
Bisa dikatakan, ini rekor tercepat Johan berangkat ke sekolah. Ia sengaja berangkat lebih pagi, tentu saja karena tahu bahwa Halsey akan melakukan berbagai cara hanya demi menghindarinya.
Critttttt!
Dengan sigap, Johan mengulurkan tangannya hingga dahi Halsey yang nyaris saja membentur dashboard mobil, berganti membentur tangannya. "Hale, kau tak apa-apa, kan?" tanyanya panik dengan kedua tangannya yang telah membingkai wajah Halsey.
Halsey memang sedikit kaget tadi, tapi Johan yang dengan panik membingkai wajahnya hingga mereka berjarak sangat dekat sekarang lebih membuatnya kaget. "Terima kasih," balasnya datar sembari langsung menarik tubuhnya bersandar di tumpuan jok.
"Kau baik-baik saja, kan, Hale?" tanya Johan lagi, masih dengan nada paniknya.
Halsey hanya melirik sekali kemudian mengangguk singkat.
"Ck! Sialan itu benar-benar!"
"Johan?! Berhenti membuat masalah!" Halsey langsung mencekal lengan Johan yang baru saja hendak melepas sabuk pengamannya untuk menghampiri pengendara yang tiba-tiba mengerem tadi. "Aku baik-baik saja, lihat?"
Johan tampak memandangi Halsey sebentar, namun detik berikutnya, ia tetap membuka pintu mobil dan keluar begitu saja.
"Johan ...?! Astaga! Pria itu benar-benar, deh!"
Halsey ikut membuka pintu mobil kemudian keluar untuk menyusul Johan. Mobil Johan yang tak bergerak hingga menyebabkan jalanan macet membuat para pengendara lain mulai membunyikan klaskon masing-masing.
Dengan panik, Halsey pun langsung mengedarkan pandangannya ke sekitar, berusaha menemukan sosok Johan.
"Hale? Apa yang kaulakukan?"
Halsey berbalik dan mendapati Johan dengan sebotol air mineral di tangannya. "Kau ....?! Astaga! Bukannya kau hendak menghajar pengendara itu?!"
"Tidak, Hale. Ayo kita kembali," balas Johan seraya langsung menggandeng tangan Halsey menyeberangi jalan hingga akhirnya mereka telah duduk di jok masing-masing. "Minum ini, Hale. Aku tahu kau sangat kaget, tadi," ujar Johan mengulurkan botol mineral tadi pada Halsey kemudian mulai melajukan mobilnya.
Halsey menerimanya cepat, memutar tutup botol itu kemudian tersadar bahwa ternyata Johan telah lebih dulu melakukannya.
"Sebagai calon pacar yang baik, aku tidak mungkin membiarkanmu menyalurkan tenaga hanya untuk membukanya hingga tanganmu harus terluka." Johan tersenyum sombong tanpa lupa pula mengedipkan sebelah matanya manja.
"Terima kasih, tapi silakan pacaran dengan sapi saja."
***
"Ayolah, Johan! Biarkan aku ke kelas sendiri! Aku tidak suka menjadi pusat perhatian!"
Johan tersenyum tipis. "Baiklah, maafkan aku karena memaksa," balasnya kemudian.
Halsey hanya menatap sekilas kemudian mulai melangkah menjauh. "Dan oh, ya. Jangan terlalu berlebihan saat memperlakukanku, sebab hal yang perlu kauingat adalah, aku bisa menjaga diriku sendiri lebih dari siapa pun," jelasnya setelah berhenti sebentar, kemudian melanjutkan langkah lagi.
"Itu terlalu sulit, tapi akan kuusahakan."
"Halo?"
"Ya?"
"Kau belum berangkat?"
"Aku sudah di parkiran."
"Kutunggu di kelas,ya!"
"Apa kau bilang?!"
"Ck! Kutunggu di kelas!"
"Ini rekor tercepatmu ke sekolah, Johan! Luar biasa!"
"Berisik! Jangan lama-lama!"
Johan kembali memasukkan ponselnya ke saku celana kemudian mulai berjalan dengan langkah santai.
"Tidak bisakah lebih pelan? Tanganku sakit, Fito! Lep-"
"Diam! Kau harus menje-"
"Hey, Bodoh! Tangan pacarmu kesakitan!"
Pria yang sejak tadi sibuk menarik tangan Gadis-nya itu seketika berhenti kemudian melirik Johan beberapa saat.
"Jadi kau juga ingin menghajarku karena bersikap kasar pada perempuan, begitu?" tanyanya remeh, bahkan dengan kedua tangan yang berpindah memeluk dada.
"Aku akan menghajar siapa pun tanpa terkecuali, termasuk kau-" Ucapan Johan menggantung tatkala Fito langsung melayangkan kepalan tangan hingga ia terpaksa mengelak lebih dulu. "Sendiri," lanjutnya lagi, mengejek.
Fito tampak menggeram kesal, hingga detik berikutnya, kedua Pria itu sudah saling menghajar hingga mengundang perhatian para pelajar yang tengah berlalu lalang.
Johan berhasil mendaratkan bogemnya di rahang Fito sebanyak dua kali, berpindah di bawah dagunya juga, dan terakhir ia layangkan tendangan hingga mengenai tepat perut Pria itu. Tak bisa dipungkiri bahwa Johan memang terlampau hebat dalam hal bela diri.
Seperti biasa, ia akan mendudukkan diri di atas korbannya dengan senyum menyebalkan. "Lelaki sejati selalu memperlakukan perempuan dengan lembut, mengerti?!"
Bugh!
❀❀❀