Mafia In The School

Mafia In The School
Kecurigaan Kinara.



Begitu Natasha pergi Kinata langsung menghampiri pria berkepala plontos yang sejak tadi mengawasi mereka, dengan satu tendangan langsung membuat pria itu tersungkur ke lantai.


"Apa tujuanmu mengikuti kami? atau kau hanya mengikuti Natasha? Benar 'kan?"


"Aku hanya disuruh Ayahnya untuk mengikutinya, memastikan dia baik-baik saja. Itu saja aku tak berniat jahat padanya," ucap pria berkepala plontos tersebut mencoba untuk berdiri.


Ia tak ingin bermain-main dengan Kinara, pria itu sudah melihat bagaimana skill berkelahi Kinara saat di kasino beberapa hari lalu.


Sebuah kotak jatuh dari pria berkepala plontos tersebut, Kinara langsung mengambilnya dan melihat jika itu adalah gelang carnelian, Kinara mengingat jika Vincent pernah membahas gelang itu.


Baru saja Kinara ingin menanyakan mengenai gelang itu Claudia langsung datang dan menarik Kinara untuk pergi dari sana.


"Kamu apa-apaan sih main tarik-tarik aja," kesel Kinara.


"Kamu tuh yang apa-apaan? Ngapain juga cari masalah sama orang kayak gitu pasti mereka bukan orang baik," kesal balik Claudia.


"Ga tau aja nih anak, 100 pria berkepala plontos juga gue ladenin," batin Kinara.


"Aku cuma mau cari tahu saja kenapa dia mengikuti Natasha. Bagaimana kalau dia ingin berbuat jahat?"


"Kita nggak usah ikut campur masalah mereka, itu bisa membawa kita pada masalah, lebih baik kita lanjutkan shopping aja," ucap Claudia kembali membawa Kinara untuk berbelanja.


"Lebih baik shopping daripada mencari masalah dengan orang-orang yang tak jelas," gumam Claudia.


Saking asyiknya berbelanja mereka sampai lupa waktu dan sadah malam hari.


Sebelum pulang mereka memutuskan untuk makan malam.


Sopir Claudia sudah sedari tadi menunggunya, Ia terus saja keluar masuk mobilnya melihat ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa non Claudia lama sekali ya," gumam sang sopir tak biasanya majikannya itu berbelanja selama itu, ia menjadi khawatir dan memutuskan ingin pergi menyusulnya. Namun, baru beberapa langkah meninggalkan mobilnya ya sudah melihat Claudia berjalan bersama dengan seseorang.


"Hai Pak, Maaf ya, Pak. lama ya nunggunya?" tanya Claudia pada sopirnya.


"Iya, Non. Lumayan, tapi non nggak apa-apa, tadi bapak khawatir terjadi sesuatu sama Non makanya Papa sempat Ingin menyusul."


"Nggak kok, aku hanya keasikan belanja, ini. Ini buat ini untuk bapak," Claudia memberikan satu bingkisan kepada supirnya karena sudah lama membuatnya menunggu.


"Terima kasih ya, Non," ucapnya kemudian mereka membuka pintu untuk majikannya itu.


"Kinara sekalian aku antar kamu pulang yuk!" tawar Claudia.


"Nggak ngerepotin?" tanya Kinara berbasa-basi sebenarnya Ia memang menginginkan jika Claudia mengantarnya pulang, ia sudah sangat lelah untuk mencari kendaraan umum.


"Nggak kok, Ayo naik aja," ucap Claudia menarik Kinara naik kemobil nya.


Sepanjang perjalanan Claudia dan Kinara terus saja berbincang-bincang, terlihat begitu sangat akrab. Supir yang terlihat sangat ramah terus saja memperhatikan mereka, tak biasanya Claudia bersikap begitu ramah pada temannya dan ini untuk pertama kalinya kalau dia mengantar temannya pulang setelah mereka bermain bersama.


Kinara masih terus saja mencurigai Claudia yang terus bersikap baik padanya. Kenapa ia sangat ingin bertemu dengannya. Namun, dia terharu karena Claudia lah yang selama ini masih tetap berada di sampingnya dan selalu menemaninya


"Setelah berkendara sekitar 20 menit akhirnya mereka pun sampai ke rumah Kinara.


"Oya, ini untukmu," ucap Kinara turun dari mobil dan memberikan sebuah kotak kepada Claudia.


"Apa ini?" tanyanya.


"Ayo, Pak. jalan," seru Claudia menyuruh sang sopir untuk menyalakan mobilnya dan pergi dari sana.


"Ini isinya apa sih?" gumam Claudia membolak-balik kotak tersebut walau ragu Claudia tetap membukanya, alangkah senangnya dia saat melihat itu adalah gelang Cornelia.


"Dari mana Kinara mendapatkan gelang ini, aku sudah lama mencarinya," ucapnya mencium kotak tersebut dan langsung menyimpannya ke dalam tasnya.


"Tadi itu temannya Non ya? Anaknya kelihatan baik dan ramah." ucoa Sopirnya.


"Iya, Pak namanya Kinara dia tidak sebaik yang bapak kira, dia itu tingkahnya sangat buruk suka berkelahi juga sedikit kasar. Aku tidak suka dengan sikapnya belum lagi ia selalu menolak untuk berteman dengannya," keluh Claudia.


Sopir mengerutkan keningnya khawatir bahwa Kinara memainkan trik jual mahal, karena dari penampilannya Kinara sepertinya tak mempunyai posisi yang penting di keluarganya Jadi mungkin saja ia mengandalkan Claudia untuk menaikkan statusnya.


Kinara masuk ke dalam rumah dan melihat ayahnya sedang duduk di ruang tengah.


Kinara pun menghampiri ayahnya dan mengucapkan salam.


"Kamu sudah pulang, Nak? Kamu dari mana?" tanya ayah yang begitu lembut pada Kinara.


"Aku habis dari mall Ayah, dengan temanku." Jawabnya.


"Bagaimana kabar kamu hari ini? Kamu sehat 'kan?" tanya ayah minta Kinara untuk duduk di dekatnya.


"Kinara sehat kok, Yah. Ada apa ya?" tanya Kinara merasa curiga mengapa ayahnya terlihat begitu lembut menanyakan keadaannya.


"Ayah hanya ingin bicara padamu, sudah lama kita tak saling bercerita."


"Ayah, Kinara capek. Aku naik dulu ya? Aku mau mandi dan istirahat?" ucap Kinara berdiri dari duduknya dan akan pergi.


"Kamu sudah makan malam?" tanya ayah lagi masih dengan lemah lembut.


"Iya! Sudah Ayah, sebelum pulang Kinara makan malam dengan teman Kinara."


"Ya sudah, istirahat lah."


Kinara langsung berlari ke kamarnya, ia memiringkan kepalanya merasa aneh? Ia kembali melihat ayahnya. Melihat punggung Ayahnya yang duduk membelakanginya. Namun Kinara tak ingin mengambil pusing, ia mengendikkan bahunya lalu kembali berlari.


Kinara mengambil handuk dan segera mandi, dia benar-benar gerah menemani Claudia berbelanja kesana kemari kesana.


Setelah mandi,.Kinara duduk dan kembali memperhatikan gelang onyx nya Vincent mengatakan orang yang mencari gelang onyx Ini kemungkinan adalah pria berkepala plontos tadi. Jika ia disuruh mengawasi Natasha mungkinkah Dia orang suruhan dari ayahnya Natasha dan mungkinkah dalang dibalik penyerangan malam itu adalah Ayah Natasha," gumam Kinara, menyangkut pautkan apa yang sudah dialaminya ia menjadi penasaran siapa sebenarnya Ayah Natasha dan keistimewaan gelang yang ada di tangannya itu sehingga orang yang merebutnya mengerahkan begitu banyak anak buah bahkan hampir mencelakakannya.


Aku harus bisa bertemu dengan ayah Natasha Aku yakin dia bukan orang sembarangan dan mungkin saja ia memiliki geng atau kelompok hitam semacamnya Aku harus bisa menggapai mereka. gumam Kinara bertekad untuk mencari tahu tentang walikota mereka dan tentu saja atas ya adalah kuncinya.


Kinara yang bersedih.


"kinara kembali menyimpan gelang itu di ruang penyimpanannya kegunaan sistem itu sungguh sangat membantunya untuk menyimpan barang tersebut dan bisa dibawa kemana saja bisa diambil saat ia membutuhkan kapanpun Ia mau.


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Salam dariku Author M Anha


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖