
Kinara Kembali ke asramanya tempat ternyaman walaupun hanya sederhana, tapi ia bisa tidur nyenyak. Kinara baru merasakan tidur nyenyak sejak berada di tubuh Kinara remaja. Menjadi mafia yang di incar banyak musuh membuat terus waspada.
"Ini sangat aneh, aku bisa merasakan rasa sakit yang dirasakannya. Kenapa kita memiliki nasib yang sama.Tak memiliki keluarga dan kesepian," gumamnya.
"Mengapa aku seperti pernah mengalami semua ini," ucapnya menekan dadanya saat rasa sakit itu semakin menyerangnya. Ia merasa sangat lemah, merasa kesepian merindukan sosok ibu yang sudah hampir hilang di ingatannya. wajah ibunya bahkan sudah memudar.
Begitu masuk kedalam asramanya dia melihat Claudia sudah ada di dalam.
"Sejak kapan kau ada disini?" tanya Kinara.
"Sejak Kau bertengkar dengan ibu tiri mu. Sebenarnya kalian ini keluarga atau musuh, kalian tak pernah akur sama sekali aku pikir akulah yang paling buruk dalam hal keluarga. Aku memiliki ayah dan ibu yang sangat menyayangiku, memiliki harta berlimpah, tapi aku merasa sendiri. Mereka sibuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah dengan alasan untuk kebahagiaan ku, tapi sedikit pun aku tak pernah bahagia. Aku lebih senang saat mereka ada di sampingku."
"Setidaknya kau masih punya mereka, tak seperti diriku. Aku mempunyai seorang ayah, tapi ia lebih mementingkan keluarga barunya. Aku bahkan berpikir jika ayah tak pernah pedulikanku. Mungkin Ayahku juga berpikir hal yang sama, ia sibuk bekerja untuk memberikan pundi-pundi rupiah padaku memberikan harta warisan sebanyak mungkin, tapi itu semua tak ada gunanya."
"Kenapa kau tak kembali ke rumahmu, bukankah kamu bilang Ayah mau membelikan rumah itu untukmu?"
"Untuk apa rumah jika aku tak merasa nyaman tinggal disana," jawaban Kinara dengan nada malasnya.
"Jika Kamu tak pulang kerumah, kamu akan tinggal dimana?"
"Aku bisa tinggal di mana saja, asalkan tak kembali ke rumah. Entahlah aku tak tahu harus tinggal di mana, Aku akan mencoba mencari tempat tinggal"
"Apa kamu mau ikut denganku?" Ajak Claudia.
"Ke rumahmu?"
"Tentu saja tidak, kita bisa menyewa rumah lain. Aku juga sudah memutuskan tak ingin melanjutkan sekolahku keluar negeri Aku ingin melanjutkan disini bersamamu."
"Baiklah, tak ada salahnya untuk mencoba," Memutuskan akan tinggal bersama mereka.
Keesokan harinya ujian kembali berlangsung. Kinara dan yang lainnya mengikuti ujian dengan tenang tak ada lagi yang berani mencurangi Kinara sejak kejadian Jenika.
"Baiklah anak-anak ini adalah ujian terakhir kalian semoga kalian semua bisa lulus dan sukses setelah keluar dari sekolah ini ucap guru pengajar setelah mengumpulkan semua kertas ujian mereka dan meninggalkan kelas.
Ujian telah selesai. Kinara pun kembali ke asrama menghabiskan waktu untuk mengatur apa yang akan dilakukannya setelah keluar dari asrama tersebut.
Malam Hari, Kinara mulai mempacking barang-barangnya yang dianggapnya sangat penting dan memasukkannya ke ruang penyimpanan.
Ia tinggal menunggu pengumuman kelulusan dan pihak asrama sudah meminta Kinara untuk keluar dari asrama.
Kinara memasukkan beberapa pakaiannya sebelum meninggalkan asrama tersebut. ia kembali melihat kamar yang memiliki banyak kenangan, kamar yang sudah membuatnya nyaman selama berada di tubuh Kinara.
"Aku pasti akan menolongmu untuk hidup kembali setelah membalaskan dendamku ucapnya kemudian Ia pun berbalik berjalan keluar meninggalkan gerbang asrama.
Kinara berjalan di tengah gelapnya malam, ia ingin mencari tempat yang nyaman untuknya.
Ponselnya berdering dan ia melihat itu panggilan dari Vano
"Ada apa?" Kinara mengangkat panggilan Vano.
"Tadi aku ke asramamu, kau sudah tidak ada, apa kau kembali ke rumahmu?"
"Aku takkan kembali ke rumahku, aku baik-baik saja," ucapnya.
"Kau dimana?" tanya lagi.
"Aku sudah menanyakan nilai kita kepada guru pengawas dan nilai ku lebih tinggi dari nilaimu. itu berarti kau tak bisa menjadi temanku, sekarang berhenti menghubungiku! Anggap saja kita tidak pernah berteman." Kinara kemudian mematikan panggilannya memasukkan ponselnya ke kantonya dan kembali berjalan menyusuri malam.
Vano kembali memanggil Kinara, tapi nomor ponselnya sudah tidak aktif.
Vano kemudian menelpon Claudia, menanyakan apakah ia mengetahui di mana Kinara. Namun, Claudia juga tak tau dimana Kinara
"Iya, katanya dia sudah meninggalkan asrama," jawab Vano.
Claudia panik, mereka sudah membuat janji akan tinggal di tempat yang sama. Lalu kenapa Kinara tak menghubungi saat menjauh.
"Aku akan langsung ke asrama. Jika Kau menemukan Kinara cepat hubungi aku! kau harus terus mencarinya!"
"Apa mungkin dia kembali ke rumahnya?" tanya Vano lagi sambil terus melihat ke kiri dan ke kanan, berharap bisa melihat Kinara.
"Tidak, Kinara tak akan kembali ke rumahnya. Dia pasti mencari tempat lain."
Claudia bergegas meminta sopir untuk mengantarnya mencari Kinara.
Vano dan juga Claudia terus saling ber kabar mengenai keberadaan Kinara..
Vano dan Claudia bertemu di suatu tempat dan mereka memutuskan untuk mencarinya bersama-sama. Membiarkan sopir mereka untuk pulang.
Sepanjang perjalanan, mereka terus mencari Kemana Kinara pergi, membuat orang lupa.
Claudia memicingkan matanya saat melihat di kejauhan ia seperti melihat sosok Kinara..
"Apakah itu Kinara?" tanyanya berbinar.
"Iya, benar, itu Kinara." seru Vano.
Vano melajukan mobilnya menuju ke tempat dimana ia melihat kinara.
Dengan cepat Vano mengarahkan mobilnya kearah orang yang sedang berjalan di trotoar .
"Maaf hubungan kita harus sampai disini, Terima kasih sudah menjadi temanku terima, kasih kalian sudah menemaniku selama di sekolah" ucapnya Kinara membuang kartu sim cardnya.
Kinara akan menjalankan sebuah misi yang berbahaya dan dia tidak ingin teman-temannya mendapat masalah dengan melibatkan mereka.
Kinara yang berjalan tiba-tiba di dikagetkan sebuah motor besar berhenti di hadapan, menghalangi jalannya, orang tersebut memberi Kinara memberi kode agar Kinara naik.
"Vincent," seru Kinara saat mengenali jaket yang digunakan si penunggang motor biru tersebut.
Vincent membuka kaca helmnya dan mengambil helm lain menarik Kinara agar mendekat ke arahnya.
"Iya, ini aku. Aku tahu kau sudah tahu kamu tak punya tujuan kan? ikut lah denganKu," Ucap Vincent mengenakan helm kepada Kinara.
Kinara mengangguk kemudian naik di boncengan Vincent.
Vincent melajukan motornya dengan sangat kencang, membuat Vano kesulitan mengejarnya dan merekapun kehilangan jejak nya.
"Kinara pergi dengan siapa?" tanya Vano, panik saat ia sudah tak melihat Kinara.
'Jadi motor biru yang waktu itu adalah Vincent' batin Claudia. ia juga bisa mengenali jaket yang dipakai pria yang.
Ada rasa sakit di hati Claudia yang merasa dikhianati Kinara lebih memilih ih meminta bantuan kepada Vincent daripada dirinya.
"Vano, antar aku pulang! sepertinya Kinara lebih nyaman dengan dia daripada kita. Aku pikir aku aku dan Kinara sudah dekat ternyata aku salah dia lebih memilih Vincent," ucapnya tak bisa menahan air matanya, ia sangat kecewa sungguh merasuk di relung hatinya.
Claudia mengambil ponsel dan menelpon ayah nya yang ada di luar negeri.
"Ayah, Claudia setuju jika ayah ingin aku melanjutkan sekolah di luar negeri." ucapnya memanggil sambungan katanya.
Tadinya Claudia sudah meminta izin kepada kedua orangtuanya untuk tetap melanjutkan sekolahnya dan tinggal bersama dengan temannya, dengan bersusah payah akhirnya ia mendapat izin dari kedua orang tuanya. Namun, ia sangat kecewa mendapati Kinara pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun dan pergi dengan orang lain.
🌹🌹🌹🌹 Terima kasih 🌹🌹🌹🌹