Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Di Toko Buku



"Lihat, Rey! Ya, ampuuun. Rokok ini benar-benar nikmat, ya? Hey, Johan? Aku akan memberimu sebungkus, kok. Mau, tidak?"


Johan tetap betah dengan tampang datarnya tanpa sedikit pun niat membalas ucapan Alan. Bersama kedua Pria itu benar-benar ujian besar, tapi ia harus tetap berusaha berpegang teguh pada pendirian. Toh, mulutnya juga sejak tadi sibuk mengunyah permen, meskipun rasanya tetap tak akan sama.


"Sudahlah, Johan. Jangan ditahan begitu," ejek Reyhan.


"Benar, Sayang. Mau, tidak? Kalau iya, aku akan bakarkan untukmu," timbrung Alan.


"Ck! Sudah! Aku sudah menolak sejak tadi, bukan?" Akhirnya Johan membalas dengan nada kesal.


"Demi apa, deh, kau sebegitu seriusnya berubah karena Hale. Aku benar-benar tak habis pikir," celoteh Alan dengan nada mengejek.


Johan berdecak. "Jatuh cinta dulu saja! Tidak perlu mengurusi hidupku!"


"Jangan bahas itu melulu, Sialan! Aku itu pemilih, makanya tidak sembarang jatuh cinta!" balas Alan tidak terima.


"Pemilih atau memang penyuka sejenis?" celetuk Reyhan tanpa dosa.


Alan menggeram. "Diam, Rey Brengsek! Tutup mulutmu!"


Johan berusaha menghalangi tatkala Alan hendak bergegas menarik Reyhan. Reyhan malah terkekeh tanpa dosa, bahkan masih sempat-sempatnya lagi menjulurkan lidah.


"Setelah merasakan jatuh cinta, kau akan mengerti sendiri. Jadi ... mulailah menghentikan kebiasaan mencoba banyak Gadis. Aku tahu kita semua pernah melakukan hal yang sama, tapi karena aku menganggapmu sebagai pelayanku yang tersayang, makanya aku mengatakan seperti ini," jelas Johan sok menasehati.


"Pelayan pantatmu?!"


"When you get what you want, but not what you need~ (Saat kau mendapatkan apa yang kau mau, tapi tidak mendapatkan apa yang kau butuhkan)." Johan bernyanyi kecil, melantunkan sepenggal lirik dari lagu yang dipopulerkan oleh Coldplay.


"Lalu aku harus bagaimana?" tanya Alan terdengar putus asa.


"Mulailah mencari gadis untuk dicintai, bukan untuk memuaskan berahi."


Johan berlalu pergi begitu saja setelahnya. Sembari melirik jam tangan sekilas, perlahan ia menyusuri anak-anak tangga dengan langkah santai. Kelas Hale-nya pasti sudah selesai. Tidak, dia tidak membolos, tapi memang guru yang mengisi jam pelajaran terakhir di kelasnya sedang tak sempat masuk. Daripada bosan di kelas, makanya mereka memutuskan untuk nongkrong di lantai rooftop saja.


Dari jauh, bisa ia dapati sosok Halsey tengah menunggu di depan kelasnya dengan sebuah buku tebal yang ia peluk di perut. "Hale?"


Halsey menoleh. Ah, senyum itu. Mengapa manis sekali, sih?


"Sudah lama menunggu?" tanya Johan.


"Tidak, kok," balas Halsey, masih dengan senyumnya yang mekar.


Senyum mekar? Apa yang terjadi?


"Apa mood-mu sedang baik?" tanya Johan lagi sembari tangannya yang mulai terulur memeluk bahu Halsey dari samping. Kini, mereka sudah berjalan beriringan dengan langkah santai.


"Hm ...."


"Kenapa?"


"Karena aku melihatmu."


"Wah."


"Kenapa? Aku serius, Johan."


Johan terkekeh pelan sembari tangannya mengacak-acak rambut Halsey gemas. "Kau tak sedang ingin sesuatu, kan, Sayang?"


"Hah?! Tidak, kok."


"Baik-"


"Eh, iya!" Halsey sontak menghentikan langkahnya kemudian berbalik menghadap Johan.


"Kau sedang ingin sesuatu?" tanya Johan akhirnya.


"Iya."


"Baiklah. Ayo, katakan."


Halsey berdehem sesaat kemudian mendongak menatap Johan. "Eum ... bisakah aku pulang sendir-"


"Tidak usah diteruskan!" potong Johan dingin dengan tangannya yang sudah menarik Halsey begitu saja.


Halsey merengut. "Johan? Kumohon ...."


"Memangnya kau mau apa, Hale?"


"Hanya ingin."


"Tidak!"


"Pokoknya aku akan pul-"


"Sekali tidak, tetap tidak!"


Halsey mengerucutkan bibir kesal. Atau mungkin sikapnya tadi tidak terlalu manis, ya? Makanya Johan menolak dan tetap tak mengizinkan?


"Lepaskan, Johan! Aku ingin pulang sendiri!" rengeknya lagi.


"Johan?"


"Johan?"


"Hey, Johan?"


"Johan? Sayang?"


"Pacarku sayang?


"Ck! Lepaskan, Johan! Aku ingin pulang sendiri!"


Johan berbalik dengan tampang kesal.


"Aku ingin pulang sendiri!" bentak Halsey lagi.


"Memangnya kau mau apa, Hale?" tanya Johan, masih berusaha lebih lembut.


"Aku ingin mampir ke toko buku," balas Halsey akhirnya.


Dan ... Johan hanya bisa mendesah sembari mengusap wajahnya kasar. "Hanya itu?!"


"Iya."


"Lalu mengapa harus pulang sendiri? Aku, kan, bisa menemanimu."


Halsey menggeleng. "Tapi akan lama. Kau pasti bosan."


"Menunggumu jatuh cinta saja aku tak pernah bosan, Hale, apalagi hanya menemani mampir ke toko buku? Apa pun untukmu. Ayo." Johan kembali menarik tangan Halsey, kemudian menuntun Gadis itu menyusuri anak- anak tangga.


"Tapi bagaimana jika kau mengganggu?" tanya Halsey masih hendak protes.


"Cium saja. Aku pasti langsung diam."


"Memangnya aku sudi?"


Setelah tiba di parkiran, langsung saja Johan membukakan pintu mobil untuk Halsey dan menuntun Gadis itu untuk terduduk di joknya.


"Pria mesum!" teriak Halsey kesal. Pandangannya kini mengekori Johan. Penuh sorot kesal dan permusuhan.


Bahkan setelah Pria itu telah ikut duduk di joknya, Halsey masih tetap betah menatap sama.


Johan yang menyadari itu langsung saja menoleh. Dengan senyum jahat, perlahan ia bergerak mendekat pada Halsey. Mengikis jarak yang masih tersisa antara mereka, hingga ....


"K-kau mau apa, Johan Gi-"


Klik!


"Memasangkanmu sabuk pengaman."


Bugh!


"Memangnya aku minta?!" teriak Halsey berapi-api.


"Sebagai pacar yang baik, bukan?" Perlahan, Johan mulai melajukan mobilnya hingga meninggalkan pelataran sekolah.


"Pacar yang baik itu selalu mengabulkan permintaan pacarnya," sindir Halsey tajam sembari tubuhnya yang mulai bertumpu di jok dengan pandangan yang ia lempar keluar jendela.


"Maaf jika sikapku membuatmu merasa tidak bebas," lanjutnya lagi.


Halsey langsung menoleh dengan raut bingung. "Aku hanya bercanda, Johan ...."


Johan mengangguk sembari tersenyum tipis. Tangannya lalu terulur meraih jemari Halsey, meletakkannya di dada, kemudian meremasnya pelan. "Aku takut kau memilih pergi karena sikapku," bisiknya pelan.


"Tidak akan."


"Hm ...." Johan kembali fokus dengan kemudi sembari tetap sibuk meremas pelan jemari Halsey di dadanya.


Tak bisa ia pungkiri, ketakutannya untuk kehilangan Halsey memang sudah terlalu besar. Gadis itu telah menjadi salah satu hal paling terpenting dalam hidupnya. Ia ... ia merasa cintanya sudah tak main-main lagi, demi apa pun.


"Johan? Yang itu! Berhenti di depan toko itu!"


"Iya, Sayang."


Perlahan, Johan membelokkan mobilnya memasuki pelataran sebuah toko buku yang siang itu tampak mulai ramai. Kebanyakan pengunjungnya adalah pelajar, bahkan juga masih dengan tubuh yang dibalut seragam.


Halsey bergegas keluar lebih dulu kemudian menunggu Johan di sisi depan mobil. Setelah Johan datang, langsung saja mereka berjalan beriringan memasuki pintu utama toko.


"Jangan lupa menciumku jika aku mengganggu, ya?" bisik Johan tepat di telinga Halsey.


"Sssttt!"


Johan terkekeh sembari mulai merangkul Halsey, kemudian mengikuti ke mana pun langkah Gadis itu terarah. "Buku apa, Sayang? Novel atau buku rumus sialan lagi?"


Halsey mendorong tangan besar Johan dari bahunya kemudian mulai sibuk memilah-milah buku masih yang tersusun rapi di rak.


"Buku resep memasak? Jadi kau mau beli ini?" tanya Johan terdengar takjub.


"Iya." Halsey menyerahkan buku tadi pada Johan.


Detik berikutnya, ia kembali sibuk memilah-milah buku. Membaca blurb-nya satu-satu, kemudian menyerahkannya pada Johan lagi.


"Sudah enam buah, Hale. Apa ini belum cukup?" tanya Johan kemudian.


Setelah kembali meraih sebuah buku dengan ketebalan yang luar biasa, Halsey berbalik dan langsung menyerahkannya lagi pada Johan. "Ini cukup!" serunya tanpa dosa.


"Lagian apa gunanya membaca, sih? Membosankan."


Halsey langsung menarik tangan Johan hingga mereka tiba di depan kasir. "Karena hobimu memang bukan membaca."


"Aku lebih suka komik."


"Kenapa?"


Johan berdehem. "Karena ... kita tidak perlu susah-susah membayangkan lagi. Gambarnya sudah langsung ada, tidak membuat mengantuk dan tentu saja seru. Apalagi jika itu komik dewas-"


"Setelah ini kita langsung pulang, kan?" potong Halsey cepat. Masalahnya adalah ... mereka tengah berdiri di depan kasir! Banyak orang yang ikut mengantri! Punya mata, dan paling pentingnya telinga! Mengapa, sih, Johan tidak pernah bisa menyesuaikan dengan tempat?! Ya ampun!


"Yes, Love- aw! Kenapa mencubitku, Sayang?"


Halsey langsung mendongak kemudian menatap Johan dengan sorot memohon.


"Cium dulu," bisik Johan tanpa dosa. Bibirnya kini tersenyum jahat, sangat-sangat tanpa dosa.


Selain mengumpat kesal dalam hati, Halsey hanya bisa memilih diam, tak berani membalas lagi. Nanti malah semakin membuat malu saja.


Setelah perdebatan panjang perihal siapa yang akan membayar, akhirnya Halsey berhasil menang. Lagian ... apa maksudnya Johan bersikeras membayarkan sementara sudah jelas bahwa yang membeli buku itu adalah dirinya?


"Tapi itu sudah kewajibanku, Hale .... Kalau aku tidak bayarkan, jadi apa gunanya aku mengekorimu seperti tadi?"


Mereka bahkan sudah berhasil terduduk di jok masing-masing, tapi Johan belum juga berhenti membahas perihal itu.


"Sudah, Johan .... Jangan membahas itu lagi, oke? Tidak ada istilah kewajiban selama kau belum resmi menjadi suamiku! Ayo, pulang," balas Halsey mulai muak.


"Tidak! Kita akan mampir makan dulu."


"Makan?"


Johan mengangguk singkat sembari mobilnya yang perlahan ia lajukan. "Atau kau mau ice cream saja?" tawarnya lagi.


"Hm."


"Baiklah."


"Tapi yang di supermarket saja. Lagi pula ini sudah sore," tutur Halsey kemudian.


Johan mengangguk mengerti, hingga setelah beberapa lama, akhirnya ia kembali menepikan mobil tepat di hadapan sebuah supermarket. "Aku yang masuk saja?" tanyanya kemudian.


Halsey mengangguk.


"Baiklah."


Setelah menyaksikan Johan bergegas keluar dari mobil, Halsey menengok ke jok belakang dan meraih buku resep yang tadi dibelinya. Ia berencana belajar memasak sepulang ini. Setelah mahir, maka ia akan memasakkannya untuk Johan lalu mereka akan makan bersama-sama di taman. "Sudah selesai?" tanyanya kaget.


"Hm."


Halsey memandangi Johan bingung tatkala menyaksikan Pria itu hanya mengeluarkan satu ice cream dari kantong plastik yang ditentengnya. "Kenapa hanya satu?"


"Memang hanya satu," balas Johan santai.


"Jadi kau tak membeli untukku juga?" tanya Halsey lagi. Tampangnya kini sudah mulai terlihat kesal, apalagi setelah ia menyaksikan Johan menjilati ice cream-nya santai seolah memang sengaja.


"Tentu saja, tapi ... aku mau berbagi, kok, jika kau mau juga. Ini."


"Kau memang modus, Johan!" Halsey berbalik memunggungi Johan. Berusaha untuk sibuk dengan buku resep di tangannya, hanya karena tidak ingin sampai tergoda oleh godaan iblis di belakangnya itu. Hm. Iblis memang!


"Ini ice cream tiga rasa, lho, Hale. Kau serius tidak mau?" tawar Johan lagi.


"Nyam, nyam ... benar-benar manis ...."


Tak ada sahutan.


"Hale? Aku serius, Sayang. Sini, kita nikmati bersama saja."


Tetap tak ada sahutan.


"Jadi kau benar-benar tidak mau?" Johan mendesah panjang. "Sayang sekali. Padahal ... semua gadis sangat mendambakan moment seperti ini denganku."


"Tentu saja. Ini sama seperti sedang berciuman secara tidak langsung."


Johan melirik Halsey lagi. "Hale? Aku tahu kau menelan saliva berkali-kali. Ayo, cepat. Sebelum aku menghabisinya lebih dulu."


"AKU TIDAK PEDULI!" balas Halsey ketus, berusaha tetap menguatkan iman.


"Benarkah?" Johan bergerak maju mendekati Halsey, kemudian terkekeh-kekeh jahat tepat di telinga Gadis itu dengan tanpa dosanya. "Ayo, berbalik."


"Hale? Hey?"


"Ekhem. Ayo, Sayang. Berbalik sekarang."


Halsey terdiam. Mengapa ia jadi merinding? Napas hangat Johan berembus mengenai tengkuknya, dan sungguh ... jantungnya tengah berpomba cepat sekarang. Johan ... dia sedang tak niat berbuat mesum padanya, kan? Kalau tidak, lalu- "Kau mau ap-"


Cup!


Dengan santainya, Johan menarik tubuh mundur setelah ia berhasil mendaratkan kecupan di puncak hidung Halsey. Halsey sendiri malah terdiam. Memandangi ice cream di tangannya datar sementara otaknya kini sibuk berpikir keras.


Bugh!


Bugh!


"Apa yang kau lakukan?! Dasar Pria MESUM!"


"Aku hanya berusaha jadi pacar yang baik, Sayang. Tadi hidungmu terkena ice cream, kan? Makanya aku menciumnya saja. Lagian manis, kok," balas Johan tanpa dosa sembari mobilnya yang kembali ia lajukan.


"Lalu ini apa? Katamu kau hanya beli satu! Dasar Pria mesum! Kau pasti hanya mengujiku, kan?" omel Halsey kesal. Kini, ia sudah tampak sibuk menjilati ice cream-nya, masih dengan perasaan kesal yang membara hebat.


"Benar. Sayangnya kau tidak luluh, sih, jadi ciuman tidak langsungnya juga tidak jadi, deh."


Halsey menoleh cepat. "Ciuman dengan sapi saja!"


❀❀❀


UPDATE SETIAP HARI JAM 12 MALAM, YA. SELAMAT MENUNGGU! 🖤 YANG NINGGALIN JEJAK DAPAT SALAM CINTA DARI BABANG JOHAN.