Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Pengeroyokan



"Lelaki sejati selalu memperlakukan perempuan dengan lembut, mengerti?!"


Bugh!


Johan bangkit kemudian menghampiri Gadis yang tadi ditarik Fito kasar. "Kau tidak terluka, kan?" tanyanya kemudian.


Gadis itu hanya menggeleng dan sedikit terpaku saat memandang wajah Johan dalam jarak lebih dekat. Mulut yang sedikit menganga menjelaskan sekali bahwa dirinya tengah merasa sangat takjub dengan ketampanan paras Pria di hadapannya itu.


"Baiklah. Aku duluan," ujar Johan berlalu pergi setelah menepuk pelan bahu Gadis tadi. Hobinya memang suka menolong, tapi bukan berarti ia juga berniat untuk membuat mereka jatuh cinta.


"AKU AKAN MEMBALASMU, JOHAN SIALAN!"


Johan tetap melanjutkan langkahnya tanpa niat menanggapi apalagi merasa takut. Tak ada kata takut dalam kamus Pria itu, sama sekali.


Langkahnya kini berhasil tiba di kelas, tapi Johan tetap saja tidak mau peduli meski Alan dan Reyhan sudah memandangnya dengan kepala yang saling menggeleng.


"Padahal masih terlalu pagi, Johan," ujar Alan sok suci. Padahal dirinya juga tidak jauh beda.


"Sial! Bibirku berdarah, ya? Aku tidak ingat jika pria itu pernah membalas," gerutu Johan sembari tangan yang mengusap sudut bibirnya pelan.


"Pria siapa?" timbrung Reyhan ikut bertanya.


"Aku tidak tahu jelas, tapi jika tidak salah, namanya Fita."


Alan dan Reyhan sontak menoleh dengan raut bingung.


"Fita? Terdengar feminin," heran Reyhan.


"Ck! Memang feminin, Bodoh! Caranya memukul saja sudah sangat lembek." Johan mengeluarkan sebatang rokok dari sakunya kemudian mulai sibuk menghisap.


"Lembek dari mana? Bibirmu berdarah begitu, kok," ejek Alan.


"Memang berdarah, tapi tidak sakit."


"Alasan kau, Brengsek!" maki Alan sembari mulai bangkit dari duduknya. "Baiklah. Ayo, ke rooftop. Jam masuk sudah hampir tiba," lanjutnya lagi.


Johan dan Reyhan mengangguk bersama sembari ikut bangkit. Detik berikutnya, ketiga Pria itu sudah berjalan beriringan dengan gaya keren masing-masing. Terlihat sangat natural, sebabnya bisa memikat gadis-gadis tanpa harus susah payah.


***


"Rey? Sudah pukul berapa?!" tanya Johan berteriak.


Ketiga Pria itu masih betah menghabiskan waktu di rooftop sekolah, bahkan sudah sejak tadi pagi hingga sekarang.


"Tidak tahu. Bagaimana jika kita pulang saja? Aku mengantuk."


Alan menarik tangan Reyhan erat, seolah meminta untuk dibantu berdiri.


"Tidak. Aku akan pulang dengan Hale saja, calon pacarku."


"Pacar pantatmu?! Melihat wajahmu saja gadis itu sudah terlihat ogah-ogahan," ejek Alan.


"Bilang saja kau iri! Cih!"


"Sudah, deh. Aku dan Rey duluan, ya!"


Johan melambai. "Iya, Sayang! Hati-hati, ya!"


"Iya, Sayangku-"


PLAK!


"Jangan bertingkah gila, ya!" bentak Reyhan cepat.


Johan terkekeh sembari menyaksikan punggung Alan dan Reyhan perlahan menjauh. Detik berikutnya, ia kembali merogoh saku seragam. Mengeluarkan sebatang rokok dari sana, kemudian mulai sibuk menghisap dan menjentikkan gulungan tembakau di antara jarinya.


Merasa jengah, ia berpindah melirik jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Kelas Hale mungkin sudah selesai."


Johan bangkit berdiri kemudian menginjak sekali puntung rokoknya tadi. Setelah itu, ia meraih tas lalu mulai melangkah menjauh dari tepi rooftop.


Brugh!


Tubuh Johan sudah terkapar di lantai rooftop setelah sebuah kayu menghantam tepat leher belakangnya. Meski pening terasa mendera, ia tetap berusaha mengangkat kepala hendak tahu sang pelaku. Dan ... benar saja. Ada satu wajah tak asing dari kelima Pria sebaya dengannya itu, yakni Fita, Pria feminin yang sempat beradu tenaga dengannya tadi.


Johan berusaha bangkit dari posisinya kemudian bersiap menerima serangan. Dipukuli bersama-sama hingga bonyok bukan lagi hal baru untuk Pria itu. Terpenting, ia akan menyalurkan segala kuasanya untuk tetap mempertahankan hidup.


Beberapa kali Johan berhasil mengelak pukulan dan tendangan, bahkan juga masih sempat menyerang balik. Namun setelah kayu itu kembali menghantam kepalanya, perlahan, tubuhnya mulai terhuyung dengan pandangannya juga memburam. Johan bisa merasakan beberapa tendangan mendarat di sekujur tubuhnya, hingga terakhir, kepalanya sudah benar-benar terasa oleng hingga ia berhasil terkapar ke lantai lagi.


Kelima Pria itu tersenyum puas. Tak ingin melewatkan kesempatan, mereka lalu saling menyalurkan segala dendam tertahan dengan mulai menendang, bahkan menyempatkan untuk memukuli wajah Johan.


Bugh!


"Aku memenuhi janjiku, bukan?" Fito menyeringai setelah berhasil melayangkan pukulan hingga mengenai tulang pipi Johan.


Dengan sisa kesadarannya, Johan membuka mata perlahan bahkan masih sempat-sempatnya juga tersenyum mengejek. "Pria sejati tidak memukuli lawannya bersama-sama," bisiknya menyeringai.


Bugh!


Pukulan terakhir itu benar-benar merenggut kesadaran Johan. Ponselnya yang terjatuh dan terletak beberapa senti dari tubuhnya sudah sejak tadi berdering dan menampakkan deretan huruf bertuliskan 'Bidadari Jutek' di sana.


❀❀❀