarku, dan jika dalam waktu 10 menit, bibi bisa bayangkan apa yang akan aku lakukan pada Bibi," ucap Kinara membuat bibi langsung berlari menuju ke kamarnya dan mulai membersihkan Semuanya dengan terburu-buru.


"Ada apa dengan non Kinara? Kenapa ia begitu berani pada nyonya," gerutu bibi sambil terus membersihkan Kamar Kinara sebersih mungkin. Tak ingin meninggalkan debu sedikitpun.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, gift, dan Komennya 🙏


Salam dariku Author M ANHA 🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖