
"Tutup mulutmu, Johan! Pokoknya aku tidak mau tahu kita batal membalas ******** itu!" potong Reyhan berseru lantang.
Yang benar saja. Ia benar-benar tak akan tetap tinggal diam meski Johan memilih tak membalas. Sungguh, ia sangat benci dengan pria yang gemar mengeroyok lawannya bersama-sama hanya karena tak mampu melawan dengan tenaga kecilnya sendirian. Itu terdengar sangat rendahan.
"Ck! Aku ingin, Bodoh, tapi setelah melihat Hale tadi, kurasa ... ia benar-benar mengkhawatirkanku," balas Johan berusaha membuat Reyhan mengerti.
"Kurasa Johan benar, Rey. Biarkan saja pria itu bebas kali ini, tapi tidak jika sewaktu-waktu ia berulah," celetuk Alan juga. Ia tahu betul sudah berapa kian kali Reyhan menanyakan soal balas dendam itu pada Johan. Pria itu bisa marah besar jika merasa dipermainkan. Belum lagi kalau berakhir dengan mereka yang harus pergi dari apartemen Johan di jam selarut ini.
Ayolah.
Dirinya sudah terlanjur berada di zona nyamannya. Terlanjur.
"Terserahmu." Reyhan bangkit dari duduknya kemudian berlalu pergi begitu saja.
"Aaaaa jangan marah-marah, Rey Sayang ...!" Kini, Johan sudah memeluk tubuh Reyhan dari belakang sembari wajahnya yang ia elus-eluskan di punggung Pria itu.
Alan yang menyaksikannya juga tidak ingin ketinggalan. Ia ikut melempar ponsel kemudian berhambur memeluk Reyhan dari belakang.
"Astaga, Bodoh! Lepaskan!" teriak Reyhan kesal.
"No!"
"Lepas, tidak?!" teriak Reyhan lagi.
"Tidak mau, Honey!"
"Benar, Bee. Tidak mau."
Reyhan berusaha menahan tawanya setelah menyaksikan wajah kedua Pria itu. Berusaha marah dengan mereka memang tidak ada gunanya. "Ck! Iya, iya. Aku tidak akan pergi. Sekarang lepaskan!"
"Bagaimana jika kita minum saja? Aku punya beberapa minuman di lemariku!" teriak Johan menawarkan.
Pada akhirnya, ketiga Pria itu telah berakhir mengenaskan setelah berminum ria di ruang menonton apartemen Johan. Bagaimanapun, mereka telah saling mengisi hari-hari bersama setelah tahun-tahun yang panjang. Melakukan segala hal baik bersama, pun buruk juga bersama.
***
Halsey tampak sibuk memandangi tanaman juga berbagai jenis bunga di hadapannya dengan posisi berjongkok. Benih bunga matahari yang diberikan Malik hari itu telah ia tanam sempurna, bahkan sudah tampak hendak tumbuh.
Sekarang adalah Minggu, padahal seingatnya, baru kemarin ia dan Malik saling mengejar dan bertengkar sepanjang hari.
"Hale! Kemari, Sayang!"
Halsey mengangkat wajah kemudian melirik ke arah pintu pembatas taman. Itu suara Mahesa.
Setelah beranjak dari posisinya, ia lalu melangkah meninggalkan area taman.
"Begitu, ya. Tapi seingat Om, jalan\-jalan dengan kekasih itu lebih spesial saat malam Minggu."
"Apa pun jika bersama Hale, pasti spesial, Om. Hehe."
Halsey mendengus. Saat berdekatan dengan Johan, ia merasa sangat canggung sejak kejadian kemarin. Johan memang terlihat tak terlalu menganggap penting, tapi ..., siapa yang tahu jika Pria itu sudah sempat membicarakan dirinya bersama Alan dan Reyhan kemudian tertawa keras? Sial memang!
Kedua Pria beda generasi itu tampak melirik ke arahnya dengan senyum lembut. Halsey melanjutkan langkah kemudian mendudukkan dirinya di sisi kanan Mahesa.
Seolah memberi kode, Mahesa berdehem kemudian meraih majalah yang tergeletak di meja. Setelahnya, ia tampak pura\-pura sibuk dengan benda itu, menunggu Johan membuka percakapan.
"Aku ingin mengajakmu mobil\-mobil, Hale," ujar Johan memecah hening.
Halsey menautkan alis bingung. "Mobil\-mobil?"
Johan mengangguk mantap.
"Maksudmu jalan\-jalan?" tanya Halsey lagi.
"Kalau aku bilang jalan\-jalan, berarti kita akan pergi bersama dengan jalan kaki. Kau akan kelelahan karena berjalan, belum lagi jika udara panas. Aku ingin menawarkan gendongan, tapi nanti yang ada pipiku malah ditampar lebih banyak dan keras kemudian kau tak ingin menemuiku lagi. Itu terlalu mengerikan, jadi aku mantap untuk memilih mobil\-mobil saja."
"Benarkah? Hale pernah menamparmu karena kau menggendongnya?" Mahesa bertanya dengan nada takjub.
"Itu memang salahku, Om. Aku hanya panik jadi langsung saja menggendongnya. Kau tahu, Putrimu ini bukan Gadis sembarangan," balas Johan sembari mencuri pandang Halsey.
Mahesa terkekeh dengan tangannya yang telurur membelai surai Halsey. "Jagakan Hale\-ku, Johan."
"Meski tanpa diminta, Om. Eum, Hale? Kau mau pergi denganku, kan?" Johan kembali menatap Halsey.
"Maaf, Johan. Kurasa kita bisa pergi kapan\-kapan saja," balas Halsey canggung.
"Memangnya kenapa, Sayang?" tanya Mahesa.
"Aku harus belajar untuk olimpiade Kimia besok, Ayah."
"Kebetulan, Hale. Tempat itu pasti nyaman untuk belajar. Aku yakin kau suka suasananya."
Mahesa melirik Johan. Pria itu tampak menatapnya dengan tatapan memelas seolah meminta bantuan. "Ayah setuju, Sayang. Kau pasti butuh suasana baru untuk belajar."
Halsey membuang napas kasar kemudian berlalu pergi tanpa mengatakan apa\-apa.
Dasar Johan Sialan!
Johan membentangkan kain segi empat berwarna ungu di tangannya ke atas rumput hijau, yang menyajikan pemandangan danau tepat di hadapannya.
Setelah selesai, ia lalu mengalihkan fokusnya pada Halsey yang kini tampak mengedarkan pandangannya ke sekitar dengan bibir yang sedikit melengkung. Sudah ia duga. "Sini, Hale. Duduklah," pintanya.
Halsey mengangguk pelan sembari ikut duduk di atas kain tadi. "Kau ingin ke mana?" tanyanya tatkala menyaksikan Johan tampak bangkit berdiri.
"Tunggu sebentar, ya. Aku hendak mengambil sesuatu dari mobil."
Halsey mengangguk lagi. Gadis itu kemudian meraih kantong plastik berisi beberapa snack juga minuman yang sempat mereka beli sebelum melanjutkan perjalanan kemari.
Tempat kini ia berada sungguh tak mengecewakan. Hamparan danau, pohon-pohon, juga rumput hijau yang luas semakin menambah keindahan. Semuanya hijau sejuk, sangat damai. Benar-benar sesuatu yang berusaha ia cari selama ini.
Halsey mengalihkan fokusnya setelah mendengar derap kaki yang terdengar mendekat. Ia mendapati Johan dengan sebuah gitar di tangan, tak lupa juga bersama senyum hangat yang menghiasi wajah Pria itu.
Johan sudah mendudukkan dirinya tepat di sebelah Halsey. Gadis itu tampak sibuk memilih snack yang hendak ia makan lebih dulu, sementara Johan, ia kini tersenyum syukur atas Tuhan yang telah membiarkannya jatuh pada Gadis di hadapannya sekarang. Ia yakin, waktu akan membuat Halsey jatuh pada pesonanya, tentu juga dengan sendirinya.
"Aku ingin bernyanyi untukmu," ujarnya memecah hening.
Halsey mengangkat wajah kemudian memandangnya seraya mengangguk. Senyum Johan kian merekah dengan gitar yang terikut ia letakkan di pangkuan.
Jemari kekarnya kian memetik senar, mencipta melodi yang berirama dan mengenakkan telinga.

You're just too good to be true
Kau terlalu indah 'tuk jadi kenyataan
Can't take my eyes off of you
Tak bisa kuberhenti memandangmu
You'd be like heaven to touch
Kau seperti surga yang ingin kusentuh
I wanna hold you so much
Aku sangat ingin mendekapmu
At long last love has arrived
Akhirnya cinta t'lah datang
I thank God I'm alive
Syukurku pada Tuhan, aku masih hidup
You're just too good to be true
Kau terlalu indah 'tuk jadi kenyataan
Can't take my eyes off of you
Tak bisa kuberhenti memandangmu
Halsey tetap diam menikmati snack di tangannya, juga suara berat milik Johan yang mengalun indah. Ia baru tahu Pria itu punya suara lumayan ketika bernyanyi. Dan lagu tadi itu ... ia beberapa kali pernah mendengarnya, tapi baru kali ini ia berusaha meresapi makna dari tiap penggalan liriknya.
I love you, baby!
Aku mencintaimu, kasih
And if it's quite alright
Dan jika boleh
I need you, baby
Aku membutuhkanmu, kasih
To warm a lonely night
'Tuk hangatkan malam yang sepi
I love you, baby
Aku mencintaimu kasih
Trust in me when I say
Percayalah padaku saat aku berkata
Oh, pretty baby,
Oh, cantik
Don't bring me down, I pray
Jangan kecewakan aku, doaku
Oh, pretty baby,
Oh, cantik
Now that I found you, stay
Setelah ku temukan dirimu, tinggallah
And let me love you, baby,
Dan biarkan aku mencintaimu, kasih
Let me love you
Biarkan aku mencintaimu
❀❀❀