
"Kita harus gantian, Hale. Kali ini kau yang harus menyuapiku."
Halsey mendengus kasar. "Makan sendiri saja, Johan. Aku ada ulangan Fisika setelah ini, makanya harus belajar," balasnya mulai terdengar kesal.
Bukannya mengalah, Johan malah merebut buku di tangan Halsey tanpa permisi, kemudian menyembunyikannya di belakang tubuh. "Kau itu sudah terlalu pintar, Hale. Untuk apa lagi belajar? Lebih baik suapi aku saja."
Halsey menatap Johan nyalang. "Kembalikan!"
"Tidak!"
"Kembalikan, Johan!"
"Tidak, Honey."
"Johan?"
"Hale?"
Halsey mengusap wajahnya frustrasi. Pria di hadapannya itu ... ugh! Ingin rasanya ia meninju wajahnya keras. "Ayolah, Johan. Kembalikan bukuku, ya?"
"Ambil sendiri saja, yang penting kau mau tanggung resiko."
"Resiko apa?"
"Berusaha mengambil bukumu, sama saja dengan sebuah usaha untuk memelukku. Ambillah. Aku meletakkannya di belakang tubuh," balas Johan santai.
Halsey diam berpikir. Pria mesum di hadapannya itu akan melakukan segala cara agar ia mengabulkan permintaannya. Tapi ... Jika harus nekat merebut buku itu dari belakangnya, pasti sangat beresiko. Jangan sampai Johan malah sengaja bergerak sembarangan, hingga harus menyenggol bagian-bagian tubuhnya yang berharga.
"Aku akan pergi saja."
Johan menyaksikan Halsey beranjak berdiri.
"Mengapa aku yang selalu harus berusaha mengerti dirimu, Hale?"
"Memangnya menyuapiku itu sulit sekali, ya?"
Halsey menghentikan langkahnya kemudian berbalik lalu kembali duduk di samping Johan. "Iya, Johan. Aku akan menyuapimu, oke?"
"Johan melulu. Kapan kau menggantinya dengan sebutan 'sayang'?"
Halsey masih diam memandangi Johan. Gadis itu kini berusaha meredam kekesalannya. "Apa kau serius ingin kusuapi? Jika iya, buka mulutmu sekarang. Jangan banyak permintaan lagi!"
"Tidak mau."
Halsey meletakkan kotak bekal di tangannya tadi ke pangkuan Johan. "Aku akan ke kelas saja, jadi silakan menyuapi dirimu sendiri," ujarnya sembari bangkit berdiri.
"Dasar tidak romantis!"
"Tutup mulutmu, Pria mesum! Kembalikan bukuku!"
"Tidak akan."
Halsey menggeram kesal sebelum akhirnya memukuli Johan sekuat tenaga. Pria itu benar-benar telah menguji kesabarannya. "Dasar menyebalkan! Johan mesum! Ugh!"
Seketika Halsey mendudukkan dirinya kembali dengan napasĀ terengah-engah.
"Dasar lemah!" ejek Johan.
Halsey kembali menoleh. Beberapa saat setelahnya, ia beranjak berdiri kemudian berlalu pergi begitu saja. Ia sudah tak tahu lagi bagaimana harus menghadapi Pria mesum itu.
Johan sendiri malah terkekeh. "Hey? Pacarku?! Pacar?!"
Johan kembali terkekeh. Ia menebak, bahwa wajah Halsey pasti sudah sangat memerah sekarang. Menjadi menyebalkan memang sangat seru, ya.
"Jangan pergi~ tinggalkanku ... maafkan, semua kesalahanku ...."
"Jangan pergi~ aku ... butuh, kamu ... selalu~"
Halsey menggigit lidahnya agar tak kelepasan tertawa. Sebenarnya takkan ada yang lucu, hanya saja ... Johan menyanyikan lagu tadi itu dengan suara yang sengaja dibuat sumbang.
Setelah merasakan tangannya dicekal, Halsey menyentakkannya kasar sembari tetap melangkah begitu saja.
"Jangan marah lagi, Sayang. Ayo, duduk kembali. Aku yang akan menyuapimu." Johan berusaha membujuk.
"Pacarku yang cantik jelita? Jangan merajuk lagi, Sayang ...," bujuknya lagi.
"Pacar? Ayolah ...."
Johan terus mengiringi langkah Halsey dengan tangannya yang menoel-noel pipi Gadis itu.
"Pacar? Pacarku sayang?"
"Tunanganku? Istriku? Jodohku? Bidadari Jutekku? Sud-"
Plak!
Setelah mendaratkan tamparan di pipi Johan sekali, Halsey kini berpaling menatap Pria itu. "Dasar Pria gila!" ujarnya lalu berjalan mendekat ke bangku taman hendak mengambil buku.
"Apa kau memang hobi menyakitiku, Hale? Ish! Untung saja sudah terlalu cinta," gerutu Johan sembari mengekori langkah Halsey.
Halsey berbalik. "Jadi kau ingin membalasku? Iya? Begitu?"
Johan tak membalas. Ia kini mendudukkan dirinya di kursi kemudian menarik tangan Halsey hingga Gadis itu terikut duduk.
"Joh-"
"Aku akan kembali ke kelas."
"Sudah ku0bilang duduk!" Johan menatap Halsey dengan sorot dingin penuh perintah.
"Joh-"
"Ssst! Aku akan menyuapimu, oke? Sekarang duduk menghadapku."
Halsey hanya menurut sembari bergerak menghadapkan tubuhnya pada Johan. Mereka kini berhadapan dan saling duduk bersila.
Setelah mencomot sepotong roti lalu menggigit sedikit, ia kemudian ikut mengulurkannya ke mulut Halsey. Gadis itu membuka mulutnya tanpa protes.
Johan tersenyum lembut beberapa saat sembari memandangi Halsey mengunyah isi mulutnya.
"Apa kau ingin jalan-jalan sepulang sekolah nanti?" tanyanya kemudian.
"Ke mana?"
"Rumah mommy. Mau?" Johan mengusap mentega di sudut bibir Halsey pelan.
"Hm ... mau," balas Halsey sembari tersenyum tipis.
Setelahnya, mereka makan dalam hening. Johan hanya sibuk menyuapi Halsey, sementara Gadis itu membuka mulutnya tanpa protes.
"Ngomong-ngomong ... gadis hitam itu siapamu?"
"Dia punya nama, Sayang. Namanya Atha," balas Johan terkekeh geli.
"Dia siapamu?"
"Aku menganggapnya adik."
"Oh ...." Halsey manggut-manggut berusaha mengerti.
"Memangnya kenapa?"
"Aku hanya bertanya," jawab Halsey santai kemudian membuka mulutnya lagi.
"Rey yang akan menjadi pasangannya nanti."
"Rey? Hm. Itu bagus."
"Bagus?"
"Iya. Dia pasti akan memperlakukan gadis hitam itu dengan kasar," balas Halsey santai.
Johan terkekeh. "Kau juga punya sisi jahat, ya?"
"Tapi ... kata siapa Rey itu pria yang kasar?"
"Kataku."
"Tahu dari mana?"
Halsey menelan isi mulutnya susah payah kemudian menatap Johan serius. "Dia membentakku, padahal kau saja bahkan tak pernah memperlakukanku begitu," jelasnya dongkol.
"Jadi maksudmu hanya aku Pria yang boleh membentakmu?"
"Bukan begitu, tapi aku tak suka dibentak apalagi disentuh sembarangan," balas Halsey.
"Sentuh sembarangan?"
"Iya. Dia menarik tanganku kasar."
Johan mengangguk-anggukkan kepala beberapa kali, dengan senyum geli yang berusaha keras ia tahan. "Jadi ... maksudmu kau mengadu padaku, begitu?"
"Apa? Tidak, kok. Aku hanya berusaha menjawab pertanyaanmu."
"Aku hanya menyuruhnya untuk mencegahmu melintas di jalan itu, tapi ternyata ...."
"Aku akan menghajar Rey karena sudah membentak dan menyentuhmu sembarangan, oke? Satu suapan lagi, lalu aku mengantarmu kembali ke kelas. Ini."
Halsey mengangguk sembari membuka mulutnya. "Johan? Aku mau minum."
Johan yang baru saja membereskan kotak bekal tadi lekas menoleh. "Astaga, iya. Ya sudah, ayo."
Halsey memandangi tangan Johan yang terulur padanya beberapa saat. "Iya, tapi aku bisa berdiri sendiri," balasnya kemudian.
"Iya, Sayang. Iya," ujar johan sembari mengacak-acak rambut Halsey gemas.
Keduanya mulai berjalan beriringan dengan langkah santai.
"Johan?"
"Hmm?"
Halsey mendongak menatap Johan dan memandangi Pria itu beberapa saat. "Terima kasih telah mencintaiku."