
Johan tampak baru saja menepikan mobilnya di pelataran sebuah sekolah. Dilihat dari seragam, jelas sekali bahwa ia bukan salah satu siswa di sekolah itu. Benar, Johan berniat mendatangi Sam di sekolahnya langsung, tidak peduli bahwa ada kemungkinan dirinya akan diskors nantinya.
Setelah berhasil turun dari mobil, ia berjalan menyusuri koridor dengan wajah datar dan dingin. Beberapa pelajar tentu saja menoleh. Bahkan, Johan sekarang sudah menjadi pusat perhatian hampir semua orang.
"Johan? Apa yang-"
"Beri tahu aku di mana kelas Sam sialan itu," potong Johan cepat.
Baila mengangguk cepat kemudian menuntun Johan hingga mereka berhasil tiba di kelas Sam.
Sesampainya di sana, Johan langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas, tapi tetap, ia tak mendapati sosok yang ia maksud.
"Sekarang sudah jam istirahat. Kurasa Sam dan teman-temannya sedang berada di kantin," ujar Baila kemudian.
Johan menoleh sekilas. "Kalau begitu bawa aku ke sana."
Baila kembali mengangguk. Selanjutnya, mereka kembali berjalan beriringan hingga berhasil tiba di kantin. Johan langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kantin, tak peduli sama sekali bahwa kehadirannya telah membuat tempat yang tadinya ramai itu berubah menjadi hening sehening-heningnya.
"Ini sudah pasti perbuatan brengsek itu," geram Johan penuh amarah.
Baila langsung mengekori dan mencekal pergelangan tangan Johan. "Apa Hale belum ditemukan?" tanyanya cemas.
Johan menggeleng lemah. "Belum, Baila. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku khawatir. Aku takut Hale kenapa-kenapa."
"Aku yakin Hale akan baik-baik saja, apalagi ia hanya bersama Sam. Kau tidak akan tega menyakiti orang yang kau cintai, bukan?" Baila tersenyum menenangkan.
"Semoga saja begitu."
Setelah tiba di gerbang sekolah, Johan menoleh pada Baila sekilas kemudian menepuk bahu Gadis itu pelan. "Aku pergi," ujarnya.
"Hati-hati, ya. Kabari aku jika ada hal penting!" balas Baila sedikit berteriak.
Setelah berhasil melajukan mobil, Johan kini sudah tampak memijat pangkal hidungnya pusing. Ia sudah mencari ke mana-mana, bahkan hingga di markas perkumpulan The Rebellious sialan itu. Rebellious (suka melawan/pemberontak)?
Cih!
"Sekali kubanting, tak ada lagi istilah melawan atau memberontak. Memangnya mereka mau mati?"
Pikirkan saja. Manusia hebat mana yang nekat mendatangi tempat musuh sendirian tanpa merasa takut sedikit pun? Johan sudah sampai mengecek ke tempat itu, tapi tak ada apa-apa. Jika Hale-nya belum ditemukan juga, maka ... hidupnya tidak akan bisa tenang sama sekali. Sudah cukup dirinya hanya bisa memerhatikan Halsey dari jauh, tidak jika harus ikut jauh dari gadis itu juga.
"Aku akan menemukanmu secepatnya, Sayang. Aku janji."
"Semoga kau baik-baik saja."
***
Jam sudah menunjukkan waktu petang, dan saat ini, Johan, Alan, dan Reyhan baru saja selesai menunaikan salat magrib bersama di salah satu masjid yang mereka lewati. Mereka masih sibuk mencari Halsey, bahkan sampai tak masuk ke kelas sepanjang hari ini.
Johan tidak bisa tenang, sementara Alan dan Reyhan juga tidak mungkin hanya diam memandangi. Orang-orang suruhan mereka juga belum memberi informasi apa-apa hingga saat ini, dan itu ... itu sungguh membuat Johan tak sanggup untuk berdiam lebih lama lagi. Hale-nya dalam bahaya, dan ia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika gadis itu sampai terluka sedikit saja.
"Hey, Johan?! Ponselmu bergetar sejak tadi!" teriak Alan kesal.
Johan hanya melirik sekilas kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di dashboard mobil dengan malas. Puluhan panggilan tak terjawab dari Baila, dan ia sungguh percaya bahwa sesuatu hal penting telah membuat gadis itu menjadi seperti ini.
Setelah mengklik ikon telepon di layar ponselnya, nada sambungan pun kian terdengar.
"Halo? Baila? Kenapa? Apa ada-"
"Johan? Datang ke rumahku sekarang."
Johan melempar ponselnya begitu saja kemudian langsung meminta Alan untuk memutar arah tuju mobilnya menuju kediaman keluarga Bamatara.
Sementara itu, di tempat di mana Halsey tengah dikurung saat ini, Gadis itu lagi-lagi baru saja memecahkan piring yang dibawa oleh Sam. "AKU TIDAK AKAN MAKAN, BRENGSEK! TIDAK AKAN!" teriaknya penuh penolakan.
"SUDAH CUKUP KAU MEMBODOHIKU SEJAK TADI MALAM! AKU TIDAK AKAN PERNAH SUDI LAGI PERCAYA DENGAN OMONGANMU!"
"LEPASKAN AKU! CEPAT, LEPASKAN AKU!"
Sam tersenyum simpul sembari mulai bersimpuh di hadapan Halsey. Tangannya membelai wajah Gadis itu lembut. Menyelipkan anak-anak rambutnya ke belakang kuping pelan-pelan, kemudian berpindah lagi menyelami netra madu yang kini tengah menatapnya nyalang itu.
"Jangan menyentuhku!" teriak Halsey panik.
"KUBILANG JANGAN MENYEN-"
"KALAU BEGITU LEPASKAN AKU, BODOH! AKU INGIN PULANG! LEPAS-"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau menerimaku dan juga mau berusaha melupakan Johan. Aku sudah mengatakan itu semalam, bukan?" potong Sam tenang.
"KAU GILA, SAM! LEPASKAN AKU, BODOH! SAMPAI KAPAN KAU AKAN MELAKU-"
"SSSTT! Berhenti berteriak, oke? Aku akan mengambilkanmu makanan lagi." Sam mengusap kepala Halsey pelan sebelum akhirnya menghilang di balik pintu dengan pecahan kaca yang lagi-lagi ia bawa di tangannya. Itu sudah ke empat kali sejak tadi pagi, dan sejak pagi jugalah perut Halsey belum diisi makanan sama sekali.
Setelah sosok Sam sudah muncul di balik pintu lagi, Halsey mendesah lelah. "Harus berapa kali aku menolak makananmu, Sam ...?! Kumohon ...! Aku tidak ingin makan! Aku hanya ingin pulang! Aku ingin pu-"
"Kau bisa sakit jika tidak makan, Hale ...." Sam kembali menarik kursi dan duduk di hadapan Halsey. "Beberapa suap saja, kok. Ini."
Halsey menggeleng lemah."Aku tidak mau, Sam ... hiks, hiks. Aku ingin pulang!"
"Aku akan membiarkanmu pulang jika kau menyetujui persyaratanku itu," balas Sam enteng.
"Mau menerimamu dan berusaha melupakan Johan?" Halsey terkekeh sarkas. Padahal, beberapa detik yang lalu ia masih terisak. "Kuharap kau tidak sedang gila saat mengajukan persyaratan itu," lanjutnya lagi.
Sam tetap diam mendengarkan.
"Kalau saja aku bisa mencintaimu, maka seharusnya aku tidak akan mencintai Johan yang jelas-jelas kutemui setelah dirimu!"
"Aku sudah bertemu denganmu sebelum bertemu dengannya, Sam ...! Aku bahkan sudah tahu bahwa kau mencintaiku sejak lama, tapi aku memilih pindah sekolah hanya demi menghindarimu!"
"Dan kau tahu mengapa aku menghindarimu? Mengapa aku tak bisa menerimamu?" Halsey melirik kedua kaki dan tangannya yang terikat, kemudian berpindah pada Sam lagi. "Karena aku tahu bahwa kau tidak pernah mencintaiku! Kau hanya terobsesi, tak ada cinta sama sekali!"
Setelah sekian lama, Sam pun mendesah kasar. "Aku tidak akan sampai bersikap seperti ini jika bukan karena cinta, Hale! Tidak mungkin!" balasnya dengan nada suara yang mulai meninggi.
Halsey mengangguk membenarkan. "Itulah obsesi. Jika kau benar-benar cinta, maka kau tidak akan mengambil tindakan senekat ini hanya demi memilikiku seutuhnya. Kau memaksaku mencintaimu, padahal cinta sudah jelas tak bisa dipaksakan," ujarnya lagi, terdengar lebih tenang.
"Dan juga ... semalam kau menamparku, bukan?"
Sam menunduk pelan.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, kau tidak akan pernah bertindak sekasar itu. Kau tidak akan tega menyakitiku, bahkan tidak pernah mau melihatku terluka. Kau akan selalu berusaha melindungiku. Kau akan marah jika melihat orang lain menyakitiku. Tapi apa?" Halsey kembali terkekeh pelan. "Kau tidak mencintaiku, Sam, begitupun juga aku. Aku tidak bisa mencintaimu, bahkan meski kau berusaha bersikap seperti Johan."
"Hanya Johan yang tahu caranya mencintaiku dengan baik. Dia tahu bagaimana caranya meluluhkanku tanpa harus disekap seperti ini. Dia tahu bagaimana caranya mendapatkan cintaku tanpa harus diberi pilihan seperti tadi. Dia tahu ... dia yang paling sempurna dalam mencintaiku, Sam ...!, Johan tidak bisa terganti-"
"CUKUP, HALE!"
PRANG!
"AKU SAMA SEKALI TIDAK PEDULI DENGAN ANGGAPANMU TENTANG PERASAANKU, MENGERTI?! MAU ITU CINTA, OBSESI, TERSERAH! AKU TIDAK PEDULI!" Sam menarik napas. "Mengapa ....?"
"Karena aku hanya peduli tentang bagaimana caranya agar mendapatkanmu, Sayang ...."
Jantung Halsey berdegup lebih kencang tatkala Sam sudah membelai wajahnya lembut dengan seringaian jahat tercetak jelas di bibirnya.
"Aku akan melakukan segala cara, bahkan jika harus memisahkan kalian berdua, dengar? Memisahkan kau dan Johan Sial-"
"Memisahkan ...?" potong Halsey shock.
Setelah mendapati Sam terkekeh santai, Halsey hanya bisa menangis saking tak habis pikirnya lagi. "BRENGSEK!"
"Apa maksudmu, Sam?! JAWAB AKUUU!"
Sam terdiam dengan air wajahnya yang kian berubah geram. "Karena kau sudah terlalu lancang ...."
"S-sam ...?"
Sam kembali menatap Halsey. Menyeringai jahat, dengan tangannya yang perlahan terulur dan langsung membelai lembut bagian leher hingga ke sekujur tangan Gadis itu. "Kau belum mengenalku, ya, Hale?"
Halsey memejam takut tatkala tangan Sam sudah bergerak lebih lancang dengan membuka kancing teratas seragamnya. "S-Sam ... hiks, hiks ...."
Sam semakin bergerak mendekat. Membiarkan bibirnya menyusuri sekujur lengan Halsey, hingga berhasil sampai di kuping Gadis itu. "Gadis itu ..., Zara, akulah yang menghamilinya."
❀❀❀
❝Enyahkan segala obsesi dan kecintaan berlebihmu terhadap sesuatu, sebelum sesuatu itu malah berbalik membuatmu membenarkan segala cara hingga kau nekat berbuat gila.❞ ─ Author, Zephaniah.