Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Permen Pengganti Rokok



Cup!


Johan tersenyum hangat sembari mengusap gemas rambut Gadis kecil di hadapannya itu.


"Kakak Johan harus segera kemari lagi, ya?"


"Iya, Sayang."


Setelah berpamitan pada semua orang, kini Johan bergegas menuju mobilnya sembari tetap sibuk melambai. Entah mengapa, tapi bersama orang-orang itu, ia merasa sangat berharga. Lihatlah, betapa mereka begitu antusias menyambut ataupun mengantarnya pulang. Senyum yang lebar tanpa beban, menenangkan jiwa sekaligus perasaan. Sebegitu sederhananya jika ingin bahagia.


Perlahan, Johan tampak menepikan mobilnya. Jika seperti biasa ia akan langsung datang ke kelab, maka sekarang tidak akan lagi. Halsey sudah terlalu membuatnya ingin berubah, dan ia memang mentekadkan itu. Setidaknya ia ada sedikit usaha agar bisa merasa pantas bersanding dengan Gadis itu.


Setelah melangkah keluar dari lift, tangannya terulur menekan password hingga pintu terbuka, dan menampakkan kekacauan yang seolah ikut menyambut kedatangannya. Tak akan ada yang lain jika itu bukan perbuatan Alan dan Rey. Itu pasti, demi apa pun.


"Habis dari mana?" sambut Reyhan langsung.


"Memangnya urusanmu sampai kau juga harus tahu?"


"Mfttt-mbwahahahahahahahah ...!"


Johan ikut terkekeh menyaksikan Alan yang sudah sampai ke lantai hanya karena terlalu sibuk tertawa.


"Dasar Pria gila!" gumam Reyhan kesal.


Johan membanting tubuhnya ke atas sofa sembari mulai mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Padahal mereka bersama sepanjang hari, tapi tidak bertemu di malam harinya saja, ia bahkan sudah merasa hampir mati gara-gara rindu. "Alan? Jam berapa sekarang?" tanyanya.


"Tidak tahu, Sialan!"


"Oh. 21.24?"


Setelah mengklik label kontak 'Bidadari Jutek♡' di balik layar, Johan mengubah posisi tubuhnya menjadi telentang sembari mulai mendekatkan ponselnya tersebut hingga kuping.


Nada sambungan terdengar.


"Assalamualaikum.  Halo?"


"Waalaikumsalam, Sayang ...."


"Hm?"


"Hm saja?"


"...."


"Sedang apa?"


"Bersiap tidur."


"Sudah minum obat, kan? Bagaimana dengan luka di jari kakimu?"


"Iya, sudah."


"Tunggu sebentar, ya? Jangan dimatikan."


Johan bergegas bangkit dari posisinya kemudian melangkah menjauh. Tentu saja ia memutuskan untuk pergi. Pasalnya, Alan dan Reyhan sudah sejak tadi menindih tubuhnya hanya karena keasikan menguping. Dasar jomblo!


Eh, bukan.


Hanya Alan yang jomblo. Reyhan tidak lagi.


"Hey?"


"Hm."


"Aku sudah rindu," bisik Johan terdengar manja sembari tubuhnya yang kembali ia banting ke atas kasur.


"Lalu?"


"Ayo, bertemu."


"Pria gila."


"Sayang? Jangan bersuara serak begitu ...."


"Aku sudah mengantuk."


"Astaga! Jangan bersuara serak begitu, Hale! Aku terangsang!"


"Hah?! Ya, sudah. Aku matikan saja kalau begi-"


"Ish! Jangan, Hale ...."


"Tapi aku sudah mengantuk, Johan. Besok lagi, ya?"


"Tidak perlu dimatikan. Aku akan menunggumu terlelap."


"Rindu terus, sih?!"


"Baru rindu saja kau sudah mengeluh. Bagaimana jika kita sudah menikah nantinya? Aku akan meminta hakku tiga kali sehari, Say-"


Tett!


"Hale, Hale ...."


Sembari terkekeh geli, Johan kembali menghubungi nomor ponsel Halsey. Terdengar nada sambungan, hingga setelah beberapa lama ....


"Aku sudah mengantuk, Johan ...."


"Iya. Tidur saja dan tidak usah dimatikan."


"Nyanyikan sesuatu."


"Baiklah. Ayo, memejam."


"Sudah."


"Jangan lupa memeluk sesuatu dan bayangkan bahwa itu adalah aku."


"Malas."


"Nina bobo saja, ya?"


"Hm."


"Nina bobo ... oh nina bobo, kalau tidak bobo, dicium Johan~"


"Lagi."


"Kenapa tidak tidur? Mau kucium, ya?"


"Jauh."


"Cepat, Sayang. Jam tidurmu sudah lewat 6 menit."


"Tidak bisa. Kau, sih, mengajak bicara terus."


"Mau aku datang ke sana, ya? Ayo, memejam. Jangan bercanda lagi."


"Jangan memarahiku."


"Malah bersuara serak. Kau sengaja ingin membuatku terangsang, ya?"


"Hm."


"Cepat, Sayang. Peluk gulingmu dengan benar, tarik selimutmu hingga dada, kemudian memejam. Aku akan bersenandung untukmu hingga kau terlelap."


"Hm."


"Nina bobo ... oh nina bobo, kalau tidak bobo, dicium Johan~"


***


Johan berjalan menyusuri anak-anak tangga dengan langkah santai. Seragamnya tampak kotor dan kusut, begitupun peluh yang membanjiri sekujur keningnya.


Karena berani masuk belajar ke kelas dengan tugas yang tak tuntas sama sekali, jadilah ia diberi hukuman berlari mengelilingi lapangan sebanyak 15 kali. Andai saja Hale-nya peka, pasti-


"Duduk dulu."


Johan terdiam memandangi Halsey yang baru saja menariknya hingga ia kini terduduk di salah satu anak-anak tangga. Baru saja disebutkan, eh sudah datang duluan.


Unch.


Calon istri yang baik.


"Kenapa bisa dihukum?" tanya Halsey sembari memandangi Johan meneguk botol mineral yang telah ia sodorkan tadi.


"Aku nekat masuk belajar ke kelas, padahal tugasku tak ada yang selesai sama sekali."


Halsey mengangguk mengerti kemudian mengulurkan handuk dan mengelapi keringat di wajah Johan pelan. "Tidak masalah. Aku tahu kau Pria yang kuat," ujarnya kemudian.


"Iya, Sayang."


"Hm. Apa kau akan merokok dulu?" tanya Halsey lagi.


"Memangnya kenapa?"


"Aku tunggu di taman saja."


Johan menggeleng. "Tidak, Hale."


"Kenapa?"


Johan bangkit berdiri sembari meraih dan menautkan jemarinya dengan Halsey. Ia menuntun Gadis itu untuk mulai menyusuri anak-anak tangga bersama-sama.


"Johan?"


Johan berbalik sekilas. "Ya, Sayang?"


"Mau ke mana?"


"Taman."


Halsey memilih untuk menurut, tak niat bertanya lagi. Bersamaan dengan itu, ia mulai memasang wajah datarnya seperti biasa tatkala sadar bahwa langkahnya akan segera melintas di lorong-lorong kelas.


Beberapa pandangan lantas tertuju pada mereka. Sorotnya pun berbeda-beda. Jika Johan sudah sejak tadi melempar senyum bahkan balas menyapa, maka tidak dengan Halsey.


Entah, tapi rasanya terlalu malas saja meski untuk sekedar balas menatap apalagi sampai mau peduli. Terserah dengan anggapan orang bahwa dirinya sombong. Toh, penilaian setiap orang memang berbeda-beda, apalagi yang hanya mengenal lewat omongan semata.


Setelah beberapa lama, mereka pun berhasil tiba di taman. Johan mendaratkan bokongnya begitu saja, tentu saja diikuti Halsey.


"Johan? Rotinya ketinggalan di kelas," ujar Halsey buka bicara.


"Hm. Tidak masalah."


"Merokok dulu saja. Aku akan mengambilnya di kelas," ujar Halsey lagi sembari bangkit berdiri.


Cepat, Johan menahan pergerakan Halsey kemudian menuntun Gadis itu untuk duduk kembali. "Tidak perlu, Hale. Aku tidak akan merokok."


"Kenapa?"


"Aku sedang berusaha berhenti, dan ...." Johan tampak merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah permen dari sana. "Menggantinya dengan ini," lanjutnya lagi.


Halsey terdiam dengan raut bingung sekaligus tak percaya. "Serius?"


"Iya, Sayang," balas Johan terkekeh sembari memasukkan permen tadi ke mulut Halsey santai. Detik berikutnya, ia kembali merogoh saku seragam dan mengeluarkan permen lagi dari sana.


"Tapi ... bukankah itu sangat sulit? Kau sudah lama menjadi perokok aktif, kan?" tanya Halsey penasaran.


"Memahamimu lebih sulit, jadi tentu saja aku pasti bisa."


Bugh!


"Jangan bercanda!" teriak Halsey gemas.


"Iya, Hale. Aku sedang mencoba berhenti."


"Baiklah. Aku sangat senang mendengarnya," ujar Halsey tersenyum lebar.


Johan mengangguk sembari meletakkan satu kakinya di atas kaki yang lain, begitupun dengan tubuhnya yang perlahan ia tumpukan di tumpuan kursi. "Tapi, Hale ... mengapa selama ini kau hanya melarangku membolos dan berkelahi? Padahal ... gadis-gadis di luar sana paling tidak suka dan sangat menuntut pacar mereka untuk berhenti merokok," tanyanya sembari menatap Halsey serius.


"Melarangmu begitu saja sudah membuatku merasa tak enak, terlebih jika mengingat status kita yang masih sebatas kekasih." Halsey ikut menatap Johan lembut. "Dan juga ... aku sangat sadar, bahwa betapa pun seseorang melarang kita untuk berbuat ini atau itu, jika kesadaran tidak datang dari diri sendiri, maka akan tetap sama saja."


"Aku menginginkan hal terbaik untukmu, Johan, tapi untuk melarangmu melakukan ini itu, aku masih akan berusaha membatasi. Aku hanya akan menyarankan, berusaha agar tidak terkesan menuntut dan kau juga tidak sampai merasa terkekang," jelasnya lagi.


Johan tersenyum lembut sembari tangannya yang terulur menarik Halsey mendekat. Memeluk bahu Gadis itu dari samping, kemudian mengecup puncak kepalanya dalam. "Salah satu pembeda antara dirimu dengan yang lain adalah itu, Hale. Aku sangat beruntung. Terima kasih."


"Hm. Aku juga."


"Juga apa?"


"Beruntung."


"Beruntung? Kenapa?"


Halsey menarik tubuhnya menjauh. Mendongak perlahan hingga netra madunya telah berhasil beradu dengan iris coklat gelap itu. "Aku tidak yakin bisa menemukan Pria yang bisa menghadapiku sesabar dirimu, Johan. Yang bisa mengerti diriku sebesar dirimu, dan yang bisa mencintaiku sedalam dirimu. Selain ayah, hanya kau Pria satu-satunya yang bisa menjaga dan memperlakukanku dengan benar. Tidak membentak ketika marah, dan tidak kasar meski sikapku sudah kelewatan."


Johan terdiam. Halsey sangat jarang bersikap atau berucap manis, tapi sekalinya begitu, ia pasti akan langsung baper bahkan sampai merinding mendengarnya. "Aku baper, Hale ...."


Halsey terkekeh tanpa dosa sembari kembali bertumpu di lengan Johan. Entah sejak kapan dirinya pandai berucap seperti tadi, tapi sungguh ... itu memang datang dari hati, tak ada sedikit pun bumbu-bumbu bualan.


"Johan?"


"Iya, Sayang?"


Halsey tersenyum lebar. "Pulang sekolah nanti, aku ingin mampir ke toko buku."


"Buku melulu."


Halsey menarik tubuhnya menjauh kemudian mendongak dan melirik Johan sekilas. "Mau menemaniku, tidak? Kalau tidak, aku akan pulang sendiri saja."


"Sebegitu pentingkah buku sialan itu untukmu, Hale?"


"Sialan?!" teriak Halsey tak percaya.


"Tentu. Tidak berguna sama sekali."


"Enak saja! Tanpa buku, kau tidak akan mendapatkan pacar segenius diriku!"


"Benarkah? Tapi aku juga jenius, padahal tidak pernah sudi menyentuh buku."


"Cih!"


"Jadi kau tak percaya? Baiklah. Kita bisa uji kepintaran." Johan menyapu rambutnya ke belakang kemudian menghentak kerah seragam dan berpindah menatap Halsey lagi.


"Tentu saja!"


"Kau juga ahli di bidang Biologi, kan?" tanya Johan memulai.


Halsey mengangguk sombong. "Aku menguasai semua bidang."


Johan berdehem. "Baiklah. Karena kau menguasai dan juga memilikinya, maka ..., kita akan membahas tentang 'Alat Reproduksi Wanit- hey, Hale?! Mengapa pergi?!"


Halsey tetap melanjutkan langkahnya begitu saja tanpa niat mengindahkan teriakan Johan. Memang, sangat tak bisa dipungkiri bahwa isi otak Pria itu tak akan pernah bisa jauh-jauh dari hal-hal mesum.


❀❀❀