Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Keyakinan Rasa



Halsey tampak membuka sabuk pengamannya dan berniat untuk segera turun dari mobil Johan. "Terima kasih," ujarnya datar.


"Hale!" Johan berteriak seolah meminta Halsey untuk berbalik sebentar. "Tetap di rumah, ya. Jangan ke mana-mana jika bukan bersama ayahmu," terangnya serius.


Halsey hanya mengangguk singkat kemudian bergegas keluar.


"Aku mencintaimu, Hale!" teriak Johan lagi.


Ia memutuskan untuk menunggu Halsey benar-benar masuk ke rumahnya lebih dulu sebelum mobilnya telah kembali melaju.


Drrrtt .... Drrrrttt ....


Johan merogoh ponselnya yang ia letakkan di saku celana kemudian berpindah memandangi label kontak di balik layar.


"Halo, Mom?"


"Waalaikumsalam. Mom sangat merindukanmu, Sayang."


"Hehe assalamualaikum, Mommy-ku Sayang. Iya, rinduku jauh lebih banyak."


"Mampir ke rumah, ya, Sayang. Mom baru saja tiba di Indonesia subuh tadi."


"Tentu, Mom. Jangan lupa buatkan makanan kesukaanku, ya. Assalamualaikum. Aku menyayangimu."


Setelah beberapa menit lamanya mobil Johan melaju, akhirnya ia berakhir di sebuah rumah yang tak begitu besar namun masih tergolong mewah. Sosok Wanita paruh baya dengan wajah cantik yang khas Turkey sudah tampak menyambut kedatangannya antusias.


Johan bergegas turun dari mobilnya kemudian berlari lalu berhambur ke dekapan Hanum. Mereka saling berbagi dekapan seolah menyalurkan segala rindu tak bertemu empat bulan lamanya.


"Mom? Aku sudah lapar," bisik Johan sembari melepas dekapannya.


"Sayang? Kau habis berkelahi lagi, ya? Lukamu sangat parah, Johan ...!"


Johan tersenyum lembut menyaksikan wajah khawatir Wanita di hadapannya itu. Tangannya kemudian bergerak menyentuh tangan Hanum yang kini membingkai wajahnya, balas tersenyum seolah menenangkan. "Ini hanya luka kecil, Mom."


Hanum tersenyum lembut kemudian menuntun Putra semata wayangnya itu memasuki rumah hingga terduduk di meja makan. "Sup buntut kesukaanmu, Sayang. Makanlah."


Johan tersenyum cerah sembari langsung meraih mangkuk berisi sup buntut yang diulurkan oleh Hanum. Ia mulai menyantapnya lahap, seolah tak ada makanan yang bisa melampaui kelezatan sup buntut buatan Mommy-nya itu.


"Aku sudah menyantap ratusan makanan mahal, Mom, tapi tak satu pun yang bisa melebihi lezatnya sup buntut buatanmu ini," celoteh Johan di sela-sela makannya yang lahap.


Hanum hanya tersenyum menanggapi dengan tangannya yang terus mengusap kepala Putra-nya lembut.


"Tapi, Mom ... menurutku, kau sudah menjadi Istri paling idaman. Cantik, berhati lembut, cerdas, pandai memasak, bahkan salehah. Lalu mengapa daddy masih juga menceraikanmu?"


Hanum tampak membeku sesaat setelah mendengar pernyataan sekaligus pertanyaan dari Johan. "Habiskan saja makananmu, Sayang. Kau berhutang penjelasan pada Mom."


Johan mengangguk sembari menerima uluran segelas air dari Hanum dan segera meneguknya hingga tandas. Pria itu bahkan bersendawa saking kenyangnya, hingga Hanum yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa geli.


Ini sudah kebiasaan Johan sejak kecil. Ia akan membantali pahanya, kemudian akan bercerita banyak setelahnya.


"Sekarang jelaskan pada Mom mengapa kau bisa bonyok begini," pintanya kemudian.


Johan membuka pejaman matanya cepat kemudian mengambil posisi duduk menghadap Hanum. "Aku akan menceritakan itu nanti, Mom. Pertama, kau harus tahu perihal 'cinta pertamaku' dulu. Kau tahu? Aku telah mencintai seorang perempuan selain dirimu!"


Memang cinta pertama. Dan bisa dikatakan bahwa hanya Johanlah yang sudah merasakan jatuh cinta di antara kedua sahabatnya itu. Kalau perihal pacar, ia juga belum pernah. Mengapa? Baginya, pacar itu bukan perihal yang main-main. Jika tidak cinta, jangan menjalin hubungan.


Berbeda dengan Alan. Tujuan hidup pria itu mungkin memang hanya untuk menumpukkan pacar, bermain wanita bebas-bebas, tidak peduli jika itu bisa menyakiti salah satu dari mereka. Hm, brengsek memang.


"Benarkah? Kalau begitu Mom merasa senang sekaligus sedih," balas Hanum kemudian.


Johan menggeleng. "Tentu saja kau harus merasa senang, Mom. Dia gadis langka dan belum pernah kutemui samanya sepanjang hidupku."


"Apa dia sangat cantik hingga kau begitu mudah mencintainya?" tanya Hanum penasaran.


Johan tampak berdehem sesaat sembari mendongak berpikir. "Aku sudah bertemu ratusan gadis cantik yang bahkan dibuat gila juga oleh kesempurnaanku. Jadi ... cantik bukan alasan utama, meski tak dapat dipungkiri bahwa ia memang sangat cantik," jelasnya mantap.


"Lalu, apa yang menjadi alasanmu mencintainya jika bukan karena dia cantik?" tanya Hanum lagi.


"Mom ...? Dia sangat cantik, tapi alasan utamaku mencintainya bukan itu!" balas Johan gemas.


"Ya, baiklah. Dia sangat cantik, jadi katakan pada Mom alasanmu mencintainya."


Johan kembali berdehem sebentar. Perlahan menatap ke atas, seolah berusaha mengingat pelan-pelan betapa sempurnanya pahatan wajah Halsey, juga sikapnya yang jauh lebih memikat. Sangat tanpa cela. "Aku sendiri tidak tahu alasanku, Mom. Hanya saja ... aku merasa bahwa dia gadis satu-satunya yang seolah tak tersentuh oleh kesempurnaanku. Kau tahu, itu membuatku jadi penasaran dengannya," jelasnya sembari kembali menatap Hanum serius.


"Kalau begitu perasaanmu belum bisa diartikan sebagai rasa cinta, Sayang. Jika mungkin hari ini kau bersikeras untuk membuatnya lebih terbuka agar kau bisa lebih banyak tahu tentangnya, maka esok lusa kau akan kembali biasa-biasa saja karena rasa penasaranmu telah terpenuhi."


Johan tampak berpikir sebentar setelah mendengar penuturan Hanum. Keningnya berkerut, merasa setuju tapi juga tidak. "Tapi, Mom. Bukankah selalu ingin melindungi dan dekat dengannya sudah termasuk sebagai definisi suka?"


Hanum mengangguk membenarkan. "Suka belum tentu cinta, bukan?"


"Lagi pula, kau bersikap begitu pada semua perempuan, Sayang," lanjutnya lagi.


"Tidak, Mom ...! Aku memang menyayangi semua perempuan, tapi hanya sebatas tak suka jika melihat mereka disakiti."


"Kalau dengan Hale, itu beda lagi. Ada perasaan khusus, sekaligus kecemasan lebih jika berada jauh darinya."


"Baiklah. Kalau begitu, biarkan waktu yang menerjemahkan perasaanmu pada Hale. Kapan-kapan, Mom ingin bertemu dengannya, jadi sekarang jelaskan bagaimana hingga kau bisa bonyok begini."


Johan langsung merengut malas. Ia merasa Halsey adalah topik paling menarik untuk dibincangkan, tapi Hanum ... Wanita itu malah mengalihkannya dengan menanyakan hal tak penting itu.


❀❀❀