
Meski beberapa kali diselingi percakapan singkat, Halsey tampak sibuk dengan sebuah novel di tangannya, sementara Baila sendiri dengan ponselnya. Mereka kini duduk berdua di balkon kamar Halsey, menikmati suasana sore yang kali ini terasa beda dan hangat.
"Aku jadi merasa ingin sepertimu juga. Kalau begitu, aku pasti tidak akan jantungan atau sampai mati jika dilanda cobaan nantinya."
Halsey menoleh. "Itu jauh lebih buruk," balasnya.
"Hale?"
"Hm?"
Baila berdecak kesal. "Lihat aku sebentar, Hale ...!" rengeknya.
"Iya, kenapa?"
Baila berdehem sesaat kemudian menyodorkan layar ponselnya pada Halsey.
"Jadi kau bercita-cita menjadi seorang model?" tanya Halsey kemudian.
Baila mengangguk. "Hm. Apa menurutmu aku cocok?"
"Tidak harus cocok, kok. Yang penting kau suka dengan profesi itu, aku, ayah dan ibu pasti selalu mendukung."
Baila tersenyum lebar kemudian berhambur memeluk Halsey. Detik berikutnya, "Bukankah itu mobilnya Johan?"
Halsey sontak menoleh mengikuti arah pandang Baila. Dan tanpa menunda lagi, ia langsung bergegas berdiri kemudian melangkah masuk ke kamarnya begitu saja.
"Ada apa, Hale?" tanya Baila bingung.
"Aku lupa Johan akan menjemputku!" balas Halsey berteriak sembari mulai memilah pakaian di lemarinya.
"Memangnya kalian ingin ke mana?" tanya Baila lagi.
"Tidak tahu juga."
Baila merengut bosan sembari tubuhnya ia banting ke atas kasur. "Kalian jalan berdua melulu, sih? Tidak ingin mengajakku juga apa?"
"Tentu saja. Nanti kutanyakan pada Johan."
"Aku bahkan rela menjual ginjal jika sampai pria itu mau," balas Baila sembari bangkit duduk lagi. "Aku akan menemuinya di bawah. Byebye!"
Baila berlalu pergi dari kamar Halsey tanpa menutup pintu kembali. Setelah berhasil tiba di lantai satu dan mendapati Johan tengah duduk berseberangan dengan Mahesa, langsung saja ia memacu langkah hingga bokongnya berhasil mendarat di sofa samping Ayahnya.
"Hale di mana, Sayang?" tanya Mahesa kemudian.
Baila menoleh. "Dia sudah bersiap, kok. Oh, ya, Ayah. Mereka berdua ini hampir keluar bersama setiap harinya."
"Dasar jomblo! Kau iri, ya?" ejek Johan cepat.
Mahesa malah terkekeh. "Biarkan saja, Sayang. Selagi bisa, maka nikmati mulai sekarang. Beberapa waktu lagi, kalian sudah akan disibukkan dengan persiapan ujian."
"Aku sudah selesai."
Semuanya sontak menoleh ke arah suara dan mendapati Halsey yang kini sudah selesai bersiap.
Johan bangkit berdiri. Mendekat pada Mahesa, kemudian meraih dan mencium punggung tangannya. Setelah Halsey juga ikut berpamitan, kini mereka sudah berhasil duduk di jok masing-masing.
"Tadi membahas apa?" tanya Halsey kemudian.
Johan menoleh sekilas sembari mulai melajukan mobilnya. "Hanya berbincang ringan, kok."
"Apa ... perjalanannya jauh?" tanya Halsey lagi.
"Tidak juga."
Halsey mengangguk mengerti kemudian berpindah melempar pandangannya keluar jendela. Ia sempat mendengar sedikit ucapan Mahesa, tadi, dan menurutnya ... itu memang benar. Persiapan ujian nanti mungkin akan membuat mereka sulit menghabiskan waktu bersama sepanjang hari lagi.
"Tidur dulu saja, Sayang. Nanti aku bangunkan."
"Aku ingin menikmati perjalanannya."
"Baiklah. Mau ini, tidak?"
Halsey menoleh kemudian langsung memandangi mulut Johan. "Permen lollipop?"
"Hm. Mau?" tawar Johan sembari mengulurkan lollipop di mulutnya tadi pada Halsey.
"Tidak. Itu merusak gigi."
"Kata siapa? Buktinya aku tidak rusak, kok. Ini, coba dulu." Johan kembali menawarkan.
"Tidak mau! Kau pasti hanya ingin modus ciuman tidak langsung, kan?"
Johan merengut kesal kemudian menjilati permen lollipop di tangannya lagi. "Istigfar, Hale, istigfar. Ciuman itu haram, Sayang. Tidak boleh! Haram!"
Halsey memutar bola mata. "King of kissing, right?"
"Iya, iya. Perempuan selalu benar."
Halsey terkekeh. "Tapi aku serius, Johan. Lebih baik makan permen karet mint saja. Nanti gigimu bisa rusak. Apalagi lollipop itu juga membuatmu terlihat seperti bocah."
Johan merengut kesal kemudian menjilati lollipop-nya lagi. "Tapi sangat pedas, Hale. Bahkan rasanya langsung menyeruak masuk ke hidungku."
"Pria lebay!"
"Lentur bohay?"
"Hah?!"
Johan terkekeh pelan. Saking sibuknya berbincang, ia bahkan tidak sadar bahwa mobilnya kini sudah hampir tiba di tempat tujuan.
Halsey yang juga menyadarinya langsung mengedarkan pandangan ke sisi kiri dan kanan jalan. "Aku suka," ujarnya cerah.
Terpampang jelas pemandangan laut di setiap sisi kiri dan kanan jalan, ditambah dengan matahari yang juga sebentar lagi akan berganti dengan bulan. Cahaya jingganya tampak memantul di atas air, menambah kesan tenteram yang dalam.
"Ini juga. Salah satu tempat bersejarah kita," sahut Johan.
Halsey kembali berbalik dan mengangguk senang. "Aku menganggap semua tempat yang kudatangi denganmu adalah tempat bersejarah kita. Taman, pantai, danau, pemandangan malam kota, hamparan rumput kering, dan ... ini."
Johan mengangguk membenarkan sembari mobilnya yang mulai ia tepikan. Setelah keduanya bergegas keluar dari mobil, ia langsung menggenggam tangan Halsey kemudian menuntun Gadis itu untuk mendekat ke tepian jalan. "Bagaimana jika kita menunggu sunset?" tanyanya sembari mulai menumpukan kedua siku di pembatas jalan.
Halsey ikut menumpukan kedua sikunya. Menoleh pada Johan sekilas, kemudian tersenyum mengiyakan.
Suasana menjadi hening. Angin bebas yang berhembus membuat rambut keduanya beterbangan. Menerpa wajah, menambah suasana terasa semakin tenang dan waktu juga terasa berhenti sesaat.
"Hm ...?"
Halsey mendongak kemudian menatap Johan yang kini juga tampak menunduk menahan anak-anak rambutnya yang beterbangan. "Jangan sering membolos lagi, ya?"
"Iya, Sayang. Tidak lagi, kok," balas Johan lembut.
"Hm. Beberapa bulan ke depan, kita sudah akan sibuk dengan persiapan ujian. Lebih baik perbaiki nilai-nilai pelajaranmu dari sekarang."
Johan seolah baru tersadar. "Ah, iya, ya? Beberapa bulan lagi kita akan lulus sekolah. Itu artinya ... hm. Sebentar lagi kita akan menikah, Sayang. Aku benar-benar tidak sabar lagi!" serunya antusias.
Halsey memutar bola mata malas. Menikah melulu, deh!
"Ngomong-ngomong ... apa cita-citamu, Hale?" tanya Johan lagi sembari tangannya yang kembali merapikan rambut Halsey.
"Melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, kemudian mendapat banyak gelar kehormatan."
Johan mengangguk-angguk mengerti.
"Bagaimana denganmu?" tanya Halsey juga.
"Aku?" Johan menatap ke langit. "Cita-citaku masih sama, Sayang. Menikah denganmu, membuat anak sampai satu lusin, kemudian hidup bahagia hingga usia menua."
Halsey mengusap wajah lemah sembari tetap memandangi Johan yang malah tersenyum cerah menerawang. Semua orang sudah pasti bercita-cita begitu, bukan? Terkecuali ANAK YANG SELUSIN itu! "Kau tak pernah bisa serius, ya?"
"Aku sudah serius, Hale. Memangnya terlihat bercanda, apa?"
"Ck! Sudahlah. Berusaha serius denganmu memang tak ada gunanya!"
Johan terkekeh. "Siapa bilang, Sayang? Sekarang saja aku sangat bersedia jika kau mau membawa hubungan kita ke jenjang yang lebih serius. Kan bagus. Tidak perlu menunggu-"
"DIAM, JOHAN! KUMOHON DIAM!"
Johan langsung terkekeh tanpa dosa. Memeluk bahu Halsey dari samping, kemudian menumpukan kepalanya di kepala Gadis itu. "Kita harus memotret moment ini," ujarnya sembari mulai meletakkan ponselnya di depan wajah.
Halsey mengangguk, hingga detik berikutnya ....
Cekrek!
"Lagi, lagi!"
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
"Sekali lagi, Sayang!"
Cekrek!
Cekrek!
"Oke!"
Johan menarik ponselnya mendekat kemudian mulai memandangi layar dengan saksama. "Hale? Mengapa senyummu manis sekali, sih?!"
"Tidak! Berhenti memandanginya!" teriak Halsey cepat sembari langsung menutup layar ponsel Johan.
"Aku akan memandanginya sebelum tidur."
"Aaaa jangan! Berikan ponselmu, Johan!"
Dengan santai, Johan hanya mengangkat ponselnya ke udara tinggi-tinggi. Halsey? Memangnya bisa apa Gadis itu dengan tubuhnya yang hanya sampai ketiak?
"Berikan, Johan! Aku malu-malu!" teriak Halsey lagi.
"Ini, kan, ponselku. Berarti terserahku ingin mengapakannya."
Bugh!
Bugh!
Bugh!
"Lepaskan, Johan!" Halsey meronta keras tatkala kedua tangannya sudah dicekal Johan erat-erat. "Lepaskan!"
"Sudah, Sayang .... Kau hanya membuang tenaga, tahu? Coba lihat ke sana. Semburat jingganya sudah semakin tampak."
Halsey menepis kasar lengan Johan yang baru saja niat merangkulnya lagi. Kini, ia melempar pandangan ke arah barat dan memandangi matahari yang sebentar lagi akan benar-benar terbenam.
"Aku langsung jatuh cinta sejak pertama kali melihat senja. Setelah itu ... keindahannya membuatku kecanduan, sampai-sampai aku akan menyempatkan untuk mampir sebentar hanya karena ingin menikmatinya lebih."
Halsey menoleh saat merasakan Johan telah menoel-noel lesung pipinya lembut.
"Seperti lesung pipi ini. Aku benar-benar jatuh cinta sejak pertama kali melihatnya di pantai hari itu."
"Hale? Aku mencintaimu dan segala hal tentang dirimu. Kelebihanmu, begitupun juga kekuranganmu."
***
Sembari menggerutu kesal, Johan bangkit dari posisinya masih dengan mata yang sedikit memejam. "Sialan! Siapa, sih, yang datang malam-malam begini?"
Bel apartment-nya yang terus saja berbunyi tanpa henti membuat ia benar-benar geram hendak meninju apa pun. Tidak ingat waktu, apa?! Sudah tengah malam juga!
"Bisa bersabar tid- BRENGSEK! APA YANG KAU LAKUKAN?!"
Akhirnya, Johan memutuskan untuk memukuli Alan hingga bonyok lebih dulu dan akan membawa Pria itu masuk setelah hasrat memukulnya selesai terpenuhi.
"Cukup, Bodoh! Kumohon bawa aku masuk ...!" pinta Alan lemah.
Johan memandangi tubuh Alan yang kini terkapar lemah di lantai. Sangat jelas bahwa Pria itu sedang mabuk keras. Bahkan, beberapa bekas tonjokan lebam sudah tersisa di setiap sisi wajahnya. Parah. "Siapa yang memukulimu sebelum aku?" tanyanya dengan sisa-sisa amarah.
"Bawa ... aku mas ... uk ...!"
Bugh!
Setelah mendaratkan sekali pukulan di wajah Alan lagi, Johan langsung bergegas memapah tubuh Pria itu masuk ke apartemennya kemudian menghempaskannya begitu saja ke atas sofa.
❀❀❀