Johale'S Destiny

Johale'S Destiny
Ancaman Fito



“Aku benar-benar kembali kuat.”


Halsey kembali menampilkan wajah datarnya. “Berhenti menggombaliku! Itu sungguh terdengar menjijikkan," balasnya seraya mulai melangkah.


“Hale? Aku bahkan sanggup menggendongmu mengelilingi mall ini jika kau mau," ujar Johan dengan ekspresi kecewa dibuat-buat.


Halsey memilih tak menanggapi atau urusan mereka tak akan kunjung selesai. Ia merasa benar-benar ingin pulang secepatnya. Sungguh, lebih lama di sini bisa membutnya stres, terlebih jika kembali mengingat kehadiran Pria di sampingnya itu.


Setelah tiba di bagian toko buku, Halsey lekas mencari buku panduan salat untuk Johan lalu meminta Pria itu menyelesaikan tagihannya. Setelah selesai, keduanya kembali berjalan beriringan hendak membeli ice cream. Mereka tiba di tempat tujuan, hingga Johan mulai menyebutkan rasa ice cream pesanannya sekaligus juga untuk Halsey.


“Untuk calon istriku," ujar Johan seraya mengulurkan ice cream milik Halsey.


Halsey menerimanya dengan tatapan datar. Seingatnya dulu hanya calon pacar, lalu mengapa sekarang semakin calon istri saja?


“Apa tak masalah kita membawanya seperti ini sambil jalan?” tanya Halsey memandangi cup ice cream di tangannya bergantian.


Tangan Johan terulur mengambil ice cream milik Halsey. “Biar aku yang bawakan.”


Halsey terdiam. Merasa tak enak hati, ia lalu ikut meraih paperbag di tangan kanan Johan tanpa permisi.


“Hale? Biar aku yang-"


“Tidak perlu."


Keduanya kembali berjalan beriringan menuju pintu utama mall. Setelah beberapa lama, mereka akhirnya tiba di sisi tubuh mobil Johan dan telah mendudukkan diri di jok masing-masing.


"Ice cream-mu, Sayang," ujar Johan seraya mengulurkan cup ice cream milik Halsey.


"Terima kasih."


Johan tersenyum sebagai jawaban. Mereka lalu saling sibuk menikmati ice cream masing-masing, hingga beberapa saat kemudian, Johan mengangkat wajah lalu melirik Halsey dari samping.


"Hale?"


Halsey menoleh.


"Apa kau tak kunjung menyimpan perasaan lebih untukku hingga sekarang?" tanya Johan dengan wajah serius.


"Apa?!"


Johan terkekeh. "Tidak, tidak ada. Makan saja ice cream-mu," balasnya kemudian.


"Apa kau benar-benar serius dengan perasaanmu padaku, Johan?" tanya Halsey balik.


Johan membuang napas kasar. Membuka dua kancing teratas kemejanya, dengan cup ice cream yang langsung ia buang keluar jendela mobil.


"Eskrimmu belum hab-"


"Harus kubuktikan dengan cara apa lagi, Hale? Aku mungkin sangat suka bercanda, tapi soal perasaan begitu ... sudahlah!"


"Pasang sabuk pengamanmu," sambungnya dingin seraya mulai menyalakan mesin lalu melajukan mobilnya begitu saja.


Halsey terdiam seraya menggigit bibir bawahnya. Apa Johan benar-benar marah hanya karena pertanyaannya tadi? Tapi ... apa yang salah dari itu? Ia hanya berusaha memastikan, bukan? Lagi pula meragukan omongan Johan juga hal yang wajar, sebab Pria itu memang sangat gemar-


"Apa harus aku yang pasangkan sabuk pengamanmu?"


Halsey tersadar seraya mulai memasang seatbelt-nya.


"Katakan padaku, Hale."


Halsey menoleh. "Mengatakan apa?"


Seketika Johan menepikan mobilnya begitu saja lalu segera menoleh menatap Halsey dengan raut serius. "Bagaimana aku harus menunjukkan bahwa perasaanku serius padamu? Yang selama ini tidak cukup, bukan? Kalau begitu katakan bagaimana maumu."


Halsey terdiam seraya balas menatap netra coklat gelap yang kini penuh sorot dingin itu. "Aku ... aku tidak tahu."


"Kalau begitu apa yang membuatmu meragukan perasaanku, Hale?!"


Halsey masih terdiam. Memandangi Johan yang tampak menumpukan tubuhnya di jok dengan tangan yang kembali membuka kancing kemeja.


"Johan?! Apa ... mengapa kau terus membuka kancing kemejamu?!" tanyanya panik.


Johan menoleh sekilas. "Kau membuatku kesal, Sayang. Karenanya aku-"


"APA?! Tidak! Johan, sadarlah! Kumoh-"


"Ck! Hale? Aku hanya merasa sesak saat sedang kesal."


Setelah beberapa saat saling diam, tangan Johan terulur meraih cup ice cream di tangan Halsey lalu membuangnya keluar jendela.


"Apa yang membuatmu meragukan perasaanku, Sayang? Kumohon katakanlah," pintanya lembut seraya tangannya yang sibuk merapikan anak-anak rambut Halsey.


"Johan ... aku .... Ekhem. Bisakah kita pulang sekarang? Aku harus mengerjakan banyak hal."


Johan terdiam dengan iris coklat gelapnya yang menyelami netra milik Halsey. "Baiklah," balasnya kemudian.


***


Ketiga Pria itu tampak sibuk menyantap makanan di ruang tengah apartemen Johan, dengan TV yang menonton mereka. Johan dan Alan duduk di lantai seperti pelayan, sementara Reyhan duduk di atas sofa seperti seorang Tuan.


“Ck! Iya, aku serius,” ulang Reyhan, entah sudah ke berapa kian kalinya.


Johan dan Alan tampak saling memandang.


“Tapi bagaimana bisa? Kukira itu hanya ada di film-film,” balas Johan seraya kembali mengunyah isi mulutnya tenang.


“Kau tahu? Gadis itu langsung menarikku begitu saja. Saat kutanya mengapa, katanya ia membaca pikiran pria itu lewat mata, dan bilang ia ingin membawa mobilku kabur lalu menjualnya dengan harga fantastis,” jelas Reyhan lagi.


“Bisa saja dia berbohong,” balas Alan kemudian.


“Ck! Kau itu! Kan sudah kukatakan tadi bahwa aku telah memastikannya!” bentak Reyhan mulai menampakkan raut kesal.


“Aku memikirkan sebuah pertanyaan, tapi sebelum kulontarkan, ia sudah lebih dulu menjawabnya. Terbukti, bukan?!"


Alan mengangkat wajahnya cepat. “Kau kenapa marah-marah, sih?! Siapa suruh memberi tahu padahal tak ada yang bertanya? Mengurangi nafsu makan-"


“Astaga! Kalian bertengkar karena hal sepele begitu? Sudah, diam. Aku harus mengirimkan pesan selamat malam untuk Hale-ku.” Johan bangkit berdiri kemudian menghampiri ponselnya yang terselip di saku celananya di balik pintu kamar.


“Aku, kan, cuma mengatakan pendapatku, lalu apa salahnya itu? Bisa saja dia berbohong, bukan?” Alan kembali membalas.


“Aku bahkan sudah mengatakan perihal itu tadi bahwa aku sudah memastikannya. Kau itu dengar tidak, sih?!” tanya Reyhan tak kalah ketusnya juga.


“Ish, kau sedang PMS atau apa, sih? Aku juga sudah bilang tadi, kan? Aku hanya mengatakan pendapatku, tapi kau ... apa perlu memperpanjang-“


"SIALAN! Apa yang dilakukan ******** ini di rumah Hale di jam begini?!"


Alan dan Reyhan sontak menoleh ke arah Johan.


"******** siapa?" tanya Alan kemudian.


"Aku benar-benar menyesal tak membunuh Fito hari itu juga. Coba lihat ini." Johan memperlihatkan sebuah foto yang menampilkan Halsey tampak berdiri di balkon kamarnya seolah mencari-cari seseorang.


"Itu Hale, bukan?"


Johan mengangguk.


"Siapa yang mengirimkannmu?" tanya Reyhan juga.


"Ini sudah jelas Fito. Coba baca pesannya."


+62xxxxxxxxxxxx


Coba lihat Hale-mu. Haruskah aku menampakkan diri lalu memintanya membantuku naik ke balkon kemudian masuk bersamanya ke kamar? Itu pasti menyenangkan.


9.27 PM


"Tampaknya dia belum kapok," ujar Alan santai.


Reyhan hanya diam menyaksikan, sementar Johan sudah tampak mendekatkan ponsel itu ke kupingnya dengan rahang yang mengatup kuat.


“....”


"APA YANG KAULAKUKAN DI RUMAH HALE, BRENGSEK?!"


“....”


Tett!


Johan bangkit dari duduknya lalu meraih jaket begitu saja.


"Johan?! Kau ingin ke mana?!" teriak Reyhan berusaha mengejar.


"Kau pikir aku akan ke mana?"


Alan ikut mengejar. "Johan?! Tenanglah! Ayo pergi bersama!"


Ketiganya telah melangkah masuk ke lift bersama. Setelah lift berhenti, mereka menghampiri mobil Johan hingga mobil dengan cepat melaju membawa mereka meninggalkan pelataran apartemen.


"Halo? Hale? Tutup pintu balkon kamarmu rapat-rapat dan jangan pernah keluar lagi dari sana, mengerti?”


Sementara Johan sibuk menelepon Hale-nya, Reyhan duduk di jok depan. Ia bahkan sudah sangat geram untuk membunuh pria banci tukang keroyok itu dulu, tapi ... lihatlah. Manusia semacam itu sebenarnya memang harus dibuat kapok dulu agar tidak sampai semelunjak sekarang.


"Bukan, Sayang. Sekarang kau masuk ke kamarmu, ya? Tidur yang nyenyak. Aku mencintaimu."


Setelah memutuskan panggilan telepon sepihak, Johan kembali melirik Alan yang kini tengah sibuk menyetir. "Alan? Ayolah, lebih cepat lagi!"


"Iya, iya. Ini sudah kuusahakan!"


Setelah beberapa lama, mobil Johan berhasil sampai di depan rumah milik keluarga Bamatara. Sontak, ketiganya keluar dari mobil lalu saling mengedarkan pandangan, berusaha menemukan sosok yang telah berhasil memancing mereka datang ke sana.


"Coba telepon ******** itu!" teriak Reyhan semakin emosi.


Johan mengangguk dengan tangan yang mulai sibuk menjamah layar ponselnya.


"Kau menelepon lagi rup-"


"Di mana kau, Sialan?!" Johan me-loud speaker sambungan teleponnya.


"Hale-mu sedang dalam bahaya, tapi kau masih berani mengataiku sialan? Ah, yang ben-"


"CEPAT KATAKAN DI MANA KAU SEKARANG?! JANGAN MAIN-MAIN DENGANKU, YA! KAU DENGAR?!"


"JANGAN BERTERIAK PADAKU, mengerti?"


Johan terdiam berusaha meredam emosinya. "Tak perlu tahu sedang di mana aku sekarang. Yang jelas, aku bisa melihat kalian sedang berdiri, dan Hale-mu yang baru saja memadamkan lampu kamarnya."


Dengan geram, Alan merebut ponsel Johan begitu saja. "Tidak perlu sok-sokan seperti seorang psikopat, Sialan! Itu membuatmu terlihat sangat kampungan, dengar?!"


Fito terkekeh. "Datanglah minta maaf padaku besok, atau Hale-mu akan benar-benar dalam bahaya."


Tett!


Johan menggeram kesal seraya kembali berusaha menghubungi nomor ponsel Fito. "Sial! Pria itu memblokir nomor ponselku!"


Reyhan menepuk bahu Johan pelan. "Sebaiknya kita pulang saja. Bicarakan masalah ini di apartemenmu nanti,” ujarnya tenang.


Johan mengangguk lalu mulai mengekori Alan dan Reyhan masuk ke mobil. "Haruskah aku menggunakan orang-orang-ku untuk membuat kapok Fito ******** itu?"


Reyhan menoleh. "Apa kau lupa siapa kita bertiga? Sungguh Fito itu bukanlah apa-apa."


❀❀❀