Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Persekongkolan Baila



"Aku juga, Johan. Aku baru sadar telah mencintaimu."


Dalam jarak dekat, keduanya saling berbagi pandangan. Menyelami netra masing-masing, hingga hati sama-sama terikut menghangat.


"Kau sudah ingin membalas rupanya," ujar Johan terkekeh.


Halsey mengangguk lalu kembali menumpukan kepalanya di dada Johan.


"Baila bilang, aku bisa menyesal jika terus menyia-nyiakanmu. Padahal, aku sudah menyesal, makanya aku berkata jujur."


"Jangan membuatku rindu lagi, ya, Johan."


Johan mengangguk lalu mengecup puncak kepala Halsey lagi. Tangannya bergerak-gerak membelai rambut Gadis itu.


"Johan?"


"Iya, Sayang?"


"Kau ada hubungan apa dengan Baila?" tanya Halsey terdengar serius.


"Tidak ada, kok. Kita memang hanya sering berkomunikasi saja, sebagai calon ipar."


Halsey mendongak. "Aku membaca pesanmu dengannya semalam. Kau bilang, kau sudah sangat rindu. Jadi itu maksudnya apa?"


Johan terkekeh seraya membeli mengacak-acak rambut Halsey gemas. "Aku memang sangat rindu, dan itu adalah denganmu."


"Maksudmu?"


"Aku meminta tolong pada Baila untuk mengambil gambarmu sembunyi-sembunyi."


"Kau serius?"


Johan mengangguk mantap. "Serius, Hale. Baila bahkan turut andil dalam kejadian di mall hari itu."


Halsey menarik tubuhnya mundur kemudian duduk menghadap Johan. "Jelaskan semuanya sekarang!" ujarnya penuh perintah.


Johan tersenyum simpul. Tangannya lalu terulur menggetil-getil pipi Halsey pelan. "Aku memintanya untuk mengajakmu ke mall. Sementara itu, aku juga meminta bantuan Atha agar kau bisa ku buat cemburu, sekaligus tahu semua ungkapan-ungkapan batinmu," jelasnya kemudian.


"Ungkapan batinku? Aku tidak mengerti, Johan."


"Atha bisa membaca pikiran, Sayang. Karenanya, meski kau terlihat biasa-biasa saja hari itu, ia tetap bisa tahu bahwa kau cemburu."


Wajah Halsey berubah geram, hingga detik berikutnya, ia langsung memukuli Johan keras.


"Aku memang rindu pukulanmu," ujar Johan di sela-sela tawanya.


Setelah beberapa lama, Halsey menghentikan aksinya dengan napas  yang terengah-engah. Padahal hanya memukuli Johan, belum sampai berlari.


"Kau memang kebiasaan, ya. Memukuliki sekuat tenaga, tapi lelah sendiri pada akhirnya," ejek Johan terkekeh geli.


Halsey menoleh. "Hm ... kau benar."


"Oh, ya. di mana rotiku, Hale? Apa kau tak lagi membawakannya untukku?" tanya Johan kemudian.


"Itu, di belakang tubuhmu. Aku membawanya setiap hari, tapi untuk diriku sendiri."


Johan hanya terkekeh. Setelah kotak bekal itu kini berada di tangannya, pelan ia mencomot sepotong dari isinya kemudian menggigit setengah. "Buka mulutmu, Sayang," ujarnya sembari mengulurkan potongan roti tadi ke mulut Halsey.


"Itu bekasmu," protes Halsey.


Johan malah kembali menggigit sepotongnya kemudian mengulurkan ke mulut Halsey lagi. "Anggap saja kita sedang berciuman. Ini."


Halsey menurut, kemudian ikut menggigit sepotong tepat dibekas Johan. "Kau masih saja mesum rupanya."


Johan mengangguk. "Aku akan selalu menjadi Pria mesum, begitupun dalam mencintaimu. Selalu, selamanya."


Halsey mengangguk-angguk. "What a sweet bullshit," sindirnya.


Johan terdiam seraya memandang lembut pada Halsey yang tengah mengunyah isi mulutnya santai. "Aku mencintaimu, Hale. Sangat," bisiknya serius.


Halsey menoleh kemudian mengangguk. "Hm ... biarkan saja."


Sungguh, jawaban yang menggemaskan.


***


Johan menepikan mobilnya tepat di hadapan rumah keluarga Bamatara. Halsey menoleh kemudian menatap Pria itu.


"Terima kasih," ujarnya kemudian.


Johan mengangguk sembari tersenyum simpul.


"Hati-hati, ya," sambung Halsey lagi kemudian berbalik hendak turun.


"Hale?!"


Setelah berbalik kembali, Halsey lalu menatap Johan dengan sorot bertanya.


"Senyum dulu, Sayang."


"Untuk apa?"


"Untukku."


Halsey mengangguk kemudian menampakkan senyum lebarnya. Johan yang menyaksikan itu seketika ikut tersenyum. Tangannya terulur mentowel-towel lesung pipi Halsey.


"Bibirku sudah pegal, jadi bisakah aku turun sekarang?"


Johan terkekeh. Setelah menerima anggukan dari Pria itu, Halsey kembali berbalik lagi bersiap turun.


"Hale?!"


"Ck! Apa lagi, sih, Johan?!"


"Aku mencintaimu, Sayang."


Halsey terdiam sesaat kemudian mengangguk mengerti. "Iya, aku sudah lama tahu," balasanya.


Johan terkekeh. "Baiklah. Sana, masuk."


Setelah turun dari mobil Johan, Halsey perlahan menyaksikan mobil Pria itu melaju kemudian melanjutkan langkah hingga tiba di mulut rumah.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Sudah pulang, Hale?" Itu suara Shiren.


Halsey mengangguk. "Iya, Bu," balasnya sembari meraih lalu mencium punggung tangan Wanita itu.


"Ganti bajumu, ya. Setelah itu turun kemari, dan makanlah."


Halsey mengangguk sembari tersenyum tipis. Gadis itu lalu berjalan ke arah tangga, menyusurinya hingga tiba di lantai dua, kemudian melanjutkan langkah lagi hingga telah berdiri di depan pintu kamarnya.


'Ceklek!'


"HAAAALEEEEEE!"


Halsey terperanjat kaget mendapati Baila sudah melompat-lompat di atas kasurnya ceria.


"BAILA?! APA YANG KAULAKUKAN?!"


Halsey berjalan mendekati Baila dengan perasaan geram. Enak saja Gadis itu mengacaukan tempat tidurnya.


"Biarkan dulu, Hale! Aku sangat bahagia atas dirimu dan Johan!"


Mendengar nama Johan disebut, seketika Halsey terdiam. Ah, ia ingat sesuatu sekarang. "Cukup, Baila! Aku sedang marah padamu, jadi keluar sekarang!"


Baila berhenti melompat kemudian berpaling menatap Halsey dengan sorot bingung. "Kau masih marah padaku?"


Halsey mengangguk singkat.


"Tapi kenapa, Hale?" tanya Baila terdengar kecewa, kemudian duduk di tepi kasur.


"Karena kau sudah bersekongkol dengan Johan hingga aku harus menangis seperti orang gila!" balas Halsey sembari mulai mengganti pakaiannya.


Baila terkekeh. "Maafkan aku. Aku hanya kasian pada Johan."


Halsey menoleh. "Pantas saja kau khilaf mengajakku ke mall bersama. Ternyata ada maksud terselubung, ya. Cih!"


Baila mengangguk mengiyakan. "Tentu saja! Siapa juga yang akan betah pergi bersamamu? Kau tak asik dan membosankan."


Halsey tampak tak menanggapi. Gadis itu kini berjalan mendekat ke arah kasur. "Aku menyayangimu," ujarnya sembari berhambur mendekap Baila.


Baila mengangguk. "Kau menjadi lebay sejak jatuh cinta pada Johan, ya?"


Halsey menarik tubuhnya mundur. Wajahnya kini berubah memerah gara-gara mengingat betapa murahannya ia di taman sekolah tadi.


"Kau kenapa, Hale?" tanya Baila heran.


"Baila? Aku merasa seperti Gadis murahan ...," lirih Halsey.


"Murahan? Murahan kenapa, Hale?"


Halsey membenarkan posisi duduknya kemudian menatap Baila serius. "Saat di taman tadi, Johan langsung memelukku. Aku sangat ingin marah, tapi tak bisa. Malah rasanya dadaku sesak, sampai-sampai aku menangis kemudian balas mendekap Johan. Kau tahu itu memalukan sekali, Baila! Apalagi aku terisak-isak sambil bilang jangan menjauhiku lagi," jelasnya sembari menggigit kuku jemarinya cemas.


"Aku masih tak percaya bahwa kau sudah merasakan jatuh cinta, Hale," balas Baila sembari tersenyum lembut.


"Jangan mengabaikan ucapanku, Baila."


"Astaga kau berlebihan sekali, sih?! Tak perlu memikirkannya, Hale. Yang penting lain kali jangan mengulanginya lagi, oke?"


Halsey mengangguk.


"Ya, sudah. Sekarang ayo turun bersama. Aku sudah lapar," ujar Baila lagi sembari bergerak turun dari kasur.


***


"Rambutmu wangi sekali," ujar Alan di sela-sela kesibukannya mengepang rambut panjang Atha.


"Terima kasih!" balas Atha ceria. Gadis berkulit coklat itu kini memunggungi Alan sembari bersenandung kecil.


Mereka sedang berada di apartemen Johan, begitupun Reyhan. Meski dikelilingi oleh tiga orang Pria mesum, Atha sama sekali tak merasa khawatir. Entah karena terlalu percaya, atau memang karena ia sudah menganggap ketiga Pria itu sebagai Kakak saja.


"Kak Johan? Ingin ke mana?"


Johan yang tampak sibuk bersiap menoleh pada Atha kemudian tersenyum lembut. "Ke rumahnya kak Hale, Sayang."


Atha mengangguk-angguk mengerti.


"Aku juga harus pulang," susul Reyhan.


Alan dan Johan sontak menoleh.


"Bicara apa kau, Sialan? Antar Atha pulang dulu," ujar Alan.


"Kau saja yang mengantarnya pulang. Bunda sudah meneleponku," balas Reyhan santai sembari bangkit berdiri.


"Reyhan?! Antar Atha pulang dulu!" Johan ikut menimbrungi.


"Mengapa bukan kau saja? Lagi lpula kau akan keluar juga, 'kan?"


"Kau yang akan saling jatuh cinta dengannya, 'kan? Itu artinya, kau juga yang harus mengantarnya pulang."


Reyhan mengusap wajahnya kasar. "Tutup mulutmu, Sialan! Mana mau aku dengan Gadis begitu."


Ia kini berbalik menatap Atha yang sudah tampak menunduk sembari menggigiti kukunya. Entah kesalahan apa yang ia lakukan hingga Reyhan begitu senang melontarinya sarkasme.


"Hey, Rey?! Bisakah kau berhenti bersikap begitu pada Atha? Lihat, Bodoh. Dia sekarang menangis!" Alan menggerutu kesal. Pria itu tampak menarik tubuh Atha hingga bertumpu di dadanya. "Jangan menangis lagi, Sayang," ujarnya sembari mengusap rambut Atha pelan.


Bukan tanpa alasan ia sangat mudah menyayangi Gadis ceria itu. Atha pandai merebut hati. Selain itu, ia juga type manusia yang memang mudah disayangi. Entahlah mengapa Reyhan malah berbanding terbalik. Pria itu mungkin hanya berusaha menutupi perasaannya saja.


"Kalau begitu ayo pulang sekarang! Lagian mengapa kau menangis, sih?! Gadis cengeng yang merepotkan!"


Bugh!


"Sekali lagi kau berkata kasar pada Atha, aku takkan segan-segan memukulimu lebih!" ancam Johan kemudian berlalu pergi begitu saja.


❀❀❀