
Johan memarkirkan mobilnya kemudian turun begitu saja. Pagi ini, ia datang menjemput Halsey seperti biasa. Tapi yang ia dapati malah gadis itu telah pergi lebih dulu sebelum ia datang. Johan tahu Halsey sengaja melakukannya, sebabnya, kini ia akan datang menemui untuk menjelaskan semuanya agar masalah mereka bisa cepat selesai.
Setelah menyusuri koridor dan anak-anak tangga beberapa kali, kini Johan telah berada di hadapan kelas Halsey kemudian merenggang masuk begitu saja. “Kita bisa menyelesaikan semuanya baik-baik, Hale. Haruskah kau bersikap semarah itu padaku hanya karena-"
“Jangan bilang kau menganggap perbuatanmu hanya masalah kecil," potong Halsey langsung.
Johan membuang napas kasar seraya memandang Halsey lelah.
“Pergilah. Tebarkan pesonamu di luar sana, jangan di sini. Jangan menggangguku.”
Johan membuang napas lebih kasar kemudian merenggang pergi. Sungguh, ia juga bisa kesal jika Halsey terus-terusan menyebutnya gemar tebar pesona begitu. “Kucium baru tahu rasa dia!” gumamnya seraya terus melangkah.
Selepas menyusuri anak-anak tangga beberapa kali, ia berhasil menapakkan kaki di lantai rooftop. Seraya mengeluarkan bungkus rokok juga pemantik dari saku seragamnnya, Johan melangkah ke tepi rooftop kemudian menjuntaikan kakinya ke bawah.
Dibakarnya gulungan tembakau itu perlahan, menghisap lalu menghembuskan asapnya ke udara dengan matanya memandang damai pada manusia yang tampak berlalu lalang di bawah sana.
“Aku melakukannya untukmu, Hale. Meski aku yakin kau tidak mudah dibuat jatuh, tetap saja kehilanganmu adalah hal terbesar yang kini paling kutakutkan,” batinnya.
“Apa Hale marah padamu?”
Johan menoleh dan mendapati Alan juga Reyhan di sisi kirinya. Kedua Pria itu tampak berjalan mendekat ke arahnya lalu ikut duduk menjuntaikan kaki.
“Hm. Dia bahkan tak mau memberiku kesempatan untuk menjelaskan,” balas Johan kemudian.
“Yang sabar, ya, Johan. Aku turut bersedih padamu,” ujar Alan mengejek seraya mengusap pelan kepala Johan berkali-kali.
Tak seperti biasa, kini Johan tampak betah terdiam dan tak menanggapi Alan. Perasaannya sedang sangat berantakan sekarang, terlebih lagi jika memikirkan urusan Fito juga Halsey. Meski ia sudah berhasil membuat Fito berdarah-darah kemarin, tetap saja masih ada kemungkinan pria itu kembali berbuat ulah. Memang, waktu terburuk adalah ketika musuh berhasil tahu kelemahanmu.
“Hidupku benar-benar berubah rumit semenjak merasakan jatuh cinta ...,” lirih Johan dengan tatapannya yang lurus sendu.
“Mbwuaha-"
Plak!
Alan meringis seraya mengusap dahinya pelan. “Kau kenapa, sih, Brengsek?!” tanyanya menatap Reyhan kesal.
“Kau yang kenapa tertawa? Itu sama sekali tak lucu!” balas Reyhan berbalik menatap kesal kemudian berpindah melirik Johan. “Bagaimana jika kita masuk belajar dulu hari ini? Kurasa mood-mu sedang sangat buruk,” ujarnya kemudian.
Johan menoleh kemudian mengangguk. Ketiga Pria itu lalu mulai saling beranjak berdiri kemudian berlalu meninggalkan lantai rooftop.
Bu Mila yang mengisi jam pelajaran terakhir di kelas Halsey baru saja keluar. Beberapa pelajar mulai berhambur, begitupun Halsey. Ia kini tampak memasukkan buku\-buku dan peralatan lain miliknya ke dalam tas kemudian mulai melangkah menuju pintu setelahnya.
Baru saja beberapa langkah, seketika ia tersentak kaget tatkala mendapati sosok Johan yang kini berdiri tepat di hadapannya sembari tersenyum lembut. Jika saja tidak sedang marah pada Pria itu, Halsey pasti sudah berteriak sejak tadi.
“Aku mengagetkanmu, ya?”
Halsey hanya melirik Johan sekilas kemudian berjalan melewati tubuh Pria itu. Kesalahannya memang tak seberapa, hanya saja, ia ingin membuat Johan kapok untuk berhenti merusak janjinya sendiri di esok\-esok.
“Pulang denganku, ya, Sayang?” bujuk Johan seraya memandangi Halsey dari samping, dengan tangannya yang bergerak menyelipkan anak\-anak rambut Gadis itu ke belakang kuping.
Lagi\-lagi Halsey tak menanggapi. Ia terus saja melangkah seolah tak menganggap siapa pun tengah bersamanya.
Menyaksikan itu rasanya membuat Johan terikut kesal. Padahal kesalahannya sama sekali tak seberapa, lalu mengapa Halsey harus sebegitu marahnya? Terlebih juga ia melakukan itu guna melindunginya, bukan?
“Tak bisakah kau memberiku kesempatan untuk menjelaskan, Hale? Kesalahanku sama sekali tak seberapa, Sayang ...! Mengapa kau harus sampai semarah ini?!” Kini Johan telah mengungkung Halsey hingga membentur tembok. Menatap Gadis itu dalam\-dalam, dengan sorot matanya yang penuh sorot memohon.
Halsey membeku. “Lepaskan aku, Johan!” teriaknya panik seraya langsung mendorong tubuh Johan menjauh.
“Tidak akan."
“Lepaskan, atau aku teriak sekarang juga!”
Johan terkekeh pelan. “Teriak saja, Sayang. Nanti kubekap mulutmu dengan bibirku, oke?”
Plak!
“Lepaskan aku!”
“Sudah kubilang tidak akan.”
Halsey membuang napas kasar seraya memalingkan wajah ke arah lain. Tamparan saja memang tak akan mempan untuk membuat Johan mundur.
“Hale?”
Halsey beralih menatap Johan lelah. “Kau tak mengerti, Johan ...!”
“Kalau begitu katakan agar aku mengerti, Sayang.”
“Menjauhlah.”
Johan menurut dan mundur perlahan. Ia lalu menggandeng tangan Halsey kemudian menuntun Gadis itu terduduk di sebuah bangku panjang. “Katakanlah,” pintanya seraya kembali membelai rambut Halsey dari samping.
Halsey tampak menarik napas dengan pandangannya ia lempar lurus. “Hari itu, mommy datang ke rumah dan membawaku pergi ke sebuah taman.”
Johan menautkan alis. “Mommy ...?! Mommy siapa, Hale?” tanyanya cepat.
Halsey menoleh. “Mommy Hanum,” balasnya kemudian berpaling menatap lurus lagi.
"Bagaimana\- ... kapan ia menemuimu?" tanya Johan dengan nada tak percaya.
"Setelah tiba di bawah, aku mendapati sosok wanita paruh baya. Ia tersenyum padaku, kemudian memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan 'mommy'."
"Setelahnya, ia mengajakku mengunjungi sebuah taman kemudian menceritakan perihal penyakitnya." Halsey menoleh pada Johan.
Ia mendapati Pria itu masih memasang ekspresi tenang, tapi tetap saja, air matanya sudah sejak tadi mengalir banyak. Dasar Pria sejati. Masih sempat\-sempatnya saja berusaha terlihat tegar.
"Ia memohon padaku agar bisa merubahmu menjadi lebih baik, sebab katanya ..., kau tak pernah bisa menolak permintaan dari orang\-orang yang kaucintai." Halsey kembali menatap lurus seraya menarik napas panjang.
"Jika kau masih mengataiku berlebihan, maka pikirkan lagi. Aku belum cukup kaucintai, sebabnya kau merusak janjimu padaku, hingga aku pun terikut merusak janjiku pada mommy," ujarnya kemudian beranjak berdiri dan langsung merenggang pergi.
Johan masih terpaku pada posisinya. Tampak lemah dan seolah tiada niat untuk berusaha pergi dari sana. Ia merasa sebagai orang paling bodoh di dunia. Benar\-benar menyesal telah mengecewakan orang\-orang yang bersusah payah mencintai dan peduli padanya.
\*\*\*
Setelah berhasil memarkirkan mobilnya di garasi, Halsey mulai melangkah mendekat ke arah pintu utama rumah. Diskusi seharian tadi benar\-benar terasa menguras tenaganya, jadi sekarang, ia memutuskan untuk tidur lebih dulu dan makan setelahnya saja.
"Assalamualaikum ...."
"Hale?! Aku telah kembali!"
Halsey menoleh ke arah suara dan mendapati sosok Malik yang kini berlari menghampirinya dengan wajah cerah. "Malik? Sejak kapan kau datang?" tanyanya kemudian.
"Aku tak ingat jamnya, terpenting masih sangat siang," balas Malik.
Halsey hanya mengangguk\-anggukkan kepala seolah mengerti.
"Hale? Kau tak senang aku datang, ya?" tanya Malik dengan nada kecewa.
"Eh? Tidak, kok. Aku hanya sedang merasa lelah saja," balas Halsey tersenyum tipis.
"Atau mungkin kau memang tak mengharapkan kedatanganku, ya? Ah, dadaku rasanya sesak sekali."
Bugh!
"Kuinjak mulutmu baru tahu rasa," ujar Halsey menatap Malik galak setelah berhasil mendaratkan pukulan di dada Pria itu.
"Kau masih tetap galak rupanya," balas Malik seraya terkekeh pelan. "Ngomong\-ngomong ... istrahatlah. Kau sepertinya memang lelah. Wajahmu kusut sekali," sambung Malik lagi dengan tangannya yang terlurur mengacak\-acak rambut Halsey.
"Baiklah, terima kasih. Nikmati waktumu, ya. Aku tahu kau sangat sering makan, jadi makan apa pun yang kau mau selama itu ada," balas Halsey menampakkan senyum mengejek kemudian berjalan menjauh.
Setelah berhasil tiba di kamarnya, segera ia mengganti pakaian kemudian melangkah ke kasur dan merebah.
"Aaaaachinnn!"
Meski membuat hidung merah, tetap saja bersin rasanya benar\-benar nikmat. Halsey memijat pelan hidungnya beberapa saat, hingga entah apa penyebabnya, ia menyadari bahwa pikirannya sekarang pelan\-pelan berpindah pada Johan.
Jujur saja ia sangat penasaran dengan keadaan pria itu. Terlebih setelah mengingat bagaimana ia menangis tadi. Sungguh itu adalah kali pertama Johan menampakkan sisi rapuh dan lemahnya, meskipun ... masih ada sedikit usaha untuk terlihat tegar.
Halsey berharap Johan bisa dibuat berpikir atas penjelasannya tadi. Tujuannya bersikap dingin belakangan ini memang hanya itu, sebab rasanya tak tega juga untuk berlama\-lama, apalagi jika kembali mengingat betapa memilukannya hidup Johan.
Setelah menarik napas panjang, perlahan Halsey memejam.
Sementara itu, di sebuah rumah sederhana milik Hanum, tampak sosok Pria tengah duduk meringkuk di sudut dinding dengan kedua tangannya memeluk sesuatu di perut.
Setelah mengumpulkan banyak kesiapan selama beberapa hari, kini rasa bersalah sekaligus rindu telah berhasil membawanya ke sana.
"Maafkan aku, Mom ...," lirih Johan.
"Aku\- aku melakukannya untuk, Hale ...."
"Aku mencintainya, Mom. Aku tak ingin kehilangan perempuan terkasihku lagi ...."
"Maafkan aku, Mom ...," lirihnya lagi seraya mengangkat kemudian memandangi bingkai foto milik Hanum yang tadinya ia dekap di perut.
"Maaf telah mengecewakanmu .... Aku akan berusaha membujuk Hale lagi. Aku berjanji." Johanmendaratkan kecupan dalam pada foto tersebut, tepat di pipi kanan Hanum.
"Aku menyayangimu, Mom."
❀❀❀