Mafia In The School

Mafia In The School
Berwajah Dua



Begitu Kinara pergi dari sana Tiara langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai, tubuhnya lemas melihat barang kesayangannya sudah tak berwujud lagi. Ia mendapat semua itu dengan susah payah. Ada beberapa yang mengharuskannya menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkannya.


Tiara menangisi kamarnya yang sudah sangat berantakan, Kinara menghancurkan kamar itu hingga hancur berkeping-keping.


"Ibu lihat kondisi kamarku, semua barang-barang kesayanganku sudah rusak. Aku nggak mau tahu ibu harus membelikannya kembali," ucap Tiara terus menangis dan meminta ibunya menggantinya, walaupun ia tau jelas ibunya sekalipun tak bisa menggantikan semua yang telah Kinara hancurkan, selain harganya yang selangit, barang-barang itu limited edition.


Tiara hanya bisa pasrah dan merangkak mengambil beberapa koleksi kesayangannya yang masih bisa diselamatkannya. Masih lolos dari amukan Kinara.


"Ada apa dengan anak itu, kenapa sikapnya jadi berubah seperti itu. Menjadi sangat arogan. Lihat saja nanti, begitu ayahmu datang ibu akan mengadukannya, kita lihat apakah dia masih bisa bertingkah seperti itu atau tidak, sepertinya selama ini kita masih kurang mendidiknya sehingga ia bisa bertingkah kurang ajar seperti itu," kesal Diana.


"Ibu benar, kita harus buat Kinara dihukum ayah lagi. Lihat saja nanti aku juga akan melaporkan kinar. Ayah pasti membelaku," ucap Tiara menghapus air matanya dan perlahan mulai membereskan kamar kesayangannya.


Selama ini walau Kinara berkata jujur jika Tiara berbuat salah padanya dan terbukti jika apa yang dikatakan Kinara banar, tapi jika Tiara sudah mengeluarkan air mata dan merayu ayahnya semua hal yang dikatakan oleh Kinara tak berarti apa-apa di mata ayahnya, Tiara akan mendapat Maaf dari ayah mereka. Berbeda jika kejadian itu berbalik. Apabila Tiara mengadu jika Kinara berbuat salah padanya, tanpa mendengarkan penjelasan dari Kinara terlebih dahulu pasti ayah akan langsung menghukum kinara.


Tiara selalu bermuka dua di depan ayahnya, begitu juga dengan Diana. Mereka berdua saat di depan ayah akan pura-pura baik dan simpati kepada Kinara bahkan terlihat seperti Kinara lah Yang menindas dan tidak suka akan kehadiran mereka.


****


Saat malam hari ayah sudah pulang dan langsung disambut oleh Ibu dan Tiara.


"Kenapa pipi kamu merah dan bengkak seperti itu," tanya Ayah.


Ibu tak menjawab, ia hanya memasang wajah sedihnya dan memegang Kedua pipinya.


"Ada apa ini, apa yang terjadi?" tanya ayah yang melihat pipi Diana yang merah dan melihat Tiara yang terlihat begitu sedih dan menunduk sambil terisak kecil di balik Punggung Ibu, ia berpura-pura malu-malu dan tersakiti.


"Tiara, ada apa denganmu Kenapa kau menangis?" tanya ayah khawatir.


Tiara langsung berhamburan ke pelukan ayahnya dengan air matanya yang dibuat -buatnya begitu juga dengan Diana, dia memasang wajah sedih di hadapan suaminya sambil mengusap punggung Tiara yang terguncang karena isakannya.


"Ada apa ini, Kenapa kamu menangis?" tanya ayah menghapus air mata Tiara.


"Kinara lagi-lagi berbuat ulah, ayah bisa lihat pipi ibuku 'kan, Ini semua karena ulah Kinara yang berani menamparku dan kinara juga merusak semua barang-barang di kamar Tiara. coba Ayah lihat semua barang-barang Tiara yang di hancurnya Kinara.," ucap Diana menunjuk sebuah kardus besar dan beberapa kotak lainnya, yang mereka gunakan untuk menyimpan itu semua di gudang, untuk menyimpan semua benda-benda koleksi kesayangannya yang hancur.


Tiara semakin menambah Isak tangisnya mendengar perjalanan ibu.


"Kinara, apa benar yang ibumu katakan? Apa kau telah memukul Ibumu dan menghancurkan kamar Tiara?" tanya ayah sedikit mengeraskan suaranya karena jarak Kinara agak jauh dari mereka.


Kinara duduk di ruang tengah sambil memainkan jari-jarinya dan bersikap seolah tak mendengar percakapan mereka berdua tadinya.


Kinara berjalan menuju ke arah mereka, "Iya, Yah! Aku yang melakukannya, tapi aku melakukan semua itu bukan tanpa alasan. Ayah, aku melakukannya karena Ibu telah berani menghina ibu kandungku, ia juga menjelek-jelekkannya di hadapanku. Aku sangat tak suka akan hal itu, Ayah tahu sendiri 'kan aku sangat menyayangi Ibu dan aku takkan membiarkan siapapun menghinanya termasuk …,! ucap Kinara menghentikan kata-katanya. Namun, menatap tajam pada ibu tirinya.


Meskipun Ayah sangat mencintai istrinya yang sekarang. Namun, dia merasa bersalah pada mendiang istrinya, Ayah berpikir jika Kinara sudah menderita cukup lama, menjadi autis dan penakut. Sehingga ia sering ingin berbuat kesalahan.


Semenjak ibunya meninggal dan ayah menganggap itu semua sebagai bentuk protesnya ingin diperhatikan dan sangat merasa kesepian kehilangan sosok ibunya di umurnya yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


"Bukan hanya itu saja Ayah, Ibu juga telah memarahiku hari ini dan juga menghina aku.


Aku menghancurkan kamarnya karena dia sendiri yang lebih dulu memulainya, Tiara menghancurkan kamarku terlebih dahulu, Ayah." Kinara melanjutkan menjelaskan pada ayahnya. jika apa yang terjadi bukanlah salahnya.


"Bohong, Semua Itu bohong Ayah. Kinara yang lebih dulu membuat masalah denganku. Aku menghancurkan kamarnya hanya untuk membalas perbuatannya padaku. Selama ini dia terus saja menggangguku di sekolah."


"Ayah, Tiara benar. Hari ini Kinara bertindak sangat arogan, coba lihat semua guci-guci ibu, semua itu dihancurkan olehnya, ibu memarahinya Karena melakukan itu semua, Apa Ibu salah jika ibu menegurnya saat dia berbuat salah, apa di sini kami yang salah?" tanya ibu berpura-pura menjadi korban.


"Mereka berdua berbohong, Ayah! Kinara tak pernah berbuat masalah lebih dulu. Mereka yang terus mengganggu Kinara. Kinara hanya coba untuk membela diri."


Mereka terus beradu mulut, Tiara dan juga ibunya terus saja menyalahkan dan melempar kesalahan pada Kinara. Mereka benar-benar berakting seolah Kinara lah yang lebih dulu mengganggu mereka. Namun, Kinara tak tinggal diam, dia bukanlah Kinara yang dulu yang langsung mengalah, dia terus mengatakan apa yang sebenarnya terjadi terus bisa membantah apa yang ibu dan adik tirinya tuduhkan.


"Sudah berhenti, coba kalian jelaskan dengan baik Siapa sebenarnya yang lebih dulu baru buat kesalahan jika kalian terus saja berteriak seperti itu mana mungkin Ayah mengerti dengan permasalahan kalian," ucap ayah kesal. Ia sudah lelah seharian bekerja di kantor dan saat pulang ia harus menyaksikan mereka bertengkar..


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖


Terima kasih sudah membaca 🙏


Jangan lupa like, vote, dan Komennya 🙏


Salam dariku Author M ANHA 🤗


💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖