Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
INFO



"Ahh! S--stoph, Kak! Ini ... ini sa--salahhh!"


"Please, Lav. Ini hari Valentine. Jangan menolak."


Dengan napas terengah, aku membuka pejaman. Menatap lemas ke arah netra yang sudah sarat akan gairah itu, kemudian berpindah pada tubuh setengah telanjangnya yang sudah berada tepat di atasku.


Aku menggeleng pelan. "Aku ... aku takut ...," isakku lirih.


"Jangan takut, Sayang. Aku akan tanggung jawab. Aku janji," bisiknya lagi, benar-benar terlihat meyakinkan.


Aku diam. Bimbang. Berusaha menimang-nimang, sebelum akhirnya ....


"Tapi janji jangan tinggalkan ak--"


TOK, TOK!


Lamunanku buyar seketika.


"Buka pintunya, Lavender!"


Dengan tubuh gemetaran, aku menoleh ke arah pintu toilet. Menggigit bibir berusaha menahan isakan, kemudian meremas keras benda yang tengah kugenggam erat di tangan.


"Lav?! Buka pintunya, atau Mama dobrak sekar--"


CEKLEK!


"Kau sedang apa di dalam?" sambut Mama langsung.


"Aku ... buang air besar," balasku memalingkan wajah.


"Jangan bohong, Lav! Mama dengar jelas kau muntah-muntah belakangan ini!"


Dengan penuh perasaan takut, aku menggeleng keras sembari benda di tanganku yang semakin kusembunyikan di belakang tubuh. "Aku hanya sedang tidak enak badan."


"Itu di tanganmu apa? Sini, Mama li--"


"Jangan!" Aku sontak bergerak mundur. Berusaha menggenggam benda di tanganku lebih erat, agar Mama tidak bisa melihat apalagi sampai merebutnya.


"Sini, Lavender!"


"Jangan, Ma!" Aku terisak.


"Jangan!"


"Sini, Lav--"


Benda yang sejak tadi berusaha kupertahankan itu sudah jatuh sempurna ke lantai, tepat di samping kaki mungilku.


Test pack.


Menampakkan dua garis, yang menandakan bahwa aku sudah positif hamil.


"L--Lav?"


"Maaf ...," lirihku penuh sesal.


"Siapa ...." Mama terisak. "Siapa, Lav?"


Tanpa memberi balasan, aku meluruhkan tubuh ke lantai. Menangis penuh sesal sejadi-jadinya, dan berharap keras agar kejadian itu bisa berhasil kucegah dan semuanya tidak berakhir dengan kehamilan ini.


14 Februari, tepat di hari Valentine dua bulan lalu.


Aku nekat 'melakukannya' dengan pacarku saat ia datang membawa coklat dan bunga, tepat saat Mama masih lembur bekerja, dan aku sendirian di rumah.


Tidak direncanakan, tapi karena ada kesempatan dan suasana juga turut menampakkan dukungan, malam itu, kami benar-benar terjadi sampai-sampai sesuatu yang disebut janji dan kalimat penenang tak lagi bisa kubedakan dengan jelas.


"Dia bersedia bertanggung jawab, kan?"


Aku mengangguk.


Tapi ....


Lanjut menggeleng. "Dia ... menghilang."


▪▪▪


Hai, Semua! 😍


Itu cuplikan cerita di atas sebenarnya aku mau post di sini juga, cuma gak lulus seleksi karena mungkin adegan awalnya gitu (padahal keseluruhan cerita enggak ada adegan vulgar sama sekali). Jadi, yang punya aplikasi Wttpad terus minat baca cerita itu, silakan cari dengan judul 'Valentine's Pregnancy', ya. Insya allah suka, kok.


Terima kasih. 😍