Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Takdir dan Pilihan



"Keluar kau dari sini, Anak Sialan!"


Johan sudah terduduk di lantai dengan isakannya yang tak kunjung reda. Tubuhnya lemah, seolah tak ada lagi kuasa untuk bangkit dan beranjak dari sana.


"Keluar dari sini sebelum aku benar-benar niat menghabisimu, JOHAN!"


Wajah sedu Johan seketika mengeras. Deru napasnya memompa cepat, bahkan sorot amarah di iris coklat gelapnya itu benar-benar nampak dengan jelas.


Ia lalu mendongak menatap Harris penuh amarah kemudian langsung bangkit dan berlalu pergi begitu saja. Tangannya merogoh saku celana cepat, berusaha menemukan label kontak 'Bidadari Jutek' di ponselnya, hingga tanpa sadar, langkahnya kini sudah berhasil tiba di sisi tubuh mobil.


Panggilan pertama tak ada jawaban dari Halsey. Begitujuga dengan panggilan kedua.


"Hale mungkin sudah terlelap," gumamnya pelan.


Johan memutuskan untuk mencoba sekali lagi. Jika masih tak ada jawaban, maka-


"Assalamualaikum, Halo?"


Johan tersenyum tipis setelah mendengar suara Halsey dari seberang sana. Hatinya berubah tenang hanya dengan mendengar suara Gadis itu. Bahkan, perasaan kacaunya yang tadi juga seolah terhapuskan. "Waalaikumsalam. Apa kau sudah terlelap?"


"Aku baru saja salat isya."


Johan langsung melirik jam yang melingkar di tangannya sekilas. Ternyata masih pukul 19.23 PM. "Tadinya, aku hendak mengucapkan selamat malam, tapi ternyata belum waktunya."


"...."


"Hale?"


"Ya."


"Aku membutuhkanmu."


"Maksudmu?"


"Bisakah kita bertemu?"


"Ini sudah malam. Assalamualaikum."


Tett!


Johan membuang napas kasar setelah Halsey memutuskan sambungan teleponnya sepihak. Pria itu lalu mendudukkan bokongnya di jok kemudi, memukul setir mobil sangat keras seolah meluapkan segala amarahnya dengan tangis keras tanpa suara. Cukup lama ia dalam keadaan itu. Wajah yang biasanya penuh kelembutan berubah mengeras, bibir yang senantiasa tersenyum lebar itu berganti terkatup rapat, bahkan netra indah yang biasanya menenangkan itu, kini hanya penuh sorot amarah.


Johan menyalakan mesin mobilnya cepat. Melajukan dengan brutal, hingga pelataran rumah mewah milik seorang 'Harris Fernandez' tertinggal jauh di belakang.


Hidupnya sudah cukup berlimpah kemewahan, tapi ... mengapa ia tak pernah merasa benar-benar bahagia?


Harta tidak selalu jadi penentu, sebab banyak manusia tak kaya di luar sana, jauh lebih bahagia daripada dirinya yang  sudah hampir punya segalanya.


Terkadang, bahagia memang harus dipercaya sebagai takdir, terkadang pula sebagai pilihan.


Manusia-manusia yang tak pernah merasa bersyukur barang sekali atas keberkahan hidupnya akan selalu merasa kurang dan tak pernah bahagia.


Ada, bahkan mungkin banyak sekali manusia di luar sana yang bisa saja mendambakan hidupnya. Merasakan kecukupan materi, atau langsung mendapatkan segalanya dengan uang, cukup dengan uang. Lalu dirinya?


Sungguh ia bersyukur atas kecukupan materi yang di berikan Tuhan untuknya, tapi ...  untuk apa semua uang-uang itu jika mereka tak bisa membuatnya merasakan dekapan hangat dari sebuah keluarga utuh yang saling mencintai? Mencintai tanpa pamrih, mencintai tanpa saling memberi perih.


"Mari nikmati malam ini, dan biarkan vodka membuatmu melupakan segalanya!" Johan berteriak parau sebelum kepalanya tergeletak di meja dengan kesadarannya yang perlahan hilang.


Halsey tampak baru saja menunaikan salat subuh. Hari ini adalah Minggu, namun meski demikian, Gadis itu tetap bangun lebih awal seperti hari biasa.


Setelah merapikan rambutnya, ia memutuskan untuk menengok ponselnya lebih dulu.


Johan


Semoga mimpi indah. Aku sangat mencintaimu.


03.24 AM


Pesan itu dikirim pukul 03.24 menit. Sangat telat, tak seperti biasanya.


Halsey memilih meletakkan kembali ponselnya di atas nakas kemudian mulai melangkah menuju pintu kamarnya. Perlahan, Gadis itu menuruni anak-anak tangga hingga tiba di lantai bawah dan mendapati Shiren yang tengah menyiapkan sarapan.


"Selamat pagi, Bu."


Shiren menoleh lalu tersenyum. "Pagi juga, Sayang. Tunggu sebentar lagi, ya."


"Aku akan membantumu, Bu," balas Halsey melangkah mendekat  pada Shiren.


Setelah beberapa menit mereka saling sibuk menyiapkan sarapan, Mahesa tampak muncul dan duduk di kursi meja makan dengan wajah hangatnya seperti biasa. "Zaki baru saja menghubungiku. Katanya ia tiba di Indonesia dua hari yang lalu dan akan berkunjung kemari nanti malam," ujar Mahesa seraya meresap cangkir berisi teh di tangannya.


"Sahabatmu itu memang sudah terlalu lama di Amerika. Kalau tidak salah, mereka meninggalkan Indonesia beberapa hari setelah pernikahan kita, bukan?" tanya Shiren seraya mulai meletakkan sarapan yang baru saja dibuatnya ke atas meja.


Halsey mengambil tempat untuk duduk di kursi lalu mulai meraih sarapannya. Seperti biasa, Gadis itu hanya diam mendengarkan isi perbincangan antara Mahesa & Shiren.


"Benar juga. Seingatku, Baila dan Hale masih berusia 5 tahun saat itu," balas Mahesa mengangguk-angguk.


"Ayah menyebut namaku barusan?"


Semuanya menoleh ke arah suara, terkecuali Halsey. Ia sudah tahu pemilik suara, lalu untuk apa lagi berbalik?


"Selamat pagi, Sayang," sapa Shiren tersenyum lembut.


Baila berjalan mendekat lalu mendudukkan dirinya di kursi sisi kanan Halsey. "Selamat pagi, Bu,"balasnya kemudian berpindah melirik Mahesa. "Ayah tadi menyebut namaku. Kenapa?" Baila memasukkan potongan roti ke mulutnya.


"Om Zaki baru saja pulang dari Amerika dan akan berkunjung kemari nanti malam. Mereka meninggalkan Indonesia saat usia kalian masih 5 tahun," jelas Mahesa.


Baila tampak berpikir. "Om Zaki? Aku tidak bisa ingat orangnya."


"Tentu saja, Sayang. Kau masih terlalu kecil waktu itu," balas Shiren.


Mereka kembali menikmati sarapan dengan hening. Setelah beberapa saat lamanya, terdengar suara nyaring yang dihasilkan oleh peraduan antara garpu dan piring.


"Baila? Kau kenap-"


"Aku mengingatnya, Bu! Kalau tidak salah, mereka memiliki seorang putra bernama Malik, bukan?!" Baila berteriak begitu heboh hingga Mahesa bahkan hanya bisa tersenyum geli.


"Ya ... ingatanmu cukup kuat, Sayang," sahut Mahesa terkekeh.


"Tentu saja, Ayah. Dulu Malik adalah teman bermainku dan Hale. Aku sangat akrab dengannya, sedangkan Hale, mereka malah lebih sering bertengkar," jelas Baila kemudian melirik Hale dengan senyum mengejeknya.


"Bertengkar? Memangnya kenapa, Hale?" tanya Mahesa seraya melirik Putri-nya yang masih tampak sibuk mengunyah itu.


❀❀❀