
Halsey tengah berjalan menuju kelas Johan yang diketahuinya berada di lantai tiga. Segala macam umpatan telah berhasil lolos dari bibir indah itu karena kekesalannya sudah sangat meluap dan tak sanggup lagi ia redam.
"Astaga, Johan?! Jawab teleponku!"
Halsey terus menghubungi nomor ponsel Johan hingga berkali-kali, tapi tetap tak ada jawaban. Ia lalu memutuskan untuk duduk di kursi sebentar, berusaha untuk lebih tenang agar segala kemungkinan buruk yang terus beterbangan di benaknya bisa ia tepis jauh.
"Johan ...? Kau di mana, sih?!"
"Astaga, aku benar-benar menyesal telah berangkat ke sekolah dengannya."
"Pria itu benar-benar gi-"
"Hale ...."
Brugh!
Halsey langsung menoleh ke arah suara dan mendapati tubuh Johan yang telah luruh di lantai.
"JOHANN?!"
Halsey berlari menghampiri tubuh Johan panik. Wajah Pria itu penuh lebam dan memar. Pakaiannya penuh kotoran dan bekas cetakan sepatu, sementara dahinya juga sudah tampak membengkak dan berdarah.
"Johan?! Apa yang terjadi?! Sadar, Johan! Johan?!" Halsey terus saja menepuk pipi Johan pelan, namun tetap tak ada reaksi sama sekali.
"Johan, buka matamu! Johan?! Ayo bu- JOHAANN?!"
Johan tampak membuka matanya sedikit, seperti hendak mengatakan sesuatu namun hanya berupa gumaman.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit, mengerti? Ayo bantu tubuhmu untuk bangkit!"
Perlahan, Halsey membantu Johan untuk bangkit, kemudian memapah tubuh Pria itu dengan seluruh tenaga perempuannya yang tak seberapa.
Beberapa kali ia berteriak meminta tolong, namun tak sekali pun ada sahutan atas suaranya. Sama sekali.
"Johan? Bertahanlah!"
Halsey terus menyalurkan segala tenaganya yang hampir habis untuk memapah tubuh Johan, hingga terakhir, mereka berhasil tiba di parkiran.
"Johan? Berikan kunci mobilmu! Cepat!" teriak Halsey keras, seolah tak lagi kuat dan ingin segera menghempaskan tubuh Johan begitu saja.
"Hale ...."
Halsey melirik Johan bingung saat Pria itu terdengar menggumamkan sesuatu. Setelah beberapa detik lamanya, langsung saja ia menggeleng keras dengan matanya yang membulat tak percaya. "Aku tidak mungkin merogohnya di saku celanamu, Johan! Kau harus melakukannya sendiri. Ayo, Johan! Cepat lakukan sendiri! Aku sudah tidak kuat lagi, cepat!"
Johan yang masih bisa mendengar suara Halsey samar-samar mulai merogoh saku celananya. Setelah beberapa saat, ia berhasil mengeluarkan benda itu dari sana dan direbut cepat oleh Halsey.
Klik, klik!
Halsey membuka pintu mobil lalu segera menghempaskan tubuh Johan ke jok penumpang dekat kemudi.
Dengan napasnya yang masih memburu, ia lalu menutup pintu kembali kemudian bergerak mengitari mobil dan ikut duduk di jok kemudi.
Johan membuka pejamannya perlahan, memandangi pahatan wajah Halsey dari samping dengan sorot menyesal. "Hale ...."
Halsey menoleh, melirik Johan sekilas seolah bertanya.
"Maaf telah ... menyusahkanmu ...," lirih Johan lemah sembari bibirnya yang tetap berusaha ia lengkungkan.
***
Tubuh Johan kini terbaring lemah di ranjang khusus pasien opname. Kepalanya terlihat dibalut perban, begitujuga dengan selang infus di tangannya yang ikut meramaikan.
"Cukup, Hale. Aku sudah kenyang," tolak Johan sembari mendorong lembut tangan Halsey yang berniat mengulurkan sendok ke mulutnya lagi.
"Baiklah. Minum ini," balas Halsey seraya meraih gelas di atas nakas kemudian membantu Johan minum.
"Kau belum mengganti pakaianmu, Hale. Lebih baik pu-"
"Johan?!"
Sontak, Halsey juga Johan menoleh ke arah pintu dan mendapati Reyhan dengan Alan di sampingnya.
"Siapa yang mengeroyokmu?!" tanya Reyhan panik seraya berjalan mendekat, diikuti Alan juga.
"Seharusnya mereka memukulimu lebih parah lagi hingga koma saja. Setelah bangun, kau pasti akan jera untuk mengejar gelar Pria sejati lagi," timbrung Alan dengan santainya.
"Ya, aku setuju denganmu!" celetuk Halsey mengangguk-angguk dan langsung dibalas cengiran oleh Alan.
Johan mengerucutkan bibir. "Hale? Kau jahat sekali!"
"Kau belum menjawab pertanyaanku, Johan!" geram Reyhan kesal karena merasa tak diindahkan.
"Fita. Dia mengeroyokku saat kalian baru saja pergi," balas Johan kemudian.
"Baiklah. Cepat sembuh agar kita bisa membalas mereka lebih parah darimu." Reyhan berjalan menjauh kemudian mendudukkan bokongnya di sofa.
"Aku harus pulang, Johan. Setelah salat isya, aku pasti kembali lagi." Halsey mulai beranjak berdiri kemudian meraih tasnya.
"Kau pakai mobilku saja, Hale. Aku akan mengambilnya setelah sembuh," cegah Johan cepat, sembari tangan Halsey yang langsung ia cekal.
"Terima kasih, tapi aku akan pulang dengan taxi saja."
Johan menatap tak percaya. "Apa?! Kau bilang apa, Hale ?!" tanyanya dengan nada suara meninggi.
"Aku pulang dengan taxi, jadi jangan berteriak padaku, Pria Sejati."
Johan melirik Halsey sebentar sembari berusaha mendudukkan diri. "Demi Tuhan aku rela membuka selang infus ini daripada harus membiarkanmu pulang dengan taxi."
Alan yang sejak tadi telah menyusul Reyhan dan tengah sibuk dengan ponselnya menyempatkan untuk melirik ke arah dua manusia beda gender itu. "Kau melupakan kehadiran kami, ya? Aku bisa mengantar Hale-"
"Jangan memanggilnya dengan sebutan Hale, Alan! Kau hanya orang asing!" potong Johan berteriak.
"Sialan ini! Kau ingin aku menambah memarmu, ya?" tanya Alan terlihat kesal.
"Hale tidak akan pulang denganmu! Aku tahu kau Pria yang suka menggoda." Johan melirik Alan kesal kemudian berpindah pada Halsey lagi, tentunya dengan sorot lembut. "Hale? Kau pulang dengan Rey saja, ya? Aku akan lebih tenang jika dia yang mengantarmu pulang," lanjutnya.
Halsey mengangguk, sementara Reyhan sendiri mulai bangkit dari duduknya.
"Hati-hati, ya. Jaga Hale-ku baik-baik, Rey!"
"Jangan kaget jika kau pulang dan Johan sudah tak bernyawa, ya, Hale! Sialan itu benar-benar gemar menjatuhkan image-ku di depanmu!" celetuk Alan.
"Sudah kubilang jangan memanggilnya dengan sebutan Hale, Sialan!"
"Baiklah. Cepat sembuh, ya, Brengsek. Aku sudah tidak sabar untuk menyalurkan kekesalanku padamu."
Halsey yang sudah sejak tadi meninggalkan ruang inap Johan tersenyum kecil mendengar perdebatan Pria itu dengan Alan. Reyhan berjalan mendahuluinya, sedangkan ia sibuk mengekori hingga mereka tiba di mobil Johan.
❀❀❀