Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Hingga Akhir Waktu



Jleb!


Jleb!


Jleb!


Jleb!


"Hale ...."


Tubuh Johan sudah tersungkur ke lantai dengan sebuah pisau yang menancap di perutnya. Halsey ternganga dengan mata membulat dan kedua tangannya yang menutup mulut tak percaya. "A-APA YANG KAU LAKUKAN, SAM?!"


Sam hanya tersenyum jahat kemudian berlalu pergi begitu saja.


"Ya Allah, Johan?! JOHAN?!"


Dengan tangis histerisnya yang telah pecah, Halsey langsung menghampiri tubuh Johan di lantai. Menarik kepala Pria itu ke pangkuannya, kemudian membelai wajah lemahnya dengan tangis yang semakin histeris.


"H-Hale ...? Uhuk uhuk!"Johan terbatuk-batuk dengan darah yang berhasil lolos dari mulutnya.


"Johan? Bertahanlah, Johan ... hiks, hiks ...."


"ALAAAN?! REYHAN?! CEPAT, KEMARI! KUMOHON! Hiks ...."


"Hale ...." Dengan lemah, Johan menyentuh wajah Halsey. Mengusap pipi Gadis itu pelan, dengan sisa-sisa tenaganya yang hampir habis. "J-jangan mena ... ngis, Say ... ang ...."


Halsey mengangguk keras. "JOHAN?! Bertahanlah, Johan!"


"ALAN?! REY?! CEPAT KEMARI! KUMOHON, CEPATLAH!"


Brak!


Brak!


Pintu kembali terbuka, menampakkan sosok Reyhan dan Alan dengan raut panik luar biasa yang saling menghiasi wajah mereka.


"AARRRRGH! SAM BRENGSEK! JANGAN PERGI BEGI-"


"BERHENTI, REY! CEPAT BAWA JOHAN KE MOBIL!" cegah Alan cepat.


Detik berikutnya, Reyhan dan Alan langsung menghampiri tubuh Johan kemudian mengangkat Pria itu hingga tiba di mobil.


"Johan? Bertahanlah. Aku tahu kau kuat," ujar Reyhan bergetar.


Setelah ikut masuk, Halsey kembali menarik kepala Johan ke pangkuannya, sementara Alan dan Reyhan juga sudah berhasil duduk di jok mereka masing-masing. "Cepat, Alan! Kumohon ... hiks ...."


Halsey menunduk. Memandangi wajah lemah Johan, kemudian membelainya lagi dan lagi. "Johan ...? Kau harus kuat, Johan. Sebentar lagi, ya. Bertahanlah ...."


S[AMBIL DENGERIN LAGU SEDIH + SIAPIN TISSUE BUAT LAP INGUS]


Johan membuka pejamannya perlahan. Menatap lurus ke netra madu kesukaannya itu, kemudian menarik sudut bibirnya berusaha tersenyum. "Hale ...."


Halsey semakin terisak. "Iya, Johan ... hiks."


"Aku bil ... ang jangan ... menangis, Sayang ...."


"Apa yang kau katakan ...?! Bagaimana aku tidak menangis saat kondisimu sudah seperti-" Ucapan Halsey terpotong saat Johan langsung menaruh telunjuk di bibirnya.


"Hale ...?"


"I-iya ... hiks."


Johan kembali tersenyum seolah berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. "Aku ... kali ini aku mungkin benar-benar a-akan ... pergi, S-sayang ...."


"Tidak, Johan .... hiks. Aku tahu kau kuat, aku tahu!" balas Halsey tidak terima.


Johan menunduk. Melirik darah yang semakin mengalir dari bekas tancapan pisau di perutnya tadi, kemudian berpindah menatap Halsey lagi. "Hale ...?"


Halsey langsung mengangguk keras. Menggenggam tangan Johan yang masih saja berusaha mengusap pipinya.


"S-setelah aku per ... gi, aku ... aku mungkin tidak bisa selalu menjagamu lagi. Mengawasimu dari jauh, menemanimu duduk dan m-makan roti berdua di taman, membuatmu tertawa, membawamu jalan-jalan sepulang sekolah, mengirimkanmu pesan selamat malam, d-dan bernyanyi untukmu sebelum tidur, atau ..., atau mengusap pipimu saat kau sedang menangis seperti ini ...." Johan mengusap pipi Halsey lemah.


"Joh ... an jangan bilang seperti itu ...! Kumohon, jangan ... hiks, hiks ...."


"Hale ....?"


Halsey kembali menggeleng tak terima. "Jangan bilang seperti itu, Johan ... hiks, hiks ... jangan ...!"


Dengan susah payah, Johan masih sempat-sempatnya lagi berusaha tersenyum. "Aku tahu kau b-bisa menjaga dirimu sendiri, Sayang, tapi ... Alan dan R-Rey ... mereka yang akan menggantikanku ...."


"Sudah, Johan ... kumohon! Jangan berbicara-"


"A-Allah tidak mentakdirkan kita untuk menikah, Sayang. Aku minta maaf jika lagi-lagi mengingkari janjiku, tapi ... uhuk! Uhuk!" Johan terbatuk hingga darah kembali mengalir keluar dari mulutnya.


Halsey semakin terisak histeris, sementara Alan dan Reyhan yang menyaksikan itu juga mulai saling mengusap sudut mata.


"Impianku un ... tuk membuat anak selusin denganmu mungkin tidak bisa kutepati, Hale, jadi ... kau- kau harus tetap melanjutkan hidupmu dengan baik, mengerti ...?"


"Kejar impianmu setinggi-tingginya, dan ... dan raih semua gelar kehormatan yang kaudambakan itu."


Johan tampak semakin kesulitan bernapas. "D-dan juga ... carilah pria yang bisa mencintaimu lebih dari aku. Yang bisa memahamimu lebih dari caraku, dan ... uhuk! Uhuk!"


"Johan .... hiks. Sudah, Johan ... kumohon. Aku tidak mau kehilanganmu ... hiks, hiks. Kau harus berta-"


"H-Hale ...?" Napas Johan semakin tercekat. "Carilah pria yang tahu caranya mencintaimu dengan benar, Sayang ... uhuk! Kau harus tetap jadi Hale-ku yang mahal ..., Gadis Jutek-ku yang tidak gampangan ..., dan ... jangan mudah termakan rayuan manis pria. Carilah yang bisa mencintaimu apa- apa ... adanya, Hale. Yang bisa menunjukkan perasaannya secara nyata, dan ... dan selalu bisa menjaga juga mempertahankan kehormatanmu."


Halsey tak sanggup lagi. Tangisnya yang pecah sudah semakin sarat akan penyesalan. "Cukup, Johan ... hiks, hiks. Aku tidak mau dengar lagi! Cukup ...!"


Semua orang dalam mobil itu telah menangis histeris. Reyhan yang bahkan sangat sulit tersentuh, kini ... bahunya mengguncang karena terisak. Mengapa harus Johan? Apa semua orang baik memang selalu lebih dulu diambil? Ia mungkin tidak rela, tapi untuk tetap menyaksikan Johan hidup dengan segala penderitaannya itu ....


"Johan? Aku mohon bertahanlah, Johan ...," lirih Alan bergetar.


"Alan ... Rey ...?"


Reyhan langsung membalikkan tubuhnya ke belakang, berusaha menyembunyikan wajah pilunya dari Sahabat terkasihnya itu.


"Jagakan Hale untukku, dan A-Atha ... juga. Jangan sering ... menyakitinya, dan ... b-berusahalah untuk selalu membuatnya bahagia ...."


"Dan Alan ...? Kau ... k-kau harus tetap berusaha, ya. Jangan putus asa untuk merasakan jatuh cinta. Aku ... aku yakin kau pasti bisa menemukan sosok Gadis yang kau c-cari selama ini ...."


Alan tak membalas. Ia tak tahu bagaiamana menggambarkan betapa hancur perasaanya sekarang. Isakannya benar-benar keras mengalun tatkala membayangkan hari esok jika Johan benar-benar berpulang. Siapa yang akan menjadi teman bertengkarnya lagi? Teman berpelukannya saat tidur bersama, atau ... atau teman untuk saling memaki, dan saling memanggil dengan sebutan sayang-nya?!


"Aku menyayangi kalian, s-sangat. Terima kasih karena selalu ada. Terima kasih atas segala ... kenangan yang kalian cipta, terima ka ... sih ...." Johan kembali menatap Halsey. Memandangi wajah Gadis itu cukup lama, seolah berusaha mengenang selama-lamanya.


"Johan ...." Tangis Halsey melemah.


"Aku mencintaimu ..., Hale. Sekarang, selamanya, bahkan dalam kehidupanku setelah ini ...."


Dengan tetap terisak, Halsey membiarkan Johan menariknya menunduk. Berusaha untuk menghirup banyak-banyak hembusan napas Pria itu, sebelum akhirnya ....


"Bukan aku yang menghamili Zara ...."


Bibir mereka telah bertemu, bersamaan dengan mata Johan yang perlahan memejam abadi.


"Hiks. Johan ...?"


"BANGUN, JOHAN! BANGUUUUN! JANGAN TINGGALKAN AKU, JOHAN! Hiks, hiks ...."


"Johan ...?"


"Mengapa kau tak menepati janji?! HUH?!"


"Johan ... hiks, hiks."


"Jangan tinggalkan aku, Johan ...!"


"Johan ...?"


"BANGUN, Johan ... hiks. Kumohon buka matamu ...!"


"Johan ... hiks, hiks ...."


Ia tak lagi mendengar detak jantung kesukaannya itu. Tak ada lagi hembusan napas yang menenangkan itu. Johan ... Johan benar-benar telah menutup mata dengan damai. Johan benar-benar pergi. Tidak menepati janjinya untuk bersama hingga akhir nanti.


"Aku menyayangimu, Johan ...," lirih Alan terisak keras.


Sementara Reyhan, Pria itu hanya melempar pandangannya keluar jendela. Genangan di pelupuk matanya semakin mengalir deras. Menyisakan jejak di pipi, namun isakannya tak juga kunjung terdengar. Ia menangis dalam bungkam. Masih berusaha untuk mengatakan tidak, meski Johan sudah berakhir benar-benar di depan matanya.


❀❀❀


















**Sudah. Tolong jangan menangis lagi. Kalian tahu, kan, aku tidak suka menyakiti perempuan? Jangan membuatku semakin merasa bersalah. Aku tidak pantas ditangisi.


Dan ... maaf untuk segalanya. Kalian harus tahu jika aku memang se-lemah ini. Selain lemah, aku juga lelah. Hidupku terlalu berat. Aku tidak cukup kuat. Aku butuh istirahat yang panjang. Aku perlu melepas penat**.



**Lihat? Aku sekarang tersenyum.


Sudah malam. Ayo, tidur bersama. Matikan lampu kamarmu, tarik selimut hingga dada, lalu memejamlah. Coba bayangkan wajahku.


Sudah?


Sekali lagi, maaf. Maaf sudah mengecewakan berkali-kali. Maaf karena tidak bisa bertahan hingga akhir.


Aku berharap kalian bisa mengenangku selalu. Senyumku, sifat mesumku, keceriaanku, kesedihanku, semuanya. Tolong ingat aku selalu. Tolong jangan buang namaku dari benakmu.


Selamat tidur**. :)


______________________________


**BHAHAHAHHAHAHHAHAA!


Meninggal beneran, gak, ya? 😔


Pantengin up-nya besok, ya. Please jangan marah ke Author. 😂😍 Maaf udah bikin kalian spam komen sampe segitunya. :( Gak ada niat lain, kok. Cuma pengen tahu gimana antusiasnya kalian aja biar Author makin semangat nulis. 😌


Dan buat next part, Author nggak bakal membebani lagi. Silakan kalian like, komen, dan vote Author seikhlasnya biar berkah wkkwkw.


Dan oh, ya. Selamat buat @armyh28, @ayu, @yeni degusti dan kalian2 yang udah mau spam. Kalian hebat, astaga. Sampe segitunya banget. 🤣 Serius, Author nggak nyangka bakal tembus.


Udah, ya, gitu aja. See u. 🖤**