
Johan dan Halsey tampak berjalan beriringan menyusuri koridor sekolah. Halsey sedikit heran dengan Johan yang pagi itu tak banyak bicara, terlebih setelah ia beberapa kali mendapati Pria itu memandanginya diam-diam lalu salah tingkah saat dipergoki.
“Johan? Apa ada masalah?” Halsey memberanikan untuk bertanya.
Johan tersentak kaget. “Hah?! Tidak, Sayang. Tidak ada.”
Halsey mengangguk berusaha mengerti, meski ia sungguh tahu bahwa ada sesuatu yang tengah Johan sembunyikan darinya.
Setelah tiba di hadapan kelasnya, Halsey hanya melirik Johan sekilas kemudian melangkah masuk begitu saja. Awalya ia berpikir Johan telah pergi, tapi rupanya Pria itu kini mengambil kursi lain di sampingnya kemudian berbalik menatap dengan raut serius.
“Hale? Apa kau tak ingin membolos dulu hari ini?”
Sebelah alis Halsey terangkat. “Apa yang kaubicarakan?”
Johan tampak berpikir sebentar lalu meraih tangan Halsey. “Sayang, dengarkan aku. Hari ini kau membolos sekolah dulu, ya? Aku akan mengantarmu pulang.”
“Jangan mengatakan hal gila, Johan. Kau pasti sudah tahu aku tak mungkin mau," balas Halsey seraya menarik tangannya dari genggaman Johan.
Johan kembali meraih tangan Halsey lalu menggenggamnya erat. “Hale? Kumohon.”
“Katakan dulu alasanmu.”
Johan terdiam beberapa saat. “Baik. Aku tak akan memaksamu. Tapi berjanjilah bahwa kau akan tetap baik-baik saja, bisa?”
“Apa yang sebenarnya terjadi, Johan?” tanya Halsey balik.
“Berjanji saja, Hale.”
Halsey terdiam seraya berpikir sebentar. Detik berikutnya ia balas menatap Johan kemudian mengangguk mantap. “Insya allah.”
Johan menatapnya sendu kemudian tersenyum lembut. Pria itu lalu bangkit berdiri dengan tangannya yang juga menarik Halsey.
Cup!
Halsey membeku setelah merasakan bibir Johan mendarat di keningnya. Apa-apaan tadi itu? Sejak kapan dirinya menjadi murahan hingga Johan begitu bebasnya mendaratkan ciuman di keningnya?
Dan ... teman sekelasnya ....
Beberapa orang bahkan sudah memandang ke arah mereka dengan sorot tak percaya, astaga!
PLAK!
PLAK!
BUGH!
“Kau sudah semakin kuat rupa-"
“Apa kau tak sadar telah melakukan apa?! Ada banyak orang yang memandangi kita, Johan!”
Johan terkekeh seraya terus membiarkan Halsey memukulinya. Ia menyempatkan untuk melihat ke sekitar, dan memang benar, beberapa orang telah memandangi mereka dengan sorot geli bahkan hingga tertawa kecil.
“Lalu bagaimana dengan tempat sepi, Sayang? Apa kita bisa melakukan lebih-"
Halsey mengeluarkan seluruh isi tasnya, berusaha menemukan buku rumusnya yang paling tebal. Setelah berhasil mendapat satu, ia berbalik dan mendapati Johan yang baru saja siap berlari, dan ....
Bugh!
“Arghhh!”
Halsey tersenyum bangga saat lemparannya mengenai tepat belakang kepala Johan. Pria itu kini mengerang kesakitan, meski tak seberapa tapi sedikit sakit, ia hanya berusaha membuat Hale-nya tersenyum begitu. Sungguh, senyum paling indah yang menenangkan.
Johan berjongkok meraih buku Halsey yang terlempar di lantai kemudian berjalan menghampiri Gadis itu.
“Bagaimana jika aku sampai geger otak lalu amnesia? Kau mau berhenti dicintai, ya?” omelnya seraya mengulurkan buku itu pada Halsey.
“JANGAN BICARA PADAKU!”
Johan terkekeh menyaksikan punggung Halsey yang kian menjauh. “Ingat janjimu, Sayang!” teriaknya seraya mulai berlalu pergi.
Sambil terus berjalan, Johan memandangi kedua tangannya yang kini sudah tampak memerah penuh cakaran. Halsey memang benar-benar kejam saat sedang marah, tapi mau bagaimana lagi. Menjahili gadis itu bahkan jauh lebih menyenangkan.
Setelah tiba di parkiran, tampak Alan dan Reyhan telah menungguinya di sisi tubuh mobil.
“Astaga! Apa yang terjadi dengan pipimu?” tanya Alan langsung.
Johan tersadar seraya memegangi pipinya. “Benarkah? Aku tak merasakan apa-apa," balasnya kemudian.
“Memangnya kau habis apa?” tanya Alan lagi.
“Hale menampariku karena lancang menciumnya," balas Johan seraya menampakkan cengiran.
Alan telah tertawa. “Astaga! Hale benar-benar seperti kucing galak. Tanganmu saja bahkan sudah penuh cakaran.”
“Ish! Diam kau, Sialan!” bentak Johan seraya menoyor kepala Alan pelan.
“Jadi Hale tak ikut, ya?” celetuk Reyhan juga.
“Pastikan Pria itu benar-benar kapok mencari masalah denganmu," ujar Reyhan seraya mulai melajukan mobilnya.
Sementara di sebuah tempat, Seorang Pria dengan seragam SMA membalut tubuhnya tampak tengah saling menelepon dengan seseorang di ponsel.
“Terserahmu ingin bagaimana, yang jelas aku tak ingin tahu Hale-ku terluka.”
Fito terkekeh. “Tentu saja. Tenanglah. Permainan ini pasti akan sangat menyenangkan.”
Setelah sambungan telepon terputus, Fito lekas beranjak kemudian menghampiri mobilnya. Setelah bokong Pria itu berhasil terduduk di jok kemudi, ia lantas melajukan mobilnya dengan sangat bersemangat.
***
Sejak perginya Johan, Halsey benar-benar tak bisa tenang hingga ia bahkan melewatkan materi pelajaran begitu saja. Otaknya tak bisa bekerja, terlebih setelah 15 menit lamanya sudah ia menunggui Johan, namun tetap tiada tanda-tanda bahwa Pria itu akan datang. Ini benar-benar salahnya. Andai saja tadi ia menyempatkan untuk bertanya, setidaknya mungkin ia tak perlu sekhawatir sekarang.
Halsey duduk terdiam seraya berpikir keras. Sikap Johan pagi tadi juga cukup aneh, terlebih saat Pria itu memintanya untuk berjanji bahwa ia akan tetap baik-baik saja. Sudah sangat jelas sesuatu terjadi, tapi apa? Atau mungkin-
Drrrttt .... Drrrtt ....
Ponsel di saku seragamnya bergetar lama. Lekas Halsey mengeluarkan benda itu dari sana kemudian mulai memandangi label ‘kontak tak dikenal’ dari balik layar beberapa saat.
“Assalamu-"
“Aku baru saja mengirimkanmu pesan. Temukan Johan-mu di alamat itu!”
Tett!
Halsey terdiam dengan ponsel yang masih melekat di kupingnya. Temukan? Apa Johan benar-benar sedang dalam bahaya?
Lekas ia memeriksa ponselnya kemudian memandangi pesan yang telah dikirimkan penelepon itu tadi.
“Aku akan mengendarai apa untuk ke sana? Tempatnya juga cukup jauh.”
Halsey telah bangkit berdiri hingga berlalu dari taman. Selepas tiba di kelasnya, ia lalu mengedarkan pandangan ke setiap sudut kelas hingga manik netranya terjatuh pada sosok Pria yang kini tampak sibuk tertawa bersama sekumpulan temannya.
Ia sungguh paling tak suka jika harus berurusan dengan Pria itu, tapi bagaimana lagi. Johan sedang membutuhkannya sekarang.
“Ryan!”
Ryan menoleh begitupun teman-temannya. Dengan raut yang sama-sama bingung, mereka menyaksikan Halsey berjalan mendekat.
“Aku sedang tak enak badan, jadi aku akan pulang ke rumah," ujar Halsey langsung.
Ryan tak menanggapi, lebih tepatnya sibuk memandangi. Ia merasa seperti terhipnotis tatkala menatap netra Halsey, sungguh seperti sedang kehilangan sadar.
“Ryan?”
Ryan tersadar seraya menggelengkan kepalanya beberapa kali.
“Eh, kau bilang apa, Halsey?”
“Aku sedang tak enak badan, jadi aku akan pulang sekarang,” ulang Halsey tenang.
“Ah, iya, tentu saja. Semoga cepat sembuh, ya,” balas Ryan dengan senyum bersahabat.
“Terima kasih.”
Halsey berbalik lalu meraih tasnya cepat. Seraya terus melangkah, ia menyempatkan untuk berpikir perihal bagaimana ia akan ke tempat itu. Sekolahnya saja terpaut setengah kilo dari pusat kota, jadi sudah jelas tak akan ada taxi berlalu lalang di sana.
“Selain dengan ojek, aku tak ada pilihan lain.”
Halsey diam berdiri di depan gerbang sekolahnya. Dari tempat kakinya tengah berpijak, ia berusaha memilah wajah-wajah tukang ojek yang akan disewanya. Tentu saja itu hal yang penting. Bagaimana jika ia malah memilih tukang ojek mesum yang tergila-gila dengan Gadis cantik?
Pilihannya jatuh pada sosok Pria paruh baya dengan tampang paling kalem dan bersahabat dibanding yang lain. Halsey lalu menghampiri Pria paruh baya itu kemudian langsung menunjukkan alamat ke mana dirinya harus diantarkan.
Setelah berhasil mendudukkan dirinya di belakang punggung Si Pria paruh baya tadi, Halsey merasakan motor itu kian melaju. Apa yang sebenarnya Johan lakukan di tempat seperti itu? Sudah sangat jelas bahwa jalan yang dilintasinya kini menuju area gedung-gedung tua tak terpakai itu.
“Dik? Apa yang akan kaulakukan di tempat ini?” tanya si Tukang Ojek memecah hening.
“Saya hanya ingin kemari, Pak,” balas Halsey singkat.
Setelah motor yang ditumpanginya perlahan berhenti, Halsey beranjak turun. Ia lalu mengeluarkan selembaran uang dari saku seragamnya kemudian mengulurkannya pada Tukang Ojek tadi.
“Ambil saja kembaliannya, Pak.”
Setelah memandangi uang di tangannya sebentar, Pria paruh baya itu tampak mengangkat wajah melirik Halsey. “Terima kasih, Dik. Ngomong-ngomong, kau ingin Bapak tetap menunggumu di sini, tidak?”
Halsey yang tadinya sibuk melihat ke sekitar pun menoleh. “Tidak perlu, Pak,” balasnya berusaha ramah.
“Baiklah kalau begitu. Bapak permisi, ya.”
Halsey mengangguk seraya menyaksikan motor tukang ojek tadi perlahan menjauh. Setelah benar-benar menghilang, ia lekas berbalik kemudian melangkah masuk di pintu gedung tua dengan perasaan penuh cemas. Ia benar-benar merasa tak aman. Bagaimana jika tadi itu hanya sebuah lelucon? Atau ... bagaimana jika seseorang malah berniat menjebaknya lalu membunuhnya di tempat se-menyeramkan ini?
Halsey menggeleng keras, berusaha mengatur napasnya seraya mulai menyusuri anak-anak tangga kumuh penuh debu itu.
❀❀❀