Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Senyuman Pertama Kali



Johan meraihnya dengan senyum puas. Cepat ia membuka tutup kotak bekal tadi lalu segera mencomot sepotongnya.


"Kembalikan bukuku!" perintah Halsey ketus.


Johan meliriknya. "Membacanya nanti lagi, Hale. Ayo buka mulutmu," balasnya seraya mengulurkan potongan roti ke mulut Halsey.


"Berikan saja bukuku!" Halsey langsung menepis kasar tangan Johan dari wajahnya.


"Hale? Ayo, buka mulutmu ...!"


"Tidak mau, Johan. Berikan saja bukuku!" tolak Halsey lagi, mulai kesal.


"Iya, Sayang, iya! Ini kuberikan." Johan terdengar frustrasi sembari langsung mengulurkan buku tadi pada Halsey.


Keduanya mulai larut dalam kegiatan masing-masing. Johan yang menikmati rotinya dengan kaki menyilang di atas bangku, sementara Halsey tampak sibuk dengan bacaannya.


"Mau jalan-jalan sepulang sekolah nanti?" tanya Johan memecah hening.


"Ke mana?"


"Aku tahu sebuah tempat yang pasti kau suka, tapi ... kita tidak akan ke sana."


"Kenapa? Apa maksudmu telah menawarkan tapi mengatakan tidak jadi lagi?" Halsey menoleh kemudian menatap Johan kesal.


Meski ingin tertawa, tetap saja Johan berusaha menahan. Halsey memang selalu lucu saat berbicara panjang-panjang. "Nanti kau lebih jatuh cinta pada tempat itu lagi daripada aku yang manusia."


Halsey kembali menoleh cepat. "Apa tempatnya lebih indah dari danau hari itu?"


Johan mengangguk. "Tapi kita tak akan ke sana," balasnya seraya memasukkan potongan roti ke mulut santai.


"Johaaannnn ...?"


"Berjanji dulu bahwa kau tak akan membuangku nanti."


"Iya, Johan. Aku janji!" balas Halsey antusias seraya langsung mengulurkan jari kelingkingnya.


Johan tersenyum lembut. Ia kira Halsey tak punya hal lain yang disukai selain buku-buku sialan itu. "Baiklah. Tapi setelah kau mampir dan makan di rumahmu dulu," ujarnya lagi seraya mengaitkan kelingking dengan Halsey.


"Tapi kita bisa beli makanan dulu lalu ke sana, bukan?"


"Aku harus meminta izin pada calon mertuaku dulu, Hale. Kalau hanya aku tidak masalah, tapi jika kau yang dianggap keluyuruan, itu sangat tidak baik."


Halsey tersenyum tipis seraya memandangi wajah Johan yang tampak sibuk menikmati roti di tangannya. Meski Pria itu selalu seenaknya saja mengklaim dirinya sebagai pacar, ia akan berusaha untuk tidak mempermasalahkannya sekarang. Tapi hanya sekarang, tidak untuk nanti-nanti.


"Ha-HALEEEEEEEE?!!"


Halsey tersentak kaget. "PRIA SINTING?! Kenapa kau berteriak?!" tanyanya kesal.


Johan masih terperangah dengan mulutnya yang sedikit terbuka. "Sayang ...? Kau ... tadi kau tersenyum, Hale!"


Halsey terdiam. "Be-benarkah?" gumamnya bertanya.


"Ya, ampun. Andai saja bisa, aku pasti sudah memelukmu sekarang!" sahut Johan masih dengan nada tak percayanya.


Halsey menoleh dengan tatapan tajam. "Jangan macam-macam!"


Johan terkekeh lalu mulai bangkit berdiri. "Iya, tidak akan. Ayo, kuantar ke kelas," ujarnya dengan tangan terulur.


Halsey mengangguk lalu ikut bangkit. Mendahului Johan, juga tangan Pria itu yang terlurur.


"Pura-pura tak lihat saja terus. Ish! Selalunya begitu!" gerutu Johan sebal sembari tetap menyesuaikan langkahnya dengan Halsey.


Mereka telah berjalan beriringan dengan tangan yang sama-sama menenteng sesuatu. Johan dan kotak bekalnya, Halsey dan buku kesukaannya.


Beberapa kali Johan tersenyum bahkan balik menyapa pada Gadis-gadis yang dilaluinya tadi, hingga terakhir, mereka tiba di depan kelas Halsey.


"Apa kau akan membolos lagi?" tanya Halsey.


Johan tampak berpikir. "Kurasa iya," balasnya singkat.


"Sebaiknya kurangi kebiasaanmu itu, Johan. Aku yakin mommy sedih jika tahu kau belum juga berubah meski setelah kepergiannya."


Johan tersenyum lembut sembari menyaksikan punggung Halsey yang kian menjauh. Pria itu kemudian berlalu pergi setelah dua menit lamanya mematung di sana.


***


"Kau pasti mengemis-ngemis lagi," sahut Alan yang baru saja muncul dari arah dapur dengan tubuhnya yang bertelanjang dada.


"Enak saja kau bicara!" balas Johan memandang Alan kesal seraya tetap mengenakan sepatu kets bermerek miliknya.


"Tak ada maling yang akan mengaku. Benar, kan, Rey?"


Reyhan tampak sibuk memandangi ponselnya dengan tatapan kosong.


Bugh!


"Apa yang kaupikirkan?" Alan balik bertanya dengan nada tak berdosa.


"Ck! Bukan urusanmu!"


"Sudah, jangan bertengkar. Lebih baik kalian bahagia atas diriku saja," celetuk Johan langsung. "Kalian tahu? Hale-ku tadi tersenyum. Sial! Itu sungguh pertama kalinya," jelasnya berseri-seri.


"Kalau begitu pergi saja cepat!" usir Reyhan dengan tangannya yang mengibas-ibas.


"Baiklah, aku pergi. Oh, ya. Saat aku kembali, kekacauan ini sudah selesai. Assalamualaikum~"


Alan termangu memandangi punggung Johan yang belum berjarak terlalu jauh. "Sejak kapan pendosa sialan itu pandai mengucap salam?" tanyanya entah pada siapa.


"Aku bisa mendengarnya, Sayang!" teriak Johan sebelum menutup pintu apartemennya lalu merenggang pergi.


Setelah beberapa menit, lift berhenti bergerak. Johan tiba di ruang bawah tanah tempat mobilnya juga para penyewa apartemen lain terparkir. Bokongnya kini sudah mendarat sempurna di jok kemudi. Melaju pelan hingga berhasil meninggalkan area apartemen.


Sekitar 30 menit perjalanan, Johan menepikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah mewah milik keluarga Bamatara. Ia lalu turun dari mobilnya kemudian mulai melangkah masuk hingga tiba di pintu utama rumah.


"Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam."


Johan termangu mendapati Halsey yang bahkan sudah selesai bersiap. Sebegitu antusiaskah?


"Johan? Ayo masuk."


Johan mengangguk mengekori Shiren diikuti Halsey yang kemudian duduk di sofa ruang tamu.


"Apa mau Tante buatkan minum dulu?" tanya Shiren kemudian.


"Tidak perlu, Tante. Aku hanya mampir sebentar untuk minta izin membawa Hale jalan-jalan," balas Johan melirik Halsey sekilas.


"Tentu. Hale juga sudah sejak tadi selesai bersiap."


Johan tersenyum sopan. "Ngomong-ngomong, om Mahesa belum pulang?" tanyanya kemudian.


"Beberapa jam lagi," balas Shiren.


Johan mengangguk. Kembali melirik Halsey kemudian mulai beranjak dari duduknya. "Kalau begitu kami pamit, Tante," ujarnya seraya meraih lalu mencium punggung tangan Shiren.


Halsey ikut melakukan hal yang sama. "Aku pamit dulu, Bu."


"Iya, Sayang. Kalian hati-hati, ya."


Setelah duduk di jok masing-masing, Johan perlahan melajukan mobilnya.


"Apa tempatnya jauh?" tanya Halsey memecah hening.


Johan menoleh sekilas. "Kau tak pernah seantusias ini saat akan pergi denganku."


"Itu bukan jawaban yang kuminta."


"Tempatnya cukup jauh ke dalam. Katanya, di sana terkenal angker dan banyak hantunya."


"Itu bagus. Aku memang penasaran dengan makhluk yang kausebutkan tadi."


Johan terkekeh. "Sebenarnya hanya sebuah pantai. Belum cukup terkenal, tapi tempatnya sangat indah. Kita bisa menyaksikan sunset di sana," jelasnya kemudian, hingga Halsey langsung mengangguk mengerti.


"Kau lebih baik tidur dulu. Tempatnya masih cukup jauh."


Halsey menurut. Ia menumpukan tubuhnya di jok kemudi lalu mulai memejam, sementara mobil Johan telah melaju sedang begitu saja.


Sekitar satu jam perjalanan lebih, Johan menghentikan mobilnya di sebuah gang kecil. Ia lalu menoleh ke arah Halsey. Mendapati wajah damai menghiasi wajah Gadis itu, hingga sontak membuat bibirnya tanpa sadar melengkung.


"Sayang? Kita sudah sampai," bisiknya lembut dengan tangan yang terulur membelai surai hitam milik Halsey.


Halsey perlahan mengerjap hingga netra indahnya benar-benar terbuka. Tatkala ia mendapati wajah Johan dalam jarak dekat, langsung saja tubuhnya ia tarik ke belakang panik. "Jo-Johan?! Kau tak melakukan apa-apa padaku, kan?!"


Johan terkekeh. "Tidak, Sayang. Aku hanya suka wajah damaimu tadi," balasnya kemudian.


Halsey mengangguk. Mereka kemudian turun dari mobil bersamaan lalu mulai berjalan beriringan menyusuri gang kecil.


"Apa kita harus berjalan cukup jauh ke dalam?"


Johan menoleh. "Tidak jauh, kok. Apa kau butuh kugendong?"


"Ck! Masih saja sempat-sempatnya," gumam Halsey seraya memutar bola mata malas.


"Aku memang selalu salah di matamu, bahkan jika menawarkan bantuan sekalipun," sindir Johan dengan wajah sebal dibuat-buat.


❀❀❀