
"Wanita mana yang telah kau hamili? HAH?!"
Bisa dikatakan bahwa ini adalah kali pertama Harris menginjakkan kaki di apartemennya. Johan hanya menatap nanar, tak memberi reaksi sama sekali. Hatinya terasa ngilu atas perlakuan Pria di hadapannya itu.
"JAWAB, JOHAN! WANITA MANA YANG TELAH KAU HAMILI?!"
Bugh!
Tubuh Johan sudah tersungkur ke lantai begitu saja setelah Harris mendorongnya masuk. Songkok di kepalanya bahkan terlempar entah ke mana, tapi tetap, air wajahnya tidak menunjukkan ekspresi sama sekali.
"BENAR-BENAR TIDAK BERGUNA!" Harris melangkah masuk dengan amarah meletup-letup.
"APA SEBENARNYA YANG KAU INGINKAN?! HAH?! AKU SUDAH MEMBERIMU UANG! MEMBERIMU TEMPAT UNTUK TINGGAL! LALU MENGAPA KAU MALAH MEMBUATKU MALU, JOHAN?! JAWAB!"
PLAK!
Tamparan kembali mendarat di pipi kanan Johan, dan kali ini sudah jauh lebih keras. Sudut bibirnya bahkan sudah berdarah, tapi wajahnya tetap saja tak menunjukkan reaksi apa-apa.
Matanya ... matanya mungkin tak menangis, tapi hatinya yang iya. Membuat malu? Andai Harris mendidiknya lebih baik, melimpahkannya kasih sayang, ia mungkin tak akan tumbuh menjadi manusia seperti ini. Ia tak akan berusaha mencari kebahagiaan dengan cara yang buruk. Ia tak akan melepas kesedihannya dengan minum. Ia tak akan melepas kekacauannya dengan bermain wanita! Ia tak akan melakukan semua itu jika bukan karena Harris!
"DASAR TIDAK BERGUNA! ANAK SIALAN!"
Harris mengusap wajahnya kasar kemudian bangkit dan duduk di sofa. "DEMI TUHAN, AKU BENAR-BENAR MENYESAL TELAH MEMBIARKANMU HIDUP, JOHAN!"
"HANYA MENAMBAH BEBAN DAN MEMBUAT MALU!"
"KAU MEMANG TAK BERGUNA SAMA SEKALI, SEPERTI MOMMY SIALAN MU IT-"
"KELUAR!" Suara Johan barusan benar-benar terdengar memenuhi isi ruangan.
"Apa ...?" Harris bangkit berdiri kemudian memandangi Johan yang tetap dalam posisinya.
Rahang Pria itu tampak mengetat. Deru napasnya kian memacu cepat, bahkan sorot matanya sudah cukup menggambarkan bahwa amarahnya sebentar lagi akan meledak.
"Keluar," balas Johan lagi. Kini, ia sudah berpaling menatap Harris dengan sorot amarah yang berkobar di netra coklat gelapnya.
"Anak sia-"
"AKU BILANG CUKUP! DENGAR?!" Amarah Johan meledak. "KAU YANG TELAH MEMBUATKU MENJADI SEPERTI INI! KAU, DAD! KAU YANG TELAH MEMBUATKU TUMBUH SEPERTI INI!" Setelah dalam posisi berdiri, tangannya meremas kepalanya kuat dengan deru napasnya yang semakin memburu. Dalam hati, ia berdoa setengah mati agar emosinya tidak sampai membuatnya bertindak salah. Tidak sampai khilaf memukuli Pria yang telah membuatnya terlahir di dunia ini, meski dirinya tak pernah dianggap hidup sama sekali.
"Kau sudah menganggapku mati, bukan? Lalu mengapa masih mengurusiku juga?! Katakan saja pada semua orang bahwa aku sudah lama mati, seperti bagaimana kau mengatakannya pada istrimu dulu!" Johan tersenyum masam. "Tidak masalah, Dad ...! Aku bahkan berterima kasih atas itu. Karena dirimu, aku tumbuh menjadi Pria yang kuat. Aku sudah terbiasa merasakan sakit fisik sejak kecil, sakit batin, semuanya bagiku sudah biasa! Karenamu juga aku bisa hidup mandiri. Hidup bebas. Semuanya aku rasakan karenamu!"
Harris terkekeh pelan sembari membungkuk meraih songkok Johan yang tergeletak di lantai. "Salatmu tidak berguna sama sekali jika kau masih melawan pada orang tuamu sendiri, Johan! Aku tidak akan mengampunimu! Aku benar-benar menyesal telah membuatmu hidup di dunia ini! Aku meny-"
"Aku hanya membutuhkan ampunan mommy, jadi silakan keluar karena aku tidak peduli sama sekali!"
Tubuh Johan luruh di lantai setelah ia menyaksikan Harris berlalu pergi. "Maaf, Dad. Maafkan aku ... hiks."
"Aku menyesal telah mengatakan itu, maafkan aku ...."
Johan mendongak dan mendapati Atha yang kini telah menatapnya dengan tangis pecah. "A-Atha? Sejak kapan kau-"
Atha berhambur memeluk Johan di lantai dan menumpahkan tangisnya di dada Pria itu. Manusia sebaik Johan ... mengapa masih ada yang tega memperlakukannya seperti ini? "Kak Johan ...."
"Hey, Sayang? Jangan menangis ...."
"Aku membenci pria itu, Kak ...! Dia tak punya hati, hiks, hiks. Aku membencinya ...."
Johan menggeleng sembari langsung mengusap rambut Atha pelan. "Tidak, Sayang. Ini memang salah Kakak, kok."
Atha menarik tubuhnya mundur kemudian bangkit berdiri dan kembali dengan sebuah kotak P3K di tangannya. Bersamaan dengan itu, Reyhan juga muncul dari balik pintu dan langsung membantu Johan bangkit hingga terduduk di sofa.
"Aku akan mengobati lukamu, Kak." Atha ikut duduk di samping kanan Johan kemudian mulai mengobati sudut bibir Pria itu. Entah mengapa, ia merasakan ngilu di dasar hatinya saat membayangkan hidup Johan. Meski sudah sangat hancur dan menyedihkan, Pria itu tetap saja bisa tersenyum. Tetap bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya, bahkan meski harus dirinya juga yang tersakiti. "Kak Johan .... hiks."
Johan tersenyum lembut sembari mengusap pipi Atha pelan. "Jangan menangis, Sayang ...."
"Bagaimana aku tidak menangis setelah membaca semua isi pikiranmu, Kak? Hiks, hiks. Mengapa? Mengapa masih ada yang tega menyakiti manusia sebaik dirimu?"
"Mereka pantas melakukan itu. Jangan menangis lagi. Nanti Rey marah padaku karena telah membuat pacarnya yang manis ini menangis," balas Johan lagi.
Atha mengangguk dan mulai mengobati sudut bibir Johan lagi. "Tadi ... aku dan Kak Rerey bertemu wanita yang mengaku kau hamili itu."
"Benarkah? Lalu?"
"Aku membaca pikirannya, berusaha mencari kebenaran."
"Dan?"
"Semua yang ia pikirkan persis seperti yang kau ceritakan. Tak ada kebohongan sama sekali."
Johan mengangguk pelan. "Hm. Kakak akan menikahinya selepas lulus nanti."
"Jangan secepat itu. Aku masih akan berusaha mencari kebenarannya," celetuk Reyhan cepat.
"Untuk apa, Rey? Semuanya sudah jelas perbuatanku," balas Johan malas.
"Tapi, Kak ...? Haruskah- maksudku bagaimana dengan kak Hale?" tanya Atha benar-benar tidak rela.
"Hm. Tidak ada jalan lain lagi," balas Johan pasrah.
"Jangan langsung mengambil keputusan sebelum aku selesai mencari tahu," ujar Reyhan lagi, sangat serius.
Johan terdiam lalu mengangguk singkat. Jujur saja, ia masih tidak begitu percaya juga, tapi ... bagaimana lagi. Kebenarannya sudah seperti itu, meski ... meski itu masih terlalu sulit juga untuk ia terima.
❀❀❀