Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Anak Selusin



"Hale?"


"Hm?"


"Setelah kita menikah nanti, aku ingin punya anak satu lusin."


Sontak Halsey menoleh kemudian menatap Johan tak percaya. "Apa?! Kau pikir melahirkan itu tidak sakit, ya?"


Johan menggeleng. "Aku pernah dengar bahwa rasa sakit seorang wanita ketika melahirkan itu bisa dipindahkan pada pria-nya. Aku rela, Sayang."


"Kau gila, Johan. Jangan membahas hal seperti itu dulu."


"Kenapa, Hale? Kau ragu kalau aku bukan jodohmu, ya?"


Halsey menggeleng pelan. "Aku tidak ragu, Johan. Tapi ... perihal jodoh itu ... Allah sudah tentukan jauh sebelum kita lahir."


"Lalu apa salahnya kita berharap? Allah selalu mengabulkan doa-doa dari hamba-Nya jika bersungguh-sungguh, bukan?"


"Tidak salah, tapi akan lebih baik jika kita berserah pada takdir saja. Dalam hidup, akan ada beberapa hal yang merupakan di luar kendali kita. Tujuannya adalah untuk kita terima, dan kita percaya bahwa Allah akan selalu memilihkan yang terbaik untuk setiap hamba-Nya." Halsey berpaling menatap Johan. "Aku juga mengharapkan hal yang sama sepertimu, Johan. Jadi ... semoga saja Allah turut menghendaki," lanjutnya lagi.


"Kita pasti menikah, Hale. Pokoknya kita harus berjodoh. Aku tidak mau tahu!" ujar Johan tetap kukuh.


"Hm."


"Hm hm saja? Kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku, ya?"


"Ck! Aku sudah bilang bahwa aku juga mengharapkan hal yang sama, Johan," balas Halsey mulai kesal.


"Tapi aku tidak mau tahu! Pokoknya kita harus berjodoh!"


"Dasar Pria gila."


Johan bangkit berdiri kemudian mendekat pada Halsey. "Apa kau bilang?!"


"Aaaaa jangan membentakku, Pria gila!"


"Baiklah. Pria gila ini akan menciummu jika kau tak segera bilang 'i love u'," ancam Johan menyeringai jahat sembari mulai berjongkok di hadapan Halsey.


Bukannya takut seperti biasa, Halsey malah langsung mendorong Johan hingga Pria itu terjatuh kemudian berlari menjauh tanpa dosa.


"Wah. Kau sudah tidak takut dengan ancaman ciuman lagi, rupanya," gumam Johan sembari bangkit perlahan.


Halsey yang sudah berlari lebih jauh hanya memandanginya enteng. Jarak mereka sudah cukup jauh, jadi tidak mungkin Johan bisa meraihnya dengan mudah.


"Kalau aku berhasil meraihmu, maka tak ada ampunan. Bibirmu benar-benar tak akan perawan lagi hahaha."


TIDAK PERAWAN LAGI?!


Ah, tidak. Ia tahu Johan Pria yang baik. Dia tak akan mungkin berbuat sekejam itu. "Sayangnya aku tidak takut," balasnya tersenyum sombong.


Johan terkekeh sembari mulai melangkah santai. Melihat itu, Halsey tak mau membuang waktu. Langsung saja ia ikut memacu langkah, mulai berlari menjauh.


"Astaga, aku lupa. HALE?! Tidak perlu berlari! Nanti kau terjatuh, Sayang!" teriak Johan keras.


Halsey menghentikan langkahnya kemudian berbalik sekilas. "Katakan dulu bahwa kau tak akan mencuri keperawanan bibirku jika aku berhenti."


Johan terkekeh pelan, merasa geli saja dengan jawaban Halsey barusan. "Iya, tidak akan. Tapi jangan berlari. Tunggu aku di situ saja."


"Serius, ya? Aku akan berhenti berlari." Halsey berhenti berlari kemudian mencari tempat untuk berteduh di bawah pohon lain. Tepat di bawah pohon tersebut, ia mendaratkan bokongnya di atas rumput kering sembari menunggu Johan tiba.


Dengan senyum mekar, pandangannya ia edarkan ke sekitar, berusaha sepuas mungkin untuk menikmati suasananya.


"Hale?"


Cekrek!


"Kau mengambil gambar diriku tanpa izin, ya?"


Johan tersenyum memandangi hasil gambar Halsey kemudian berjalan mendekat ke arah Gadis itu. "Aku akan membawanya ke dukun," balasnya sembari merebahkan tubuh di atas rumput kemudian memejam damai.


Halsey yang menyaksikannya langsung saja mencubit pinggang Johan keras. Awalnya, Pria itu tampak tak mengindahkan, tapi Halsey tak menyerah. Ia tetap menyubiti Johan keras dan akan berhenti setelah Pria itu memohon saja.


"Sekali lagi kau mencubitku, aku benar-benar akan mencium bibirmu," gumam Johan tanpa membuka sedikit pun pejamannya. Ia tampak sangat menikmati suasana.


Halsey terdiam kemudian mengerucutkan bibir. Ia hanya memandangi wajah damai Johan dengan perasaan kesal, tak nekat mencubit lagi.


"Sini. Berbaringlah," pinta Johan sembari menepuk-nepuk lengan kanannya.


Halsey menggeleng keras. "Kau pikir aku akan mau?" balasnya kemudian memalingkan pandangan ke depan.


Johan terkekeh. Tangannya terulur membelai rambut Halsey dari belakang, memainkannya beberapa kali, bahkan mendekatkannya ke hidung hanya karena merasa baunya sangat memabukkan. Entah mengapa segala hal tentang Halsey selalu saja membuatnya kecanduan.


"Rambutku bisa rontok, Johan. Mainkan rambutmu sendiri. Kau, kan, punya rambut juga," ujar Halsey tanpa sedikit pun menoleh.


"Tapi rambutku tidak selembut ini, Hale."


"Kau pasti malas keramas."


"Kata siapa? Memangnya kau sering mengintipku mandi, ya?"


"Atau mungkin kau menyimpan sebuah kamera di kamar mandiku hanya agar bisa melihatku mandi?"


"Sekali lagi kau berbicara begitu, aku akan pulang jalan kaki sekarang."


"Tapi bagaimana jika di tengah jalan ada orang jahat yang menungguimu?"


"Aku akan melawan."


"Kalau dia lelaki, kau sudah pasti kalah kuat."


"Kalau begitu aku akan berlari. Berusaha menghindar."


"Kalau dia berhasil meraihmu?"


"Aku akan berteriak dan meminta tolong."


"Tapi tempat ini jauh dari keramaian. Sangat jarang orang yang melintas."


"Kalau begitu ...." Halsey berbalik kemudian menatap Johan. "Aku akan meneriakkan namamu saja."


"Kenapa begitu?"


"Agar ketika kau datang, orang jahat itu hanya akan membunuhmu. Hahahaha."


Johan mencebikkan bibir kesal. Ia sungguh berharap akan jawaban-jawaban romantis dari Gadis itu, tapi ternyata .... "Tidak romantis!" ujarnya sembari bangkit duduk.


"Memangnya apa lagi? Kau yang telah membuatku kemari, itu artinya kau juga yang harus rela mati hahahaha."


Johan tersenyum simpul menyaksikan Halsey tertawa lepas. Biarkan saja dirinya didoakan mati, yang jelas ia bisa menjadi alasan Gadis pujaannya itu tertawa sangat lepas.


Tak hanya sampai di situ, tangannya bahkan ikut terulur menoel-noel lesung pipi Halsey, menopang dagu, berusaha mencari posisi ternyaman untuk memandanginya tertawa. "Aku masih penasaran akan satu hal, Hale," ujarnya kemudian.


"Penasaran tentang apa?"


"Tentang ...." Johan menatap Halsey serius. "Tentang gaya ketika kau dibuat."


Plak!


"Sakit, Sayang," keluhnya sembari memegangi pipi.


"Siapa suruh berbicara suka seenaknya."


"Aku, kan, hanya berusaha memenuhi rasa penasaran. Memangnya salah?"


"Sudahlah. Berbicara denganmu tidak akan pernah ada habisnya," balas Halsey muak.


Johan masih pada posisinya. Memandangi Halsey dengan tatapan lembut. "Hm. Seperti cintaku padamu. Tak akan pernah ada habisnya."


Halsey menoleh kemudian balas menatap Johan. "Ekhem. Johan?"


"Iya, Sayang?"


"Tidakkah sebaiknya kita berfoto bersama?"


"Apa? Coba ulangi lagi."


Halsey kembali berdehem. "Maksudku ... tempat di sini sangat indah. Kau belum pernah berfoto, bukan? Jadi maksudku ... sebaiknya kita berfoto bersama."


"Aku tidak mengerti, Sayang. Langsung katakan maksudmu saja."


Halsey berdecak kesal. "Masa, sih, kau tidak mengerti?"


"Serius, Hale. Aku tidak mengerti," balas Johan.


"Ayo kita berfoto bersama."


"Maksudmu kau ingin berfoto denganku?"


"Ck! Iya, Johan," balas Halsey mulai terdengar kesal.


Johan terkekeh. "Harusnya sejak tadi saja kau mengatakannya, Sayang. Penggemarku saja akan aku layani, apalagi jika itu adalah dirimu," ujar Johan sembari mulai melepas gantungan kamera dari lehernya.


"Mendekatlah."


Halsey menurut lalu mendekat pada Johan. Keduanya mulai memasang senyum lebar, menatap pada kamera, dan ....


Cekrek!


"Sekali lagi, Hale."


Cekrek!


Cekrek!


Dan jadilah ... mereka keasikan berfoto hingga hampir lupa waktu.


❀❀❀