
"Baiklah. Kalau begitu, biarkan waktu yang menerjemahkan perasaanmu pada Hale. Kapan-kapan, Mom ingin bertemu dengannya, jadi sekarang jelaskan bagaimana hingga kau bisa bonyok begini."
"Aku dikeroyok, Mom," balas Johan santai seraya kembali berbaring di pangkuan Hanum.
"Bagaimana bisa, Johan? Apa permasalahannya?" tanya Hanum panik.
"Kau tahu, kan, Mom? Sejak dulu, aku sangat tidak suka bahkan akan menghajar siapa pun jika kudapati bersikap kasar atau menyakiti perempuan."
"Awalnya, aku hanya berkelahi dengan Fito saja, tapi sepulang sekolah, ia langsung mengeroyokku bersama-sama, hingga aku pingsan dan harus diopname selama sehari di rumah sakit," jelas Johan lagi.
"Mom seharusnya bangga denganmu, Sayang, tapi ... Mom rasa itu bisa membahayakan dirimu sendiri. Mom selalu merasa tak berguna dalam merawatmu. Saat kau dirawat saja, Mom tidak ada di sisimu. Yang harusnya merawatmu, mengurusmu hingga kau semb-"
"Mom? jangan dipikirkan," potong Johan sembari tangannya yang langsung mengusap pipi Hanum lembut. "Biarkan aku tidur sebentar saja di sini, ya?"
Hanum mengangguk lalu kembali mengusap rambut Johan lembut. Andai saja ia bisa memutar waktu, maka perceraian itu seharusnya tak terjadi saja agar Putra-nya bisa lebih bahagia.
***
"Kau harus melaksanakan kewajibanmu sebagai seorang muslim, Johan. Mom tidak mau tahu! Pokoknya, setelah pulang ke Indonesia nanti, kau sudah harus ingat bacaan salat dan itu sudah harus menjadi kebiasaanmu!" omel Hanum seraya kembali melanjutkan aktivitasnya menutup tirai jendela.
Johan yang tengah berbaring di atas kasur pun hanya sibuk menggeliatkan tubuhnya. Tak hanya itu, beberapa kali ia bahkan berguling-guling karena pusing mendengar Hanum yang belum juga berhenti mengomel hanya karena ia tak menunaikan salat. "Iya, Mom-ku Sayang. Aku akan berusaha," balasnya kemudian.
Hanum tampak menghentikan aktivitasnya lalu berbalik menatap Johan lagi. "Dengar, Sayang ...! Berapa lama pun kau hidup namun tidak melaksanakan salat, itu tetap tidak ada gunanya. Kau harus salat, Johan, mengerti?"
"Iya, Mom. Aku akan belajar lagi na-"
Drrrrtttt .... Drrrttt ....
Johan menelan saliva berat setelah mendapati deretan huruf bertuliskan 'Daddy' dari balik layar ponselnya.
"Siapa, Johan?"
Johan melirik Hanum sekilas. "Daddy, Mom. Aku akan mengangkatnya."
Pelan, tangan Johan bergerak menggeser ikon telepon hingga panggilannya berhasil tersambung.
"Halo?"
"Datang ke ruanganku dalam 40 menit."
Tettt!
"Apa yang dia katakan, Johan?" tanya Hanum cemas sembari langsung menghampiri Johan di tepi kasur.
"Daddy memintaku untuk datang ke ruangannya, Mom. Aku harus berangkat sekarang," balas Johan kemudian beranjak bangkit namun Hanum mencekal pergelangan tangannya cepat.
"Kau tidak mungkin ke sana dalam keadaanmu yang seperti ini, Sayang ...! Harris pasti akan memukulimu lagi ...," lirih Hanum dengan tangis yang telah pecah.
Johan tersenyum lembut lalu mengusap lembut kedua pipi Mommy-nya itu. "Jangan khawatir, Mom. Aku bisa mengurusnya sendiri," balasnya berusaha menenangkan.
Laju mobilnya perlahan melambat hingga berbelok memasuki sebuah gerbang rumah mewah. Johan bergegas turun, melalui beberapa penjaga dan pelayan rumah yang selalu menyambut kedatangannya antusias, seperti biasa.
Setelah beberapa lama, terakhir ia tiba di depan pintu sebuah ruangan. Tangannya perlahan terulur lalu ....
Tok .... Tok!
"Masuk."
Johan memutar kenop pintu hingga penampakan ruangan yang tertata rapi itu langsung menyambut.
"... begitu. Aku menunggu berkasnya besok." Harris tampak memutuskan sambungan telepon dan perlahan menjauhkan benda itu dari kupingnya.
"Masuklah. Jangan berdiri di pin-" Pria paruh baya itu tampak terpaku sesaat setelah mendapati Johan dengan wajahnya yang sudah penuh lebam dan memar. "Anak bodoh! Sampai kapan kau akan terus membuat masalah saja?! Hah?! Kau pikir ada gunanya semua itu?!"
Johan hanya terus memandang Harris tenang. Menulikan telinga terhadap umpatan-umpatan yang semakin lolos banyak dari mulut Pria itu. "Ada apa Daddy memanggilku kemari?"
Raut geram langsung tampak dari wajah Harris. Bahkan, ia kini sudah melangkah mendekati Johan kemudian mendorong Putra-nya itu membentur meja hingga map-map berisi berkas di atasnya sudah tersiar di lantai.
"Anak kurang ajar! Aku itu Daddy-mu, Johan! Semakin hari kau memang semakin kurang ajar, ya?! Tidak berguna!"
"Kau memang manusia yang seharusnya tidak diberi kesempatan untuk hidup! Wanita sialan itu adalah penyebab semua in-"
"Jangan menyebut mommy-ku sialan, Dad!" potong Johan berteriak. Jika Harris mengumpati dirinya, mungkin ia tidak akan marah. Tapi untuk Hanum ... demi apa pun ia tak akan tinggal diam.
"Apa kau bilang?!"
"Jangan menyebut mommy-ku sial-"
PLAK!
"Seharusnya aku sadar sejak awal, bahwa anak yang terlahir dari sebuah kesalahan sepertimu tidak akan pernah bi-"
"Lalu mengapa kau tak membunuhku sejak awal saja?! Hah?! Mengapa, Dad?! Kesalahan seperti apa yang kau maksudkan? Apa aku adalah benih yang tertanam di luar pernikahan kalian?! Jika benar, mengapa tak membunuhku sejak awal saja agar aku tidak harus hidup dan merasakan semua penderi-"
PLAK!
"Jangan berteriak padaku, Anak Sialan, mengerti?!" Kini, Harris telah mencengkeram erat kerah baju Johan hingga tubuh Putra-nya itu sedikit terangkat dari duduknya.
"Pernahkah sekali saja kau melihatku sebagai Putramu yang kau kasihi? Mengapa, Dad?! Mengapa kalian yang membuat kesalahan tapi harus berakhir dengan aku yang kaubenci?! Mengapa?! Tak bisakah kau menyayangiku sekali saja?! Tak bisakah kau bersikap lembut sekali saja meskipun itu hanya sebuah kepalsuan?!" Johan berteriak diiringi tangis lelakinya.
Rahang Harris sudah semakin mengetat. Sorot amarah di matanya juga sudah tampak sangat jelas. Cepat, ia kembali bangkit masih dengan tangannya yang mencengkram kerah baju Johan, kemudian menarik Putra-nya itu keluar dari ruangan.
Brugh!
"Keluar kau dari sini, Anak Sialan!"
❀❀❀