Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Pasrah



"Aku ingin putus."


Setelah Halsey bangkit berdiri, Johan masih tampak terpaku di tempatnya, seolah berusaha mencerna ucapan Gadis itu barusan.


"Apa yang kau katakan, Hale?!" tanyanya berteriak sembari langsung mencekal pergelangan tangan Halsey.


"Lepaskan aku," balas Halsey dingin. Tatapannya tetap lurus ke depan.


"Hale? Katakan padaku apa masalahmu! Semuanya bisa dibicarakan baik-baik, bukan?"


Halsey tersenyum masam, kemudian menoleh pada Johan. Setelah balas menatap Pria itu beberapa saat, akhirnya ia kembali mengentakkan tangan. "Aku butuh waktu sendiri."


"Hale? Katakan padaku ...!"


"Lepaskan, Johan!"


"Katakan padaku, Hale."


"Lepas-"


"Tidak akan!"


"Lep-"


"Kau kenapa, Ha-"


"KAU YANG KENAPA, JOHAN?! Hiks."


Halsey kembali duduk di kursi taman dengan tangis pecah. Menyaksikan itu, Johan malah terdiam pada posisinya. Ia benar-benar tak bisa menebak kemungkinan mengapa Halsey bisa seperti ini.


"Aku kenapa, Hale? Apa kesalahanku?" tanyanya lagi sembari mengambil posisi berjongkok di hadapan Halsey, berusaha melepas kedua tangan Gadis itu yang tengah menutupi wajahnya.


"Kau jahat, Johan ... hiks, hiks ...."


Johan beranjak berdiri. Mengambil tempat untuk duduk di sisi kanan Halsey, kemudian menarik Gadis itu hingga bersandar di dadanya.


Cup!


"Menangislah, Sayang," bisiknya lembut.


Halsey tak memberontak. Ia bahkan menumpahkan tangisnya di dada Johan, sambil jemarinya yang sesekali mencengkeram erat seragam Pria itu.


Setelah beberapa lama, Johan perlahan menunduk tatkala merasakan isakan Halsey yang kian mereda. "Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanyanya pelan.


Halsey mengangguk sembari menarik tubuhnya mundur, membiarkan Johan mengusap pipinya pelan.


"Sekarang katakan padaku, oke?"


Halsey menarik napas kemudian berpaling menatap Johan. Tatapannya sedikit melembut, bahkan sudut bibirnya juga sedikit terangkat.


"Kau tak punya kesalahan, Johan ... tapi ... kita memang harus mengakhiri semuanya sampai di sini saja," ujarnya kemudian.


Johan mendesah kecewa. "Tapi kenapa, Hale? Apa alasanmu? Padahal ... hubungan kita bahkan masih terjalin selama beberapa hari," balasnya.


"Aku ... aku memang masih menginginkan hubungan kita, Johan, tapi ...." Halsey menggigit bibir bawahnya keras, berusaha menahan isakan. "Tapi kurasa ini memang jalan yang terbaik, hiks."


"Apa yang kau katakan, Hale? Ini ... ini bukan yang terbaik, Sayang. Kumohon ...."


Halsey menggeleng sembari tangannya terulur membelai pipi kanan Johan. "Dengar, Johan. Kita mungkin saling mencintai, tapi kau lebih membutuhkan hal lain selain itu. Aku akan berusaha melepasmu agar kau bisa bahagia. Maksudku ... kita lebih baik mengakhiri hubungan ini saja agar kau bisa lebih bebas. Aku mengerti kau seorang Pria, dan aku juga mengerti bahwa kau punya kebutuhan lain yang mesti terpenuhi. Selama hubungan kita masih sebatas kekasih, aku tidak pernah bisa dan memang tak akan mau memberikanmu itu. Aku mencintaimu, tapi aku lebih mencintai kehormatanku."


Johan terkekeh sembari menggeleng tak percaya. "Apa yang kau katakan, Hale? Kebutuhan apa? Kebutuhan sex? Hah?!" Kedua tangannya langsung berpindah menangkap pipi Halsey. "Apa pernah meski sekali aku menuntut itu darimu? Aku bahkan tak pernah ada niat sama sekali, Hale. Walau sering meminta berciuman, demi apa pun aku hanya berniat menggodamu! Berhenti mengatakan omong kosong itu, Sayang. Kumohon pikirkan bagaimana perjuanganku juga. Aku bersusah payah, Hale. Kau tahu maksudku, kan?"


Halsey mengangguk terisak.


"Aku juga sudah pernah bilang, bukan? Aku tulus mencintaimu dan itu tidak sepenuhnya hanya berlandaskan nafsu!"


Halsey mengangguk membenarkan. "Kau memang tak ada niat untuk memuaskan nafsumu denganku, Johan, tapi ... kau melakukannya dengan gadis lain! Kau tahu? Itu lebih sakit, hiks."


Johan terdiam.


Dengan gadis lain?


Cepat, kedua tangannya kembali terulur membingkai wajah Halsey kemudian menarik Gadis itu hingga menghadapnya. "Apa maksudmu?"


"Berhenti berpura-pura."


"Berpura-pura apa, Hale? Aku benar-benar tidak mengerti maksudmu!"


"Tidak ada kembali ke kelas sebelum kau menjelaskan semuanya!" Kini, Johan telah mencekal pergelangan tangan Halsey erat.


"Apa kau benar-benar tak ingat atau hanya berusaha mengelak?"


"Aku serius tidak tahu maksudmu, Hale ...."


Halsey merogoh saku seragamnya kemudian mengeluarkan sebuah ponsel dari sana. Setelah beberapa saat jemarinya menggerayahi layar, ia lalu mengulurkan benda tersebut pada Johan.


Johan menerimanya cepat. Mulai mengalihkan pandangannya ke layar ponsel, dan .... "H-Hale? Bagaimana ... bagaimana mungkin-"


Terpampang di balik layar di mana dirinya tengah berciuman dengan seorang wanita. Wajahnya terlihat sangat jelas, bahkan tangannya tampak tengah sibuk meremas bokong wanita itu.


"Ini, makanlah. Kau tidak sempat sarapan tadi pagi," ujar Halsey sembari mengulurkan sebuah kotak bekal pada Johan. Detik berikutnya, ia kembali merebut ponselnya dari Pria itu kemudian mulai berjalan menjauh.


Johan terdiam. Baiklah. Ia ingat sekarang. Dirinya yang pergi dari rumah Harris dalam keadaan kacau kemudian memutuskan untuk datang ke kelab dan mabuk di sana.


Bodoh sekali! Mengapa juga ia harus sampai bercumbu dengan wanita?


"Hale? Tunggu-"


"Sudah, Johan. Jangan mengikutiku lagi. Kita sudah berakhir!"


Johan menggeram kesal sembari tangannya meremas kepala. "Rey dan Alan. Aku akan menanyakan ini pada mereka."


Johan berjalan dengan langkah lebar menuju lantai rooftop. Ia benar-benar merasa cemas, sekarang. Bagaimana jika dirinya sampai melakukan 'itu' dengan wanita tadi dalam keadaan tak sadar? Kalau sampai dia hamil, pasti akan sangat gawat.


"Sial! Ini semua gara-gara daddy! Argh!"


Setelah kakinya berhasil menapak di lantai rooftop, Johan langsung menghampiri Alan dan Rey yang tampak duduk di tepi dengan posisi memunggunginya.


"Alan? Rey?!"


Alan dan Reyhan sontak berbalik. Kening keduanya tampak mengerut bingung.


"Ada apa?"


Johan mengambil posisi duduk di sisi kanan Reyhan kemudian menatap Pria itu dengan raut serius. "Apa yang aku lakukan saat kau mendapatiku di kelab semalam?" tanyanya cemas.


"Kau sedang bercumbu dengan wanita."


"Astaga, Rey ...." Johan mengusap wajahnya kasar. "Jadi kau mengirimkan fotoku tengah bercumbu pada Hale?"


"Kau gila, ya? Tentu saja tidak," balas Reyhan tidak terima.


Johan menoleh pada Alan. "Apa kau yang melakukan itu?"


"Demi junior-mu yang lotong itu, aku bersumpah tidak melakukannya."


"Kalau begitu siapa?!"


Alan dan Reyhan hanya mengedikkan bahu tak tahu. Tidak tahu harus menyalahkan Johan karena telah nekat datang ke kelab lalu bercumbu, atau menyalahkan Halsey karena tak menemani Pria itu melalui masa-masa buruknya semalam.


"Atau ... Sam?"


Johan tersadar dengan matanya yang membulat sempurna. "Benar-benar pria brengsek. Itu sudah pasti perbuatannya, Rey!" teriaknya histeris sembari mengguncang-guncangkan bahu Reyhan. "Satu-satunya yang menginginkan aku putus dengan Hale memang hanya brengsek itu. AARGHH!"


Plak!


"Kalau kesal, kesal saja! Jangan ikut memukuliku!" teriak Alan kesal.


Johan memegangi pipi kanannya lesu. Bagaimana sekarang?


"Itu salahmu, Johan. Siapa suruh nekat mengunjungi tempat itu?" ujar Reyhan kemudian.


"Aku menyesal, Rey. Kau tahu perasaanku sangat kacau, semalam. Jadi bagaimana sekarang?"


Reyhan mengedikkan bahu. "Padahal kau mendapatkan Halsey itu sangat penuh perjuangan," balasnya santai.


"Benar. Hubungan kalian bahkan masih berjalan selama beberapa hari."


"Ayolah, jangan berkata seperti itu. Cepat berikan solusi, Rey! Alan?!"


Alan menghisap rokok yang terselip di jemarinya dalam kemudian menjentikkannya santai. "Cara satu-satunya adalah ... kau harus mengejar Hale lagi. Berjuang dari awal lagi, dan berjanjilah padanya untuk tidak mengulangi hal yang sama lagi."


❀❀❀