Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Gara-gara Reyhan



Setelah makan malamnya yang terpaksa, kini Halsey tampak duduk di balkon kamarnya dengan sebuah buku yang ie letakkan di pangkuan.


Pandangannya terarah lurus pada pembatas balkon, tepat di mana ia pernah mengikat selimutnya di sana hanya untuk membantu Johan naik ke atas.


"Mungkin memang salahku karena telah mengatakan hal konyol itu, tapi ... tak bisakah Johan berpikir lagi bahwa aku tidak akan mungkin mau bertunangan di usia yang masih muda begini?" gumam Halsey.


"Tapi ... bagaimana bisa aku langsung saja menjawab dengan hal konyol begitu, ya? Terpikirkan saja rasanya tidak pernah," sambungnya lagi.


Halsey tampak berpikir sembari mengetuk-ngetukkan pulpen yang ia pegang ke dagunya beberapa kali.


"Kira-kira bagaimana aku bisa menjelaskannya pada Johan, ya?" gumamnya lagi.


"Apa aku harus mengirimkan- JAM BERAPA SEKARANG?!"


Halsey bangkit berdiri dengan gesit kemudian melangkah masuk ke kamarnya. Setelah mengedarkan pandangan hingga terhenti pada jam yang menggantung di dinding, lekas ia mencari ponselnya kemudian meraih benda pipih itu.


Setelah kembali duduk di kursi balkon kamarnya, kini jarinya mulai sibuk menggerayahi layar ponsel serius.


"Baiklah. Dua belas menit lagi, jam tidurku akan tiba," bisiknya dengan wajah berseri-seri.


Halsey tampak kembali berpikir. "Jika aku bertemu Johan besok, aku akan menghampirinya kemudian bilang bahwa ucapanku hari itu adalah kebohongan," ujarnya mantap.


Detik berikutnya, wajahnya berubah lesu lagi tatkala sesuatu langsung terangin di benaknya. "Sungguh, aku tidak akan pernah bisa menjadi Gadis seperti itu ...," lirihnya pelan.


"Arggh! Lalu bagaimana lagi? Hanya itu satu-satunya cara!"


Halsey mengusap wajahnya kesal. "Johan? Bagaimana aku harus mengatakannya padamu? Huh?!"


"Kau membuatku gila, Johan! Pokoknya aku tidak akan mau kau bersama gadis hitam itu! Tidak akan!"


Setelah terdiam beberapa saat, tangan Halsey kini menggerak-gerakkan pulpen di atas kertas, menulis beberapa rangkaian kata di sana.


"Aku rindu, Johan," bisiknya membaca tulisan itu.


"Aku rindu! Kau dengar tidak, sih?!"


"Aku rindu, bodoh! Kumohon jangan menjauh ...," lirihnya sembari mendekap erat buku itu lalu memejam dalam.


"Ini menakjubkan!"


Seketika Halsey membuka pejamannya kemudian menoleh ke arah suara. Astaga, sial! Sejak kapan Shiren dan Baila berdiri di sana?!


"I- Ibu?!"


Halsey menutup wajahnya menggunakan buku. Ia benar-benar malu! Demi apa pun, sungguh!


"Aku rindu, bodoh! Hahahahah!" Itu suara Baila.


Shiren hanya mengulum senyum geli sembari mendekat ke arah Halsey. Perlahan tangannya menarik buku yang masih menutupi wajah Gadis itu. "Tidak apa-apa, Sayang," ujarnya lembut.


Halsey menggeleng keras. "Aku malu, Bu. Astaga! Aku-"


"Ibu? Aku rindu Johan ... hiks," lirih Halsey setelah berhasil berhambur memeluk Shiren. Katakan saja ia cengeng, sebab semua manusia yang pernah dilanda penyesalan pasti akan melakukan hal yang sama.


"Iya, Sayang. Menangislah," balas Shiren sembari mengusap lembut surai Halsey.


"Tidak ada, Hale," sahut Baila.


Dengan cepat Halsey mendongak menatap Gadis itu dengan sorot bertanya.


"Kau menunggu ucapan selamat malam dari Johan, 'kan?"


Halsey mengangguk.


"Jam tidurmu sudah lewat lima menit, tapi tetap tak ada pesan apa pun darinya," ujar Baila lagi.


Tangan Shiren terulur membelai rambut Halsey lagi. "Jangan terlalu dipikirkan, Sayang. Sekarang tidurlah, oke?"


Setelah terdiam beberapa lama, akhirnya Halsey mengangguk, hingga mereka bertiga bergegas masuk dan menutup pintu balkon kamar Halsey.


***


Demi apa pun, Halsey tak pernah merasa seberdebar-debar ini hanya karena akan berpapasan dengan Johan. Entah ada apa dengan dirinya, yang jelas ... semua ini benar-benar di luar kendali.


Sembari berusaha terlihat biasa saja, ia berjalan menyusuri koridor dengan wajah datar tanpa ekspresi. Entah mengapa rasanya sulit sekali, padahal bersikap cuek dan seolah tak mengindahkan keberadaan orang-orang di sekitarnya adalah hal paling mahir untuk ia lakukan.


Beberapa langkah lagi mereka akan berpapasan, sementara debaran di dadanya belum juga berubah normal. Ya, ampun, ayolah!


"Hale?"


Halsey menghentikan langkahnya cepat. Astaga, Johan memanggilnya!


Astaga, astaga!


"Hale?"


Setelah berbalik dengan air wajahnya yang sama sekali tak berubah, Halsey mendapati Johan telah berdiri di hadapannya.


"Soal kemarin ... aku benar-benar minta maaf, ya," ujar Johan kemudian.


Halsey mengangguk.


"Baiklah. Aku duluan," sambung Johan lagi kemudian menepuk pelan bahu Halsey dan berlalu dari sana.


"Dasar bodoh!" gumam Halsey merutuki diri sendiri seraya kembali melangkah dengan wajah ditekuk.


***


"Benarkah? Astaga, pasti menyenangkan sekali. Mengapa kita tak sempat menyaksikannya, sih? Aku benar-benar ingin melihat Liam dipukuli hingga bonyok saja."


"Iya, benar. Katanya ia sengaja melempar bola basket hingga mengenai kepalanya Viera, dan jadilah kak Johan yang menyaksikan itu langsung saja memukuli Liam tanpa jeda."


Langkah Halsey terhenti tatkala mendengar nama Johan disebut. Memukuli?


"Ya, Tuhan! Harusnya kepalaku saja yang terkena bola basket itu. Ugh! Tak bisa kubayangkan bagaimana rasanya dibela oleh kak Johan."


Halsey memacu langkahnya lebih lebar sebelum sempat mendengar lanjutan dari perbincangan kedua gadis tadi. Setelah berhasil tiba di taman, langsung saja ia mendaratkan bokongnya hingga terduduk sempurna di kursi.


Tangannya kembali menari-nari di atas kertas, menulis sesuatu di sana. Kertas yang sama dengan yang ia gunakan menulis semalam.


"Aku cemburu," bisiknya membaca tulisan itu.


"Aku cemburu, Johan," lanjutnya lagi sembari menutup buku tadi kemudian mendesah kasar.


Baru saja hendak memejam, seketika Halsey membuka matanya lebar hingga nyaris membulat.


"Astaga, iya!" serunya bersemangat.


"Bagaimana jika aku kembali melintas di jalan itu? Mungkin saja ada yang mencoba menggangguku lalu Johan akan datang dan ikut memukuli pria-pria itu demi membelaku."


"Ya, ampun, benar, Hale. Itu sungguh ide yang bagus!" seru Halsey lagi sembari mulai bangkit berdiri.


Gadis itu kini berjalan dengan senyum tipis. Tapi, langkah lebarnya tadi seketika kembali pelan tatkala ia mengingat satu kemungkinan buruk. Bagaimana ... bagaimana jika Johan tak datang dan pria itu benar-benar bersikap cabul padanya? Astaga, itu sungguh hal paling buruk jika benar-benar terjadi.


"Tidak! Aku hanya perlu melawan saja, bukan? Jika mereka sampai bersikap kasar padaku dan beritanya sampai menyebar, Johan pasti akan tahu dan langsung saja menghajar pria itu. Iya! Itu pasti!"


Halsey telah memacu langkahnya sedikit cepat. Tujuannya saat ini adalah teras kelas di mana banyak sekali pria yang gemar mencabuli gadis-gadis yang hendak melintas di sana dengan meremas bokong mereka.


Halsey menarik napas panjang. Sembari memasang wajah datar dinginnya seperti biasa, Gadis itu perlahan melangkah. Sungguh, hari ini adalah moment paling gila sepanjang hidupnya.


"Kau ingin apa?"


Bukan suara Johan, lalu siapa? Perlahan Halsey berbalik ke arah suara dan mendapati sosok ... Reyhan.


"Kenapa?" Ia balik bertanya.


"Kau ingin ke mana?"


"Tidak ada."


"Lalu mengapa melintas di sini?"


"Aku hanya ingin. Memangnya kenapa?"


"Kau ingin diperlakukan begitu juga, ya?" Reyhan bertanya sembari melirik ke arah sekumpulan Pria itu. Mereka tampak asik melancarkan aksi dengan tawa menggelegar tanpa henti.


"Aku sedang ada urusan, makanya harus melintas di sini. Dan oh, ya. Jaga ucapanmu, sebab aku bukan Gadis seperti itu," balas Halsey datar.


"Selesaikan nanti saja, dan kembalilah ke kelasmu," perintah Reyhan kemudian berlalu pergi.


Ada apa, sih, dengannya? Memerintah seenaknya saja. Ish!


Halsey berusaha tak mengindahkan ucapan Reyhan. Gadis itu kembali melangkah pelan mendekat ke arah sekumpulan Pria-pria mesum itu.


"Kau tidak dengar ucapanku, ya?!"


Halsey mengatupkan rahangnya kesal. "Bisakah kau berbicara lebih lembut seperti Johan? Aku tak suka dikasari!"


Reyhan terdiam beberapa saat. "Aku akan mengantarmu ke sana," ujarnya dingin sembari menarik tangan Halsey tanpa izin.


"Lepaskan aku, Reyhan! Jangan menyentuhku!"


Setelah menghempas tangan Reyhan kasar, Halsey menatap nyalang Pria itu beberapa saat kemudian berlalu dari sana.


"Dia pikir siapa dirinya? Johan saja tak pernah membentakku begitu," omel Halsey kesal.


Gara-gara Reyhan, rencananya jadi gagal. Pria itu sungguh sialan, menyebalkan! Ish!


Setelah berhasil tiba di kelasnya, Halsey langsung mendaratkan bokongnya di kursi dan menopang wajah dengan dagu.


"Andai saja tadi ada Johan, aku yakin dia akan menghajar Reyhan," batinnya.


"Tapi ... mengapa Johan tak datang? Padahal mereka bertiga selalu bersama," lanjutnya lagi.


Halsey meringis pelan sembari meletakkan buku curhatannya tentang Johan ke atas meja. Sungguh, ia benar-benar kecewa pada Pria itu.


Setelah berhasil menulis beberapa rangkaian kata di atas kertas, kini ia memandangi tulisannya lesu.


"Aku rindu, Johan ...," bisiknya pelan.


Untung saja kelasnya sedang sepi. Jika tidak, siapa pun akan dibuat tercengang-cengang oleh Halsey versi ini. Benar-benar konyol.


"Aku kecewa padamu," bisiknya lagi.


❀❀❀